Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Aku Tahu Semua Tentangmu


__ADS_3

"Kita pulang, yuk!" seru Riki melihat sunset yang sudah akan tenggelam.


Caca melihat ke arah Riki sebentar lalu mengedarkan pandangan melihat sekelilingnya yang duduk dengan pasangan mereka juga masing-masing.


"Banyak banget orang pacaran, ya, Om," ucap Caca tersenyum ke arah Riki.


Sedangkan Riki hanya diam dan melirik sekilas suasana di belakangnya, "Iya, kecuali kita," kata Riki yang membuat Caca menatapnya.


"Hahaha, iyalah kita gak pacaran tapi bestie 'kan?" tanya Caca seraya tertawa. Entah tawa memang lucu atau menutupi sedikit perih yang ada akibat ucapan Riki.


Memang, Riki belum pernah mengucapkan bahwa ia menyukai Caca bahkan tak pernah mengungkapkan perasaan meskipun hanya seolah candaan semata.


Namun, entah apa yang membuat Riki kadang marah besar dengan Caca ketika wanita itu dekat dengan laki-laki lain terutama laki-laki yang tak dikenal olehnya.


"Kamu gak menyalah artikan baik saya ke kamu 'kan?"


"Gak dong, Om. Saya tau kita adalah dua orang yang hanya saling butuh pada saat tertentu, kayak Caca butuh sama Om gara-gara ayah yang meninggal dan Om butuh Caca karena Mbak Diva yang pergi meninggalkan Om," ungkap Caca tersenyum mencoba menguatkan diri.


Riki mengangguk, "Tapi, bukan berarti suatu saat rasa ini akan lebih dari sekedar adik dan kakak," jelas Riki menatap Caca.


Caca mengerutkan keningnya mendengar ucapan Riki tentang mereka, itu sebabnya Riki tak pernah melakukan hal lebih kepada Caca karena takut wanita itu salah menganggap perlakuannya itu.


"Hehe, semoga akan akan lebih deh Om," jawab Caca cengengesan.


"Kenapa? Kamu tak ingin?" tanya Riki yang menatap lekat ke arah mata Caca.


"Caca udah nyaman hanya sebagai adik Om," ujar Caca mengalihkan pandangannya.


'Bohong jika aku hanya ingin sebagai adik Om, hanya saja aku berpikir memang mungkin ini jalan untuk kita semua yang terbaik. Ca akan mencoba menghilangkan perasaan yang sangat lebih sebagai adik ini,' batin Caca tersenyum dengan melihat air.


"Kamu kenapa, Cil?" tanya Riki yang juga melihat ke air.


Caca menatap Riki, "Ha? Gak papa Om."


"Kenapa senyum sambil liat air?" tanyanya melihat ke arah Caca.


"Enggak, Caca keinget moment lucu di sekolah tadi. Mangkanya senyum lagi."

__ADS_1


"Ohh, kirain lagi ngobrol sama putri duyung tadi."


"Enggaklah, Om!"


"Yaudah, pulang yuk!" seru Riki yang sudah akan bangkit dari tempat duduknya.


Caca dengan cepat memegang pergelangan Riki, "Tunggu, Om! Kita foto dulu bentar, buat kenang-kenangan," ungkap Caca membuka tas dan mengambil handphone yang diberi Riki waktu itu.


Mau tak mau Riki harus menuruti Caca, berbagai macam fose diatur oleh Caca dan dituruti dengan senyuman dan helaan nafas.


"Udah?" tanya Riki yang melihat Caca menatap foto itu satu per satu. Caca menatap suara yang bertanya padanya itu, ia hanya menjawab dengan senyuman dan mengangguk.


"Yaudah, yuk pulang!" Riki bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya kepada Caca agar membantu wanita itu untuk mudah berdiri.


Makanan yang sudah habis dibuat di kresek yang satu dan yang masih ada di letakkan di kresek satunya lagi.


"Oh, iya Om! Liat Caca deh," ucap Caca berada di samping Riki dengan keadaan Riki sudah duduk di jok bangku kuda besi kesayangannya.


"Apa?" tanya Riki membuka kaca helm dan yang hanya tampak alis hitam dan rambut yang disengaja ada di kening.


