Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Hanya Untuk Sementara


__ADS_3

"Mau ke mana bawa tas? Kan, hari Ahad," tanya Milds melihat Caca keluar dari kamar menggunakan ransel yang sudah ada di punggung.


Seperti ucapan Riki kemarin, bahwa hari Ahad mereka akan belajar bareng tapi lebih tepatnya Riki akan mengajarinya.


"Ini, Bun. Kemarin Om nyuruh Caca buat kita belajar bareng karena bentar lagi juga akan ujian sekolah," jawab Caca di samping tempat duduk karena Milda tengah duduk sambil menonton TV.


Milda melihat ke arah halaman melalui kaca yang ada di sisi pintu, "Nyari apa, Bun?" tanya Caca kebingungan melihat tingkah Milda.


"Om siapa? Kok Riki gak ada jemput."


"Iya, jumpa di cafe langsung Bun." Caca mendekat dan memegang bahu Milda, "bunda gak perlu takut, Caca gak akan boong kok." Caca menampilkan gigi tapi dan bersihnya itu ke arah Milda.


"Bener, ya?" Milda berucap datar dan menunjuk ke arah Caca.


"Iya, Bunda," kata Caca mengangguk dan tersenyum. Ia langsung mengulurkan tangannya agar bisa bersalim kepada Milda, setelah tangan Milda ia salim dirinya mengecup pipi kanan Milda dan langsung lari keluar.


Caca sudah memesan ojek online, Caca menyempatkan melihat ke arah rumah Riki memastikan bahwa laki-laki itu sudah pergi lebih dulu. Namun, seperti sudah karena motor milik Riki sudah tidak ada juga Riki bukanlah orang yang sudah mengulur dan sangat jarang telat ketika sudah berjanji.


Di perjalanan Caca tak terlalu banyak bertanya kepada tukang ojek online, karena biasanya ia akan bertanya soal apa saja jika dirinya menang sudah kepo.


"Makasih, Pak!" Caca mengembalikan helm dan memberikan ongkos, ia langsung masuk ke cafe yang sudah disuruh Riki untuk datang sekitar tiga puluh lima menit dari rumahnya.


Riki berada di rooftop cafe ini, di lantai dua lebih tepatnya. Beruntungnya memang cuaca tak terlalu panas, jadi masih bisa duduk atau bersantai di rooftop cafe.


Caca mengerutkan keningnya kala melihat ada seorang wanita yang duduk di depan Riki namun tak dapat dilihat oleh Caca akibat wanita itu duduk menghadap ke belakangan pintu.


"Om?" tanya Caca dengan langkah pelan menuju meja Riki. Riki yang fokus tengah berbicara dengan wanita itu langsung mengalihkan perhatian pun wanita tersebut, ia langsung mendongak dan tersenyum ke arah Caca.

__ADS_1


"Eh, kamu udah datang?" tanya Riki yang berdiri diikuti wanita itu.


Caca hanya diam, ia tak menjawab apa pun dirinya hanya menatap Riki seolah minta penjelasan tentang wanita yang ada di depannya sekarang.


"Oh, ini. Dia Sindi asisten pribadi saya yang baru," sambung Riki seolah tahu apa maksud dari tatapan Caca.


"Tapi, ini 'kan weekend Om. Kenapa bahas kantor di hari weekend mana di cafe pulak."


"Iya, biar besok dia langsung masuk aja ke kantor. Jadi, saya jelaskan semuanya."


Caca melihat ke arah wanita itu, minat Caca yang tadinya sangat ingin belajar menjadi hilang tergantikan dengan sejuta pertanyaan untuk hal yang sekarang ia lihat. Wanita itu hanya tersenyum ramah kepada Caca, senyum yang sangat sulit diartikan.


"Hay, Caca. Nama saya Sindi, kamu gak usah takut tentang Pak Riki. Saya gak akan macam-macam, kok," kata Sindi meyakinkan Caca.


"Gak ada yang bilang kamu akan macam-macam sama Om dan gak ada yang nuduh kamu, jadi ngapain klarifikasi di awal? Agar menenangkan atau ngasih tau niat burukmu itu?" tanya Caca menatap sinis kepada Sindi.


Sedangkan Sindi langsung mendatarkan wajahnya, mungkin ia juga ingin mengucapkan atau membalas kata-kata dari Caca hanya saja tak mungkin di depan Riki.


