
"Assalamualaikum, Tante," panggil Caca dengan nafas yang memburu akibat kelelahan berlari dari rumahnya.
"Waalaikumsalam, bentar," jawab orang yang berada di dalamnya. Setelah terbuka, Caca langsung menyalim tangan Mama Riki, " Tan, ada Om?" tanya Caca dengan muka yang sedikit ketakutan.
"Ada. Kamu kenapa, sih?" tanya Mama Riki melihat Caca yang tak setenang biasanya.
"Di mana Om, Tan?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Mama Riki, Caca malah langsung bertanya balik.
"Di taman belakang, tuh," kata Mama Riki menunjuk ke belakang.
"Caca ke sana dulu, ya, Tan. Izin masuk!" Caca langsung berlari setelah membuka sendal, dirinya tak mau sampai terjadi kesalah pahaman. Caca memakai sendal yang telah disediakan untuk orang pergi ke taman belakang.
Tempat yang sangat dipenuhi oleh bunga dan bahkan ada kolam kecil untuk ikan dibuat di sini, Caca melihat Riki yang terduduk sambil melihat ke tanaman milik Mamanya tersebut. Caca berjalan secara perlahan dan sudah pasti Riki akan mengetahui itu.
"Tinggalkan aku sendiri!" tegasnya dingin tanpa melihat ke samping tempat Caca berada.
Caca sebenarnya takut, Riki bisa saja berkata kasar padanya atau bahkan membentak Caca seperti yang sebelum-sebelumnya. Namun, Caca hanya mau menjelaskan. Jika Riki tak mau mempercayai biarlah itu menjadi urusannya.
Caca tetap duduk di samping Riki dengan keadaan melihat hamparan tanaman juga, "Om tau? Terkadang seseorang menggunakan mata untuk dijadikan patokan atas segala sesuatunya," papar Caca mencoba menjelaskan.
"Caca kemarin pergi ke mall untuk membeli buku dan kebetulan ketemu sama Om Aldy. Ya, dia orang yang waktu di angkot. Dia nyuruh aku buat ke rumahnya karena dia punya banyak novel, aku setujui karena mana tau ada dari sekian novelnya yang aku sukai."
"Dan ternyata, tadi dia menjemput aku dan membawa aku ke rumahnya yang di rumah itu kami gak berdua melainkan ada orang tuanya pun di jalan kami gak ada cerita atau bahas soal perasaan," ungkap Caca menjelaskan apa yang terjadi dan melihat wajah Riki.
__ADS_1
"Sekarang, terserah sama Om mau anggap Caca apa dan menilai Caca gimana. Caca udah jelasin dan kembali kepada Om semua itu," sambung Caca dan menghela nafasnya.
"Dan terkadang, seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain," ucap Riki.
"Om ... Caca gak ada niatan lain, jika memang menurut Om Caca jahat. Maafkan Caca. Caca pergi dulu, Caca hanya mau menjelaskan itu aja." Caca bangkit dan meninggalkan Riki sendirian.
Bukan dirinya jahat, hanya saja Caca tahu. Riki tak bisa jika tetap ditemani saat ini juga, biarkan Riki sendirian selama seharian. Dia akan membaik dan berpikiran jernih atas segala sesuatunya, kini rasa cemburu tengah menyerang laki-laki tersebut.
Caca berjalan masuk kembali, "Udah, Ca?" tanya Mama Riki saat Caca berjalan di rumah tamu sedangkan Mamanya tengah menonton televisi.
"Udah, Tan. Caca pulang dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Caca tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Riki yang kebingungan dengan apa yang terjadi antara mereka.
Caca berjalan ke rumah dengan pelan, dirinya menahan air mata untuk tak turun di jalan. Pintu dibukanya kembali dan tak lupa dikunci, Caca berlari ke kamar dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Apa emang Om seperti ini dengan Caca aja? Dengan mantan Om enggak? Om boleh cemburu sedangkan aku gak boleh! Om egois!" Tak tertahankan lagi oleh Caca, dirinya menumpahkan semua kata-kata yang selalu ingin diucapkannya kepada Riki namun sulit untuk dilakukannya.
