
"Iya, gak papa," kata Aldy mengusap kepala Caca.
"Om kok bisa di sini?" tanya Caca menatap Aldy.
"Iya, kebetulan tadi mau ke cafe beli pesanan Umi dan gak sengaja ketemu kamu."
"Mobilnya di mana?"
"Tadi di antar, karena emang mau nongkrong sekalian."
"Oh," jawab Caca dengan mengangguk pertanda paham dengan yang dimaksud oleh Aldy.
Aldy melihat penampilan Caca dan mengerutkan keningnya, "Buat apa bawa tas ransel?"
"Eh, tadi Caca mau belajar cuma gak jadi."
"Belajar di mana?"
"Cafe, Om."
"Sama siapa?"
"Temen."
"Terus kenapa gak jadi?"
"Dia ada kesibukan lain soalnya tadi, jadi gak mungkin Caca ganggu juga."
"Mm ... mau saya ajari? Daripada gak jadi belajarnya, 'kan?"
"Belajarnya kita di mana Om?"
"Di cafe itu."
"Ca gak mau, Om."
"Oh ... di rumah saya aja, gimana?"
Caca tersenyum dan segera mengangguk, Aldy berdiri lebih dulu dan diikuti Caca. Mereka berjalan untuk mencari taksi di jalan raya. Karena jika menunggu angkot lewat mungkin bisa sampai malam.
Aldy membukakan pintu belakang dan Caca masuk duluan, Aldy pun berjalan ke arah tempat duduk depan bersampingan dengan supir.
"Mau ke mana, Dek?"
"Ke cafe PJS aja, Pak."
__ADS_1
"Oke."
Caca hanya melihat jalan dari kaca, ia tak bertanya mengapa larinya ke cafe. Ia masih memikirkan apa sebenarnya yang terjadi antara Riki dengan wanita tadi, apa benar hanya sebatas asisten?
Suara dering handphone Caca membuat Aldy melihat ke arahnya, Caca segera membuka dan melihat nomor asing memanggil dirinya.
"Halo, siapa ya?" tanya Caca mengangkat panggilan.
"Kenapa nomor saya di blok?" tanya suara yang ada di sebrang membuat tubuh Caca mematung.
Caca hanya diam dan mengerjapkan matanya, ia mencoba setenang mungkin tak enak jika Aldy tahu bahwa Caca ada masalah dengan seseorang sedangkan Aldy sudah kembali fokus melihat jalanan di depannya.
"Kamu sekarang di mana? Biar aku jemput."
"Gak usah, Ca lagi ada urusan. Udah dulu, ya."
Caca mematikan panggilan sepihak, dirinya melihat-lihat handphone miliknya. Terlihat bahwa pelacak lokasi ia nyala, Caca mengerutkan keningnya.
'Kok hidup? Siapa yang menghidupkan, apa jangan-jangan Om? Sehingga dia bisa dengan mudah tau aku di mana?' Caca langsung mematikan lokasi yang ada di handphone genggamnya. Karena memang Riki terkadang suka mengotak-atik handphone Caca dan Caca tak pernah protes akan hal itu.
"Siapa, Ca?" tanya Aldy yang tetap fokus melihat ke depan.
"Orang, Om."
Caca hanya tertawa dan tak menjawab pertanyaan dari Aldy lagi, mereka telah sampai di cafe yang diucapkan Aldy tadi.
"Pak, tunggu bentar, ya," ucap Aldy sebelum keluar.
Caca hanya menatap karena melihat Aldy tak mengajak dirinya, namun ternyata Aldy membukakan pintu belakang dan membuat Caca segera keluar.
"Mau beli apa, Om?"
"Beli cemilan."
Mereka berjalan secara bersamaan ke dalam cafe, saat sudah sampai di dalam dan menunggu pesanan yang dibungkus.
"Om, Caca ke toilet dulu, ya!" ujar Caca dan berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, yaudah sana. Nanti saya tunggu di sini kalo emang belum selesai juga," jawab Aldy menatap Caca dengan tangan memegang handphone.
Caca mengangguk dengan tetap membawa ransel berjalan menuju toilet, ia bertanya terlebih dahulu kepada karyawan cafe di mana letak toilet. Setelah mendapatkan jawaban, Caca segera berjalan.
Toilet wanita hanya ada dua tempat, keadaan toilet kosong karena mungkin masih siang pengunjung cafe jadinya tak terlalu ramai sehingga tak banyak di toilet.
