Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Gelang Pemberian


__ADS_3

Sesuai dengan kata Aldy kemarin malam, malam ini ia menjemput Caca untuk main ke rumahnya. Caca sudah selesai dengan baju terbaik menurut dirinya.


Aldy baru saja tiba di halaman Caca, ia sedikit berlari untuk sampai di tempat Caca yang sudah menunggu dirinya.


"Maaf, Ca. Soalnya jalanan agak macet tadi," tutur Aldy dan Caca langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Gak papa, Om," jawab Caca tersenyum.


Aldy melihat ke arah dalam rumah, "Bunda kamu mana?" tanyanya menatap ke arah Caca kembali.


"Bunda masih di toko, Om. Kita pergi aja langsung," kata Caca menutup pintu rumah tak lupa menguncinya juga.


"Tapi, saya belum pamit atau izin. Nanti, kamu telpon Bunda, ya. Biar saya izin dulu," ujar Aldy berjalan ke arah mobil dengan Caca.


"Iya, Om. Padahal gak perlu, lho. Bunda udah tau, kok," ucap Caca tersenyum ke arah Aldy.


"Saya tetap gak enak, karena membawa anak gadis orang." Aldy membukakan pintu mobilnya kepada Caca.


Caca menatap perlakuan Aldy padanya sebentar, "Makasih, Om," kata Caca setelah masuk ke dalam. Ia langsung memasang sabuk pengaman sedangkan Aldy berjalan memusing untuk duduk di bangku supir.


Di perjalanan menuju rumah Aldy, mereka hanya banyak diam. Aldy fokus melihat jalan sedangkan Caca melihat bangunan-bangunan yang ada.


"Oh, iya. Kok kamu gak jadi telpon Bunda?" tanya Aldy membuka suara.


Caca menepuk jidatnya pelan, "Oh, iya. Caca lupa Om, bentar, ya!" Caca membuka tas selempang dan mencari handphone serta nomor Milda.


Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya panggilan pun diangkat oleh Milda yang sepertinya tengah sibuk di toko.


"Halo, ada apa Ca?"


"Halo, Bun. Ini, Om Aldy mau ngomong sama Bunda," ucap Caca memberikan handphone-nya kepada Aldy.


Aldy mengambil handphone Caca dan langsung mendekatkan ke kuping sebelah kirinya, "Assalamualaikum, Bunda," salam Aldy yang tetap fokus pada jalanan.


"Waalaikumsalam, Al. Ada apa?" tanya Milda dari sebrang.


"Bunda, Al izin buat bawa Caca bentar ya Bun. Gak sempat buat singgah ke toko langsung, soalnya takut nanti pulangnya kemaleman. Besok juga Caca harus sekolah," papar Aldy meminta izin pada Milda.


"Ya, Allah. Bunda kirain ada apaan, iya Al. Caca juga udah izin kok dari kemarin."

__ADS_1


"Itu 'kan Caca Bun, ini Al yang minta izin. Yaudah kalo gitu, Bun. Maaf ganggu dan semangat bekerja Bunda," rayu Aldy dengan tersenyum dan membuat Caca ikutan tersenyum.


Panggilan diakhiri dan handphone dikembalikan ke Caca, Aldy sempat melihat Caca yang masih tersenyum, "Eh, kamu kenapa?" tanya Aldy memberikan handphone dan diterima oleh Caca.


"Gak papa, lucu aja Om sukanya goda tante-tante, ya?" tanya Caca dengan tertawa dan menutup mulutnya.


"Heh, apaan sih kamu hahahha."


"Ya, habisnya itu tadi. Masa, Bunda Caca di gombalin."


"Terus, mau kamu anaknya gitu yang digombalin?" goda Aldy yang mampu membuat Caca terbungkam. Ia menampilkan senyuman dan melirik ke arah Caca sedangkan wanita itu tengah memegang pipi yang panas padahal tidak ditampar.


'Dih-dih, nih jantung kenapa ya? Mau copot, kali?' batin Caca memalingkan wajahnya dari Aldy dan fokus kembali menatap jalanan.


Mereka telah sampai di halaman rumah Aldy, Caca turun setelah mesin mobil telah dimatikan. Sebelumnya, Aldy sudah memberi tahu kepada Annisa bahwa Caca akan main ke sini untuk melihat keadaannya.


Caca berhenti di tangga teras rumah Aldy dan membuat laki-laki itu pun ikut berhenti menatap heran ke arah Caca.


