
Suara klakson pagi ini telah berbunyi, Caca langsung segera keluar dengan menggunakan seragam pramuka dan tas ranselnya. Meskipun di sekolahnya sudah jarang ada siswi yang menggunakan ransel karena kebanyakan menggunakan totebag, namun dirinya tetap berusaha menjadi sebenar-benarnya pelajar.
"Muka Om udah gak papa?" tanya Caca menatap wajah Riki.
"Udah gak papa, yuk naik!" seru Riki memberikan helm pada Caca. Setelah selesai menggunakan helm sendiri, Caca segera naik ke jok belakang tempat duduknya.
"Om, ajarin Caca naik motor dong!" kata Caca di tengah-tengah perjalanan.
"Buat apa?"
"Biar Caca bisa pergi sendirian ke mana pun yang Caca mau 'kan keren tuh, kalo bisa bawa motor sendiri!" seru Caca sambil membayangkan betapa kerennya dirinya jika membawa motor sendirian.
"Gosah, saya masih bisa nganter dan jemput kamu meskipun kadang-kadang."
"Ish! Om mah pelit!"
"Gak papa."
Caca hanya diam dan melihat sekitar jalanan, "Oh, iya," ujar Riki yang membuat Caca fokus dan kembali mendekat agar bisa mendengar suara Riki dengan jelas.
"Kenapa Om?"
"Nanti saya gak bisa jemput kamu pulang, kamu naik gojek aja, ya."
"Aman, Om!"
"Langsung pulang dan jangan pergi-pergi."
"Iya-iya."
Ketika Caca tengah fokus berbicara dengan Riki ada dua orang wanita yang berada di samping mereka menyapa Riki, Caca langsung menatap datar wanita yang ada di samping mereka di tengah-tengah lampu merah.
"Ada apa, Tante?" tanya Caca dengan bersedekap sedangkan Riki hanya melirik Caca dari spion motor.
"Eh, maaf Dek! Abangnya, ya? Boleh buat, Kakak aja gak?" tanya wanita yang berada di jok belakang tanpa malu.
"Oh ... mau Abang saya?" tanya Caca tersenyum licik. Dua orang tersebut hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Caca, "udah pernah ngerasain tangan mendarat di pipi kalian yang penuh make-up menor itu apa belum?" Caca langsung mengepalkan tangan kanannya dan memperlihatkan ke arah mereka berdua.
Riki yang melihat hal tersebut hanya menahan tawa, lampu yang merah tadi kini berubah menjadi hijau. Riki langsung melajukan motornya agar emosi Caca tak pecah di hadapan orang-orang nantinya.
__ADS_1
"Hahaha, kamu kenapa sih?" tanya Riki.
Caca langsung mendekat ke arah Riki, "Lagian aneh banget sih mereka!" kesal Caca.
"Aneh kenapa? Wajar dong, namanya mereka suka saya."
Satu pukulan mendarat di bahu Riki, "Ish, sakit tau!" ujar Riki.
"Biarin! Om kegatelan, sih! Sama kayak mereka," geram Caca.
"Haha, mana ada!"
"Ada!" tegas Caca.
Mereka telah sampai di depan gerbang sekolah, Caca langsung turun dan memberikan helm pada Riki. Caca menadahkan tangannya di depan Riki membuat laki-laki tersebut menaikkan alisnya, "Kenapa?" tanya Riki.
Caca hanya tersenyum sambil tetap menadahkan tangannya, Riki merogoh saku celana dan mengambil dompet membuat Caca menurunkan tangannya dan kebingungan dengan apa yang dilakukan Riki.
"Nih!" ujar Riki setelah mengambil dua lembar uang berwarna merah dari dompetnya.
"Siapa yang mau minta duit? Caca juga dikasih Bunda tadi, kok," ucap Caca yang malah kebingungan.
"Siniin deh tangan Om sebelah kanan!" perintah Caca. Riki hanya mengikuti ucapan Caca, dibuatnya uang tadi ke tangan sebelah kiri dan juga memegang dompet.
"Udah, terus?" tanya Riki setelah mendekatkan tangan kanannya ke Caca. Caca langsung mengambil tangan kanan laki-laki tersebut dan menaruhnya ke keningnya tanda menyalim.
"Bye, Om!" seru Caca tertawa sambil berlari masuk ke dalam halaman sekolah. Sedangkan Riki mematung beberapa menit melihat apa yang baru saja dilakukan Caca.
