
Pintu ruangan Aldy terbuka, Caca langsung bangkit dan menatap perawatnya, "Ada apa, Kak?" tanya Caca dengan wajah serius.
"Gak papa, Dek. Ini handphone-nya," ujar perawat mengulurkan handphone Aldy.
"Oh, iya. Baju pasien ada yang baru? Biar langsung digantikan sama baju pasien aja," sambung perawat sebelum masuk.
"Mmm ... pakai yang dari rumah sakit dulu, ya, Kak. Nanti baru diganti pakai baju baru," jawab Caca yang kebingungan.
"Yaudah, saya permisi masuk lagi." Caca mengangguk, ia kembali duduk dan melihat handphone Aldy.
"Semoga gak pake kunci layar segala," ucap Caca dan menghidupkan handphone Aldy.
Ia membuka dan beruntungnya Aldy tak menggunakan kunci layar, ia segera mencari nama Annisa yang mungkin dibuat dengan nama lain.
"Pasti ini," ucap Caca saat melihat kontak bertuliskan, 'Umi'
"Angkat dong, Umi," sambung Caca dengan menggigit ujung kukunya.
"Assalamualaikum, Al. Ada apa?" tanya Annisa setelah panggilan tersambung.
"Waalaikumsalam, Umi. Ini Caca," jawab Caca dengan degub jantung yang cepat. Ia bingung harus melakukan apa sekarang, dirinya takut jika Annisa akan membenci Caca.
"Eh, kok handphone Al ada di kamu, Nak?" tanya Annisa lembut.
"Umi, bisa datang ke rumah sakit Permata Harapan?"
"Ada apa di sana?"
"Nanti, Caca jelasin. Umi ke sini sekalian bawa baju, dan celana Om Aldy, ya, Umi."
"Oke, Caca. Umi segera ke sana."
"Yaudah, Umi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan diakhiri, Caca memegang handphone dengan erat dan mematikannya setelah selesai. Sekarang, ia tak memikirkan tentang siapa yang dengan tega ingin melukainya melainkan fokus keadaan Aldy.
Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya perawat dan dokter yang ada di dalam keluar ruangan.
__ADS_1
"Gimana keadaan Om, Dokter?" tanya Caca saat dokter keluar ruangan.
"Alhamdulillah dia gak papa, hanya luka dikit saja dan beruntung tusukannya tak terlalu dalam," jelas dokter.
"Gak ada yang beruntung kalo sakit, Dok!" ujar Caca dengan wajah yang tak sama sekali ada senyumnya.
"Baiklah kalo gitu, saya duluan, ya," kata dokter tersenyum dan pergi dari depan ruangan.
Caca langsung bergegas masuk ke ruangan dan melihat Aldy di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.
"Adik, Kakaknya di sini dulu satu hari, ya. Besok baru dipindahkan ke kamar pribadi, tanya sama Mama mau kamar khusus sendiri atau ramai-ramai, ya," papar perawat yang ternyata masih ada satu orang lagi yang mungkin tengah mencek beberapa hal.
"Iya, Kak."
"Makanannya juga bentar lagi akan diantar, kalau begitu Kakak duluan, ya," ucapnya pergi dengan tangan yang memegang kertas juga pena.
Caca duduk di kursi yang memang sudah disediakan pihak rumah sakit dan menatap wajah Aldy yang sudah tak terlalu pucat, tubuhnya juga mungkin sudah di lap oleh perawat bekas darah sudah tak ada.
"Om, maafin Caca, ya. Kayaknya emang Caca harus menjauh dari hidup, Om agar Om bisa tenang gak kayak gini," ucap Caca dengan isakan yang kembali keluar. Ia membiarkan kepalanya di kasur Aldy, Caca tertidur dengan keadaan duduk dan kepala yang dibiarkan di kasur.
Karena pada dasarnya, ketika diri sudah letih menangis maka rasa kantuk pun akan menyerang mungkin memang seperti itu adanya agar menenangkan diri.
"Caca ke mana, ya?" tanya Riki menelpon-nelpon Caca.
Riki baru saja keluar dan selesai berbincang-bincang dengan ibu Diva, ia kini tengah menduduki kuda besinya namun ia baru teringat dengan Milda yang bertanya pada Riki soal Caca.
'Apa Caca belum pulang juga setelah dia liat aku sama wanita di cafe tadi?' batin Riki dan langsung memakai helm dan menghidupkan mesin motornya.
