
Caca langsung berjalan ke rumah Riki dan tak memperdulikan laki-laki tersebut yang masih berada di halaman rumahnya, "Assalamualaikum, Tante," salam Caca yang sudah sampai di depan pintu yang tertutup.
Riki langsung menjalankan motornya ke arah rumahnya, dirinya berdiri di samping Caca menunggu pintu dibukakan. Caca mendongak melihat Riki yang ada di sebelahnya sedangkan Riki hanya melihat ke depan fokus pada pintu yang masih tertutup.
"Waalaikumsalam," jawab orang yang berada dari dalam. Suara bukaan pintu pun terdengar, benar saja. Mama Rikilah yang membuka pintunya dan dirinya langsung mendatarkan wajahnya tatkala melihat wajah Riki.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mamanya dengan berjalan lemah dan memegang wajah Riki gemeteran. Caca yang merasa bersalah langsung menunduk, dirinya tak berani melihat hal seperti itu.
"Tante, ma-maafin Caca," ucap Caca menunduk dan membuat Mama Riki menatap dirinya.
"Ada apa ini?"
"Gak papa, Ma. Biasalah anak cowok," potong Riki cepat.
"Kita masuk dulu, yuk!" seru Mama Riki memegang bahu Caca. Caca melihat ke depan namun bukan ke wajah Mama Riki, dirinya masih takut jika orang tua tersebut nantinya akan memarahi dirinya atau apa pun itu.
Mereka berjalan ke arah sofa yang berada tak jauh dari pintu, pintu kembali di tutup dan Caca duduk di samping Mama Riki sedangkan Riki duduk agak jauh dari mereka. Caca hanya bisa menunduk, dirinya bingung harus mulai dari mana menjelaskan semuanya. Ia meremas ujung hijabnya.
"Caca," kata Mama Riki sambil memegang bahu Caca. Caca langsung menatap ke arah Mama Riki, dirinya membuang nafas pelan agar bisa dengan baik dan lancar menjelaskan semuanya. Jika nantinya Mama Riki tak memberikan dirinya untuk dekat lagi dengan Riki maka dirinya sudah mencoba untuk siap menerima resiko tersebut.
"Jadi, Tante. Om mukanya kayak gitu gara-gara Caca, Om bertengkar dengan pacarnya temen Caca karena pacarnya temen Caca ini mau nampar Caca," papar Caca mulai menjelaskan.
"Tapi, Caca gak ada nyuruh Om buat datang Tan. Om yang datang sendiri," sambung Caca sambil melihat ke arah Riki sedangkan Mamanya hanya melihat ke arah Caca dengan senyuman.
"Kamu manggil dia Om dan saya Tante, seolah kamilah yang suami-istri," canda Mama Riki seraya tertawa melihat Caca memanggil anaknya.
Caca menatap wajah Mama Riki dan hanya bisa cengir saja, dirinya masih tak bisa jika diajak bercanda, "Udah, gak papa, kok," sambung Mama Riki dengan mengusap bahu Caca.
"Tapi, Tan ...." Mama Riki langsung bergeleng, "Tante malah akan marah jika dia di rumah aja sedangkan kamu di luar sana disakiti fisiknya oleh orang lain yang kamu gak kenal," potong Mama Riki.
__ADS_1
Caca menatap wajah wanita yang masih tampak cantik di depannya ini, beberapa detik kemudian dia memeluknya. Mama Riki mengusap punggung Caca, "Udah, gak papa," ujar Mama Riki meyakinkan kembali.
Caca melepas pelukan, "Tan, tadi kita udah ke rumah sakit, kok. Dokter juga udah ngasih obat dan obatnya udah dikantongin Om, Tante tolong ya paksa si Om makannya," jelas Caca sambil menatap Riki sinis.
"Pastinya, tenang aja kamu," ujar Mama Riki tersenyum.
"Ya, udah Tan. Caca pulang dulu, ya. Udah malem."
Mama Riki mengangguk dan ikut berdiri bersamaan dengan Caca, dirinya mengantar Caca sampai depan pintu, "Assalamualaikum Tan," pamit Caca berjalan ke arah rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Riki sambil melihat Caca yang berjalan.
Caca sampai di rumahnya, dirinya langsung mencari kunci dan membuka pintu, "Assalamualaikum, Bunda," salam Caca yang sepertinya Milda sudah pulang dari toko karena jam menunjukkan ke angka sepuluh.
