
Caca dan Riki kembali menikmati makanannya, dengan Caca yang sesekali bertanya pada Riki tentang hal-hal yang konyol.
"Cil, saya mau ke toilet bentar, ya," ucap Riki yang bangkit dari tempat duduk.
Caca hanya mengangguk diakibatkan mulutnya penuh dengan ice cream, Caca melihat apakah Riki sudah jauh atau tidak dari mejanya. Setelah melihat punggung laki-laki itu sudah tak ada lagi, Caca langsung mengambil handphone yang ditinggalkan Riki di mejanya.
Beruntungnya, Caca mengetahui pola handphone laki-laki tersebut. Ia langsung membuka salah satu aplikasi chatting berwarna hijau dan mencari nama seseorang.
Beberapa chat antara Riki dan orang tersebut dirinya screenshot dan langsung kirimkan ke chat dirinya, setelah terkirim Caca langsung menghapusnya kembali dari chat dan juga dari galeri.
Ia lakukan hal itu dengan cepat bahkan teliti hingga menghapusnya di file yang ada, agar Riki tak curiga dengan dirinya. Setelah selesai dan merasa semuanya sudah aman, Caca mengembalikan handphone kembali ke tempatnya.
"Udah habis, Cil?" tanya Riki yang sudah sampai kembali ke meja mereka.
"Dikit lagi, Om," ucap Caca menunjukkan ice cream yang sudah hampir mau habis.
"Oke, cepatan habiskan, ya. Ntar, keburu malam," kata Riki dan mengambil handphone-nya. Ia membuka-buka aplikasi dengan menghidupkan data sedangkan Caca tadi memang tak menghidupkan data karena hanya ingin mengetahui sesuatu saja.
"Om, kayaknya kita gak sempat ke pasar malam. Kita ke mall aja, yuk!" ajak Caca dengan melihat jam tangan yang melingkar di tangan sebelah kanannya.
"Kenapa gak sempat?"
"Udah jam berapa ini? Jam 9 Umi udah harus pulang, lain kali aja kita ke pasar malamnya," jawab Caca yang memang jika ke pasar malam gak akan sempat. Karena, keadaan pasar malam juga yang pastinya sangat ramai.
"Kapan kamu ujian?"
"Semester satu bulan 12 dan semester terakhir bulan 4 nanti, Om."
"Sebelum bulan 4 kita ke pasar malam, mau?" tanya Riki mengajak Caca agar tetap jadi ke pasar malam namun di waktu lainnya.
"Bulan 12 aja, Om. Soalnya mau fokus ke pelajaran nanti," ujar Caca yang memang sudah tak mau bermain-main lagi karena waktu ujian sudah semakin dekat.
"Okay, kapan kamu bisa. Kamu langsung hubungi saya."
__ADS_1
"Siap, Om!" seru Caca sambil melihat mangkuk ice crem yang ternyata sudah habis. Ia menatap ke arah Riki dan saat bersamaan ternyata Riki telah lebih dulu menatap ke arah dirinya.
Caca hanya menampilkan gigi rapinya, "Sudah habis? Yuk, pulang!" ucap Riki memasukkan handphone ke dalam jaketnya.
"Ayok, Om!" seru Caca yang memakai tas selempangnya dan ingin berdiri. Namun, Riki menarik lengannya dan membuat wanita itu duduk kembali.
"Kenapa, Om?" tanya Caca yang bingung dengan apa yang dilakukan Riki. Riki langsung mengambil tisue yang memang ada di meja dan mengelapkannya di area bibir Caca tempat ice cream itu tertinggal.
Mereka begitu dekat, Caca menatap setiap inc wajah seseorang yang hampir bersama dengan dirinya beberapa tahun ini, "Gosah diliatin banget, saya tau kalo saya cakep, Cil," ujar Riki menjauh dari wajah Caca dan meletakkan tisue bekas ice cream ke piring kotor Caca.
"Dih, pede banget!" ketus Caca dan bangkit lebih dulu diikutin oleh Riki.
Mereka jalan secara bersamaan menuju kasir untuk membayar makanan tadi, Caca membuka tas dan mengambil dompetnya.
