
Tangan yang sudah ingin melayang seketika terhenti di atas, dan orang yang sudah akan menjadi korban tersebut sudah bersiap-siap menutup pipinya yang diyakininya akan mendapatkan sebuah tamparan.
"Jangan berani menyakiti dia!" tegas Riki membuang tangan Diva kasar.
"Oh, kamu lebih memilih wanita kemarin sore dan bego ini?" tanya Diva sambil menunjuk ke arah Caca.
"Kamu bilang dia bego? Kamu punya kaca? Lihatlah! Kamu akan melihat orang bego tersebut," ucap Riki dingin.
Diva yang merasa bahwa Riki tak membela dirinya sedikit pun langsung menatap ke arah Caca, "Awas aja! Aku akan buat kamu merasakan sakit yang luar biasa dengan melihat Riki kembali ke dekapanku," ancam Diva dengan menunjuk ke wajah Caca.
"Jika kamu bisa mengambilnya, maka ambil saja. Berarti dia bukan jodohku, aku bukan semurah kamu yang rela berpakaian seterbuka ini hanya demi menarik lelaki!" ujar Caca tanpa rasa takut sedikit pun. Diva langsung bangkit dan pergi menjauh dari meja mereka berdua.
Caca melihat punggung wanita tersebut menjauh dengan senyuman, setelah punggungnya tak terlihat lagi Caca kembali melanjutkan makanannya yang sempat tertunda. Dirinya menyempatkan melirik ke arah Riki yang ternyata tengah menatap dirinya.
"Kenapa, Om? Kok senyum gitu lihat saya?" tanya Caca menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak," ujar Riki mengunyah kembali makanannya.
"Oh ...," kata Caca sambil mengangguk, "enak, ya, dia. Tau segala apa yang Om suka dan apa saja yang dilakukan, sedangkan saya?" Tawa Caca sedikit terdengar untuk mencairkan suasana, saat seperti ini memang biasanya Riki akan membiarkan Caca berucap apa pun saja.
Bukan karena dirinya tak mampu menjelaskan, hanya saja tak mau terjadi masalah yang lainnya jika egois dan amarah tengah bertemu di waktu yang sangat-sangat tidak tepat.
"Kenapa aku harus tau tentang Om dari orang lain?" tanya Caca yang kali ini menatap Riki.
"Sudahlah, Cil. Makan saja, tak perlu hiraukan yang dia katakan tadi," bujuk Riki.
"Jadi pengen Om ngerasain hal yang sama, karena buat mendefinisikan rasa sakitnya terlalu sulit dan bahkan tak mampu buat berkata, hahaha." Satu bulir bening berhasil lolos dari mata teduh milik Caca tersebut, dengan cepat dirinya menghilang jejak air mata dan mencoba menyekanya.
Riki langsung berpindah tempat menjadi berada di samping Caca, dengan tisue dirinya sapu ujung mata wanita tersebut, "Saya pernah berjanji pada diri sendiri untuk tak membuatmu menangis, namun lagi-lagi janji tersebut runtuh, ya," ujar Riki menatap wajah Caca sedangkan yang di tatap menunduk.
Riki kembali ke tempat duduknya, "Sudah, ayo makan! Agar kita segera pulang, lupakan apa yang terjadi."
'Dih! Seenak jidat ngomong gitu! Dasar lu Om-om tuir,' batin Caca yang melirik sekilas wajah Riki.
Dirinya langsung memakan apa saja yang bisa dimakannya, daripada nangis dan kepikiran nantinya hanya bisa membuat asam lambungnya naik. Lebih baik makan dan beruntung jika berat badannya ikutan naik.
"Huk-huk," ucap Caca yang merasa tersedak dengan makanan yang dirinya makan. Dengan cepat Riki langsung memberikan air putih kepada Caca, "Kalau makan hati-hati! Gak ada yang akan meminta makananmu," nasihat Riki kepada Caca yang sedikit ceroboh. Dirinya langsung memberikan tisue setelah dirasa Caca sudah tak ada lagi makanan yang tersangkut.
"Ya, maaf," kata Caca mengilap mulutnya dari bekas air minum.
Musik terdengar, Caca langsung menatap ke arah panggung untuk melihat penyanyi dan lagu apa yang akan dimainkan okeh vokalisnya. Dirinya tersenyum saat begitu banyak orang yang menatap ke arah yang sama dengannya kecuali laki-laki yang ada di depannya.
Ini salahku
Terlalu mementingkan egoku
__ADS_1
Suara vokalisnya begitu sangat menghayati lirik lagu yang berjudul, "Bukan Jodohnya" yang tengah dibawakannya itu. Caca cuma melihat reaksi pendengar yang ada, beberapa di antaranya membuka handphone dan merekam serta ada juga yang mengikuti lirik yang dinyanyikan vokalis tersebut.
Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuanganku tuknya
Bahagia 'kan dia
Kau sayangi dia
Sepertiku menyayanginya
Kan kuikhlaskan dia
Tak pantasku bersanding dengannya
Akan kuterima dengan lapang dada
Aku bukan jodohnya
Lirik terakhir yang begitu mendalam, Caca langsung menatap Riki dan Riki yang ditatap langsung menaikkan alisnya pertanda menanyakan mengapa wanita tersebut langsung menatap dirinya.
"Kenapa?" tanya Riki yang penasaran mengapa Caca tak kunjung berucap melainkan tetap menatap dirinya.
"Apakah, Om juga akan begitu?"
"Akan melepaskan Caca begitu aja dengan orang lain?"
"Jika memang kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi dan jika memang kau bahagia degan orang lain aku akan merelakanmu."
"Tapi, Om. Terkadang wanita mulutnya aja yang sadis, tapi hatinya berharap untuk tetap orang tersebut tinggal, kok."
"Wanita dan laki-laki sama-sama memiliki otak, jadi mereka seharusnya bisa berpikir apakah ucapan yang sadis tersebut jika dikeluarkan dapat melukai hati orang yang mendengarnya atau tidak."
"Dan, tak ada satu orang pun yang akan kuat bertahan dengan seseorang yang ucapannya masih tak mampu terkontrol olehnya," sambung Riki memberi penjelasan kepada Caca.
"Oh, gitu ya Om?"
"Iya, Adik kecil hahaha," tawa Riki menyebut panggilan Caca.
"Caca udah gede, tinggi juga!"
"Tinggi apaan? Kamu mau liat saya aja harus mendongak, Bocil!"
"Om yang ketinggian."
__ADS_1
Caca kembali melihat ke panggung dengan sesekali mengunyah makanan yang tersisa burger dan air putih saja. Yang lainnya sudah habis dibuat olehnya, Riki hanya diam saja melihat Caca yang menghabiskan makanan. Karena bagaimana pun memang itu niatnya, melihat Caca makan sambil sesekali berbicara.
Dirinya sangat suka melihat wanita tersebut melakukan hal itu, dengan pipi yang sudah besar ditambah dengan kegiatan seperti itu tampak begitu sangat menggemaskan wanita tersebut.
Riki bangkit dan membuat Caca langsung menatap kursi yang bergeser tersebut, "Om mau ke mana?!" teriak Caca yang melihat Riki pergi menjauh darinya.
Caca menutup mulutnya saat melihat Riki berbicara kepada vokalis yang telah selesai bernyanyi tadi, mungkin Riki tengah memberi tahu lagu apa yang ingin dinyanyikannya.
Musik mulai dimainkan, Caca hanya fokus mendengar lirik karena dirinya tak hafal dengan musik yang pada sebuah lagu.
Perjalanan membawamu
Satu kalimat itu terucap dari bibir Riki dengan menatap ke arah Caca, namun Caca malah terfokus pada suara wanita-wanita yang mungkin tengah terpukau dengan suara Riki.
Bertemu denganku
Kubertemu kamu
Sepertimu yang ucari
Konon aku juga, seperti yang kau cari
Kukira kita asam dan garam
Dan kita bertemu di belaga
Kisah yang ternyata tak seindah itu
Kukira kita 'kan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira tak 'kan kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kalau kau jadi kita
Riki membawakan lagu yang tengah hits di zaman 2022 sekarang, dengan pencipta lagu laki-laki bertubuh tegap Tulus dengan judul "Hati-hati di Jalan." Riki hanya duduk sambil memegang pengeras suara, tak terlalu lincah seperti para penyanyi lainnya dan tak ingin ada interaksi kepada orang-orang yang berteriak karena terpukau oleh suaranya.
Riki menyanyikan hingga ke akhir lirik, setelah selesai bernyanyi Riki pun langsung mendekati wanita yang tengah fokus ke air minum itu,"Kenapa?" tanya Riki dan meminum air tersebut.
"Hehe, gak papa Om. Bagus banget!" seru Caca dan menepuk tangannya.
__ADS_1
"Terus, kenapa murung gitu?"
"Kok, lagunya gitu sih?" tanya Caca yang keheranan dengan lagu yang dibawakan Riki. Sedangkan Riki hanya terdiam mendengar pertanyaan itu, karena dirinya pun bernyanyi begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Toh, itu hanya sebuah lagu dan tak akan menjadi nyata. Mungkin!