
"Kamu mau sekolah?" tanya Milda melihat Caca keluar dari kamar sudah dengan seragam sekolah.
"Iya, dong Bunda," ujar Caca merapikan pakaiannya.
"Kan masih sakit."
"Enggak, Bunda. Tenang aja!" kata Caca meyakinkan Milda dengan memegang kedua bahu wanita tersebut.
"Yaudah, Bunda buatin sarapan dulu."
"Oke, Bun!" Mereka berjalan secara bersama ke dapur, Caca duduk di bangku meja makan sedangkan Milda membuka kulkas untuk mengambil susu.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Milda menuang susu ke gelas.
"Baik, Bun."
"Sudah mau ujian?"
"Bentar lagi, Bun."
"Mau kuliah di mana?" Milda meletakkan susu ke arah milda dan roti yang sudah diberi selai, ia duduk di depan anaknya yang langsung termenung mungkin masih bingung memilih kampus yang akan dijadikan tempat mengenyam pendidikan selanjutnya.
"Kenapa?" tanya Milda yang melihat Caca masih termenung dan tak kunjung memberi jawaban.
"Emm ... masalah kuliah, nanti Caca pikirkan Bun," jawab Caca menatap wajah Milda.
"Pasti kuliah 'kan?" tanya Milda menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis.
Caca menatap wajah Milda yang sepertinya penuh harap, dua anggukan dan senyum diberikan Caca. Bagaimana pun itu adalah keinginan Milda untuk Caca mau kuliah.
"Yaudah, sarapan buruan. Ntar telat," ujar Milda mengusap tangan Caca. Ia langsung melahap roti yang berisi selai coklat itu dengan lahap dan meminum susu putihnya.
Suara klakson terdengar, Caca segera menghabiskan minumnya. Ia mengumpulkan piring dan gelas bekas sarapannya dan meletakkan di tempat cuci piring, menyalim Milda dan mengecup pipi wanita tersebut.
"Caca sekolah dulu, Bunda. Assalamualaikum," salam Caca dan melangkah keluar dari rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Milda tetap duduk di meja makan.
Caca tersenyum dengan berlari kecil ke arah Riki yang sudah sedia untuk mengantar wanitanya itu.
Caca berjinjit dengan wajah yang dibuat seimut mungkin tak lupa senyum, "Selamat pagi, Om!" teriak Caca di depan Riki.
"Gosah teriak pake teriak segala kalo, Cil! Berisik!" ujar Riki kesal dibuat tingkah Caca.
"Pagi hari itu harus senang dan semangat Om, jangan wajahnya udah di tekuk aja. Udah Om tua, makin tua dah tu akibat selalu di tekuk wajahnya."
"Naik!"
"Tapi, ya Om--" Belum sempat Caca melanjutkan ucapannya, Riki sudah menghidupkan motor dan memundurkan kuda besi tersebut. Sontak saja Caca langsung berlari untuk menghadang sepeda motor tersebut agar jangan pergi.
"Ish! Dasar ngambekan!"
__ADS_1
"Cepat naik!"
"Iya-iya."
Caca langsung memakai helm dan naik ke jok belakang, di saat dirinya berniat ingin naik. Mama Riki pun keluar dengan membawa beberapa pot yang baru.
"Pagi, Tante!" teriak Caca yang sudah duduk di jok belakang.
"Eh, pagi juga Caca," jawab Mama Riki menatap ke arah Caca.
"Pantasan aja pagi ini cerah banget, ternyata akibat senyum manis Tante," rayu Caca tersenyum ke arah Mama Riki. Sedangkan yang dirayu hanya tersenyum sipu akibat wanita bocil seperti Caca.
"Kamu bisa aja," ujar Mama Riki.
Sedangkan Riki hanya melihat sekilas ke arah Caca dengan bergeleng-geleng, ia langsung menghidupkan mesin dan memasukkan persneling motornya.
"Gosah di denger, Ma. Si Bocil boong tuh," ujar Riki sebelum akhirnya menjalankan motor dengan kecepatan yang lumayan agar Caca tak sempat membela dirinya.
"Ish, Om nih!" gerutu Caca sambil memukul bahu Riki yang tertutup jaket kulitnya.
"Kenapa?"
"Apaan, boong. Emang manis juga senyum Tante."
"Iya deh iya."
Caca melihat penampilan Riki, "Eh, kok tumben bawa tas Om?" tanya Caca melihat tas yang diletakkan Riki di dadanya bukan di punggung.
