Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Kartu Ice Cream


__ADS_3

Caca dan Aldy berjalan bersamaan ke kasir untuk membayar makanannya, Aldy melihat kantong plastik yang dibawa Caca, "Itu apa?" tanya Aldy.


Caca melirik kantong plastik yang ada di genggamannya, "Ini di dalamnya buku, Om. Tadi habis dari toko buku," jawab Caca menatap Aldy sekilas.


"Kamu suka baca buku?" Caca hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Aldy sebagai jawaban, "Kapan-kapan kamu sepertinya harus ke rumah saya, ada berbagai buku novel di rumah yang sudah dan belum saya baca. Tapi masih bagus semua, kok," jelas Aldy.


Caca yang mendengar kalimat tersebut langsung tersenyum, "Wah, benar Om? Boleh deh, nanti kapan-kapan main ke rumah Om." Aldy tersenyum dan tanpa mereka sadari telah sampai di meja kasir.


"Berapa totalnya, Mbak?" tanya Aldy dan mengeluarkan dompet dari saku celananya.


"150rb, Pak."


"Itu sama pesanan dia?" tanya Aldy melihat ke arah pelayan.


"Sudah, Pak," ujar pelayan. Caca mengambil uang dari tasnya satu lembar berwarna merah ke merah jambuan, dan memberikannya pada pelayan.


Aldy langsung menatap apa yang dilakukan Caca, "Ngapain?" tanya Aldy dengan uang Caca yang sudah akan diambil.


"Bayar pesanan," jawab Caca polos. Aldy memang baju Caca yang kebetulan dirinya menggunakan gamis over size dan menjauhkan tangan tersebut dari tempat pembayaran.


"Biar saya saja." Aldy memberikan kartu kepada pelayan tersebut, Caca akhirnya hanya diam dan membiarkan Aldy yang membayarnya. Dirinya tak ingin hanya gara-gara membayar mereka malah berdebat sedangkan di belakang masih ada orang yang antre.


Setelah selesai mereka pun berjalan ke luar toko ice cream, "Om!" panggil Caca yang membuat Aldy menatap dirinya.


"Ada apa?"


"Kok kartu ATM-nya punya Om warna hitam? Kalau punya Bunda Caca warnanya gak gitu," ucap Caca yang tak tahu tentang kartu-kartuan yang ada.


"Caca punya kartu juga?" Aldy tersenyum melihat, Caca langsung bergeleng cepat dengan wajah polosnya.


"Hmm ... kalau kartu hitam ini, bisa untuk bayar ice cream," sambung Aldy berbohong.


"Iyakah?" tanya Caca yang sedikit tak percaya.


"Hahaha, lihat! Buktinya tadi bisa bayar ice cream 'kan?" tanya Aldy tertawa yang semakin membuat Caca kebingungan.


"Iya, sih." Caca tampak kebingungan untuk percaya akan hal itu, tapi dirinya memilih untuk percaya saja dan membiarkan masalah kartu hitam tersebut.


"Kamu pulang sama siapa?"


"Sendiri, Om. Udah pesan ojek online, kok."

__ADS_1


"Oh."


Mereka telah sampai di luar Mall, ojek Caca pun telah menunggu dirinya, "Om, saya duluan ya. Terima kasih buat traktirannya, daaa," pamit Caca dan naik ke jok belakang setelah selesai memakai helm terlebih dulu.


Aldy hanya membalas senyuman, dan setelah melihat Caca menjauh Aldy kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan tugasnya. Tadinya dirinya ke mall memang untuk istirahat sebentar sebelum bertugas lagi dengan pasien yang ada, dirinya tidak menggunakan jas dokternya. Jadi, bisa dipastikan bahwa Caca belum tahu pekerjaan laki-laki hidung mancung, sedikit berotot, alis tebal dan memiliki lesung pipi tersebut.


Aldy berjalan masuk ke rumah sakit, "Eh, Dok. Kok setelah pergi beli ice cream, malah senyum-senyum begitu?" tanya perawatnya melihat Aldy yang senyum-senyum sendiri.


Aldy langsung menghentikan langkahnya dan mencoba mendatarkan kembali wajahnya, "Eh, hmm. Tidak papa, saya permisi." Aldy berjalan lagi ke ruangannya, "Sepertinya ada yang gak beres sama aku," ucap Aldy ketika sudah berada di ruangan miliknya dan duduk di kursi.


Dirinya tersenyum mengingat apa yang dilakukannya dengan Caca tadi, ketidaksengajaan yang membuat tumbuhnya perasaan? Sedangkan di lain sisi Caca fokus pada jalanan dan gedung-gedung bertingkat yang ada.


