
Caca keluar dengan memakai gamis berwarna hitam senada dengan hijab, baju yang sebelumnya ia masukkan ke kantong plastik tadi dan tetap meletakkan di kamar mandi.
Caca berjalan dengan menunduk ke arah Annisa yang duduk sambil menatap dirinya semenjak keluar dari kamar mandi, Aldy sudah tidur kembali mungkin efek obat yang diminum tadi.
"Jadi, gimana?" tanya Annisa menatap Caca yang sudah duduk di samping dirinya.
Caca menarik nafas pelan dan tak lupa mengucapkan bismillah agar tak gugup atau tak jelas dalam pengucapan, ia jelaskan secara rinci dari awal hingga akhir tanpa berbohong sedikit pun.
"Maafin, Caca ya, Umi. Kalo Om Aldy gak nolongin Caca pasti gak akan seperti ini terjadi, Caca janji akan rawat Om sampai sembuh," kata Caca sambil memegang tangan Annisa.
"Gak papa, lagian bukan salah kamu. Ini sudah takdir, dan beruntungnya Allah masih menjaga Aldy hingga luka tusuknya gak terlalu dalam," tutur Annisa tersenyum.
"Gak Umi, pokoknya Caca akan merawat Om sampe sembuh. Nanti setiap pulang sekolah Caca akan ke sini dan sering nginap di sini juga, bagaimana pun ini kesalahan Caca," debat Caca yang merasa bahwa memang ini salah dirinya.
"Yaudah kalau emang itu mau kamu, intinya kamu harus jaga kesehatan juga. Besok, Aldy sudah berpindah kamar. Mereka lagi nyiapin kamarnya dulu."
"Iya, Umi. Makasih," ujar Caca memeluk Annisa.
"Sama-sama, Sayang," jawabnya dan membalas pelukan Caca.
"Assalamualaikum," salam seseorang dan membuat Caca juga Annisa melepas pelukan melihat suara siapa itu.
"Waalaikumsalam, Bunda!" teriak Caca gembira melihat Milda yang datang. Padahal, Milda pun sudah datang dari awal mungkin karena Caca masih kaget atau merutuki diri sendiri hingga ia tak menyadari kehadiran Milda.
"Ih, kamu! Ini rumah sakit malah teriak!" tegur Milda dan berjalan ke arah bangku.
"Maaf, Bunda," kata Caca dan menampilkan gigi rapinya saja.
"Udah lama di sini, Umi?" tanya Milda menatap Annisa.
"Lumayan, Bunda," jawab Milda.
Caca hanya melihat ke kanan dan kirinya saja, karena kebetulan ia duduk di tengah-tengah kedua wanita itu. Milda yang risih melihat kepala Caca ke kanan dan kiri itu langsung menampilkan wajah datar.
__ADS_1
"Sono kamu, Ca. Duduk di situ aja, ganggu banget. Nih, makan dulu. Bunda mau cerita sama Umi tentang kasusnya," ujar Milda menyodorkan bekal kepada Caca dan langsung diterima olehnya.
"Ih, Bunda! Nyebelin banget!" gerutu Caca sambil bangkit dan menunduk badannya melewati Milda. Ia berjalan ke arah bangku dekat dengan Aldy yang masih terpejam, ia membuka bekal dan memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ini, nih kalo Ibu-ibu ghibah! Kagak ngerti aing," gerutu Caca sambil memalingkan wajahnya.
"Ya, siapa juga yang nyuruh kamu buat ngerti," ujar seseorang yang membuat Caca langsung menatap ke arah orang itu.
Caca mengerutkan keningnya dan memajukan mulutnya sambil mengunyah, "Om masih sakit udah nyebelin aja!" ketus Caca menatap Aldy.
Aldy hanya terkekeh melihat wajah Caca, ia melihat langit-langit ruangan putih dan berbau obat itu, 'Apa jangan-jangan orang yang mau celakain Caca tadi adalah Fina?' batin Aldy mengingat kejadian yang hampir merenggut nyawanya.
"Om, kenapa?" tanya Caca saat melihat Aldy termenung.