"Ada yang beda dari Caca, gak?" tanya Caca sumbringah memperlihatkan outfit dia kali ini.


Caca tersenyum, "Ihh ... kok bener, sih?" tanya Caca dengan bahagia.


"Soalan gampang itu mah, kalo kamu tanya kamu gatal-gatal badannya juga saya tau kamu kenapa. Atau, kamu gak nyaman sama suatu tempat atau lainnya juga saya udah tau," ungkap Riki memakaikan helm ke kepala Caca.


Caca menepuk tangannya ke arah Riki dengan senyuman yang tak hilang, "Keren Om aing mah," kata Caca memberikan jempol.


"Udah, naik!" seru Riki setelah selesai memasangkan helm ke kepala Caca.


"Oke, Om!" Caca berjalan ke jok belakang dengan membawa kresek dua bungkus itu. Di area jembatan tak menyediakan tong sampah, jadi mau tak mau sampah pun dibawa oleh Caca sampai ke mana yang ada tong sampahnya.


Bukan berarti, di sekitaran bersih. Tak semua orang mau menjaga lingkungan, padahal jelas-jelas kebersihan itu sebagian dari iman. Juga, bukankah suatu kebahagian sendiri ketika sampah yang kita buat untuk kita tanggung jawab 'kan sampai ke tong sampah.


Namun sayangnya, tak semua orang tergerak hatinya untuk melakukan hal itu. Agar mengurangi jumlah sampah yang ada di Indonesia ini.


"Om, cariin tong sampah, ya," ucap Caca dengan nada yang sedikit keras.

__ADS_1


"Iya, Cil. Ini juga lagi cari tong sampah, kok."


Mereka mencari tong sampah terdekat, Riki langsung mendekat ke arah tong sampah salah satu kompleks. Tak jauh dari situ, mereka melihat ada anak kecil yang sedang mengais tong sampah.


Riki langsung turun duluan, "Om! Caca takut kalo kayak gini, ih! Motornya miring!" teriak Caca ketakutan karena motor sudah di miringkan Riki duluan.


Ia tertawa melihat wajah panik Caca, ia menurunkan Caca dan membuka helm milik dirinya juga Caca.


Mereka mendekati anak tersebut yang menatap ke arah mereka, "Dek, kamu ngapain di sini?" tanya Riki yang jongkok agar menyeimbangkan tinggi anak tersebut.


"Mau nyari botol-botol bekas dan kerdus, Om," ucapnya menatap Riki dengan pakaian yang lusuh.


Caca pun ikut jongkok dan menatap ke arah anak laki-laki itu, ia sudah lebih dulu mengeluarkan bulir bening namun segera ia hilangkan agar tak dianggap cengeng oleh Riki atau bahkan anak tersebut.


"Kamu masih sekolah? Umur kamu berapa tahun?"


"Masih, Om. Kelas 1 SD, umur Egi 7 tahun."


"Nama kamu Egi?"


"Iya, Om. Egi Arya Pratama," ucap bocah tersebut memperkenalkan namanya.


"Nama kamu bagus, Egi. Sini, duduk dulu. Capek 'kan?" tanya Riki dan menepuk aspal pinggir.


Mereka pun duduk bertiga dengan Egi di tengah, "Kamu punya adek?"


"Punya Om, satu," terangnya sambil memainkan jari. Riki yang melihat hal itu langsung memegang jari anak tersebut.


"Gak usah takut, Om bukan orang jahat apalagi akan mukulin kamu," kata Riki mengusap kepala Egi dan tersenyum. Egi langsung menatap ke arah Riki dengan mendongak dan membalas senyuman itu.


"Nih, buat kamu." Caca memberikan kresek makanan yang masih ada kepada anak tersebut.


"Kamu udah makan? Kita makan, yuk!"


"Makan di mana, Om?"


"Di mana, ya?" tanya Riki melihat-lihat sekitar. Tidak ada warung atau tempat jualan di sini karena per-komplekan. Kalau pun ada biasanya yang lewat mereka-mereka yang terbiasa jualan sistem ngedar ke mana-mana.

__ADS_1


"Nah, tepat banget! Tuh ada bakso," sambung Riki menunjuk tukang bakso yang tengah mendorong gerobaknya.


__ADS_2