"Ada-ada aja tuh, Bocil!" Riki hanya mampu bergeleng dan memasukkan kembali uang ke dompet dan sakunya, ia langsung memakai helm dan menuju tempat kerjanya yang meskipun bukan sebuah perusahaan besar namun mampu mengurangi pengangguran walaupun hanya beberapa orang saja.
Riki selalu mengingat nasihat dari Papanya, "Biar kecil-kecilan yang penting kaulah bosnya, daripada besar malah kau sebagai karyawan dan diatur oleh orang-orang." Itu sebabnya Riki dengan nekat membuka toko baju awalnya, dirinya menjual berbagai pakaian dan lainnya khusus untuk cowok.
Pun ada salah satu kata-kata yang pernah dirinya baca, "Lebih baik bekerja dua puluh empat jam namun untuk mewujudkan cita-cita kita, daripada bekerja delapan jam namun untuk mewujudkan cita-cita orang lain." Entah siapa menulis kata-kata tersebut, Riki sudah tak mengingatnya lagi.
Hari Jumat, Caca pulang lebih cepat. Di sekolahnya masih jam wajar pulang, bukan seperti di beberapa sekolah yang pulang sampai jam empat sore. Caca sebenarnya sempat ingin les di luar sekolah, hanya saja mengingat pulang les itu di waktu malam dirinya mengurungkan niatnya tersebut.
Bukan apa-apa, dirinya takut hanya akan menambah beban Riki saja. Lebih baik dia mengurunkan dan menjadi lebih giat mengulang pelajaran. Toh di zaman sekarang juga banyak les melalui handphone, kita tinggal duduk manis di rumah.
Seperti yang Riki ucapkan bahwa dirinya tak bisa menjemput Caca, Caca menunggu angkot di halte sekolah dengan beberapa pelajar lainnya yang telah selesai belajar juga. Dirinya sesekali mengayunkan kaki dan melihat beranda sosmed miliknya.
__ADS_1
Beberapa kali klakson berbunyi namun tak dihiraukannya dan tetap memilih fokus pada handphone, karena bisa jadi itu adalah klakson untuk orang lain.
"Hey!" seru orang yang berada di samping Caca.
"Iya?" tanya Caca menatap wanita di sampingnya.
"Tuh orang kayaknya memanggil kau, dari tadi klakson juga!" ucapnya yang mungkin sedikit risih. Caca menatap orang yang ada di dalam mobil dengan kaca yang sudah diturunkan, Caca langsung berjalan mendekati.
"Om Aldy?" tanya Caca melihat Aldylah yang berada di dalamnya.
"Yuk, masuk!" ujar Aldy tersenyum ramah.
Caca langsung membuka pintu dan Aldy menutup kembali kaca mobil, Caca memakai sabuk pengaman setelah pintu tertutup rapat, "Eh, kita mau ke mana Om?" tanya Caca yang kebingungan.
"Ke rumah saya 'kan kemarin sore saya suruh kamu buat liat koleksi buku-buku saya," ujar Aldy mengingat dan mulai menjalankan mobil menjauh dari kawasan sekolah.
"Oh, iya! Caca sampe lupa," kata Caca menepuk keningnya pelan.
"Eh, Om gak kerja?" sambung Caca bertanya.
"Enggak, hari ini saya cuti."
"Caca baru tau Om ternyata dokter, keren banget!" seru Caca sambil melihat-lihat jalan.
"Keren kenapa?" tanya Aldy melihat Caca sekilas.
"Ya, keren karena bisa menyembuhkan luka orang-orang."
"Tapi gak bisa menyembuhkan luka sendiri," canda Aldy yang membuat Caca menatapnya dengan heran.
"Kenapa?" tanya Aldy yang melihat Caca menatapnya dengan tatapan aneh. Caca hanya diam dan masih fokus melihat ke arah Aldy, "bercanda, Ca! Astagfirullah." Tawa Aldy langsung pecah karena melihat kepolosan dari Caca.
"Om, sih! Aneh lagian."
"Aneh kenapa?"
"Masa luka orang lain bisa disembuhkan luka orang lain gak bisa."
"Iya, kamu gak paham ternyata skip aja deh. Kita beli makan atau jajan dulu, ya," ujar Aldy memberi tahu Caca agar dirinya tak merasa aneh mengapa mereka jadi begitu jauh dari kawasan perumahan. Caca hanya mengangguk dan menikmati perjalanan, bukannya dirinya tak biasa menaiki mobil. Hanya saja, memang begitulah dirinya. Akan melihat-lihat bangunan yang berderet dan toko yang menjual berbagai macam meskipun itu-itu saja yang dirinya lihat setiap harinya. Tak membuat wanita itu bosen.
__ADS_1