
Mereka memasuki toko hijab yang menjadi tempat langganan Caca juga Milda, berbagai hijab tersusun dengan rapi di sana. Bahkan, ada hijab yang hanya dapat ditemukan di toko itu saja karena di toko lainnya belum ada.
Caca melepaskan tangannya yang tadinya ada di lengan Riki dan pergi ke lorong hijab yang dia inginkan sedangkan Riki hanya menemani dengan langkah yang malas.
Riki menautkan alisnya kala melihat Caca mengambil dan mulai memilih hijab, "Bukannya warna hijab yang itu kamu sudah ada Cil? Kenapa malah beli lagi?" tanya Riki yang mengingat-ingat bahwa Caca sudah memiliki hijab yang berada di tangannya sekarang.
Caca tersenyum dan melirik Riki sekilas hingga akhirnya fokus kembali ke hijab, "Warna kesukaan, Om 'kan?" tanya Caca memperlihatkan hijab-hijab yang dia ambil.
Ya, Caca memang mengambil hijab yang jadi kesukaan Riki warnanya. Bahkan, ketika Caca menggunakan hijab itu wanita tersebut tampak lebih menawan dan cantik.
"Iya, sih. Emangnya kenapa? Kamu mau stok pake warna itu, biar saya suka setiap saat sama penampilan kamu?" tanya Riki datar kepada Caca yang tadinya fokus kepada hijab. Hingga akhirnya wanita itu melihat ke arah Riki, "tanpa pake itu, saya sudah suka!" Riki sedikit maju ke telinga Caca agar tak ada yang mendengar kalimatnya.
"Dih, pede bener lu Om," kata Caca meninggalkan Riki ke lorong lainnya.
"Lah, kok malah ditinggal?" tanya Riki yang tak bisa di dengar oleh Caca lagi karena ia sudah berpindah lorong. Riki langsung mengikuti kepada Caca berada dengan langkah sedikit malas.
Setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya Caca mendapatkan lima hijab dengan warna yang semuanya disukai oleh Riki.
"Mbak, ada kertas kado?" tanya Caca saat penjaga kasir mulai menotalkan harga hijab yang ada.
"Pake paper bag mau, Dek?" tanya penjaga kasir menatap Caca.
"Dibungkus dulu tapi, Mbak. Habis itu masukin paper bag, ya."
"Iya, Dek. Sebentar, ya."
Penjaga kasir langsung membungkus kelima hijab yang sudah memiliki plastik masing-masing itu, agar lebih rapi dan cantik itu sebabnya Caca membungkusnya lagi dengan kertas.
Riki yang berada di samping sambil bermain handphone tadinya mendekat ke arah Caca, "Buat siapa, Cil? Kok pake dibungkus segala?" tanya Riki dengan nada pelan dan membuat Caca beralih posisi menjadi menatapnya.
__ADS_1
"Untuk seseorang yang spesial pokoknya, Om!" seru Caca dengan tawa di akhir kalimatnya.
"Ada-ada aja kalo kamu, nih," omel Riki bergeleng melihat tingkah Caca sedangkan Caca hanya bisa tertawa melihat ekspresi dari Riki.
Setelah selesai membungkus dan menambahkan paper bag, penjaga kasir tadi datang dan menjumlah biaya kertas kado dan paper bag ke layar scannya.
"Nih, Mbak," ujar Riki langsung memberikan kartunya saat mendengar belanjaan yang harus dibayar Caca sedangkan wanita itu sudah ingin membuka tasnya.
Ia langsung menatap ke arah Riki yang tengah menatap handphone, "Dih, pake uang Caca aja tadi padahal Om," cakap Caca dengan wajah kesalnya.
"Gak papa, selagi saya ada. Ya, saya yang bayar," kilah Riki dengan tetap fokus ke handphone. Setelah selesai dibayar dan barang di dapatkan, mereka langsung berjalan ke luar toko.
Riki memasukkan handphone ke saku jaketnya dengan tangan yang juga dimasukkan sedangkan tangan sebelah kiri dibuat untuk menggandeng Caca keluar dari mall ini.