"Waalaikumsalam, kamu habis dari mana?" tanya Milda yang keluar dari kamar.
"Sama Riki?"
"Iya. Tapi bukan masalahnya sama Om."
"Oh, ya udah. Langsung tidur, besok sekolah," kata Milda yang kembali masuk ke kamar.
Sedangkan Caca menutup pintu dan tak lupa kembali menguncinya, Caca masuk ke kamar dan langsung berbaring di kasur miliknya, "Ternyata, ribet juga jadi orang dewasa, ya," ujar Caca sambil melihat ke arah atas kamarnya.
Sedangkan Aldy kini merasa di dalam mobil menuju ke rumahnya, dirinya di jemput oleh supir pribadi milik keluarganya, "Siapa tadi yang bersama Caca, ya?" tanya Aldy pelan namun masih bisa di dengar oleh supirnya.
Supir langsung melihat Aldy dari kaca mobil, 'Tumben banget, Nak Aldy kayak galau begitu. Udah lama banget dia gak kayak begitu,' batinnya sambil tersenyum.
"Ada apa, Nal Aldy?" tanya supir yang sedikit kepo.
__ADS_1
"Ha?" tanya Aldy yang sadar jika supirnya memperhatikan dirinya dari tadi, "gak papa, Pak."
"Yakin? Kalo mau cerita sok cerita atuh, kita 'kan sama-sama cowok gitu," canda supir.
"Hahaha, iya Pak. Sama-sama cowok, tapi kisah percintaan zaman dulu dan sekarang 'kan berbeda," kata Aldy seraya tertawa.
"Berbeda, tapi gak ada salahnya toh belajar dari yang lebih berpengalaman?"
Aldy hanya terdiam mendengar ucapan supirnya, 'Ah, sudahlah! Kenapa tiba-tiba aku jadi mikirin tuh anak SMP rok SMA?' batin Aldy yang mencoba menghilangkan Caca dalam pikirannya.
Tanpa Caca sadari, ternyata Aldy melihat dirinya yang tadi pulang bersama dengan Riki. Ada sedikit rasa sakit saat melihat wanita tersebut dengan laki-laki lain, namun bukankah dirinya pun tak ada hak atas wanita tersebut?
Apakah dirinya mulai jatuh cinta atau suka dengan wanita tersebut sehingga dirinya merasa sakit ketika melihat Caca dengan orang lain? Entahlah, bahkan dirinya sendiri tak tahu perasaan apa yang ada pada dirinya untuk Caca.
"Oh, iya! Aku nyuruh dia datang buat ke rumahku, tapi malah aku gak ngasih tau di mana alamatnya," ujar Aldy yang mengingat bahwa dirinya menyuruh Caca untuk datang ke rumahnya tadi sore di saat makan ice cream.
"Apa aku jemput aja dia besok pulang sekolah? Lagian, besok juga gak ada kegiatan," sambung Aldy tersenyum.
Aldy memang tak memiliki praktek di hari Jumat dan Sabtu, dirinya hanya bekerja dari hari Senin hingga Kamis. Terkadang, seseorang sangat ingin bisa secepat mungkin membuka hati. Menerima orang baru untuk mengisi kekosongan, namun tak semua orang.
Karena, sebagian lagi memilih untuk melanjutkan mimpi dan menjadi pribadi yang lebih baik agar mendapatkan pasangan yang baik juga. Tak harus secepat kilat membuka hati, biarlah nikmati dan jadikan kegagalan yang kemarin sebagai pelajaran untuk nantinya.
"Kalau emang yakin sama yang sekarang, langsung seriusin Nak Aldy. Jangan sampai terjadi untuk yang ke dua kalinya," kata supir memperingati Aldy.
Aldy hanya terdiam dan memilih tersenyum, "Pak, saya masih belum menemukan jawaban dari perasaan saya. Bisa jadi hanya sekedar penasaran, bukan?" tanya Aldy.
"Iya, dan jangan terlalu dekat apalagi terlalu memikirkan seseorang yang belum milik kita. Itu hanya akan menyakiti diri sendiri."
"Jika untuk yang kali ini, saya siap untuk tersakiti Pak," tegas Aldy yang membuat supir terdiam.
__ADS_1