Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Nanti, kamu langsung pulang aja Ca ke rumah. Masalah barang kamu biar saya sama Umi yang nganter ke rumah kamu," ujar Aldy yang duduk di sofa dengan menggunakan baju santai miliknya.


"Iya, Om." Caca tengah sarapan dibelikan oleh Riki yang sedang bermain handphone mencek kerjaan yang ditakutkan terlewatkan dalam pengerjaannya.


"Udah selesai, Cil?" tanya Riki melirik Caca yang ada di sampingnya.


"Udah, Om," jawab Caca meminum air dalam botol.


"Yaudah, yuk berangkat!" Riki bangkit dan memakai jaket serta membawa tas yang berisi berkas pentingnya.


Caca segera mengambil tas dan memakainya, ia menyempatkan diri untuk berkaca melihat hijab dan wajahnya apakah dalam keadaan yang oke atau tidak.


"Da ... Om!" seru Caca melambai meninggalkan Aldy sendirian di ruangan itu. Aldy membalas lambaian dengan tersenyum dan menatap punggung yang semakin tak terlihat olehnya lagi.


Riki duluan ke parkiran dan sudah duduk di jok depan, Caca langsung menghadap Riki agar dipasangkan helm di kepalanya. Setelah selesai, Riki langsung menghidupkan motor dan melaju menuju sekolah Caca.


Mereka tak tahu bahwa hari ini akan ada rajia, "Om, ada polisi," ujar Caca yang sedikit takut jika mereka ditilang.


"Terus?" tanya Riki yang tetap fokus pada jalannya.


"Om bawa surat-surat emangnya?" tanya Caca melihat wajah Riki dari samping.


"Enggak."


"Lah, kalo ditanya?"


"Ya, tinggal dijawab."


"Puter balik aja Om."


"Gosah, yang ada jadi macet gara-gara kita."


Mereka sampai di mana polisi berada dan kebetulan lampu pun merah, polisi jalan ke arah Riki.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak!" seru polisi mendekat ke arah Riki. Riki membuka helmnya dan tersenyum ke arah polisi tersebut.


"Eh, mari Pak!" Polisi tersebut berpindah motor ke arah pengemudi yang lainnya yang tidak menggunakan helm atau membawa surat-surat.


Caca yang melihat kejadian itu langsung tercengang, bagaimana bisa polisi yang tadinya akan menilang malah pergi setelah melihat wajah Riki yang kembali di tutupnya.


"Om, kok polisinya pergi?" tanya Caca menatap wajah Riki.


Riki hanya menaikkan bahunya, "Pegangan!" Karena lampu sudah kembali hijau mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah Caca.


"Makasih, Om," ujar Caca memberikan helm dan tersenyum ke arah Riki. Riki menyambut helm pemberian Caca itu.


"Yang giat belajarnya!"


"Siap, Komandan!" seru Caca sambil hormat. Riki membunyikan klakson beberapa kali pertanda akan pergi, Caca langsung melambai dan melihat kepergian Riki.


Setelah merasa Riki sudah jauh, Caca membalikkan badan dan melihat bangunan yang hampir akan tiga tahun tempatnya menuntut ilmu dan sebentar lagi akan berakhir.


Ada perasaan sedih tentunya, namun mimpi terus berjalan dan harus tergapai. Caca membuang nafas pelan dan masuk ke dalam kelasnya.


Jika ada tugas namun guru pemberinya tak ingat, ia akan diam melihat temannya yang lain mengingatkan guru tersebut atau tidak. Jika mengingatkan ia akan kumpulkan tugas, tapi jika tidak dia akan diam dan tak mempermasalahkan tugas yang dikerjakannya.


Suara dering istirahat pertama terdengar, Caca menyelesaikan tugas yang sebenarnya akan dikumpulkan hari Senin depan. Namun, karena ia masih ingat dengan yang baru diterangkan oleh gurunya maka langsung dikerjakan Caca.


"Caca," panggil seseorang dan membuat Caca langsung menatap ke arah pintu mendengar namanya di sebut oleh orang yang masih asing menurutnya.


Caca menautkan alisnya kala melihat siapa yang ada di ambang pintu kelas, Caca menyusun buku agar tidak hilang ke tas dan berjalan melangkah ke arah orang itu.