"Hati-hati, Riki! Jangan ngebut!" peringat Diva dengan teriak saat laki-laki tersebut menjalankan motornya dengan kecepatan.
"Kenapa, ya, Riki?" tanya Diva menautkan alisnya.
"Sudahlah, ngapain juga aku pikirin. Yang penting tadi aku bisa deket sama dia meskipun cara deketnya lumayan ekstrem," sambung Diva dan tersenyum mengingat kejadian bertemunya dengan Riki tadi.
"Ca ...," panggil seseorang. Caca yang namanya dipanggil langsung menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Eh, Om udah bangun?" tanya Caca melihat Aldy yang sudah tersenyum menatapnya.
"Kok baju Om udah ganti?" sambung Caca melihat baju Aldy yang berbeda dengan baju sebelumnya.
__ADS_1
"Iya, Umi yang gantikan tadi."
"Ha? Uminya sekarang di mana, Om?" tanya Caca kaget karena dirinya bukannya menjaga Aldy malah tertidur.
"Lagi keluar tadi, katanya mau nyari makan kamu dan ngurus kamar rumah sakit, sih," papar Aldy tersenyum ke arah Caca.
Caca mengedarkan pandangannya, melihat makanan masih ada di nakas belum tersentuh. Mungkin baru datang dan tak sempat disuapkan Annisa kepada Aldy.
"Om mau makan?" tanya Caca dan bangkit ke arah kiri Aldy karena nakas ada disebelah kiri.
"Boleh, deh."
Caca kembali ke sebelah kanan dengan membawa nampan yang berisi minum, bubur, buah-buahan dan juga obat.
"Om harus banyak makan, biar cepat sembuh," ujar Caca menyendok bubur.
"Kamu gak risih?" tanya Aldy dan membuat Caca menatap ke arah Aldy.
"Risih kenapa, Om?" tanya Caca menautkan alisnya.
Aldy menatap hijab Caca yang terkena darah luka Aldy tadi, Caca pun mengikut ke mana arah pandangan laki-laki itu.
"Enggak, Om. Bunda tadi katanya mau ngambil baju Caca, tapi sekalian mau ngurus masalah mobil Om dan segala macamnya."
"Kamu liat tukang angkot tadi?" tanya Aldy dengan Caca yang sudah menyodorkan sendok berisi bubur di atasnya.
Aldy langsung membuka mulutnya dan menerima sodoran tersebut, "Liat maksudnya gimana, Om?" tanya Caca yang belum memahami maksud Aldy.
"Iya, kalo emang dia gak komplotan sama preman itu. Seharusnya dia teriak atau apa gitu, bukan tetap ada di dalam angkot dan liat-liat doang," tebak Aldy mengingat kejadian tadi. Caca pun langsung terdiam dan mengingat juga kejadian tadi.
"Iya juga sih, Om. Tadi aja pas Caca nelpon polisi dia cuma melirik dan dengan wajah yang gak bisa diartikan, kaya wajah yang gak suka gitu," ungkap Caca mengingat ekspresi supir angkot tadi sewaktu ia tengah ingin menelpon polisi.
"Nah, itu! Aku yakin sih, mereka pasti komplotan," duga Aldy yang semakin kuat.
Caca kembali menyuapkan Aldy karena bubur yang tadi habis dari mulutnya, mungkin akibat memang lapar sehingga Aldy suka dengan bubur rumah sakit. Padahal kata sebagian orang makanan rumah sakit adalah makanan yang paling tidak enak.
Makanan Aldy sudah habis tak tersisa, Caca mengembalikan nampan ke nakas, "Caca," ucap seseorang dan membuat Caca membalik menatap ke arah pintu.
"Umi?" Annisa berjalan mendekat ke arah Caca yang masih berada tak jauh dari nakas.
__ADS_1
"Nih, kamu ganti pakaian dulu, ya. Umi udah belikan baju dan juga ini ada makanan, nanti kamu cerita semuanya sama Umi, ya," jelas Annisa mengulurkan kantong plastik toko dan diterima oleh Caca.
Caca mengangguk dan tersenyum, ia meletakkan tas ransel yang memang dari tadi dipakai olehnya di meja bangku ruang tunggu UGD. Ia langsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian yang hampir bagian depan penuh dengan darah.