"Kenapa?" tanya Aldy yang kebingungan dengan Caca.


"Ca lupa bawa oleh-oleh, Om," kata Caca sambil cengengesan. Dirinya benar-benar tak ingat untuk membawa buah tangah saat bertemu ke rumah Aldy.


Mendengar tak ada langkah selain dirinya dan Caca tak berada di sampingnya, Aldy yang sudah ada di depan pintu melihat ke belakang bahwa Caca masih terpatung di situ.


"Ca, ayok!" seru Aldy sambil memberi kode melalui tangannya.


Caca akhirnya bergerak dan melangkah menuju Aldy, Aldy membuka pintu dan diikuti Caca yang berjalan di belakang pria tersebut.


"Assalamualaikum, Umi," salam Aldy dengan sedikit teriak agar di dengar oleh Annisa.


"Hustt! Jangan teriak-teriak kali, Om," protes Caca yang merasa berisik dengan suara Aldy.


Aldy hanya menampilkan giginya yang rapi, Caca berjalan ke ruang tunggu yang ada. Sendal sudah lebih dulu dibuka olehnya.


Selang beberapa detik, akhirnya Annisa pun datang menemui Caca. Caca yang tadinya duduk akhirnya berdiri dan menyalim Annisa sedangkan Annisa mengecup kening Caca.


"Kamu kenapa repot ke sini, sih?" tanya Annisa yang sudah duduk di bangku diikuti dengan Caca.


"Pengen jenguk Om Al, Umi. Coba, konsepnya salah, ya. Seharusnya mah dia gak jemput Ca, kalo dia jemput Ca artinya udah sembuh dong," jelas Caca.

__ADS_1


Annisa melihat Aldy yang datang dengan membawa nampan dan menatanya di meja kaca mewah yang ada.


"Makasih, Om," ucap Caca tersenyum ke arah Aldy. Aldy duduk di bangku yang agak jauh dari Caca dan Annisa.


"Bentar, ya, Ca." Annisa bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi entah ke mana, Caca tak pernah berkeliling atau melihat-lihat ruang rumah Aldy.


"Umi mau ngapain, Om?" tanya Caca menatap heran ke arah Aldy.


Sedangkan Aldy hanya mengangkat bahunya pertanda ia sendiri pun tak tahu mau ke mana wanita yang membesarkannya itu.


"Siniin tangan kamu, Ca," perintah Annisa yang sudah kembali lagi ke ruang tamu. Caca hanya mengikuti perintah dari Annisa.


"Nah, cantik 'kan?" sambung Annisa duduk du bangkunya kembali. Caca melihat gelang berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangannya, dengan mainan gelang berupa bulan dan ada pernak-pernik bintangnya di beberapa bagian.


"Umi, ini bagus banget," kata Caca menatap Annisa.


"Bagus, apalagi kalo kamu yang pakai," jawab Annisa tersenyum.


"Tapi ...."


"Gadak tapi-tapian, itu dari Umi buat kamu. Kamu pakai terus, ya."


"Makasih, Umi."


"Iya, sama-sama. Yuk, kita makan malam dulu. Kamu belum makan 'kan?"


Mereka bertiga berjalan ke ruang makan, beberapa kali Caca menatap gelang yang diberi oleh Annisa tersebut. Masih seperti mimpi baginya diberi barang semewah dan bagus ini.


Setelah selesai makan malam serta bercerita tentang banyak hal juga shalat Isya dengan Aldy di Masjid sedangkan Caca dan Annisa di kamar tamu.


Akhirnya, Caca pamit pulang dengan diantar oleh Aldy juga. Di sepanjang jalan, Caca melihat gelang tersebut. Ia masih terpesona akan gelang pemberian Annisa. Annisa juga memberi kotak dari gelang tersebut.


"Wih, ada pasar malam!" seru Caca yang langsung menatap lapangan yang belum mereka lalui dipenuhi dengan berbagai macam hiburan.


"Kamu mau main di situ?" tanya Aldy melihat ke arah Caca.


"Boleh, Om?" tanya Caca menatap Aldy.


Aldy mengangguk dan menampilkan senyuman ke arah Caca, outfit Aldy malam ini sangat simple namun tetap terlihat keren. Dengan kemeja hitam tangan panjang dan celana jeans bermerek, serta jam tangan berwarna hitam yang melingkar dipergelangan.

__ADS_1


__ADS_2