Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Bolehkah Aku Egois?


__ADS_3

Caca dan Riki telah sampai di jembatan yang biasanya dijadikan tempat yang cocok untuk menunggu senja menghampiri.


Jajanan sudah mereka beli terlebih dahulu sebelum sampai di jembatan, di jembatan ini tidak diberi pedagang buat berjualan karena ditakutkan membuat macet jalanan.


Caca turun dari motor dan duduk di pinggiran jalan yang di bawahnya langsung terhampar sungai yang begitu luas dan dalam. Ada buaya? Entahlah, namun setahu dia belum pernah terdengar bahwa ada buaya di sungai itu.


"Cil, tau gak? Kemarin ada yang jatuh dari sungai ini, lho," kata Riki dan duduk di samping Caca juga.


Caca menatap ke wajah Riki yang berada di sampingnya, "Lah, iya Om? Dia gak bisa berenang kali, ya?" tanya Caca dan melihat ke bawah air yang berwarna coklat seolah habis ada banjir di suatu wilayah.


"Tau, dia ngantuk pas lagi mancing. Jadinya jatuh, ketemu dua hari kemudian dengan keadaan sudah meninggal dunia," ungkap Riki memberi tahu kejadian yang dia ketahui beberapa waktu yang lalu.


"Innalilahi, semoga masuk surga ya Om."


"Aamiin. Yuk, makan nih jajan kamu!"


Caca membuka kantong plastik dan mengambil siomay yang dibelinya tadi, siomay dengan menggunakan tusuk dan juga plastik.


Caca menusuk somay dan memasukkan ke mulutnya lebih dulu untuk merasa apakah somay tersebut enak, ia menganggukkan kepalanya menikmati rasa somay.


Sedangkan Riki yang sedang membuka kopi botolan siap jadi mengerutkan dahi melihat tingkah Caca, "Kenapa?" tanya Riki yang tak biasanya Caca seperti itu.


"Enak, Om. Cobain, deh!" seru Caca sambil menusukkan somay dan memasukkan ke mulut Riki.


"Enak 'kan?" tanya Caca tersenyum dan Riki mengunyah somay tersebut.


"Biasa aja, kayak somay yang lainnya."


Caca langsung berwajah datar dan memukul lengan Riki mendengar jawaban menyebalkan dari laki-laki tersebut, "Lah, emang bener, kok," jelas Riki yang merasa omongannya tak salah.

__ADS_1


"Iya deh iya." Caca melanjutkan aktivitasnya dan menatap ke arah matahari yang sudah hampir akan menghilang dan munculnya sunset.


Riki menatap lekat wajah Caca yang seolah kagum akan ciptaan Allah, Caca yang merasa di tatap langsung melihat Riki, "Kenapa Om?" tanya Caca menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu suka senja?" tanya Riki melihat sunset tersebut sebentar lalu menatap ke arah Caca lagi.


"Suka, meskipun dia hanya datang sementara dan belum tentu ada lagi besok atau dia ada besok Caca belum tentu mampu melihat keindahannya," tutur Caca tersenyum dengan sesekali mengunyah somay yang sudah hampir habis.


"Cil, kenapa masih mau bertahan?" tanya Riki kali ini dengan tatapan serius.


"Hahaha, bertahan apa Om?" tanya Caca dengan tawa karena merasa pembahasan semakin serius.


"Ya, bertahan dengan saya. Karena saya kayaknya emang gak pantes buat kamu, saya kasar dan bahkan selalu melukai hati kamu."


"Om tau? Caca bukan manusia yang mempermasalahkan hal itu, Caca juga waktu itu sempat menampar Om, bukan? Semua orang pernah melakukan ke khilafan, jadi menurut Ca selagi bisa diperbaiki ya gak ada salahnya."


Riki tersenyum menatap Caca sedangkan Caca juga membalas senyumnya itu, ia memasukkan bungkus somay ke dalam kresek yang pertama.


"Eh-eh, pelan-pelan," ujar Riki panik saat melihat mata Caca berembun mungkin merasa sakit akibat tersedak.


