Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Calon Istri


__ADS_3

"Itu cuma lagu, Cil. Tak perlu berpikir yang tidak-tidak," jelas Riki. Caca hanya menampilkan wajah datar dan kesalnya, sedangkan Riki menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan meminum kopi yang tadi dipesannya.


Dirinya masih bingung kenapa bisa otak dan bibirnya langsung bernyanyi seperti tadi, "Pak, Riki?" tanya seseorang yang membuat dirinya terjaga dari pikiran tadi dan melihat ke arah suara yang memanggil namanya.


"Eh, hay Pak Fauzan!" Riki langsung berdiri dan tersenyum menjabat tangan orang tersebut.


Caca melihat ke arah laki-laki dan juga wanita yang berada di samping laki-laki yang bisa dipastikan adalah rekan kerja Riki, dirinya pun ikut berdiri setelah diberi senyuman ramah dari wanita tersebut.


"Eh, sama siapa ke sini?" tanya Fauzan melirik ke arah Caca.


"Oh, ini? Calon istri," ucap Riki entang. Sedangkan Caca yang belum sempat berkenalan langsung dibuat kaget dengan apa yang diucapkan oleh orang di sampingnya ini.


Caca langsung tercengang dan menatap Riki dengan mendongak, 'Gila nih si, Om! Mana aku belum siap-siap untuk gak baper lagi!' batin Caca.


"Oh, ternyata sudah ada. Kenapa tidak pernah dibawa ke acara-acara, Pak?" tanya Fauzan sedangkan Caca hanya bisa tersenyum kikuk. Kalau sudah begini, dirinya pun akan sulit untuk bersuara disebabkan hatinya dan ucapannya yang tak sejalan. Hatinya berdebar sedangkan mulutnya ingin berucap bahwa apa yang dikatakan Riki tadi hanya bohong belaka.


"Iya, Pak. Biasa dia pemalu."


"Oh, iya? Bapak kenapa bisa tau saya di sini?" sambung Riki.


"Oh ... tadi saya mendengar Bapak nyanyi, mangkanya saya langsung hampiri saja Bapak."


"Iya, cuma lagi pengen aja Pak," ujar Riki tersenyum.


Rekan bisnisnya itu tertawa mendengar ucapan Riki, "Bapak mau ikut gabung?" ajak Riki melihat Fauzan tak kunjung pergi.


"Oh, tidak. Saya sudah selesai, kalau begitu saya duluan, ya," pamit Fauzan mengulurkan tangan dan di sambut oleh Riki dengan mengangguk. Sedangkan wanita di samping rekan kerja Riki tersenyum ke arah Caca dan dibalas dengan senyuman pula olehnya.


Setelah rekan kerja Riki sudah lumayan jauh, Riki memilih duduk lebih dulu sedangkan Caca masih mematung dan menatap tajam ke arah Riki, sedangkan yang di tatap hanya menaikkan alisnya bertanya, 'kenapa?'


"Om ngapain ngomong gitu tadi?" tanya Caca duduk dengan bibir dia majukan dan tangan di lipat.


"Kenapa, salah?"


"Ya, iyalah! Om sama aja menghambat jodoh saya buat datang."


"Kenapa gitu?"


"Karena Om ngaku-ngaku jodoh saya."

__ADS_1


"Emang jodoh kamu," ujar Riki dengan wajah datar.


"Hahaha, Om ke PD-an," tawa Caca sambil menutup mulutnya.


Riki memajukan badannya mendekat ke arah Caca, "Liatlah suatu hari nanti, bahwa sayalah yang akan menyematkan cincin dan menjaga kamu hingga akhir hayat saya," bisik Riki tersenyum miring dan membuat Caca seketika diam dan kembali mematung dengan ucapan Riki barusan.


Riki kembali menjauhkan tubuhnya dan melihat-lihat suasana sekitar setelah berhasil membuat Caca mematung dan terdiam oleh tingkahnya, 'Kalau bukan dirimu, bagaimana? Apakah aku boleh membenci dan mencap dirimu sebagai pembohong?' batin Caca yang mampu membuat Caca murung seketika.


Apa yang terjadi? Apakah dirinya sudah mulai berharap dengan ucapan-ucapan Riki yang terkadang mampu membuat dirinya terdiam dan berharap, namun terkadang membuat dirinya terluka dan tak percaya, 'His! Apa yang lu pikirkan, Ca! Jangan ngadi-ngadi,' batin Caca sambil mencoba sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi di dalam hati.


"Kita pulang yok, Om!" ajak Caca dengan mata yang sudah terlihat lelah.


"Yuk!"


