
Caca mencoba santai tetap berjalan ke arah kasir dan memberi tahu pesanannya, setelah selesai menyebutkan pesanannya dirinya langsung duduk untuk menunggu. Dirinya tak sama sekali melihat ke arah Riki dan Diva yang tengah duduk bareng tersebut, ia hanya fokus ke handphone miliknya.
"Oh, iya, Sayang. Habis ini kita mau ke mana?" tanya Diva dengan suara yang cukup keras sengaja agar di dengar oleh Caca.
Caca tetap fokus pada handphone dan sesekali tersenyum dengan jari yang begitu lincah seolah tengah mengetik pesan kepada seseorang.
"Mbak, ini pesanannya," ucap pelayan. Caca langsung berdiri dan tersenyum serta membayar pesanan tersebut. Setelahnya, ia tak menyapa Riki atau marah-marah kepada Diva melainkan membuang muka dan berjalan ke luar untuk segera memberikan kopi pada karyawan Milda.
'Kenapa dia gak marah-marah?' batin Riki melihat kepergian Caca bahkan punggungnya pun sudah tak terlihat.
Riki bangkit, "Kamu mau ke mana?" tanya Diva memegang tangan Riki.
Riki langsung melepaskan genggaman Diva, "Gausah sok dekat! Kita udah bukan siapa-siapa lagi!" ujar Riki pergi meninggalkan Diva sendirian.
"His!" kata Diva dengan wajah kesal, "tapi gak papa, sih. Yang penting tadi aku sudah bisa dekat dengan Riki dan setidaknya aku tau bahwa mereka sedang tengah gak baik-baik aja, jadi aku punya celah untuk masuk dan merebut Riki kembali." Senyuman Diva tercipta dengan ide-ide busuknya itu.
Riki berjalan begitu cepat hingga dirinya mampu mendapatkan Caca, "Awas!" bentak Caca kepada orang yang ada di depannya tanpa dirinya lihat ia sudah tahu siapa yang menghadang jalannya.
"Cil," ujar Riki menatap Caca.
"Apa?" tanya Caca melihat ke arah Riki.
"Maaf."
"Gak butuh!" Caca langsung mengambil jalan yang lain, karena tak mungkin dirinya mampu menyingkirkan Riki dari hadapannya.
"Cil! Maafin gue!" Riki berjalan di samping Caca dan menatap wajah gadis tersebut, sedangkan Caca hanya fokus kepada jalannya dan langkah yang dipercepat melebihi biasanya.
"Cil!" bentak Riki sambil menggenggam lengan Caca yang langsung membuat wanita tersebut berhenti.
"Apa?!" cetus Caca yang tak mau kalah, dirinya menatap Riki dengan tangan yang tetap memegang kantong plastik kopi.
__ADS_1
"Aku minta maaf!"
"Kalau lo mau buat gue cemburu dengan cara murahan kayak tadi! Maka lo salah besar, gue gak akan mau cemburu sedikit pun!" terang Caca sambil berjalan mendekat ke arah Riki, "karena menurut gue, penghianat memang seharusnya sama wanita murahan!" Caca tersenyum miring ke arah Riki tanpa memperdulikan beberapa pengendara yang melihat ke arah mereka.
Plak!
Suara tamparan terdengar, satu tamparan mengenai pipi Caca membuat wajahnya otomatis ke kanan dibuat oleh tamparan tersebut. Caca memegang pipinya dan mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap bahwa apa yang diterimanya ini bukan dari orang yang dia sayang.
Caca menatap orang tersebut dan tersenyum, "Sudah? Ayo tampar lagi!" bentak Caca. Sedangkan Riki hanya melihat ke arah tangannya yang telah menampar Caca.
"Ca ... a-aku--," ujar Riki dengan terbata-bata.
"Jangan pernah dekat-dekat lagi sama gue! Pergi dengan wanita terbaik lo itu!" Caca melepaskan tangan Riki dari pergelangannya dan langsung berlari meninggalkan Riki yang masih terpatung.
Beberapa bulir berhasil turun dan dengan cepat Caca hapus, dirinya tak mau sampai Milda mengetahui apa yang terjadi di antara dirinya dan Riki. Sedangkan Riki meramas rambut gondrongnya denga keras, ia tak bisa mengendalikan emosi yang selalu meledak-ledak tersebut.
