
"Om, bentar, ya! Caca mau masukkan pakaiannya dulu," ujar Caca saat sudah sampai di halaman rumahnya yang sedikit kotor karena biasanya ia akan menyapu halaman ini sepulang sekolah atau di waktu sore.
"Oke!" ujar Riki memberikan tas kepada Caca, "itu helmnya?" Riki menunjuk ke arah kepala Caca yang masih ada helm.
"Gak papa, Om. Bentar, kok!" teriak Caca yang sudah ada di depan pintunya.
Riki hanya diam melihat tingkah Caca, ia melihat ke arah rumahnya yang tertutup mungkin Mamanya tengah pergi bersama Ayahnya.
"Udah?" tanya Riki saat Caca berjalan menuju ke arah dirinya.
"Udah, kok, Om. Aman!"seru Caca tersenyum ke arah Riki. Sebelumnya motor sudah diputar balikkan oleh Riki, agar nanti gampang buat jalan jika sudah datang Caca.
"Om, kita mau makan di mana?" tanya Caca sambil menaiki jok belakang Riki.
"Mau makan di dalam ruangan."
"Ihh, serius kali!" omel Caca terhadap Riki yang tak pernah serius menjawab ucapannya.
"Nanti juga tau, saya juga masih bingung mau makan di mana," kata Riki mulai menjalankan motor.
"Kok rumah Om sepi?" tanya Caca melihat ke arab rumah Riki ketika lewat.
"Iya, kayaknya sedang keluar Mama sama Ayah."
"Om gak ikut?"
"Saya 'kan juga lagi keluar ini."
"Sama siapa?"
"Sama Bocil menyebalkan."
"Hahaha, dih dasar Om-om."
"Biarin Om-om, yang penting ganteng."
"Haduh, gawat nih. Pedenya keluar, lupa minum obat pereda pede kayaknya!" terang Caca dengan tertawa juga Riki yang tertawa kala mendengar jawaban-jawaban dari Caca yang kepalanya berada di pundaknya.
"Kita makan dulu atau main dulu?" tanya Riki saat sudah mau dekat di tempat pasar malam.
"Makan dong, Om. Ca ini udah gak bertenaga, udah 1% kekutan mau mainnya. Harus diisi dulu dengan makan," canda Caca sambil memegang tangannya.
"Ke mana yang 99%-nya tadi? Ibu pergunakan untuk apa?" tanya Riki meladeni ucapan Caca.
"Untuk tertawa dan menjawab pertanyaan Anda, aa ... saya sudah tak bertenaga gara-gara Bapak bertanya mulu kepada saya," ucap Caca yang badannya di lemeskan. Riki hanya tersenyum melihat ulah wanita yang menolak dewasa di belakangnya ini.
__ADS_1
Mereka telah sampai di salah satu cafe, "Turun, Ca. Udah sampe, nih!" ujar Riki menunggu Caca turun duluan.
"Gak kuat, Om," kata Caca tetap mempertahankan actingnya.
Riki tersenyum licik melihat tingkah Caca, ia membuka helm dan turun lebih dulu dengan satu tangan tetap menahan tubuh Caca agar tak jatuh.
Setelah selesai membuka helm dan mengambil kunci, Riki langsung menggendong Caca dengan mata wanita yang tengah terpejam itu.
"Aaaa, Om ... nanti jatuh!" teriak Caca yang takut saat dirinya sudah ingin diangkat oleh Riki. Riki membuka helm Caca lebih dulu dan tak mendengarkan teriakan wanita yang ketakutan itu.
"Aa ... Om! Caca udah bertenaga kok ini!" teriak Caca lagi namun tak diindahkan Riki.
"Udah, kamu bilang 'kan tadi gak bertenaga. Jadi, saya gendong aja sini!"
"Om, malu ...!"
"Saya enggak," ujar Riki santai dengan diliatin beberapa orang. Ia masuk begitu saya ke dalam cafe yang beruntungnya pintunya terbuka saya jadi ia tak perlu membuka pintu lagi.
Caca hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Riki menurunkan Caca tepat di meja yang kosong.
"Bisa duduk sendiri, Tuan Putri?" tanya Riki saat menurunkan Caca.
"Bisalah! Ihh ...," kesal Caca dengan memukul lengan Riki.
"Hahaha, jangan marah kali Cil."
