Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Handphone Kamera Tiga


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Riki, Caca hanya diam saja dan tampak murung. Beberapa menit akhirnya perawat datang untuk melihat keadaan Aldy. Caca beranjak duduk dari tempat duduknya yang awal.


'Gimana kalo Om kenapa-kenapa?'


'Gimana kalo Om ngelakuin hal yang enggak-enggak?'


'Gimana kalo Om malah balapan lagi?'


Beberapa pertanyaan dilontarkan Caca, namun tak satu pun ia ingin mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di hatinya itu. Tentu saja rasa khawatir selalu ada dikala, ia memilih berjarak kepada Riki.


Laki-laki yang ia kenal ketika tengah terpuruk di waktu itu, segala hal diceritakan Riki kepada Caca. Hingga, hal itu membuat Caca bertahan akan segala luka yang diberikan. Seolah perkataan seseorang tentang, "Kalau sama dia aku terluka, tapi kalo gak sama dia aku jauh terluka." Itu benar adanya.


Caca bangkit dari tempat duduk dan menuju ke arah Aldy yang masih diperiksa, "Om, Caca boleh minjem handphone?" tanya Caca dan mengalihkan pandangan Aldy.


"Ambil aja, Ca. Tuh," ucap Aldy menunjuk handphone-nya.


Caca langsung mengetik nomor milik Riki di benda pipih milik Aldy tadi, ternyata ia tetap tak akan bisa tenang jika sudah menyangkut Riki. Laki-laki itu bisa melakukan hal nekat jika dia mau.


"Semoga diangkat, biasanya dia kepo kok sama nomor baru," kata Caca yang kembali duduk di sofa.


"Halo, siapa?" tanya Riki yang ada di sebrang. Beberapa detik Caca terdiam mendengar suara orang yang sebenarnya ia sangat rindukan cerita padanya, rindu jalan berdua dan juga rindu segala sesuatu tentangnya.


Namun, entah apa sebabnya. Iya, mungkin Caca salah karena terlalu dekat dengan Aldy. Akan tetapi, itu juga bukan inginnya dan mereka pun tak terlalu dekat.


"Om ...," ucap Caca menarik nafasnya pelan.


"Siapa?" tanya Riki.


"Tukang kredit!" ketus Caca yang kesal dengan Riki.


"Hahaha, salah nomor Buk. Saya gak pernah kredit barang, kalo curi baru pernah," jawab Riki dengan tawanya.


"Heh! Om pernah curi barang apa?" tanya Caca sedikit menaikkan suaranya lalu melihat ke arah Aldy. Aldy juga menatap ke arah dirinya membuat Caca akhirnya cengir karena merasa malu.


"Curi hati kamu," goda Riki yang membuat Caca tersenyum meskipun tak dapat dilihat oleh dirinya.


"Heleh, gayamu Om-om."


"Lah, kenapa? Serius ini."


"Om ada di mana?" tanya Caca mengalihkan pembicaraan.


"Lagi di mall."


"Ngapain?" tanya Caca menaikkan alisnya meskipun tak dapat dilihat Riki.


"Ada, deh."


"Yaudah, jangan ngelukai diri sendiri, ya, Om. Jaga kesehatan, Caca matiin dulu."


"Iya, Bocilnya saya."

__ADS_1


"Dih, sok banget si Om. Assalamualaikum."


"Hahaha, waalaikumsalam," balas Riki.


Caca mematikan panggilan dan mengembalikanya, setidaknya ia tahu bahwa Riki tak kenapa-kenapa karena terdengar dari suara tempat Riki juga menunjukkan kalau lagi di mall karena ramai.


Perawat keluar setelah memberikan suntikan di air infus Aldy, Caca duduk dan menatap air infus yang kini berubah jadi warna merah itu.


"Sakit, Om?" tanya Caca melihat wajah Aldy yang pucat.


"Lumayan, tapi udah membaik, kok," jawab Aldy tersenyum.


"Bibir Om pucet banget, mau pake lipstik, gak?" tanya Caca polos.


"Biar apa?" tanya Aldy tersenyum.


"Biar gak pucet, Om."


"Gak usah, Ca. Biar keren kalo pucet gini."


"Gak juga keren."


"Om ngantuk, Ca. Om tidur dulu, ya."


Caca mengangguk, "Eh, tunggu Om!" seru Caca mencegah Aldy yang sudah merasa matanya berat.


"Kenapa?" tanya Aldy berusaha membukakan matanya.


Aldy mengangguk dan tersenyum, "Yaudah, tidur Om tidur," kata Caca dan Aldy langsung tertidur pulas mungkin sudah berada di alam lain.


