Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Ingin Di Posisimu


__ADS_3

"Assalamualaikum, Om!" teriak Caca masuk ke dalam ruangan Aldy. Ketika ia melihat ke arah sofa ternyata ada Annisa ia segera menutup mulut, "hehehe, maaf Tante."


"Iya, gak papa."


"Kamu ini, kirain tempat apaan teriak segala, Ca?" tanya Aldy menatap Caca yang meletakkan tasnya di atas lemari.


"Maaf, Om. Biar lebih semangat, gitu!" Caca berjalan ke arah Annisa dan menyalim tangan wanita itu.


"Caca, ada seseorang yang nanti akan datang. Kamu makan dulu, ya." Annisa memberikan nasi kotak yang telah dibelinya sebelumnya.


Caca menautkan alisnya dan menatap Aldy mencoba mencari jawaban atas apa yang dikatakan Annisa barusan.


"Siapa emangnya yang mau datang, Umi?" tanya Caca membuka nasi kotaknya.


"Ada, deh. Nanti juga kamu tau sendiri."


Caca mengangguk dan melahap makanannya, ia sudah lapar meskipun tadi pagi sudah makan, "Kamu pulang naik apa, Ca?" tanya Aldy menatap Caca yang lagi fokus makan.


"Naik gojek, Om."


"Riki mana?"


"Ada kerjaan yang gak bisa ditinggal, jadi mau gak mau ya harus mau," kata Caca tersenyum.


Setelah selesai makan, Caca segera berganti pakaian. Ia sudah shalat sebelumnya di musala sekolah, Caca duduk di kursi dekat Aldy mereka saling membaca novel yang ada.


Aldy sudah makan dan minum obat, kata dokter dirinya besok sudah dapat pulang syukurnya tak sampai lima hari ternyata lukanya sudah lumayan sembuh.

__ADS_1


Annisa keluar ruangan menunggu orang yang ingin datang dan bertemu dengan Aldy dan juga Caca.


"Assalamualaikum," salam seseorang membuat Caca dan Aldy menatap ke arah pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Caca dengan menaikkan alis melihat tamu yang datang, "orang yang dimaksud Umi itu, Tante Fina?" Caca mengalihkan pandangan ke arah Aldy mempertanyakan kebenarannya, Aldy mengangguk beberapa kali menjawab pertanyaan Caca.


Fina jalan menuju sofa, Caca melihat ke arah Fina yang sangat berbeda dari biasanya. Fina tampak memperlihatkan wajah sedihnya bukan seorang Fina yang dulu.


Setelah duduk, Fina tetap menundukkan kepalanya dan diam sedangkan Caca masih bingung dengan apa yang terjadi di ruangan ini.


"Ada apa, Tante?" tanya Caca menatap Fina lekat dari bangkunya tetap. Caca menatap hells yang dipakai Fina, ia mengingat-ingat lagi seolah pernah melihat hells tersebut.


"Eh, hells Tante kayak hells seseorang yang menguncikan saya di toilet dan saya siram, deh," terang Caca melihat ke arah Fina dan menatap sekilas ke arah Aldy.


"Ya, dan dia juga yang mau menculik kamu," ucap Aldy menjawab pertanyaan dari Caca.


"Tante kok sejahat itu sama, Caca? Caca salah apa Tante. Caca gak pernah ngapain-ngapain Tante," cakap Caca dengan suara bergetar.


Fina masih diam dan tak menjawab pertanyaan dari Caca, ia pun tak berani menatap wajah Caca itu.


"Gimana sih jalan pikiran kamu pas mau celakain dia? Aku gak paham, padahal kamu bukan anak-anak lagi Fina. Harus bisa bedain mana yang bahaya buat orang lain dan mana yang enggak, dong!" tegur Aldy yang sudah tak tertahankan mengingat betapa sadisnya cara Fina kepada Caca yang masih SMA ini. Sedangkan dirinya bahkan sudah memiliki anak.


"Iya! Aku emang terkesan gila 'kan menurut kamu? Gak punya hati? Iya, emang itu aku! Karena hati aku sudah aku kasih ke kamu semuanya!" bentak Fina menatap ke arah Aldy dengan emosi yang menyala-nyala.


