Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Merutuki Diri Sendiri


__ADS_3

"Lo gak punya otak, ya? Itu pemberian Almarhum Ayah, gue!" maki Caca dengan mata yang sudah berembun. Ayah Caca sudah lama meninggal, itu sebabnya ketika Riki datang ke kehidupan dirinya seolah posisi cinta pertamanya itu teralihkan dengan sosok Riki meskipun tetap saja orangnya berbeda.


Tangan yang tadinya terikat, bisa dengan mudah dibuka oleh Caca. Ia, membuka ikatan dan menjauh dari preman itu sedangkan Aldy sudah fokus melawan preman yang satu lagi. Beberapa kali ia terjatuh dan memegangi bagian yang dirasa begitu sakit akibat pukulan.


Preman itu mencoba menangkap Caca kembali, namun Caca melawan dengan beberapa gerakan silat yang dulunya pernah ia pelajari meskipun hanya belajar selama satu bulan.


Argg ...!


Suara Aldy yang membuat Caca langsung menatap ke arah laki-laki itu, perut yang sudah tertancap pisau, "Om ...!" teriak Caca dan berjalan ke arah Aldy dan preman satu lagi.


Tepat pada saat itu, polisi langsung berlari dan sengaja tak menghidupkan suara pertanda bahwa polisi itu ada.


"Om-om, ini gimana darahnya!" teriak Caca yang panik sedangkan polisi sibuk mengejar preman yang lari melihat kedatangan polisi itu.


Sedangkan di sisi lain, Milda sudah di dalam taksi menuju tempat yang diucapkan Caca tadi, "Pak, tolong cepat, ya!" kata Milda yang sudah was-was.


Ia membuka handphone dan menelpon satu nomor yang dia tahu bahwa Caca akan bertemu dengan orang tersebut, "Riki, apa Caca sama kamu?" tanya Milda ketika panggilan telah tersambung.


"Enggak, Tante. Caca gak sama saya," ungkap Riki yang ada di sebrang.


"Oh, gitu, ya? Yaudah kalo gitu, maaf menggangu kamu," jawab Milda dan mematikan secara sepihak tanpa menunggu Riki menjawab.


"Siapa, Nak Riki?" tanya seorang wanita paruh baya kepada Riki saat laki-laki tersebut mengangkat panggilan di depannya.


"Bundanya, Caca Tante," jelas Riki tersenyum.

__ADS_1


"Makasih sekali lagi kamu udah bantu Diva, ya, Tante gak tau kalo kamu gak ada apa jadinya dia." Saat di lain sisi Caca tengah kesusahan, karena toilet yang terkunci ternyata di lain sisi Riki tengah menolong Diva yang hampir dijambret akibat Diva yang lalai karena lupa menutup tasnya.


Riki langsung mengantarkan Diva pulang karena saat kejadian Diva tengah menunggu taksi datang, karena takut kejadian yang sama terjadi dengan senang hati Riki membantu wanita masa lalunya itu.


Ia dengan ibu Diva memang lumayan dekat, karena Riki juga sudah menjalin kasih dengan Diva semenjak kelas tiga SMA jadi tak heran jika mereka sangat-sangat dekat dan Diva tahu segala hal tentang Riki.


"Nak, Riki. Tante mohon kamu kembali lagi sama Diva, ya. Tante khawatir jika dia dengan laki-laki lain," pinta ibu Diva pada Riki. Riki yang berada di bangku ruang tamu hanya mampu menunduk mendengar ucapan ibu Diva itu, sedangkan Diva berada di dapur katanya tengah menyiapkan minuman.


"Pak polisi, tolongin ini dulu!" teriak Caca dengan menutup perut Aldy yang bekas tusukan pisau.


Air mata Caca sudah penuh di seluruh wajah, ia tak mementingkan lagi bagaimana keadaanya. Polisi satu lagi turun dari mobil dan segera menuju ke arah Caca.


Polisi menggendong Aldy yang tadinya kepala laki-laki itu ada di pangkuan Caca, ia mencoba bangkit meskipun kaki sudah lemas melihat luka Aldy.


