Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Aneh


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi, Caca langsung berjalan ke luar gedung. Dirinya melihat Riki yang sudah berada di depan gerbang tengah melihat jam di pergelangan tangannya, 'Dih, mampus deh aku. Dia pasti marah-marah karena tadi aku matikan panggilan dari dia,' batin Caca dan menggaruk kepala yang tak gatal untuk mencari ide.


Salah satu siswa pun lewat yang memiliki badan cukup besar, dengan segera Caca langsung berjalan lewat sampingnya agar bisa keluar dari gerbang tanpa diketahui Riki. Dirinya menunduk dan terus berjalan dengan lumayan berdekatan dengan siswa tersebut, sedangkan siswa tersebut tidak bertanya dengan apa yang dilakukan Caca.


Ketika ingin melangkah, tiba-tiba Caca merasa bahwa ada yang menarik tasnya dan membuat dia spontan langsung terhenti, "Dih! Ngapain pegang-pegang tas orang sih?!" bentak Caca dengan kesal dan melihat ke belakang.


Dirinya membulatkan mata ketika mengetahui siapa yang ada di belakang dan menahan tasnya tersebut, cengiran pun langsung diberikannya sambil menggesek-gesekkan sepatu pada aspal.


"Mau ke mana?" tanya Riki dengan bersedekap karena telah melepaskan tas Caca tadi.


"Mau pulanglah!"


"Liat saya di situ?" tanya Riki sambil melihat motornya yang masih berada di gerbang. Caca melihat ke arah motor Riki dan tersenyum sedangkan Riki hanya menampilkan wajah datarnya.


"Eh, iya!" seru Caca dan menstabilkan wajahnya, "baru keliatan ternyata Om udah jemput, toh?" Riki yang mendengar ucapan Caca hanya diam saja.


"Gak keliatan, Om! Soalnya badan dia tadi besar," sambung Caca dan memegang tangan Riki. Riki memasukkan tangannya ke saku celana dan pergi meninggalkan Caca tanpa sepatah kata pun.


'Mampus gue, kurang ternyata actingnya. Mana udah buat dosa, ternyata gak percaya pulak tuh Om-om tuir,' batin Caca yang langsung berjalan mendekat ke arah Riki yang sudah memakai helmnya.


"Om ... tunggu!" teriak Caca saat mendengar suara motor Riki telah nyala. Caca yang biasanya kesusahan untuk naik ke jok belakang kini begitu gampang untuk naik, dan yang biasanya dia selalu ngomel dan nyuruh Riki buat ganti motor kini diam.


Tak ada yang membuka suara di perjalanan, Caca tahu jika dirinya pasti bukannya takut nantinya dengan amarah Riki melainkan tertawa. Entahlah, mungkin di mata Caca Riki adalah bayi besarnya.


"Om ...," panggil Caca yang tak tahan dengan situasi sekarang. Caca mendekat dan memajukan wajahnya ke telinga Riki, "Om ...," panggilannya lagi dengan mencolek-colek bahu Riki yang tertutupi jaket.


"Om tau? Om itu ganteng banget kalo lagi ngambek, tapi lebih ganteng kalo gak ngambek," goda Caca tersenyum yang masih mencoba membuat Riki tidak marah padanya.


"Saya mengganggu hidup kamu, ya?" Pertanyaan yang tiba-tiba dilayangkan Riki yang langsung membuat Caca langsung berwajah datar dan sedikit menjauh dari Riki.


Dirinya langsung murung dan tak tahu apa yang harus dijawab, ternyata laki-laki tersebut sangat marah dengan apa yang dilakukannya. Apakah sangat keterlaluan? Entahlah, bukankah seseorang tidak bisa menebak jalan pikiran pasangannya?

__ADS_1


"Apakah saya membuat kamu risih?" tanya Riki lagi. Padahal, pertanyaan tadi saja belum mampu untuk dijawab Caca apalagi ini.


"Om, gak gitu," ujar Caca yang mencoba memberanikan diri menjelaskan semuanya.


"Jadi?" tanya Riki dingin.


Caca mengerucutkan bibirnya, "Om mah! Becanda aja gak bisa!" gerutu Caca yang di dengar oleh Riki. Riki tak menanggapi gerutuan Caca, dirinya hanya fokus ke jalanan yang sekarang lumayan macet. Wajar, jika sudah siang seperti ini pasti banyak kendaraan berlalu-lalang entah itu pulang kerja atau sekadar mencari makanan untuk penggganjal perut.