"Ha? Gak papa," jawab Aldy mengalihkan pandangannya ke arah Caca.
"Kok melamun?"
Caca menikmati makanan yang mungkin dibeli oleh Milda tadi, ayam goreng juga beberapa sayuran habis dibuatnya. Ia memasukkan kembali ke tempatnya dan meminum air satu gelas.
Suara dering handphone Milda mengalihkan pandangan Caca, "Assalamualaikum, ada apa Riki?" salam Milda membuat Caca menatap heran.
"Oh, handphone Caca rusak Nak. Gak bisa nelpon," ucapnya lagi.
"Iya, dia sehat kok. Dia ada di rumah sakit, kamu datang aja ke sini."
"Iya, hati-hati, ya. Waalaikumsalam." Pembicaraan terakhir Milda yang tak perlu ditanya Caca lagi siapa, sudah pasti Riki. Sedangkan Aldy masih fokus kepada handphone genggamannya untuk menghubungi salah satu perawat.
"Caca, kita ke kantin dulu, ya. Buat beli cemilan dan makan, kamu jaga Aldy di sini. Mungkin, beberapa jam lagi dokter akan datang," papar Annisa.
"Iya, Umi."
Milda dan Annisa akhirnya keluar entah benaran ke kantin entah mengurus segalanya, biarlah itu menjadi urusan mereka. Caca pun tak mau jika harus suudzon di dalam kondisi yang seperti ini.
__ADS_1
Handphone sudah rusak dan tak dapat diperbaiki, membuat Caca merasa bosen dengan keadaannya sekarang.
"Om?" tanya Caca menatap orang yang baru masuk sedangkan Aldy melirik sekilas sambil tetap fokus berbicara dengan orang yang ada di sambungan teleponnya.
"Bisa bicara sebentar di luar?" tanya Riki dengan ekspresi datar di depan pintu.
Caca melirik Aldy dan kembali menatap Riki, ia mengangguk dan bangkit menuju ke arah Riki. Riki duduk di bangku ruang tunggu yang ada di depan ruangan.
"Ada apa?" tanya Caca menatap lantai marmer warna putih rumah sakit ini.
"Maafin aku Ca, aku tau mungkin kamu akan sulit untuk maafin aku," ujar Riki memulai perkataannya.
"Langsung ke intinya aja, Om," tegas Caca yang membuat Riki menatapnya kaget karena Caca memang tak biasanya begini.
"Kamu marah sama saya, Ca?"
"Enggak, saya marah sama diri saya sendiri kenapa masih berharap dan bergantung pada Om," jawab Caca menata ke wajah Riki dengan sedikit senyum.
"Saya benar gak tau akan terjadi hal seperti ini sama kamu."
"Bukan sama saya, tapi sama Om Aldy. Saya cuma bisa buat dia dalam bahaya aja, pantes sih Om untuk gak deket sama saya lagi. Karena kalo Om yang deket sama saya bisa-bisa Om yang akan bernasib seperti Om Aldy," ungkap Caca mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
"Ca, gak gitu. Masalahnya tadi tuh sa--."
"Udah, Om. Saya belum mau ketemu sama Om, bolehkan? Kalo Om nyalahkan saya atas berjaraknya kita sekarang, coba Om berkaca siapa yang salah juga di dalam hal ini."
Caca bangkit dan meninggalkan Riki begitu saja, Riki mengelap ujung matanya yang sudah ingin mengeluarkan cairan. Ia tak bisa lagi untuk menghalang atau menahan Caca untuk tetap di sampingnya.
'Terima kasih, Om. Setidaknya aku dapat jawaban atas apa yang ingin aku lakukan, sekarang aku sudah tau harus berjalan ke mana,' batin Caca berjalan ke arah Aldy dan tersenyum.
"Kamu kenapa?" tanya Aldy ketika melihat mata Caca yang sudah berembun. Ia dapat menahannya di depan Riki, namun ia tak bisa menahan bulir bening itu dalam jangka waktu lama.
Caca segera menghapus air mata dan tersenyum ke arah Aldy, ia duduk kembali, "I'm fine," ucap Caca meyakinkan Aldy.
__ADS_1