"Mbak ngapain?" tanya Caca mendongak melihat orang yang ada di depannya sekarang.


"Bisa ikut saya sebentar? Kita ke taman sekolah kamu," ucapnya dengan membawa plastik di tangannya.


Caca mengangguk, Fina duluan jalan ke arah taman yang ia maksud. Karena sebenarnya, sekolah Caca tak memiliki taman. Tak mungkin ia harus tertawa mendengar penuturan Fina yang sok tau.

__ADS_1


Fina duduk di bangku koridor, diikuti oleh Caca. Beberapa detik mereka saling diam dan Caca hanya menatap keadaan sekitar saja.


"Ini buat kamu," ucap Fina memberikan bungkusan yang tadinya ia bawa. Caca menatap ke arah Fina lebih dulu, baru mengambil uluran bungkusan tersebut.


"Buat apa, Mbak?" tanya Caca menatap langsung ke arah Fina. Fina pun menatap wajah Caca sekarang.


"Buat tanda permintaan maaf saya ke kamu," ujar Fina dengan wajah sendu. Sedangkan Caca hanya diam mencerna ucapan Fina.


"Saya tau saya bodoh, kamu benar banget. Saya ibu yang egois yang hanya terobsesi dengan seseorang sampai lupa dengan anak saya sendiri, gara-gara obsesi saya bahkan sampai bisa melakukan hal yang sangat kejam seperti itu. Kalau seandainya korbannya bukan Al, bisa jadi sekarang saya sudah di dalam jeruji besi itu dan membuat anak saya mungkin membenci ibunya," sambung Fina dengan menatap ke arah depan, Caca hanya menatap wajah Fina mendengar penuturan single parent itu.


Fina menatap wajah Caca yang Caca pun masih menatap wajah wanita itu, "Makasih, ya," ucapnya memegang tangan Caca dan tersenyum.


Caca langsung memeluk Fina, ia tahu bagaimana perasaan Fina dan apa yang membuat Fina begitu ingin memiliki Aldy.


"Mbak, Caca udah maafin Mbak dari awal," kata Caca sambil mengusap punggung Fina. Mereka melepaskan pelukan dan saling memberikan senyuman.


"Kapan-kapan, kamu ketemu sama anak saya, ya. Biar dia juga ketularan baik dan lembutnya sama seperti kamu, juga berani dengan orang-orang," bujuk Fina agar Caca mau bermain dan bertemu dengan anaknya.


Caca diam sebentar dan melihat ke arah Fina dengan lekat, "Kamu tenang aja, saya gak 'kan lukai kamu. Saya serius untuk hal ini," kata Fina meyakinkan Caca yang sepertinya sedikit tak percaya dan takut kepada Fina.


Caca hanya menampilkan senyuman dan mengusap tangan Fina, "Gak, kok Mbak. Ca sama segala gak takut sama Mbak, kalo pun Mbak mau melakukan kejahatan itu hak Mbak dan jadi hak saya juga buat melaporkan kejahatan itu," terang Caca sedikit tertawa agar suasana tak canggung.


"Hahaha, iya Ca. Oh, iya kalo gitu. Saya permisi dulu, ya. Ada kerjaan yang saya tinggalkan tadi," kata Fina memakai tasnya yang sempat ia turunkan.


"Oh, iya, Mbak."


"Kamu kabari kapan kamu bisa, ya. Saya mohon banget, sekali aja minimal," bujuk Fina kepada Caca atas keinginannya itu.


Caca mengangguk dan tersenyum ke arah Fina, "Yaudah, saya duluan," ujar Fina bangkit dan pergi meninggalkan Caca yang masih menatapnya dengan duduk.


"Makasih, Mbak," kata Caca berdiri menunjukkan bungkusan kepada Fina yang sudah beberapa langkah menjauh darinya.


Fina hanya mengangguk dan tersenyum dari kejauhan yang masih bisa dilihat oleh Caca, setelah melihat punggung wanita itu sudah tak terlihat.

__ADS_1


Caca kembali ke kelas dengan membawa bungkusan yang ingin ia lihat apa isi yang ada di dalamnya.


__ADS_2