Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Tidur Di Rumah Sakit


__ADS_3

Hari sudah malam, Annisa dan Milda sempat berkunjung tadi hanya saja jam sembilan malam semua pengunjung diharap untuk pulang dan orang yang menunggu pasien juga sebenarnya hanya dibolehkan satu orang saja.


Namun, Riki berusaha membujuk bahkan ia menyuruh perawat untuk memeriksa dirinya bahwa tubuhnya kuat dan tak akan tertular penyakit dari ruangan ini.


Riki tertidur setelah mengerjakan satu tugasnya lagi dan Caca juga tidur di sofa lainnya setelah selesai belajar dengan Riki dan Aldy.


Aldy terjaga dari tidurnya karena setelah mengajari Caca ia langsung makan dan minum obat setelahnya tertidur. Ia terjaga di jam dua belas malam, kebetulan di depan tempat tidurnya sudah terpajang jam dinding.


Aldy melihat ke arah Caca yang tidur dengan berbaring sedangkan Riki posisi duduk, "Aku mau minum lagi, tapi nakas jauh banget," keluh Aldy mencoba bergerak padahal jahitan di perutnya belum kering.


Ringisan kecil keluar dari mulutnya, ia tak kuasa menahan sakitnya. Aldy menutup matanya kembali dan dengan posisi tidur semula, "Dahlah, aku tahan aja sampe besok pagi. Lagian bentar lagi juga pagi," ujar Aldy menutup mata dengan lengannya.


"Mangkanya, Om. Kalau mau minta sesuatu bilang aja," bisik seseorang di depan Aldy. Ia langsung membuka mata karena mendengar suara, di depannya sudah ada segelas air minum yang diinginkannya tadi.


"Kamu kok bangun?" tanya Aldy dengan pelan.


"Om, 'kan mau minum dan butuh bantuan. Masa, gak dibantuin jadi buat apa Caca di sini kalo gak bantuin Om?" tanya Caca tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya, "nih, minum Om." Caca memberikan gelas dan disambut oleh Aldy.


Caca masih berdiri di samping tempat tidurnya, menunggu air minum itu selesai diminum oleh Aldy, "Makasih," ucap Aldy menyerahkan gelas kosong membuat Caca terheran.


"Gelasnya bolong, ya, Om?" canda Caca sambil melihat bawah gelas untuk men-cek bolong atau tidaknya.


"Saya haus, Ca."


"Iya, Om iya. Becanda, kok," kata Caca mengembalikan gelas, "mau apa lagi?"


"Gak ada, kamu balik tidur gih. Saya juga mau tidur lagi," suruh Aldy dan mendapatkan anggukan dari Caca.


Wanita itu pun kembali ke tempat tidurnya semula, Aldy melihat ke arah Caca saja pun Caca menatap ke arah dirinya juga, "Udah, tidur!" ujar Aldy tersenyum.


"Iya, Om iya." Caca pun segera kembali masuk ke dalam mimpinya yang sempat terhenti tadi akibat mendengar suara Aldy meskipun kecil.


Suara adzan menggema membuat ketiga orang di dalam ruangan itu terbangun, Caca mengerjap-ngerjapkan matanya dan merapikan jilbabnya.


"Ca, saya langsung ke mushala, ya," ujar Riki dan membuka pintu.

__ADS_1


"Iya, Om," jawab Caca yang masih duduk.


Sedangkan Caca menatap ke arah Aldy sebentar, "Caca ngambil wudhu dulu, ya, Om," kata Caca melihat ke Aldy. Aldy hanya mengangguk saja mendengar penuturan Caca.


Caca langsung mengambil tas yang berisi pakaian sekolah karena dirinya ingin sekalian mandi. Setelah selesai dengan seragam sekolah dan keluar menggunakan mukena, Caca membentang perlak/karpet yang sengaja dibawa Milda tadi malam agar mempermudah Caca untuk shalat di dalam ruangan.


Selesai mencari arah kiblat, ia melaksanakan shalatnya sedangkan Aldy sudah lebih dahulu selesai. Ia hanya melihat Caca shalat saja sambil menatap ke arah luar kamar melalui jendela.


"Om mau apa?" tanya Caca setelah selesai shalat dan beruntung tak mengejutkan Aldy.


