Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Bekas Ice Cream


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tiga sore, Caca yang merasa bosen harus guling sana dan sini akhirnya bangkit dan bersiap-siap. Tak lupa mengunci pintu dan memastikan rumahnya aman dirinya pun langsung pergi, dia sempat melihat ke arah rumah Riki yang pintunya terbuka. Akan tetapi, tak terlihat adanya Mama Riki.


Caca menggunakan ojek online saja agar lebih cepat ke tempat yang dia inginkan, dari rumahnya ke tempat tujuan kira-kira membutuhkan waktu dia puluh lima menit jika tidak ada kendala macet dan lainnya.


"Terima kasih, Pak." Caca memberikan ongkos yang sudah tertera di aplikasi dan memberikan helm kembali, Caca masuk ke gedung yang ada beberapa tingkat dan menjual berbagai macam barang. Bahkan, ada bioskop juga. Sudah tertebak dong Caca ada di mana, iya dirinya ke Mall untuk mencari buku-buku yang baru terbit atau ada di toko buku itu.


Dirinya langsung naik ke lantai dua dan hanya fokus ke jalannya, tidak melihat-lihat di bawah lagi, 'Ih, mending sekalian me time deh,' batin Caca. Dirinya memang sangat jarang bepergian apalagi sendirian, namun saat sudah pergi sendiri akan sedikit malas buat pulang.


"Eh, aku belum kabari Om kalo aku pergi sendirian. Gak papa kali, ya?" tanya Caca yang masih ada di tangga berjalan tersebut. Caca menggelengkan kepalanya, "Gak papa kali! Bodo amat juga."


Caca berjalan ke arah toko buku, saat tengah memilih-milih, "Heh!" ucap seseorang sambil menyenggol bahunya yang membuat Caca kaget. Caca langsung melihat orang tersebut dari atas hingga bawah.


"Ada apa?" tanya Caca tersenyum.


Orang tersebut pun mendekat ke arah Caca, "Gue ingetin sama lu, ya! Jangan pernah berani deketin Riki lagi!" tegas orang tersebut.


Bukannya takut, Caca malah maju juga lebih dekat ke wanita tersebut dan membuat dia melangkah ke belakang, "Gue ingetin juga sama lu!" ujar Caca menunjuk ke arah wanita itu.


"Bahwa gue, gak akan pernah takut sama lu. Tante Diva!" sambung Caca tersenyum miring dan menjauhkan tubuhnya dan menurunkan jarinya dari wajah Diva.


"Oh, ya? Kita liat aja nanti, gue akan mengambil Riki kembali dari lu!" terang Diva.


"Hahaha, ambil aja. Gue gak takut! Bahkan, masukan karung bila perlu. Orang bodoh yang mau kembali dengan seseorang yang sudah mencampakkan dia!"


Diva berjalan mendekat ke arah Caca dan mendekatkan wajahnya ke telinga Caca yang tertutup hijab, "Dan akan aku pastikan, bahwa Riki adalah orang bodoh tersebut," bisiknya dan melangkah pergi. Sedangkan Caca hanya mematung mendengar ucapan wanita tersebut, setelah dirasa Diva menjauh Caca langsung membalikkan badannya dan sudah melihat Diva tak ada lagi.


Caca hanya menghela nafas lemah, entah mengapa semenjak hadirnya Diva seolah kecemasan selalu menghampiri Caca. Bahkan, dirinya sampai merasa bahwa Riki pun sedikit berubah dari sebelumnya namun Caca hanya bisa diam dan berpikir positif tentang laki-laki tersebut.


Caca tak pernah takut bila Riki berpaling darinya karena ada wanita asing, karena Riki bukan tipe orang yang mudah apalagi suka dengan wanita yang mendekatinya. Tapi jika dengan wanita masa lalunya? Entahlah, Caca pun tak tahu apakah dia tetap bisa cuek dengan Diva.

__ADS_1


Caca akhirnya memilih fokus kembali mencari buku novel yang ingin dicarinya tadi, setelah mencari sekitar lima belas menit. Dirinya pun berjalan ke arah kasir dan menyerahkan satu buah buku untuk dibayar.


Dari yang tadinya bahagia karena bisa berjalan sendirian di Mall, kini menjadi sedikit cemas dan berubah menjadi badmood. Caca memilih mampir ke toko ice cream terlebih dahulu untuk mengembalikan mood-nya.