"Mau ngapain?" tanya Riki kala melihat Caca mengeluarkan uang dari dalam dompetnya itu.
"Mau bayar, Om," ucap Caca mendongak melihat ke arah Riki.
"Sejak kapan seperti itu? Udah masukkan lagi," kata Riki dan menebus makanan yang tak sampai setengah juta itu. Caca langsung memasukkan uangnya kembali ke tas dan menunggu Riki selesai membayar pesanan menggunakan kartunya.
"Om, udah adzan," ujar Caca ketika di perjalanan suara panggilan menunaikan kewajiban telah berkumandang.
Riki langsung membelokkan motor ke kawasan bangunan putih yang megah itu, Caca langsung turun dan memberikan helm kepada Riki.
"Ca duluan, ya, Om," pamit Caca dan langsung berlari ke arah toileh Masjid yang ada.
Sedangkan Riki memperbaiki posisi motor terlebih dahulu dan tak lupa mengunci ganda motornya agar kejadian yang tak diinginkan terjadi.
Kewajiban empat rakaat pun telah di tunaikan malam ini, mereka bertemu kembali dengan keadaan Riki lebih dahulu menunggu Caca.
"Kali ini, kamu di imamin sama Ustadz di Masjid ini dulu. Lain kali, saya yang imamin kamu," goda Riki dengan keadaan Caca yang baru akan memasang helm.
"Heleh, gombal!" kata Caca dengan memukul lengan Riki sambil berjalan naik ke jok belakang. Riki hanya tertawa pelan melihat kelakuan Caca saat menahan dirinya untuk tidak salting di depannya.
__ADS_1
"Jadi ke mallnya?" teriak Riki yang merasa bahwa Caca jauh dari dirinya.
"Iya, jadi Om!" terang Caca dengan sedikit dekat ke Riki.
"Oke!"
Dari Masjid ke mall tak terlalu jauh, hanya perlu menempuh sepuluh menit mereka telah tiba di pusat perbelanjaan di Bandung itu.
"Kita mau ke mananya?" tanya Riki membuka helm dan menunggu Caca memberikan helmnya pada Riki.
"Ada deh, Om tenang aja," cakap Caca tersenyum namun matanya sedikit berembun. Riki melihat dengan dekat ke arah wajah wanita yang sudah memberikan helmnya pada Riki.
"Kamu kenapa?" tanya Riki yang tak tahu apa sebabnya mata Caca berembun.
"Ha? Gak papa, Om. Yuk, masuk!" seru Caca dan menghapus air matanya dengan cepat sebelum jatuh.
"Gak-gak, kamu kenapa?" tanya Riki yang khawatir dengan keadaan Caca.
"Tadi keilipan debu, Om," elak Caca agar Riki tak bertanya lagi soal dirinya.
"Beneran?"
"Iya, Om," jawab Caca tersenyum mencoba meyakinkan Riki.
Riki turun dari motor dan mereka berjalan masuk ke dalam mall, "Pegangan, orang banyak di dalam nanti kamu hilang," ucap Riki sambil menaruh tangan Caca di lengannya.
Caca melihat apa yang dilakukan Riki dengan pandangannya tetap ke depan, "Heleh, bilang aja modus!" omel Caca dengan mencubit sedikit lengan Riki. Bukannya kesakitan laki-laki itu malah tertawa melihat tingkah Caca.
"Kita mau ke mana? Kamu mau makan?" tanya Riki setelah mereka masuk ke gedung mall.
"Mau ke tempat jual hijab, Om," ujar Caca menatap ke arah Riki.
"Mending ke toko yang lebih bagus aja, yuk!" ajak Riki melihat ke arah Caca juga.
__ADS_1
"Di sini emangnya kenapa? Bagus juga, kok," ucap Caca menautkan alisnya, "lagian di sini udah langganan Caca sama Bunda." Mau tak mau Riki hanya bisa mengalah jika Caca sudah mengatakan bahwa tempat ini adalah langganannya.
Karena dulu, Riki pernah membawa Caca makan bakso namun warung bakso langganannya tak buka. Padahal keadaannya Caca lagi sangat ingin, ia lebih memilih tak jadi makan bakso daripada berpaling ke bakso lain.