"Arggg ...!" teriak Riki sambil menjambak rambutnya.
"Bodoh banget lu Riki!" sambungnya lagi sesekali memukuli kepalanya, "Caca udah nyuruh lu jauh! Dia udah kecewa berat sama lu! Sekarang gimana?" Riki merutuki dirinya sendiri, bahkan laki-laki yang jarang sekali berbicara di depan umum kini tak memperdulikan beberapa pasang mata memperhatikannya.
Tak ada senyum di wajah anaknya tersebut, "Kamu habis nangis?" tanya Milda menatap wajah Caca.
"Ha? Enggak, kok Bun," kata Caca mengusap ujung matanya.
"Kamu jangan bohong, ada apa?" Milda mulai panik, dirinya memegang pipi Caca dan mengusap kedua mata anaknya.
"Gak papa, Bunda," ujar Caca meyakinkan sambil menurunkan tangan Milda dari wajahnya.
"Kamu tau kehebatan seorang ibu?"
"Apa, Bun?"
__ADS_1
"Dia tau apa yang dirasakan anaknya tanpa anak tersebut memberi tau, seorang ibu bertanya hanya karena ingin melihat apakah anaknya; jujur atau bohong."
Caca tertunduk mendengar ucapan Milda, 'Aku gak mungkin kasih tau tentang apa yang tadi dilakukan Om sama aku, bisa-bisa Bunda ikutan membenci dia. Lebih baik aku tetap diam aja,' batin Caca mendongakkan wajahnya dan tersenyum.
"Bun, Caca gak papa, kok," ujar Caca tersenyum seraya bergeleng, "kalau begitu, Caca mau pergi dulu, ya."
Belum sempat Milda bertanya tentang Caca yang berubah sikap, dirinya sudah menyalim tangan Milda lebih dulu dan melangkah pergi. Caca menaiki gojek, dirinya pergi entah ke mana Milda pun tak tahu.
Di perjalanan yang dituju Caca, sesekali dirinya menangis. Tak bisa menerima apa yang dialaminya tadi, namun meskipun tak diterima semuanya sudah terjadi.
"Ada apa, Neng?" tanya sopir gojek mungkin dirinya mendengar suara tangisan Caca.
"Hehe, gak papa Pak. Maaf, ya, saya mengganggu," ujar Caca menghapus jejak air matanya.
"Gak ganggu, kok. Kamu ada masalah apa?" Caca hanya diam dan tak menjawab pertanyaan tukang sopir tersebut, terlalu bucin rasanya jika curhat ke orang-orang masalah percintaan.
"Gak papa, Bapak tau kok. Pasti masalah percintaan 'kan? Neng masih muda, fokus berkarir jangan terlalu pikirkan laki-laki apalagi yang gak pantas buat Neng," ucap sopir menasehati.
"Allah jauhkan dirimu dari seseorang itu artinya dia bukanlah yang terbaik buatmu, jadi jangan sedih atuh."
Caca hanya mendengar dan memahami setiap ucapan tukang gojek tersebut, dirinya tersenyum mendengar nasihat laki-laki paruh baya itu. Bagaimana pun apa yang diucapkan ada benarnya, toh laki-laki juga bukan hanya satu di dunia ini.
"Makasih, ya, Pak," kata Caca sambil memberikan ongkos dan helm.
"Iya, sama-sama," jawab sopir mengambil helm dari Caca.
"Buat sarannya juga, Pak."
"Iya, Neng. Kalau begitu saya duluan, ya."
Caca hanya membalas dengan anggukan, setelah itu tukang gojek pergi dari hadapan Caca. Caca berjalan ke tempat yang dia tuju, tersenyum melihat air yang ada dan bangku yang tak pernah berubah. Tempat yang sangat-sangat bisa menenangkan.
__ADS_1
"Sungai, lo kangen gak sama gue?" tanya Caca sambil berjalan ke bangku.
"Asekk, gaya batt gue. Ngomong lo-gue, sekarang. Hahahaha." Tawa Caca pecah karena tingkahnya sendiri, entahlah. Wanita tersebut memang bukanlah tipe orang yang suka berlarut-larut dalam kesedihan, ia pasti akan mencari moment agar tawanya kembali lagi.