"Ih, Om sih!" omel Caca mengelap mulutnya menggunakan hijab dan menutup sebentar air minumnya itu karena ditakutkan debu masuk ke dalamnya.


"Ya, maaf. Saya kira kamu akan biasa aja Cil, gak akan sampe tersedak begitu."


Caca menatap sunset sebentar dan memikirkan jawaban atas pertanyaan Riki, "Sejatinya, Om. Yang hadir belum tentu takdir, bisa jadi ia dijadikan hanya untuk sementara atau hanya untuk dijadikan pembelajaran," jelas Caca melirik ke arah Riki.


"Maksud kamu?"


"Ya, kita gak bisa bilang bahwa akan terus bersama. Karena yang tau akan hal itu cuma Allah semata, kalo emang kita ditakdirkan untuk bersama maka akan bersama."

__ADS_1


"Kalo enggak?"


"Ya, gak akan," ungkap Caca melihat sunset kembali.


"Kalo enggak, aku akan merubah takdir tersebut agar menjadikan kita bersama-sama," kekeh Riki dan menatap wajah Caca.


Caca hanya terdiam dan kembali meminum air yang tak sempat menghilangkan rasa pedas dalam mulutnya.


"Cil, kau tau? Mungkin, aku terkesan egois dalam menginginkanmu. Beberapa hari belakangan kita tak benar baik-baik saja, banyak masalah dan ujian yang hadir hingga fisik pun terluka bukan hanya batin. Aku tau, aku banyak menorehkan luka yang mana membuat kau tak nyaman akan hal itu," ucap Riki dan membuat Caca melihat ke arahnya.


"Namun, aku mohon untuk tak meninggalkan aku Cil. Aku akan mencoba berubah menjadi orang yang akan lebih baik lagi ke depannya, bukankah kau tau aku juga seperti ini kenapa? Akan tetapi, jika kau rasa ada laki-laki yang mampu membuatmu bahagia yang bisa peka akan apa yang kau rasakan. Maka, tinggalkan aku dan pilihlah dia," sambung Riki tersenyum dan mengusap kepala Caca yang tertutup hijab.


Caca melihat ke wajah Riki yang tersenyum, ia hanya menampilkan wajah datar yang bingung harus berucap apa dan berekspresi apa akan keadaan saat ini.


'Om, di lain sisi ada sesuatu yang harus aku pertahankan dan di lain sisi aku takut kau nantinya kenapa-kenapa. Namun, maaf jika kali ini aku yang egois terhadap kita. Tak apa 'kan? Jika biasanya dirimu, maka biarkan kali ini aku Om,' batin Caca melihat hamparan sungai yang berada di bawah.


"Udah, yuk di makan lagi jajannya," kata Riki menurunkan tangannya dari kepala Caca dan membuka kresek yang satunya. Mereka membeli jajan sampai dua kresek penuh, mungkin Riki mengira mereka akan menginap di jembatan sehingga banyak sekali jajanan yang dibawa.


Caca langsung bersemangat dan melupakan berbagai ucapan mereka tadinya, ia mengambil cimol dan juga baklor yang tadinya dibeli.


"Om, tau gak? Kalo, Eukaliptus merupakan jenis pohon kayu keras dan tertinggi di dunia, serta merupakan pohon asli Australia. Namun, gak lebih tinggi dan keras cintanya Caca ke Bundalah. Yakali, ke Om!" tawa Caca pecah saat melihat Riki yang sudah berharap bahwa akan digombal oleh dirinya.


"Nyebelin kamu!" kesal Riki sambil mengunyah permen karet yang dibelinya tadi.


"Tapi ngangenin 'kan?" tanya Caca mendekat dan melihat ke arah wajah Riki.


"Gak."


"Hahaha, gak-gak. Gayamu Om-om," tawa Caca semakin pecah saat berhasil membuat laki-laki yang lebih tua darinya itu kesal akibat perbuatannya.

__ADS_1


'Senja mengajarkan, bahwa yang indah hanya datang sementara,' batin Caca tersenyum menatap senja yang sudah mulai menggelap.


__ADS_2