Riki selalu memaksa Caca untuk bisa baik-baik saja, padahal terkadang Caca pun ingin memiliki waktu di mana dia merasakan cemburu dan ingin menjauh terlebih dahulu dari Riki. Namun, Riki bukannya membiarkan itu tetapi malah bersikap seolah Caca tak pernah merasakan cemburu atas apa pun yang dia lakukan.
"Om boleh cemburu! Sedangkan aku? Aku pernah Om beri waktu untuk cemburu? Gak!"
"Aku harus tampak baik-baik aja setiap waktunya! Aku capek Om! Hiks ... hiks ...."
__ADS_1
Bertahan dengan seseorang yang toxic memang bukanlah suatu yang baik, namun terkadang diri tak tahu menempatkan rasa nyaman. Entah mengapa perasaan biasanya akan nyaman dengan orang yang toxic.
Caca tertidur dengan air mata yang mengalir, dirinya tak mau terlalu memikirkan hal ini. Bagaimana pun kejadian seperti ini bukan pertama kali dia alami, sudah sangat sering dilaluinya. Caca terbangun sekitar pukul lima sore, beruntungnya matanya tak terlalu bengkak. Ia membuka handphone berharap Riki mau mengirimkan pesan padanya, namun ternyata tak ada.
Suara motor Riki terdengar hingga ke kamar Caca, dirinya langsung bangkit dan mengintip laki-laki yang menggunakan celana hitam kaos hitam dan jaket jeansnya juga helm yang tak akan tinggal.
Caca hanya bisa diam, dirinya tak tahu ke mana laki-laki itu akan pergi. Beberapa detik kemudian, dirinya sudah tak terlihat lagi dengan kendaraannya itu. Caca membuang nafas pelan dan berjalan untuk makan karena menangis dan terlalu keras berpikir membuat asam lambungnya naik.
Setelah selesai makan, Caca membersihkan rumah dan berniat untuk ke toko Milda malam ini. Sekitar tiga puluh menit rumah telah rapi, Caca segera berganti pakaian. Sebelum membereskan rumah ia sudah lebih dulu memesan gojek, setelah dirasa semua sudah selesai.
Caca keluar dan tepat saja gojek datang, dirinya langsung memakai helm dan duduk di jok belakang. Dirinya menikmati suasana sore ini, begitu banyak kendaraan yang pulang dan melihat sunset di sore ini.
"Ini, Pak. Makasih, ya," ujar Caca memberikan ongkos gojek dan mengembalikan helm.
"Sama-sama, Dek."
Caca berjalan ke dalam toko dan melihat beberapa karyawan toko yang kesibukan, Caca menemui Milda terlebih dahulu, "Assalamualaikum, Bunda!" teriak Caca dengan wajah sumbringah.
Milda langsung menutup kupingnya, "His! Kamu ini, biasa aja salamnya. Bunda masih bisa dengar dengan bagus, kok!" geram Milda kepada anaknya itu.
Caca hanya tertawa melihat Milda emosi, "Kebetulan kamu ada di sini, tolong belikan beberapa kopi biar mereka semua semangat dan melek tuh!"
"Oke, Bun!"
__ADS_1
"Nanti suruh mereka aja tuliskan pesanan masing-masing, ini duitnya." Milda memberikan duit untuk membeli kopi nantinya, Caca langsung bertanya kepada beberapa orang yang bekerja di tempat Milda.
Caca berjalan ke cafe langganan Milda dan memang biasanya Milda akan menyuruh dirinya untuk membeli kopi di situ, saat masuk ke dalam cafe. Caca terdiam melihat siapa yang ada di salah satu meja cafe tersebut, dengan seorang wanita yang membiarkan rambut berwarnanya terurai dan baju lengan pendek serta celana pendek tak lupa hells-nya.