"Oh ... capek, gak Om?"
"Apanya?"
"Kerjanya."
"Mana ada kerja yang gak capek, sih Cil."
"Iya juga, sih."
"Nunggu kamu siap jadi istri saya aja juga lumayan capek."
Caca terdiam mendengar ucapan Riki, ia langsung mengingat keinginan Milda yang menyuruh Caca untuk kuliah terlebih dahulu.
"Lah, kok diam?" tanya Riki yang melihat Caca terdiam.
"Gak papa, Om," jawab Caca cengengesan.
Caca melihat-lihat keadaan jalanan, ia menatap tiap toko yang selalu dilewatinya itu, "Oh, iya Om. Om ... gak ikut balapan lagi 'kan?" tanya Caca sedikit mendekat ke arah Riki.
Riki terdiam mendengar pertanyaan tiba-tiba dari wanita tersebut, "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
"Enggak, cuma nanya aja. Udah enggak 'kan?"
__ADS_1
"Enggak, kok."
"Oh, syukur deh."
"Iya."
"Om, kalau sering begadang dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Kalau berbohong terus menerus dapat buat stres berlebihan, kecemasan dan sakit kepala, lho!"
"Jadi, maksud kamu saya bohong?"
"Enggak, Ca cuma ngasih tau aja, kok," ujar Caca tertawa.
Caca turun setelah ia sudah sampai di depan gedung yang sebentar lagi akan ditinggalkannya, setelah membuka helm Caca langsung memberikan kepada pemiliknya.
"Cil, tunggu!" henti Riki.
Caca yang berniat pergi pun akhirnya terhenti, "Ada apa Om?" tanya Caca menatap wajah Riki yang masih tertutup helm.
Riki membuka tasnya tadi dan mengeluarkan tempat makan berwarna biru, "Nih, buat kamu," jelas Riki memberikan bekal.
Caca mengambil dengan senyum yang sudah ada di wajahnya dengan pipi yang chubby, "Wahh ... makasih, Om. Om yang buat, ya?" tanya Caca melihat-lihat bekal pemberian Riki itu.
"Hmm," jawab Riki cuek.
"Dih, sok cuek segala lu Om. Padahal bucin bener sampe buat bekel begini," ejek Caca tertawa ke arah Riki.
"Jangan ngeselin kamu," ucap Riki dingin.
"Iya-iya, maaf Om. Kalau gitu Caca masuk dulu Om, bye Om ganteng!" teriak Caca sambil berlari masuk ke dalam.
Riki hanya tersenyum dan bergeleng-geleng melihat tingkah laku Caca, "Ada-ada aja si Bocil." Ia kembali menghidupkan motor dan dengan cepat pergi ke tempat kerja miliknya.
'Kenapa, Caca nanya begitu tadi, ya? Apa dia pernah liat aku balapan? Bukannya aku udah suruh semua anggota untuk ngawasin dia di area balapan?' batin Riki yang masih berada di jalan raya.
Saat tengah di perjalanan menuju toko, ada sebuah mobil yang sengaja berhenti di depan motor Riki. Beruntungnya laki-laki tersebut bisa dengan tepat rem sepeda motornya, kalau tidak maka kecelakaan akan terjadi.
Riki langsung menurunkan standar motornya dan juga helm, "Apa-apaan sih nih pengemudi mobil!" geram Riki.
Orang yang mengendarai mobil pun turun, dengan pakaian yang begitu rapi; jas dan juga sepatu. Ia berjalan ke arah Riki sedangkan Riki hanya menyunggingkan bibirnya serta membuang mukanya.
"Masih pagi, udah ada aja hama!" caci Riki yang masih setia di atas sepeda motornya.
"Eh, ketemu lagi kita," ujar laki-laki dengan berdiri tak jauh dari motor Riki.
"Turun dong!" sambungnya lagi. Riki menatap laki-laki tersebut dan melirik arloji berwarna hitam di tangan kirinya.
"Ada apa? Gue gak punya waktu ngurusin makhluk seperti lo!" jelas Riki.
"Oh ... sekarang mau jadi pengecut, ya? Sampe takut ngehadapin gue?"
Riki turun dari sepeda motornya, "Pengecut? Lo yang pengecut karena beraninya cuma sama wanita, doang!" terang Riki menunjuk ke arah Riski.
__ADS_1
Ya, Riski yang menghadang perjalanan Riki. Entah apa maksud dirinya, apakah masih memiliki dendam atau ada urusan lainnya.