"Caca ... jangan ngambek atuh," bujuk Riki dengan wajah yang di imut-imutkan. Caca hanya melirik sekilas dan membuang pandangannya lagi dengan tangan yang bersedekap.
"Males! Om nyebelin," ujar Caca menahan diri agar tak mudah memaafkan orang di depannya.
"Padahal lebih nyebelin dia juga," gumam Riki yang masih bisa didengar Caca. Caca langsung melepaskan sedekapnya dan melihat ke arah Riki.
"Apa?" tanya Caca dengan suara kesal dan membuat Riki langsung menatap dirinya.
"Permisi, Mbak ... Pak," ucap pelayan yang membuat emosi Caca harus ditahan lebih dahulu.
"Iya, Kak," jawab Caca menatap ke arah pelayan yang ada di tengah-tengah mereka. Pelayan memberikan buku menu sebanyak tiga buku.
Riki dan Caca langsung membuka satu per satu buku menu itu dan mencari makanan apa yang diinginkan dan cocok di lidah masing-masing.
"Saya mau spageti sama jus jeruk," ucap Riki mengucapkan pesanannya.
"Saya ayam bakar sama teh manis dingin, baru ice cream rasa coklat sama kentang goreng, Kak."
"Oke, itu saja, ya, Mbak?" tanya pelayan selesai mencatat pesanan mereka.
__ADS_1
"Iya, Kak," jawab Caca yang memberikan buku menu kepada Riki dan Riki memberikan kepada pelayan yang ada.
Caca membuka tas dan mengambil handphone yang dibelikan oleh Riki itu, "Om," panggil Caca sambil memberikan handphone-nya kepada Riki.
"Kenapa?" tanya Riki menerima handphone itu.
"Fotoin," jawab Caca cengengesan dengan mencari posisi yang bagus.
"Hadeuh, bisa lama nih ceritanya," gumam Riki sambil membuka handphone yang tak dikunci layar.
Caca sudah berpose selayaknya selebgram yang ada, beberapa kali dirinya berganti gaya hingga akhirnya letih sendiri dan menyudahi kegiatannya tadi.
Ia mengambil handphone dan melihat-lihat hasil jepretan Riki, Riki menatap Caca yang pasti tengah merasa tak puas dengan hasil gambarannya.
"Kenapa, gak ada yang bagus?" tanya Riki membuat Caca menatapnya dengan cengengesan.
"Ada kok, Om. Walaupun dari sepuluh gambar cuma satu yang bagus, tapi gak papa," jawab Caca jujur menurut pandangannya. Riki hanya bisa bergeleng-geleng mendengar jawaban Caca.
Saat Caca tengah fokus menatap handphone, Riki membuka handphone juga dan mengambil foto wanita itu secara diam-diam.
"Permisi, Kak," ujar pelayan dengan memberikan makanan yang tadi di pesan. Beruntungnya Riki sudah selesai mem-foto Caca tadinya.
"Makasih, Kak," ucap Caca saat pesanan sudah di tata di atas meja semuanya.
Riki mulai menyantap makanannya, Caca yang tengah menyantap makanannya juga menatap ke arah Riki yang sepertinya sangat menikmati makannya.
"Enak, Om?" tanya Caca sambil melihat ke arah makanan Riki.
"Enak," jawab Riki cuek yang sudah tahu apa maksud dari Caca.
"Coba, Ca rasa." Caca langsung mengambil garpu Riki dan memakan makanannya.
"Enak, 'kan?" tanya Riki melihat Caca yang tengah mengunyah spageti.
"Enak!" seru Caca dengan wajah tersenyum menyicipi makanan Riki.
"Enak dong, apalagi garpunya bekas punya saya. Makin nikmat rasanya," ujar Riki tersenyum sambil memasukkan lagi spageti ke mulutnya. Sedangkan Caca yang tadinya tengah mengunyah langsung terdiam mendengar ucapan Riki.
"Aa ... Om, ih!" ucap Caca dengan sebal ke arah Riki.
"Hahaha, kenapa, sih?" tanya Riki yang tak mampu menahan tawanya.
Caca hanya memajukan bibirnya dan dengan segera memakan makanannya, ia tak memperdulikan Riki yang tertawa karena dirinya.
"Mau lagi?" tawar Riki dengan spageti yang sudah ada di garpu bekasnya tadi.
__ADS_1
"Gak! Gak mau ...," tolak Caca dengan cepat dan menutup mulutnya agar Riki tak memaksa ia untuk membuka mulut.