"Minum, Ca."


"Oke!" Caca bangkit dan mengambilkan minum dan juga buah pisang terlebih dahulu, setelahnya ia menyusun perlak kembali dan masuk lagi ke kamar mandi untuk mengganti mukena menjadi hijab putihnya.


Ketika membuka kamar mandi, ia sudah melihat Riki menggunakan pakaian kerjanya juga di atas meja sudah ada nasi kuning yang mungkin ia beli di kantin.


"Nih, makan!" seru Riki dengan mengunyah nasinya.


"Om udah datang makanannya?" tanya Caca melihat nakas yang masih kosong.


"Apaan, sih, Om!" ketus Caca.


"Ehem ... ehem!" potong Riki berpura-pura tersedak dan membuat Caca langsung duduk di samping Riki untuk makan sarapan yang dibelinya.


Suara ketukan terdengar, perawat langsung masuk dengan roda makanannya. Ia meletakkan makanan Aldy di nakas dan mencek air infus milik pria itu.


"Jam 9 nanti dokter akan mencek keadaan, Bapak, ya," jelas perawat itu.


"Baik, terima kasih, ya."


Perawat itu mengangguk dan berjalan keluar ruangan Aldy, sedangkan Aldy masih berbaring dan menatap jalanan melalui jendela kaca kamar.


"Om, kita makan, ya!" seru Caca dan duduk di samping kiri Aldy tepat di mana ia sedang menatap luaran sana.


"Ca, bisa bantu duduk?"

__ADS_1


"Kan belum tau itunya udah kering atau belum, gak papa Om. Begini aja dulu, ntar kalo udah sembuh gak ada waktu buat baring sepanjang waktu, kok," papar Caca yang membuat Aldy terdiam.


"Bukan gitu juga, Ca. Panas punggung saya lama-lama," ungkap Aldy dan meraba punggungnya.


"Mau tinggi banget, sedang atau biasa aja?" ucap Riki yang berada di sebelah kanan Aldy tempat alat pengatur kepala kasur pasien berada.


"Sedang aja," jawab Aldy ke depan.


Riki segera mengatur posisi kepala Aldy dengan menaikkan sedikit bagian kepala kasur itu, setelah selesai Riki berjalan ke arah tempat duduk Caca.


"Ih, kenapa?" tanya Caca menatap piring tempat bubur Aldy diambil Riki.


"Biar aku aja, ntar kalo kamu sakit aku tau cara suapi kamunya," jawab Riki tersenyum ke arah Caca.


"Om doain, Caca sakit?" tanya Caca mendongak melihat ke arah Riki yang berdiri.


"Bukan gitu, tapi apa salahnya belajar?"


"Sama aja doain itu namanya," ketus Caca dan mengalihkan pandangannya.


"Udah, saya bisa sendiri!" Aldy menadahkan tangannya menunggu piring bubur diberikan, Caca dan Riki menatap dirinya sejenak. Aldy menaikkan alisnya tanda bertanya mengapa kedua orang di depannya ini malah menatap dirinya.


"Kenapa?" tanya Aldy yang merasa tak dapat jawaban. Riki langsung memberikan piring buburnya kepada Aldy, ia kembali ke sofa sedangkan Caca tetap di bangku dan membiarkan Aldy makan sendiri.


"Di mana-mana mah, bubur itu pake mangkuk bukan piring," ucap Caca melihat bubur yang ingin tumpah-tumpah akibat kepenuhan.


"Kehabisan kayaknya!" kata Riki yang rupanya mendengar ucapan Caca.


"Kalo pake mangkuk, 'kan itu dibeli di luar. Kalo pake piring itu dibeli di rumah sakit," jawab Aldy sambil menelan buburnya yang tak diaduk.


"Kamu pergi sekolah jam berapa, Cil?" tanya Riki.


"Nunggu Umi datang, Om. Biar ada yang jaga, Om Aldy," tutur Caca menatap Aldy.


"Eh, gak papa," ungkap Aldy mengelap bibirnya dan menelan makanannya, "kamu pergi aja, daripada telat nanti."

__ADS_1


"Belum, Om. Jam tujuh juga belum, upacara jam tujuh lewat tiga puluh menit, kok. Jadi, aman terkendali semuanya!"


__ADS_2