
Caca dan Aldy telah sampai di salah satu perbelanjaan yang tak terlalu besar, mereka masuk dan langsung disambut oleh kasir, "Selamat datang, selamat berbelanja," ucap kasir wanita dengan ramah.
Caca hanya mengikuti Aldy dari belakang, "Di samping, jangan di belakang Ca," ujar Aldy menyuruh Caca untuk berada di sampingnya. Caca pun langsung menuruti ucapan Aldy dan berpindah posisi.
Mereka ke rak minuman terlebih dahulu, Caca mengambil minuman yang dia sukai disuruh oleh Aldy. Dirasa sudah cukup dengan beberapa botol minuman, Aldy langsung berpindah ke rak snack.
"Kamu mau jajan?" tanya Riki menunjukkan kacang-kacangan yang di pegangnya.
"Caca mau coklat aja, Om," jawab Caca sambil cengir.
"Ya, udah. Ambil aja."
"Beneran?"
Caca mendapatkan dua anggukan, dirinya langsung pergi mencari coklat yang berukuran kecil satu batang saja, "Udah, Om!" Caca memasukkan coklat ke keranjang belanjaan yang dipegang Aldy.
Aldy melihat ke coklat yang dimasukkan Caca, "Kok cuma satu?" tanya Aldy menatap Caca.
"Jadi mau berapa? Cukup itu aja, Om."
"Oh, baiklah."
Caca menunggu Aldy yang sedang memilih-milih snack dengan melihat-lihat orang di sekitarnya, "Al?" tanya seseorang dan membuat mereka berdua melihat ke arah suara.
"Kamu sama siapa?" tanya orang tersebut melihat penampilan Caca dari atas hingga ke bawah. Caca yang merasa diperhatikan pun mengikuti orang tersebut melihat penampilannya.
"Kenapa?" tanya Aldy datar.
"Oh, jadi ini?" tanya orang tersebut tersenyum dengan menahan air mata sambil menunjuk Caca yang tak tahu apa dan mengapa.
"Ini alasan kamu gak mau balik sama aku?" sambungnya melihat ke arah Caca sekilas.
__ADS_1
"Fina, cukup! Ini di tempat umum!" tegas Aldy.
Fina mendekat ke arah Caca yang sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi, bahkan dirinya tak tahu siapa orang yang ada di depannya ini, "Kamu sekolah belajar apa? Belajar jadi perebut?" tanya Fina sambil memegang pipi Caca.
Bukannya takut, Caca malah tersenyum remeh dan melepaskan tangan Fina dari pipinya, "Saya di sekolah diajarkan untuk bertanya, bukan menyimpulkan begitu saja!" tegasnya tersenyum ke arah Fina.
"Oh, iya? Tapi, kamu sepertinya yang tidak bertanya. Buktinya, kamu tidak tau kalo Al ini udah punya calon istri," sindir Fina dan membuat Caca melihat ke arah Aldy.
"Fina! Aku katakan sekali lagi sama kamu untuk pergi! Kita sudah gak ada apa-apa, jangan usik hidup aku lagi!" geram Aldy melihat wanita di depannya.
Caca bersedekap dada, "Kesian saya liat, Mbak! Udah diusir dan disuruh untuk pergi malah tetap di sini, kalau saya pasti udah sangat-sangat malu, lho," sindir Caca sambil menutup mulutnya.
"Kamu dengar ini baik-baik! Saya gak akan melepaskan kamu begitu saja dengan mudah dan saya gak akan pernah biarkan kamu dengan dia!" ungkap Fina dan pergi dari mereka berdua.
Aldy yang tadinya masih berniat mencari kebutuhan seketika berubah menjadi malas, dirinya langsung membawa keranjang ke kasir. Caca cuma bisa diam saat melihat Aldy juga diam, dirinya belum mengetahui bagaimana karakter laki-laki yang ada di depannya.
Sangat tidak sopan juga bagi Caca tiba-tiba langsung bertanya tentang wanita tadi, setelah selesai membayar dan mendapatkan barangnya. Mereka langsung keluar dari tempat tersebut dan masuk ke mobil.
"Maaf buat apa, Om?" tanya Caca melihat ke arah Aldy.
"Kamu jadi terikut ke masalah saya," ujar Aldy membuang nafas pelan dan menyandarkan kepalanya ke bangku.