"Pak!" panggil Caca kepada tukang ojek.


"Iya, Dek?"


"Kartu ice cream di mana buatnya, ya?" tanya Caca dengan wajah kebingungan.


"Ha?"


"Bapak gak tau? Itu, lho! Kartu yang warna hitam buat bayar ice cream," jelas Caca.


"Black card?"


"Ha?"


"Penting apanya, Pak?"


"Iya, itu uangnya gak terbatas!"


"Hahaha, sotoy si Bapak!" ujar Caca tertawa. Sedangkan tukang ojek hanya bisa diam saja mendengar kepolosan Caca.


Caca telah sampai di rumah dan melihat ke halaman Riki yang belum terlihat ada motornya, Caca segera memberikan ongkos dan masuk ke rumah untuk bersih-bersih rumah dan tubuh tak lupa membersihkan rumah yang sedikit berdebu.


Ketika tengah menyapu, suara ketukan terdengar Caca langsung masuk ke kamar untuk mengambil hijab instannya dan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Iya, ada apa?" tanya Caca membuka pintu sebelum melihat orang yang datang.


"Ini, dari Mama," ujar Riki menyerahkan rantang yang mungkin berisikan lauk-pauk.


"Kok tumben pake rantang?" tanya Caca mengambil rantang dan melihatnya dari tingkat satu dan tiga.

__ADS_1


"Gak tau, cuma di suruh nganter doang."


"Oh ... oke, Om! Terima kasih, ya," ujar Caca tersenyum. Riki hanya menaikkan kedua alisnya dan pergi dari rumah Caca sedangkan Caca kembali mengunci pintu dan melanjutkan pekerjaan yang hampir selesai.


Sudah mandi, beberes rumah, mengerjakan tugas dan juga mengisi perut. Caca menghidupkan televisi dan mengambil buku yang baru dibelinya tadi, dia juga membawa handphone agar jika ada yang menghubunginya dia bisa langsung mengangkat dan mendengar deringan.


Plastik buku sangat pelan-pelan dibuka oleh Caca, dirinya takut nantinya cover buku robek dan sebagainya. Dirinya tersenyum melihat buku baru tersebut, sudah lama ia tak menambah koleksi buku yang ada.


Begitu membuka buku, dirinya langsung terpanah dan terdiam membaca catatan yang dibuat oleh penulisnya, "Sebaik apa pun kamu memperlakukan orang yang sekarang, dia akan kembali lagi ke masa lalunya karena dia merasa tetap orang di masa lalunya yang bisa mengerti dirinya tersebut." Tulisan Author tersebut.


Caca langsung menutup buku dan meletakkannya di samping tempat duduknya, mood yang ingin membaca seketika hilang dibuat oleh catatan penulis tersebut.


Handphone milik Caca berdering membuat dirinya kaget, dia langsung melihat dari siapa panggilan tersebut, "Iya, ada apa Om?" tanya Caca keheranan melihat nama kontak Riki yang memanggilnya.


"Gak ada."


"Lah, kok nelpon?" tanya Caca kebingungan.


"Kangen aja," jawab Riki dari sebrang.


"Gaya batt, kangen segala hahaha," sindir Caca dengan tertawa.


"Kamu lagi ngapain?" Caca melihat ke arah buku yang tadinya berniat ingin dia baca.


"Oh, iya Om. Caca mau cerita."


"Apa?"


"Kan, ini ya. Caca baru beli buku dan isi buku itu ada kalimat yang kurang lebih tuh gini, mau sedekat apa pun kita dengan seseorang tetap aja pemenang di hatinya adalah orang di masa lalunya," ungkap Caca.


"Terus?"


"Apakah emang gitu, Om?"


"Kalo endingnya pemenangnya adalah orang di masa lalunya, kenapa dia tinggalkan kemenangan tersebut? Seharusnya dia bertahan, bukan?"


"Bisa aja karena penasaran dengan orang baru, Om."


"Gak. Gak ada seperti itu, bukan mudah untuk membangun kepercayaan dan membuka hati bagi setiap cewek dan cowok," jelas Riki.


"Udah, lebih baik kamu gak usah baca buku itu. Kasih aja nanti ke teman kamu, uang beli buku itu akan saya transfer ke rekening kamu," sambung Riki yang langsung menutup panggilan sepihak.

__ADS_1


Caca langsung melirik buku yang tak sempat dibacanya dan melihat ke handphone yang masuk notifikasi dari Riki yang telah mentransfer dirinya, Caca pun memilih untuk lebih baik menonton saja.


__ADS_2