"Dan untuk kamu! Kamu tanya kenapa saya mampu sejahat itu? Alasannya adalah karena saya ingin merasakan di posisi kamu!" sambung Fina dengan suara yang masih sama.


"Posisi apa? Posisi apa yang Tante mau? Saya aja capek Tante! Ayok tukaran posisi, Tante dengan berbagai orang yang membenci dan saya dengan anak yang cantik!" tegas Caca dengan suara lantang. Ia bahkan sampai menetaskan air mata ketika tahu siapa yang melakukan hal sesadis itu padanya namun secepat mungkin ia hapus air matanya, sedangkan anak Fina memang diberi tahu Aldy wajah anaknya.

__ADS_1


"Halah! Gak usah sok merasa paling tertindas deh kamu! Kalo kamu capek kenapa masih aja ada di samping Al? Kamu bukan capek tapi menikmati!" cerca Fina dengan wajah sinisnya.


"Apa yang kamu maksud dengan menikmati, Fina!" geram Aldy dengan suaranya yang besar membuat Fina sampai kaget. Caca segera menatap ke arah Aldy, "Om, ini rumah sakit dan Om lagi sakit. Lebih baik jangan emosi begitu," ucap Caca mengingatkan kondisi laki-laki tersebut.


"Tante ... saya saja baru bertemu dengan Om Aldy, bukankah selama ini dia bisa dengan gampang Tante ambil hatinya? Lalu kenapa belum bisa Tante ambil? Karena emang dia udah gak mau sama Tante, seharusnya Tante itu sadar akan hal itu bukannya malah menyalahkan seseorang atas hal ini!" ungkap Caca dengan tersenyum kepada Fina.


"Kayaknya kamu emang lebih baik masuk ke dalam penjara, deh! Kalo enggak manusia kayak kamu akan berkeliaran untuk menyakiti orang-orang yang sama sekali gak bersalah."


"Al ... Al, aku mohon jangan. Kamu, 'kan tau kalo anak aku masih kecil. Aku mohon jangan masukkan aku ke penjara," mohon Fina dengan menyatukan kedua tangannya.


Sedangkan Caca hanya datar melihat hal itu, ia tak yakin bahwa Fina akan benar-benar berubah selama masih ada dirinya di kehidupan atau di samping Aldy.


"Enggak, kamu pasti akan melakukan kesalahan lagi dan lagi!" ujar Aldy yang tak percaya dengan permohonan dari Fina.


Fina mengucapkan berbagai permohonannya dan Aldy mengucapkan juga berbagai bantahan atas apa yang diucapkan oleh Fina, sedangkan Caca hanya diam saja mendengar penuturan kedua orang yang dulunya saling cinta tersebut.


"Tante, berikan Caca waktu kurang lebih enam bulan. Setelah itu, Caca janji akan pergi dan menjauh dari kehidupan Om Aldy," ucap Caca menatap ke arah Fina dan membuat kedua orang yang sedang berdebat tadinya menjadi bungkam.


"Apa maksud kamu, Ca?" tanya Aldy yang merasa bahwa Caca mengada-ngada.


"Gak papa Om," jawab Caca tanpa menghadap atau melihat ke arah Riki.


"Jika setelah kepergian saya, Tante gak bisa juga mendapatkan hati Om Aldy. Maka, Tante harus mengikhlaskan dirinya bahagia dengan siapa pun itu. Kalau Tante melakukan kesalahan yang sama pada wanita pilihan Om Aldy nanti, siap-siap gak akan ada toleransi lagi meskipun itu karena anak Tante yang masih kecil," tegas Caca tersenyum ke arah Fina.


"Seseorang juga berhak melanjutkan hidupnya Tante, Tante gak bisa memaksa seseorang untuk tetap sama Tante. Kalau Tante bilang ini sekarang karena cinta Tante yang begitu dalam kepada Om Aldy, Tante salah! Ini bukan cinta, tapi obsesi Tante semata dan cinta yang dipaksa bukan akan menampilkan bahagia tapi tersiksa," sambung Caca lagi yang membuat Fina menunduk.


'Ca ... inilah alasan aku menyukaimu,' batin Aldy menatap punggung Caca.

__ADS_1


__ADS_2