Caca masuk dan berniat mencuci mukanya, ketika tengah asyik mencuci muka dengan air yang mengalir deras. Suara pintu dikunci dari depan terdengar membuat Caca langsung mematikan kran air dan mengelap tangannya dengan hijab akibat ia panik.
__ADS_1
Caca memegang gagang pintu dan benar saja pintu toilet terkunci, beruntungnya tombol off-on lampu toilet berada di dalam setiap toilet. Jika berada di luar, bisa-bisa orang tersebut juga mematikan lampunya.
"Hallo ... ada orang di luar? Wanita cantip di dalam nih!" teriak Caca yang tak terlalu panik dengan mengetuk pintu toilet.
Pintu toilet memiliki celah di bawahnya, entah apa maksud cafe membuat pintu toilet tersebut tak rapat. Caca langsung melihat siapa yang ada di balik pintu itu, ia sedikit membungkuk dan terlihat hanya hells seorang wanita berwarna hitam.
Caca mengambil gayung yang berisi air, dengan suara tawa ditahannya, "Aku harus tetap pura-pura panik, biar nih orang bahagia," ucap Caca pelan.
"Tolong-tolong!" teriak Caca dan kembali berjongkok. Ia menyiram sebagian air ke luar toilet dan membuat orang tersebut menjerit karena hells yang harganya jutaan itu basah akibat ulah Caca.
"Heh! Kurang ajar lo, ya!" maki orang yang menguncikan Caca. Sedangkan Caca hanya mampu tertawa akibat ulahnya.
"Satu sama dong, gosah ngegas kali Mbak!" seru Caca dengan tawa yang tak hilang.
Ia segera mengembalikan gayung dan membuka tas mencari handphone, beruntung nasibnya tak sama seperti yang ada di film-film. Ketika terjebak pasti batre handphone-nya mati, namun tidak dengan Caca.
Nomor Aldy menjadi pencariannya di aplikasi hijau, "Dih, budu lu Caca. Sejak kapan Om Aldy ngasih nomornya ke lu?" tanya Caca sambil memukul keningnya pelan.
Caca langsung ke aplikasi selanjutnya, aplikasi berlogo kamera dan langsung mengetik nama Aldy di pencarian. Beruntungnya Aldy menggunakan nama asli meskipun yang Caca tau dan ingat hanya Aldy-nya saja.
[Om, tolongin Caca. Caca dikunciin sama orang di toilet!]
[Cepat, Om! Caca mulai takut!]
Suara langkah wanita tersebut mulai menjauh, entah ke mana dirinya pergi. Caca mendekat ke arah gagang pintu dan ternyata masih juga dikunci.
'Ya, Allah. Caca harus hubungi siapa? Om Riki kali, ya?' batin Caca. Dengan melawan ketakutan ditolak, Caca memberanikan diri menghubungi Riki dan membuka blokiran di nomor lama laki-laki itu.
"Halo, Om!" seru Caca bahagia ketika Riki mengangkat handphone-nya.
"Apa?" tanya Riki yang malas.
"Om tolongin Caca," ujar Caca yang sedikit mulai ketakutan. Ia bukan takut jika kecoa datang di toilet, akan tetapi takut jika wanita tadi datang dan membawa sesuatu atau bahkan membuka toilet dan melakukan sesuatu terhadapnya.
"Saya sibuk!" Dua kata tersebut keluar dari mulut Riki dan langsung mematikan panggilan, Caca terdiam dan tak dapat berkata apa-apa dengan jawaban dan perlakuan Riki saat ini padanya.
"Om?" tanya Caca menatap handphone.
Seketika air mata menetes begitu saja, sekarang bukan ketakutan yang menghampirinya melainkan sakit hati dengan perlakuan Riki.
"Caca ... kamu di dalam?" tanya Aldy yang mungkin sudah melihat pesan Caca. Namun, Caca tak menjawab melainkan dirinya dengan kencang menangis.
"Caca ... kamu tenang, jangan panik. Saya akan keluarkan kamu dari toilet, sebentar saya panggil security di cafe ini mana tau punya kunci cadangan. Sebentar, ya!" Suara Aldy yang panik tak dihiraukan Caca, Aldy berlari dari pintu toilet mungkin ia bertanya pada pelayan atau security cafe ini.
Sedangkan Caca hanya menangis dan terduduk di lantai toilet, apakah perlakuan Caca keterlaluan terhadap Riki tadi sehingga Riki tak perduli dengan dirinya?
__ADS_1