"Om!" panggil Caca yang tak nyaman dengan keadaan hening ini, "ke tempat kerja, Om yok! Caca udah lama gak ke sana, lho." Caca tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Riki.


"Gak usah."


"Kenapa?" tanya Caca menaikkan alisnya.


"Nanti kamu dikira adik saya."


"Hahaha, padahal emang bener juga!" ujar Caca tertawa.


"Moso seh?" tanya Caca tersenyum.


"Hmm," jawab Riki singkat.


Caca yang merasa Riki sudah lebih baik suasana hatinya ikutan menjadi senang, Caca menikmati pemandangan macet yang ada. Mereka berhenti di lampu merah, dirinya melihat berbagai macam kendaraan dan orang yang mengendarainya.


"Om," panggil Caca menepuk bahu Riki. Riki yang merasa dipanggil langsung melihat wajah Caca langsung.


"Ada apa?" tanya Riki. Caca sudah tertawa dan menahan perutnya agar tak terasa sakit dan juga menutup mulutnya agar tak bersuara terlalu besar.


"Hahaha, liat deh itu Om," perintah Caca sambil menunjuk kendaraan sepeda motor di sebelah kanan mereka. Riki menyipitkan matanya agar melihat jelas apa yang menyebabkan Caca tertawa.


Ternyata, ada sepasang kekasih yang begitu jauh jarak duduknya. Mungkin, mereka sedang bertengkar sehingga duduk pun tak ingin berjauhan, "Sekarang tau apa sebabnya saya pilih motor ini?" tanya Riki yang langsung membuat Caca terdiam dan mencoba berpikir.

__ADS_1


"Ha? Apaan, Om?" tanya Caca yang tak mendapatkan jawaban.


"Agar pas kamu ngambek, Cil! Kamu gak bisa jauhan seperti itu," ungkap Riki alasan dirinya memilih motor ini. Caca langsung datar dan memukul bahu Riki, "Menyebalkan!" geram Caca.


Mereka telah sampai di halaman rumah Caca, Mama Riki terlihat tengah menyirami bunga di depan halaman mereka dan Caca langsung turun berjalan menghampiri rumah Riki.


"Ma ... Riki ke rumah mertua dulu, ya," ujar Riki yang masih berada di halaman Caca.


"Apaan, sih?!" geram Caca dan sudah berada di halaman rumah Riki, "Assalamualaikum, Tante." Caca menyalim tangan Mama Riki.


"Waalaikumsalam, kamu gak diapa-apakan sama Riki 'kan, Sayang?" tanyanya dengan mengecup kening Caca.


"Enggak kok, Tante," jawab Caca tersenyum ke arah Mama Riki.


"Ya, udah. Caca masuk ke rumah, ya, Tante," pamit Caca. Mama Riki hanya membalas dengan anggukan dan mengusap kepala Caca sebelum Caca pergi dari halaman rumahnya.


"Ma!" pekik Riki dari rumah Caca.


"Apa?" tanyanya dengan wajah datar.


"Mama aneh! Masa siang-siang nyiram tanaman hahahah," ejek Riki dengan tertawa. Caca yang baru sampai ke halamannya pun langsung menepuk bahu Riki karena dirasa tak sopan berucap begitu.


"Lebih aneh tu kamu! Wong deket juga, tinggal nikahi dah aman! Ini ... di deketin mulu, diambil orang nanti baru deh ditinggal kamu itu!" sindir Mama Riki yang langsung membuatnya terdiam. Mama Riki langsung menyelesaikan kegiatannya dan masuk ke rumah.


Sedangkan Riki masih terdiam, mungkin dia kena mental dengan ucapan Mamanya sendiri. Caca sudah tertawa mendengar perdebatan anak dan ibu tersebut.


"Udah, deh! Saya mau ke tempat kerja dulu," ujar Riki memakai helmnya kembali yang tadi sempat di lepaskannya.


"Iya, Om. Hati-hati!"


Setelah melihat Riki menjauh dan tak terlihat lagi, Caca langsung masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian dan istirahat sebentar.

__ADS_1


__ADS_2