
"Bunda ... Caca pergi dulu, ya," pamit Caca sambil mengambil bekal yang sudah disiapkan dan sepotong roti yang sudah diberi selai Caca mengecup pipi Milda dan menyalim tangan wanita tersebut.
"Eh, bentar! Kamu baru datang tiba-tiba langsung ngambil-ngambil dan pergi," kata Milda memegang tangan Caca.
"Ada apa, Bun?" tanya Caca mengunyah makanannya. Milda melihat ke arah halaman yang kebetulan ruangan dapur jika pintu terbuka maka akan langsung terlihat dapur, "Emangnya Riki udah datang?"
"Om sibuk, Bun. Dia gak sempat nganter, lagian Caca bisa sendiri kok. Udah gede," kata Caca meyakinkan, "ya udah, ya, Bun. Caca pergi dulu. Assalamualaikum." Caca pun segera berlari keluar sambil melambaikan tangan ke arah Milda.
"Waalaikumsalam, hati-hati!" teriak Milda melihat anaknya yang suka sekali bersiap-siap di saat mepet.
Caca berjalan ke luar perumahan, dirinya berlari sambil melihat ke arah rumah Riki yang sudah tertutup bahkan pagar rumahnya, 'Dia emang udah pergi atau motornya masih ada di garasi, ya?' batin Caca bertanya-tanya dan mencoba berlari agar segera sampai halte.
"Huh ...," lirih Caca merasa capai karena harus berlari dari rumah ke halte dan beruntungnya dirinya tak terlambat karena ada juga beberapa pelajar yang menunggu angkot. Dirinya memilih berdiri dengan tiang di sebelahnya sebab bangku yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang bukan hanya pelajar melainkan pekerja.
Caca memilih memasukkan bekal yang dari tadi di pegangnya ke dalam tas dan mengambil handphone, dirinya menghidupkan jaringan data dan melihat beberapa pesan yang masuk.
[Sudah di halte?]
Pesan terkirim di jam enam pagi, "Dih, siapa juga yang mau nunggu angkot jam enam pagi. Mau ngapain ke sekolahan jam segitu!" kesal Caca yang membuat orang di dekat dia menatap dirinya dengan bertanya-tanya. Caca yang melihat hal itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum kikuk ke arah orang tersebut.
[Siapa juga yang mau ke halte jam enam. Caca mah ke halte jam lima pagi!] balas Caca yang tak kalah absurd.
Tiba-tiba, Riki mengirimkan foto yang semua serba putih, tempat yang sangat malas untuk di datangi orang. Bukan karena apa, hanya saja jika sudah ada di situ berarti ada sesuatu.
[Om kenapa? Sakit apa? Tadi malam baik-baik aja, kok!] panik Caca yang langsung menggigit jarinya seperti orang yang tengah kecemasan.
[Gak papa. Nanti pulang sekolah, kita belajar bela diri ya. Sepertinya kau ada bakat, hahaha] balas Riki yang berada di rumah sakit.
'Ha? Apa jangan-jangan wajah si Om bengkak karena aku? Eh, emangnya bisa wajah bengkak karena di tampar? Kok aku liat di film atau novel gak gitu, paling cuma berdarah,' batin Caca yang merasa bersalah. Ketika dirinya ingin membalas tiba-tiba tulisan, 'online' Riki hilang.
Caca hanya bisa membuang nafas pelan dan memasukkan handphone ke saku rok panjangnya, angkot pun datang beruntungnya angkot masih bisa dimasuki olehnya dan bangku masuk cukup.
__ADS_1
Caca tak melihat orang sekitarnya, dirinya hanya menunduk merasa bersalah, "Eh, kamu?" tanya seseorang di depan Caca yang langsung membuat dia mendongak dan menatap orang tersebut.
Sedangkan Caca hanya menautkan alisnya pertanda mencoba mengingat siapa orang yang ada di depannya, setelah merasa mengetahui orang tersebut Caca hanya tersenyum tipis.
"Udah bahagia?" tanya Aldy. Ya, yang ditemui Caca adalah Aldy yang kemarin membuat dirinya sampai menampar Riki.
"Lumayan Om," jawab Caca. Sedangkan Aldy yang mendapat panggilan tersebut langsung mendatarkan wajahnya, apakah setua itu wajah dirinya sehingga mendapatkan sebutan 'om?'