"Caca!" teriak orang yang turun dari taksi.


"Ada apa ini?" tanya Milda menutup mulutnya melihat keadaan anaknya.


"Bun, ikut sama Caca ke rumah sakit. Om Aldy harus segera dibawa!" kata Caca dengan tegas. Beruntungnya, Caca bukanlah orang yang ketika di dalam keadaan darurat begini menjadi tak bisa berkata-kata karena ada sebagian orang yang langsung kesulitan dalam berbicara disaat keadaan sangat mencekam.


Milda mengangguk dan mereka segera masuk ke dalam mobil polisi, Caca duduk di belakang dan membiarkan kepala Aldy berada di pahanya. Kunci mobil Aldy sudah dibawa polisi dan langsung membawa Aldy ke rumah sakit terdekat.


"Om ... Omnya Caca, Caca suka dengan buku-buku dan segala hal tentang Om," ucap Caca dengan satu tangan tetap menutup bekas tusukan dan satu tangan menahan kepala Aldy agar tak jatuh akibat jalanan.


"O-om, yang kuat, ya. Maafin, Caca Om. Caca yang buat Om jadi begini, seharusnya Om gak usah ketemu sama Caca Om," sambung Caca menyalahkan dirinya sendiri dengan Aldy yang masih setia menutup mata.

__ADS_1


"Suttt ... kamu gak boleh begitu, Ca!" ungkap Milda yang mendengar ucapan Caca menyalahkan dirinya sendiri.


"E-emang bener, Bunda. Caca membuat semua orang dalam bahaya aja!" ujar Caca bergetar dan menatap ke arah punggung Milda.


Milda lebih mendiamkan ucapan Caca, dirinya tahu bahwa bagaimana pun wanita itu akan selalu merasa bersalah atau bahkan sampai trauma karena kejadian ini.


Air matanya sesekali jatuh ke wajah Aldy, namun dengan cepat ia hapus menggunakan hijab miliknya. Darah sudah tak tahu berada di mana-mana saja.


Begitu sampai di rumah sakit, polisi langsung masuk ke dalam dengan berlari meminta perawat dan petugas mengambil tempat tidur pasien dorong.


Mobil dibuka Caca duluan, menurutnya agar Aldy tak pengap sedangkan Milda juga sudah turun sambil menunggu mereka datang. Caca turun lebih dulu dan membiarkan polisi serta parawat laki-laki yang memindahkan Aldy ke tempat tidur dorong.


Caca ikut berlari dengan perawat membawa Aldy ke dalam, sedangkan Milda mengurus beberapa hal tentang masalah ini dengan polisi.


"Adek, tunggu di sini, ya," ujar perawat saat Aldy sudah masuk ke ruang UGD


"Kak, kalau ada handphone di sakunya tolong kasih saya, ya. Saya mau ngabari Uminya," jawab Caca sebelum akhirnya pintu di tutup dan perawat mengangguk kepada Caca.


Caca duduk karena rasa letih menyerang dirinya, ia mengelap air mata di wajah dengan hijab dan tangannya. Ia melihat tangan dan hijab yang ada bekas darah Aldy.


"Om, andai gak bantuin aku. Pasti ini gak akan terjadi sama kamu Om," ujar Caca tetap menatap darah itu. Beberapa orang yang berlewatan menatap Caca dengan wajah iba dan juga penasaran.


Namun, ia tak memperdulikan dengan wajah-wajah dan tatapan tersebut. Itu semua bukan hal yang penting baginya sekarang.


"Ca, Bunda ambil baju kamu, ya. Bunda mau ngurus kasusnya juga ke kantor polisi dan agar mobilnya bisa dibawa ke sini juga nanti," jelas Milda yang menghampiri Caca di bangku dengan ruang UGD.

__ADS_1


Caca hanya mengangguk dengan wajah yang pucat, ia menyandarkan badannya ke bangku dan membiarkan pikirannya merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2