Caca yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu langsung menatap ke arah Riki yang sudah menatap lurus ke jalanan.
Mereka keluar menuju parkir dengan melewati berbagai macam tempat, tapi karena Caca sudah harus pulang pun besok sekolah. Akhirnya Riki atau Caca tak ada yang ingin singgah ke toko lainnya.
"Iya, Om," jawab Caca dengan mata yang sudah merah akibat menahan kantuk.
Riki memasangkan helm dan Caca hanya diam saja karena rasa kantuk tak dapat dibendungnya lagi, tanpa mereka sadari ternyata jam sudah pukul sembilan malam.
"Yok, naik!" suruh Riki dengan Caca yang masih ada di bawah. Caca naik ke jok belakang dan memberikan paper bag kepada Riki, ia takut kalau nantinya paper bag itu jatuh tanpa disadarinya.
Riki melihat tas Caca yang masih dibuat ke bahu, ia merubahnya meletakkannya di leher Caca agar tak jatuh nantinya meskipun jarak dari mall ke rumah sakit hanya sepuluh menit saja.
Riki mengambil tangan Caca dan menyuruh wanita itu untuk berpegangan agar tak jatuh, Riki menjalankan motor meninggalkan mall.
"Ca, udah sampe," ucap Riki sedikit menepuk pelan pipi chubby milik Caca.
__ADS_1
Caca mengerjap dan sedikit menggeliat, ternyata meskipun beberapa menit mampu membuat dia sudah berada di alam mimpi.
Ia turun lebih dulu, Riki segera mengambil kunci dan membukakan helm serta membawa paper bag. Mereka berjalan bersamaan dengan Caca yang masih keadaan antara sadar dan tidak.
Riki melihat Caca yang jalan dengan mata tertutup, mereka berjalan menuju pintu rumah sakit yang dilindungi kaca tebal.
Tuk ...!
Suara antukan kepala Caca dengan sesuatu, Caca langsung membuka matanya lebar-lebar melihat apa yang terjadi.
"Lain kali, tahan dulu ngantuknya. Kalo tadi gak ada tangan saya bisa-bisa tuh jidat udah bengkak," ucap Riki yang ternyata menghalang kepala Caca menggunakan tangannya agar tak terkena kaca pintu rumah sakit.
"Hehe, iya Om," ujar Caca dengan cengiran.
"Assalamualaikum," salam Caca memasuki kamar Aldy dan mengedarkan pandangannya melihat keadaan kamar.
Aldy sudah tidur sedangkan Annisa pun sudah tak ada lagi, "Cuci kaki dan muka, habis itu langsung tidur," perintah Riki dan Caca langsung meletakkan tasnya ke atas meja. Ia langsung menuju ke toilet melaksanakan perintah dari Riki.
Sedangkan Riki meletakkan paper bag di meja dan membuka jaket serta mengeluarkan handphone dari saku jaket. Caca keluar dan langsung berbaring menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali mukanya.
Ini hari terakhir mereka menginap di rumah sakit, setelah ini Aldy sudah dibolehkan untuk pulang karena keadaannya sudah jauh membaik.
"Jam berapa tadi malam pulang, Ca?" tanya Aldy melihat Caca yang sudah bangun untuk melakukan kewajiban.
"Jam tengah sepuluh malam, Om," jawab Caca dengan cengiran.
"Angin malam gak baik buat kamu, jadi ada baiknya dikurangi keluar atau pulang malam-malam," tegas Aldy dengan wajah datar.
Caca hanya menampilkan gigi rapinya dan mengangguk, ia masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Riki sudah tak ada di sofa, memang ia tipe orang yang susah tidur jika bukan di kamar atau rumahnya sendiri.
__ADS_1
Aldy bangkit dari tempat tidur dengan pelan, rasa nyeri bekas jahitan masih terasa dengan jelas di perutnya. Ia membuka gorden yang ada di kamar, melihat pemandangan di subuh hari di kota Bandung itu.