Caca ikut menundukkan kepalanya di kasur Aldy, karena ada empat puluh menit lagi waktu untuk menunaikan waktu shalat Ashar.


Tiga suara ketukan mampu membangunkan Caca yang tadinya sudah ingin masuk ke alam mimpi, namun harus batal karena ada orang di luar. Caca melihat Aldy masih tertidur pulas, ia langsung berdiri dan melihat.


"Om, kenapa gak masuk?" tanya Caca mendongak melihat wajah Riki dengan mengucek matanya.


"Gak papa, biar saya gak cemburu. Boleh kita duduk kembali?" tanya Riki dan menunjuk tempat duduk.


Caca tersenyum dan langsung duduk diikuti oleh Riki, ia menyerahkan kantong kresek kepada Caca dan membuat Caca mengerutkan dahinya.


"Biar kamu gampang menghubungi saya," ucap Riki saat Caca menanya isi kresek tersebut dengan menatap.


Caca langsung membuka dan melihat handphone keluaran terbaru yang memiliki kamera tiga itu, "Om, kok yang ini?" tanya Caca dengan wajah yang tak sama sekali menampilkan bahagia.


"Kenapa? Kamu gak suka?"


"Om, ini terlalu mahal. Yang murah aja seharusnya."


"Bahkan, handphone kamu itu jauh lebih mahal daripada handphone ini. Kenangan gak akan mampu dibeli dengan uang," papar Riki yang membuat Caca meneteskan air matanya langsung di hadapannya.


Riki langsung menghapus menggunakan jaket kulitnya itu, "Udah, jangan nangis. Kamu makin jelek, nanti!"

__ADS_1


"Bilang aja Om takut nangis juga karena liat Caca nangis," ujar Caca menghapus air matanya.


"Heh, sotoy kamu Bocil."


"Heleh, emang iya juga," ujar Caca tertawa.


"Jadi, gimana?"


"Apanya, Om?"


"Kamu yang akan jaga, dia?"


"Iya, Om. Gimana pun ini semua juga kesalahan, Caca. Ya, Caca harus tanggung jawab setidaknya merawat Om Aldy sampai sembuh."


"Yaudah, kalo gitu saya juga ikut rawat dia. Malam saya akan ikut tidur di sini," tegas Riki yang membuat Caca melebarkan matanya.


"Ih, ngapain?"


"Lah, ngapain apanya? Kan, udah saya jelasin tadi. Daripada berdua, gak baik kalo dia macem-macem gimana?" tanya Riki menatap Caca.


"Dia sakit, Om. Yakali mau macem-macem."


"Kita gak tau bisikan setan, Cil! Udah, pokoknya tiap malam saya akan datang tidur di sini juga. Dan akan sekalian ngantar kamu sekolah," jelas Riki sambil menaik-turunkan alisnya.


"Gak, ih!" bantah Caca dengan keputusan Riki.


"Gak boleh ada penolakan! Titik pokoknya!" jelas Riki dan bangkit meninggalkan Caca. Mungkin ia akan mengambil baju atau lainnya.


Caca hanya menatap punggung yang semakin menjauh itu, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat tingkah Riki. Setelahnya, Caca kembali masuk ke ruangan melihat jam dan keadaan Aldy. Bisa jadi suara adzan tak terdengar, ia memasukkan kotak handphone dan melihat handphone tersebut.


Nomor Riki sebagai kontak pertama di dalamnya yang diberinya nama, 'Calon Suami.' Caca hanya tertawa melihat nama alay yang dibuatnya sendiri.


"Alay batt nih orang," ujar Caca tertawa.


"Siapa yang alay, Ca?" tanya seseorang yang baru masuk. Caca kaget hingga bahunya naik dan langsung menatap ke arah suara itu.


"Ih, Bunda! Buat kaget aja!" geram Caca dengan tingkah jahil Milda.


"Lagian, ngomong sendiri."


"Bunda sama Umi dari mana? Kok lama?"


"Habis ngurus masalah mobil dan cari pelakunya."


"Dapat?"


"Belum, nanti kalo dapat langsung dikabari. Cuma, udah minta ditelusuri tinggal nunggu hasil. Mobil Aldy juga udah dapat itu, seragam dan buku kamu untuk besok udah Bunda bawa juga!"


"Makasih, Bunda!" seru Caca memeluk Milda.


"Itu, handphone siapa?" tanya Milda menatap handphone yang ada di paha Caca.

__ADS_1


__ADS_2