Riki bangkit dan diikuti dengan Caca, Caca mengambil tasnya dan meletakkannya di bahu, "Eh, Cil! Lu mau ke mana?" tanya Riki saat melihat Caca berjalan menuju keluar.


"Mau keluarlah, Om," jelas Caca menunjuk ke arah pintu luar.


"Temenin bayar, kali!"


"Ha?"


"Dih, sok manja!" desis Caca dan akhirnya memilih menemani Riki membayar pesanan mereka ke kasir yang berada di dalam cafe.


Setelah membayar dan keluar dari area cafe, kini mereka telah berada di jalan yang dipenuhi dengan kendaraan berbagai merk dan macamnya. Riki tak terlalu melanjukan sepeda motornya agar bisa menikmati keindahan kota mereka dan suasananya.


"Om," panggil Caca yang sedikit mendekat ke telinga Riki agar laki-laki tersebut bisa mendengar ucapannya.


"Hm," jawab Riki yang hanya berdehem.


"Diantara kadal, biawak sama Om lebih menakutkan yang mana?" tanya Caca sambil tersenyum sedangkan Riki melirik wajah Caca dari kaca spion sebelah kiri yang dihadapkan ke wajah Caca.


"Kan, om tergabung dalam mereka. Om masuk ke buayanya. Jadi, antara kadal, biawak dan Om yang buaya lebih menakutkan siapa?" sambung Caca tertawa merasa lucu yang bisa-bisanya otaknya kepikiran ke situ.


Sedangkan Riki yang mendengarkan ucapan itu hanya menampilkan wajah datar, "Untung sayang," kata Riki yang spontan membuat Caca semakin tertawa terbahak-bahak.


Caca terdiam kala mereka melewati tempat street food, sepanjang jalan dirinya melihat kanan-kiri begitu banyak gerobak-gerobak para pedagang dan banyaknya orang yang antre di situ.


"Om!" teriak Caca.

__ADS_1


"Iya?"


"Om gak punya duit, ya? Duitnya udah habis, ya?"


"Ha? Ada, kok," ujar Riki melirik wajah Caca.


"Itu tadi. Banyak banget jualan; boba, pangsit, telur gulung, tahu krispy, crepes, dimsum tapi Om gak nawarin aku," cetus Caca dengan sepeda motor yang tetap jalan dan sudah sedikit jauh dari street food.


"Eh, kamu masih mau jajan?"


"Tau, ah!"


Riki langsung menghentikan motor dan ingin memutar balik sepeda motornya, dirinya melihat Caca yang sudah bersedekap dan cemberut. Mereka kembali ke arah belakang di mana ada street food tersebut.


"Dah, mau yang mana?" tanya Riki dengan memelankan motor. Merasa tak ada jawaban dirinya berkata sekali lagi karena bisa jadi Caca tak mendengar ucapannya, "Mau apa?"


"Apa?" tanya Caca ngegas.


"Kamu mau apa?" tanya Riki mencoba sabar.


"Gak mau! Aku maunya tadi juga," terang Caca dengan santai.


"Ha? Astaga, Bocil! Gue harus muter balik dan dengan santainya lu bilang gak jadi!" pekik Riki yang mungkin hampir depresi dengan sikap Caca.


"Aku 'kan maunya tadi," tawa Caca melihat Riki yang kesal karenanya.


'Dasar cewek!' batin Riki mencoba sabar.


Terkadang, memang begitulah seorang wanita. Ingin dimengerti tanpa berucap dan ingin dipahami tanpa berkata, namun dirinya lupa bahwa laki-laki bukan manusia yang bisa mendengarkan isi hati atau menebak jalan pikir. Sesulit-sulitnya laki-laki, lebih sulit memahami jalan pikir seorang wanita. Entah mengapa, tapi begitulah seorang wanita.


Mereka berhenti di tempat ibadah bagi orang yang beragama islam, Riki mematikan dan memarkirkan sepeda motornya di tempat yang telah di sediakan dan langsung membuka helmnya.


"Ikut?" tanya Riki.


"Lagi libur Om."


"Oh, oke. Tunggu, ya."


Caca hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Riki tersebut, meskipun terkesan; galak, dingin, dan tak terlalu suka bercanda namun Riki merupakan orang yang tetap patuh akan perintah-Nya.

__ADS_1


"Kewajiban adalah kewajiban, jangan pernah ditinggalkan. Jika seseorang yang sering melakukan kewajiban masih kau lihat buruk, maka ketahuilah dirinya tengah berusaha dan mungkin selalu menangis mencoba untuk menjadi manusia yang terbaik," ujar Riki yang menasihati Caca ketika Caca ingin membuka hijabnya karena hujatan orang-orang.


__ADS_2