"Fina adalah mantan saya beberapa tahun yang lalu, dia single parent dari satu orang anak berusia tiga tahun. Dia memilih menikah dengan seorang laki-laki yang lebih mapan dari saya dulunya."
"Waktu saya ingin melamar dia, ternyata dia sudah dulu menerima lamaran laki-laki tersebut. Saya tidak menyalahkan dia jika selingkuh dan menerima laki-laki yang lebih mapan, saya sadar diri, kok," papar Aldy menjelaskan kisahnya dengan Fina.
"Jadi, sekarang dia datang lagi dan ingin bersama dengan Om lagi?" tanya Caca dan mendapatkan anggukan dari Aldy, "lantas kenapa gak Om terima?"
"Manusia diberi akal untuk berpikir, kita gak bisa pastikan bahwa selamanya terus di atas. Bisa jadi suatu saat Allah menguji saya dan membuat saya berada di bawah, dan dia langsung meninggalkan saya. Saya gak bisa ditinggalkan dengan keadaan begitu, bahkan waktu saya mengetahui dia sudah menerima lamaran orang lain saja saya sempat down," ungkap Aldy melirik ke wajah Caca yang dengan fokus mendengarkan ceritanya.
"Ah, sudahlah! Nanti, kalau dia macem-macem ke kamu. Kasih tau aja ke aku, ya," sambung Aldy tersadar dirinya telah mengenang masa lalu dan berdiri tegap kembali.
__ADS_1
"Aman, Om. Tenang aja!" seru Caca dengan santai.
Mobil pun dijalankan menuju rumah Aldy, Caca tak terlalu ingin masuk ke kisah seseorang sebenarnya. Hanya saja, orang lainlah yang terkadang memasukkan dia ke kisah tersebut.
Caca menatap rumah yang bertingkat di depannya dengan pagar menjulang tinggi dan bangunan yang berwarna putih dengan campuran gold, sungguh begitu cantik paduan dan tataan rumah tersebut. Caca langsung membuka mobil dan mengedarkan pandangannya, terlihat beberapa tanaman yang tersusun rapi dan cantik.
"Yuk!" ajak Aldy. Caca tersenyum dan mengikuti Aldy.
"Kamu mau ketemu sama Umi saya?" tanya Aldy yang spontan membuat jantung Caca berdebar.
"Eh-eh, Om! Kenapa gak bilang ada Uminya?" tanya Caca yang sedikit ketakutan.
"Kenapa? Masa jagoan ketemu Umi saya aja takut, tadi ketemu sama mantan saya biasa aja," sindir Aldy dengan kekehan.
"Ya 'kan! Ini beda konsep," geram Caca dengan suara kecil.
"Kamu tunggu di sini dulu, ya." Caca sudah berada di ruang tamu, dirinya hanya mengangguk dan duduk di sofa yang tersedia. Sedangkan Aldy pergi entah ke mana, Caca melihat-lihat pajangan foto yang tak jauh dari tempat duduk. Dirinya berdiri dan menatap satu per satu foto tersebut.
"Om Aldy punya adek? Cantik banget," ujar Caca dengan memegang foto yang terbingkai.
"Iya, tapi dulu," ucap seseorang dari belakang yang membuat Caca kaget hingga bahunya terangkat. Dirinya langsung membalikkan badan dan memegang dadanya.
"Haha, maaf-maaf. Saya gak tau kalo kamu fokus banget sampe kaget begitu," ujar Aldy yang ternyata berada di belakang.
"Om ini! Kalo tadi jantung saya copot, gimana?" tanya Caca dengan wajah kesel.
"Ya, disatukan lagi biar gak copot," jawab Aldy dengan santai.
"Saya dulu punya adik perempuan, cuma Allah lebih sayang dengan adik saya tersebut. Dia sakit dan waktu sakit itu gak ada satu pun dokter yang mau menanganinya, kata perawat dokternya akan datang jam sepuluh pagi karena itu emang jadwal dia datang. Namun, dokter tersebut datang jam satu siang dengan alasan ada acara keluarga dan saat itu adik saya sudah tidak ada lagi," ungkap Aldy menjelaskan tentang adiknya tersebut.
Terkadang, ada seseorang yang mengubur impiannya untuk membantu seseorang yang lebih banyak. Lakukanlah! Belajar dari pengalaman yang kau terima, setidaknya kau masih bisa melanjutkan impian yang baru meskipun sedikit terpaksa.
__ADS_1