Caca memesan ice cream rasa coklat dan stroberi, sambil menunggu pesanannya datang. Ia membuka handphone dan menghidupkan jaringan data, beberapa pesan masuk dari Riki namun dia biarkan dan melihat pesan lainnya, "Amel?" tanya Caca yang merasa aneh. Biasanya Amel akan langsung menelpon dirinya, entah mengapa tiba-tiba Amel mengirimkan pesan.


[Ca, gue mohon temenin gue nanti malam, ya.]


[Mantan gue ngancem gue kalo gak datang, kemarin malam gue gak jadi datang karena lu gak bisa. Gue takut dia kenapa-kenapain gue]


[Gue mohon, Ca. Nanti malam jam delapan, ya. Temenin!]


Tiga pesan dari Amel yang membuat Caca langsung terdiam, dirinya menutup handphone dan belum berani membalas pesan-pesan itu. 'Gimana kalo ternyata pacarnya berbuat yang enggak-enggak?' batin Caca dan melihat kembali deretan pesan itu.


Ketika tengah melamun, "Permisi, Mbak!" ucap pelayan perempuan yang membuat Caca kaget, "eh, maaf Mbak!"


"Hehe, gak papa Mbak. Terima kasih," kata Caca tersenyum. Pelayan pun pergi, Caca meletakkan handphone di meja dan memilih fokus kepada makanan yang sangat menggiurkan tersebut.


"Om Aldy?" tanya Caca menunjuk Aldy.


"Boleh saya duduk?"


"Boleh-boleh, belum Caca beli kok meja dan kursinya. Jadi masih boleh di duduki siapa aja," canda Caca yang membuat Aldy tersenyum dan duduk di depannya, "udah pesen Om?" tanya Caca.


"Udah, kok. Paling bentar lagi datang."


"Oh ...," Caca kembali fokus kepada ice creamnya dan tak berniat bertanya apa pun kepada Aldy.


"Kamu sama siapa di sini?" tanya Aldy melihat-lihat sekitar.

__ADS_1


"Sendirian Om."


"Berani?"


"Iya, dong! Ngapain takut, lagian takut itu cuma sama Allah Om bukan sama manusia," jelas Caca sambil menunjuk ke atas.


"Haha, iya-iya." Aldy tersenyum menatap Caca yang begitu lahap memakan ice creamnya. Aldy mengambil tisue yang tersedia, "Bentar, Ca," ucap Aldy yang membuat Caca berhenti memakan ice cream.


Aldy memajukan badannya agar dekat dengan Caca, "Kamu ini, makan ice cream aja belepotan," kata Aldy setelah menggelap sisa ice cream di dekat bibir Caca. Aldy yang merasa Caca menatap dirinya dengan aneh langsung tersadar dengan apa yang dilakukannya, beberapa detik mereka saling pandang hingga akhirnya Aldy menjauh dan duduk kembali ke bangkunya meletakkan bekas tisue ke meja.


"M-maaf, Ca. Saya gak maksud," kata Aldy terbata-bata dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gak papa, Om," ujar Caca dan mengambil tisue itu kembali membersihkan ice cream di dekat bibirnya itu.


'Aldy! Lu ngapain, woy?! Ngapain coba begitu lancang langsung bersihin bekas ice cream si Caca!' batin Aldy merutuki kelancangannya. Namun, bukannya mencoba menenangkan pikiran malah ada yang berdebar tak karuan melebihi biasanya.


"Permisi," ucap pelayan yang mengangetkan Aldy dan membuat Caca menatap pelayan yang datang. Pelayan meletakkan pesanan Aldy ke meja dan setelahnya ia pergi meninggalkan meja mereka.


"Widih, ice cream apaan tuh?" tanya Caca berdiri agar bisa melihat pesanan Aldy.


"Kenapa? Kamu mau?"


"Gak, Om." Caca kembali ke tempat duduknya sambil meletakkan tangannya di meja, kedua mangkuk ice cream telah habis dibuatnya.


"Kenapa?"


"Udah dua soalnya, ntar batuk Om."


"Oh, iya juga. Kalau begitu saya makan dulu, ya."

__ADS_1


"Oke, Om!"


Caca akhirnya menunggu dan menemani Aldy memakan ice cream, sesekali dirinya menatap wajah tampan itu yang tengah fokus dengan ice creamnya dan sesekali Caca membuka handphone untuk membalas chat yang masuk dan yang tadinya hanya dilihatnya saja.


__ADS_2