"Om mau ke mana?" tanya Caca yang melihat penampilan Aldy dari atas hingga bawah menggunakan sepatu dan kemeja namun tak menggunakan jas bermerk yang mungkin harganya berjuta-juta.
"Mau ke pasar."
"Ha?" tanya Caca kaget. Aldy tertawa melihat ekspresi Caca yang malah menganggap serius ucapannya itu.
"Saya mau kerja."
"Oh, Om kerja apa? Kantor?"
"Terus? Kerja yang halal pokoknya."
"Iya, deh!" ujar Caca dengan membuang muka. Dirinya membuka lagi handphone karena masih berharap bahwa Riki mengabarinya. Beruntungnya, di waktu Caca menghidupkan data Riki tengah online di aplikasi hijau tersebut.
[Siapa yang sakit?]
Pertanyaan itu yang ada di pikiran Caca dari tadi, dua menit tak ada balasan dirinya sungguh kesal dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Bukankah sangat tak tepat waktunya untuk overthingking?
[Bales, woy!]
[Siapa yang sakit?]
[Dalam tiga menita tidak ada balasan, maka akan ada panggilan masuk!] ancam Caca.
__ADS_1
[Hahaha, sudah berani mengancam saya ternyata?] balasan yang dinanti pun akhirnya ada.
[Temen yang sakit, kebetulan dia di sini merantau] sambung Riki menjelaskan.
[Oh] jawab Caca yang merasa sedikit tak percaya. Namun, itu di tepisnya agar tidak terjadi permasalahan antara dirinya dan Riki. Karena beberapa hari ini mereka sudah sangat tak baik-baik saja, tak mungkin jika lagi dan lagi harus berdebat.
Caca langsung menatap ke arah Aldy sedangkan Aldy yang di tatap pun keheranan, "Ada apa?" tanya Aldy.
"Om, apakah kalau temen Om sakit dan dia merantau Om di daerah Om. Om langsung nemenin dia ke rumah sakit padahal masih pagi banget?" tanya Caca seolah tengah men-introgasi Aldy.
"Tergantung."
"Maksudnya?" tanya Caca heran.
"Kalau saya dengan teman tersebut baik saja hubungannya, maka mungkin akan saya bantu. Tapi, kalau saya dan dia gak baik hubungannya maka mungkin saya datangnya bahkan agak siangan," jelas Aldy. Caca yang merasa puas atas penjelasan Aldy langsung menganggukkan kepalanya dan menatap lantai angkot.
"Ada apa emangnya?" sambung Aldy menatap Caca.
"Ha? Enggak Om. Gak papa," kata Caca cengengesan.
Caca telah sampai di sekolahnya dan angkot sudah berhenti, saat dirinya mau keluar dari angkot tiba-tiba, "Hey, saya belum tau namamu," ujar Aldy yang membuat Caca berhenti dan melihat ke arah belakang sebentar.
"Caca. Panggil aja Caca, Om!" Caca langsung segera turun dan membayar ongkos angkot, dirinya berlari ke arah gerbang sekolah yang belum tertutup.
Aldy melihat Caca dari dalam angkot, "Caca ...," ujar Aldy tersenyum menyebut nama Caca yang baru diberitahunya.
Caca berjalan sudah lumayan dengan santai karena dirinya sudah berada dalam lingkungan, Caca bukanlah orang yang terlalu memiliki teman. Selain dirinya yang malas pun takut ketahuan oleh Riki jika Caca memiliki teman laki-laki, karena memang yang banyak ingin berteman dengan Caca adalah laki-laki dibanding wanita.
'Apa benar, Om nganterin temennya, ya? Kok aku jadi gak yakin dengan apa yang dia katakan,' batin Caca berjalan di koridor.
Caca mengambil handphone-nya dan melihat rumah sakit mana yang di datangi Riki, bisa jadi dirinya mengetahui rumah sakit tersebut meskipun Caca tak terlalu tahu tentang bangunan-bangunan yang ada di daerahnya meskipun sudah lama tinggal di situ.
__ADS_1
'Ah! Aku paling malas menduga-duga begini, tapi mana mungkin tuh si Om mau ngaku! Percaya aja deh biar kelar semuanya.' Caca berjalan dengan senyuman dan sesekali tersenyum melihat orang yang berpapasan dengannya di koridor.