Sebisa mungkin Caca menahan agar bulir itu tak jatuh, dirinya memang paling tak bisa dibentak oleh orang yang ia yakini akan menjaga bukan menyakitinya.


"Yaudah, lanjutkan aja kerjaannya. Saya permisi." Caca pergi dengan tersenyum tipis, ia berbalik badan dan berlari keluar cafe. Di perjalanan air mata sudah tak terbendung namun dengan cepat Caca langsung menghapusnya.


Riki terdiam sejenak melihat kepergian Caca, "Rik, kok gak kamu kejar?" tanya Sindi melihat Riki yang hanya menatap kepergian Caca.


"Gak papa, besok juga udah baikan, kok. Yuk, duduk!"


Sindi tersenyum puas dengan jawaban Riki dan tindakan yang dilakukan Riki, Caca membuka handphone dan memblokir seluruh media sosial milik Riki ia berjalan tanpa melihat ke arah jalanan.

__ADS_1


Cittt ...!


Suara rem mobil terdengar dan membuat Caca menutup kuping melihat ke arah samping kanan mobil hitam yang hampir mengenai dirinya, kaca mobil depannya terbuka dan menampilkan pengendara di dalamnya.


"Kalau jalan hati-hati dong! Ini bukan jalan pribadi kamu!" bentak orang tersebut yang mungkin juga ketakutan jika Caca sampai terjadi apa-apa akibatnya.


"Ma-maaf, Pak!" Caca segera beralih ke sebrang jalan dengan tubuh yang sudah bergetar akibat ketakutan juga detak jantung yang begitu kencang. Ia duduk sebentar di pinggiran jalan dengan menyembunyikan wajahnya di tangannya.


Seolah tak ada lagi malu di lihatin oleh beberapa pengendara, bagi Caca sekarang mengeluarkan kesedihan dan bercampur ketakutan lebih penting.


'Mungkin, memang aku tak ditakdirkan untuk selamanya menjadi milik tuan Kulkas tersebut. Aku, hanya ditakdirkan sebagai persinggahannya saja dan tak lebih,' batin Caca di perjalanannya. Ia berjalan menuju halte yang memang dicari agak jauh dari cafe, keadaan halte yang sunyi dan hanya ada seorang laki-laki di sana.


Caca duduk di bangku yang paling jauh dari laki-laki asing tersebut, Caca menatap lurus dan tak melihat ke arah laki-laki itu sebenarnya ada rasa takut terhadap orang itu apalagi keadaannya wilayah itu sunyi.


Saat laki-laki itu bergeser mendekati Caca, Caca diam dan bergeser menjauh dari laki-laki tersebut. Tak cukup sekali, laki-laki itu melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.


Hingga akhirnya ada seseorang yang duduk di antara mereka dengan tersenyum manis ke arah Caca, "Om Aldy?" tanya Caca menatap Aldy yang tiba-tiba ada di sini.


"Hay, Caca. Kamu kok ada di sini? Padahal, ini daerah rawan dengan laki-laki mesum dan perampokan, lho."


"Iya, 'kan Pak?" tanya Aldy menatap laki-laki tadi.


"Hehe, saya gak tau Nak. Bukan warga daerah sini soalnya, saya duluan." Orang tadi langsung pergi setelah kedatangan Aldy.


Caca yang dari tadi sudah ketakutan langsung memeluk Aldy, Aldy yang dipeluk langsung kaget dan menatap ke arah Caca.


"Makasih, Om. Makasih banget, Caca ketakutan tadi. Kalo Caca teriak dia malah akan langsung apa-apain Caca, mangkanya Caca diam aja tadi," jelas Caca dengan suara tangisan.

__ADS_1


Aldy yang mendengar suara tangisan dari bibir Caca langsung menatap wajah wanita itu, "Eh, kamu kok nangis? Masa cuma gara-gara itu nangis, kamu kenapa Ca?" tanya Aldy panik dengan Caca yang tak biasanya seperti ini.


Caca melepaskan pelukan dan terdiam menatap jalanan, "Maafkan Caca Om, gak sengaja peluk Om," ujar Caca dengan mengelap air mata juga cairan yang keluar dari hidung menggunakan hijab miliknya.


__ADS_2