
Caca langsung melihat isi dari bungkusan tersebut, ia mengeluarkan dan membuka tempatnya.
"Om, mau?" tanya Caca menatap Riki yang fokus ke laptopnya.
"Enggak, makan aja," jawab Riki tanpa mengalihkan pandangan.
"Oke, Om." Caca pun memakan pemberian karyawan Riki tadi sampai habis, kebetulan juga dirinya belum makan siang.
"Pak, Riki. Pasien sudah bisa pulang," ucap seseorang masuk begitu saja dan membuat Riki langsung menatap dengan tegang. Caca yang mendengar penuturan orang tersebut langsung menatap keheranan, sedangkan Riki memberi beberapa kode kepada Farhan hingga Farhan melihat ke arah tempat duduk yang sengaja ada di ruangan Riki.
"Eh, ada Caca?" tanya Farhan cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sedangkan Riki memijat pelipisnya akibat ulah Farhan.
"Siapa yang pulang, Om?" tanya Caca dengan mulut yang mengunyah.
"Itu, temen Om."
"Jadi, ngapain lapor sama Om Kulkas?"
"Karena temen Om Kulkas juga."
"Iya, Om?" tanya Caca dengan cepat melihat ke arah Riki.
"Ha?" tanya Riki menatap Caca, "iya, Cil."
"Kalau begitu, saya keluar dulu Pak. Permisi." Farhan dengan cepat keluar, Caca menyipitkan matanya menatap Riki.
"Kenapa?" tanya Riki yang melihat Caca menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"Gak papa." Caca mengalihkan pandangannya kembali ke makanan yang masih ada.
Setelah capai mengunyah dan melihat arah jam menunjukkan pukul tiga sore, "Om, pulang, yuk!" ujar Caca yang sudah bosen.
Riki melihat Caca sekilas, ia menatap arlojinya dan menutup laptop, "Yuk!" Riki bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Ini makanannya?" tanya Caca memakai tas.
"Buang aja nanti."
"Widih, susah emang kalo sugar Om-om," ucap Caca bangkit dan berjalan mendekat ke arah Riki.
"Kok sugar Om-om?" tanya Riki menaikkan satu alisnya.
"Karena, Om belum jadi daddy," jelas Caca tertawa.
Mereka berjalan ke arah luar toko, Caca melihat kepala Riki dan membuat laki-laki tersebut menatap Caca.
"Ada apa?"
"Om, pangkas tuh rambutnya. Rapiin dikit!"
"Gak usah deh."
"Ihh ... biar rapi, Om!" omel Caca melihat rambut Riki yang begitu panjang.
__ADS_1
"Yaudah-yaudah. Ntar, saya pangkas."
"Gak! Sama Caca aja, Caca ikut nemenin," ungkap Caca fokus ke jalannya.
"Lama. Nanti kamu bosen."
"Gak papa!" tegas Caca tak mau kalah.
"Dasar keras kepala!" bisik Riki yang ternyata masih bisa di dengar oleh Caca.
"Om bilang apa?" tanya Caca menatap Riki dengan tetap berjalan.
Riki langsung memegang kepala Caca, akibatnya tangan Riki terbentur kaca pintu toko. Caca yang menyadari langsung melihat ke arah depannya dan kembali menatap Riki.
"Jangan ceroboh! Kalau tadi gak dihadang, bisa-bisa terbentur kepala kamu yang keras itu ke kaca pintu," ujar Riki dan menurunkan kembali tangannya.
Caca hanya terdiam dan mengusap-usap kepalanya yang tak beruntung karena tak jadi terbentur kaca yang cukup tebal.
Riki membuka pintu dan keluar lebih dulu, menahan pintunya agar Caca bisa keluar lebih mudah.
"Om, tukang pangkasnya di mana?" tanya Riki memasangkan helm ke kepala Caca.
"Di jalan-jalan juga banyak nanti," jawab Riki fokus dengan kegiatannya sekarang. Setelah selesai, ia naik lebih dulu.
"Bekalnya tadi habis?" tanya Riki di sela-sela perjalanan.
"Habis dong!"
"Bagi-bagi?"
"Bedanya apa?"
"Kalo bagi-bagi itu ikhlas, kalo diminta itu awalnya gak ikhlas tapi lama-kelamaan berusaha buat ikhlas," ungkap Caca menjelaskan perbedaan kata tersebut.
Riki hanya tertawa dengan kepalanya yang bergeleng-geleng mendengar penjelasan Caca, "Kenapa?" tanya Caca yang keheranan dengan Riki.
"Gak papa."
Setelah cukup jauh dari toko milik Riki, seperti keinginan Caca tadi bahwa Riki memotong rambutnya agar lebih rapi. Riki memberhentikan motornya di depan tukang pangkas rambut, Caca tersenyum saat melihat tempat itu.
"Gosah, deh, ya. Sayang tau," kata Riki yang masih di atas motor sedangkan Caca sudah turun dan membuka helm.
"Ihh, apaan! Ayo, Om!" ujar Caca menarik bagian baju Riki.
"Ini lama nunggu panjangnya, lho Ca."
"Ih, bentar juga!"
"Nanti Om makin ganteng, gimana?"
"Bagus, dong!"
"Makin banyak yang mau nanti, lho."
__ADS_1
"Gak papa, udah ayok!"
Mau tak mau yang penting harus mau, akhirnya dengan berat hati Riki mengikuti kemauan Caca. Mereka masuk ke dalam toko pangkas yang kebetulan satu tempat kosong.
Caca duduk di tempat yang telah di sediakan sedangkan Riki duduk di bangku yang di depannya sudah ada cermin agar memudahkan tukang pangkasnya nanti melihat gaya rambut atau modelnya.
Tukang pangkas atau karyawannya sudah berada di belakang Riki, tempat duduk tunggu agak jauh dari tempat duduk yang akan dipangkas.
"Nunggu Abangnya, Dek?" tanya Ibu-ibu yang sedang menunggu juga, Caca yang tadinya menatap Riki kini mengalihkan pandangannya ke arah kanan.
"Eh, iya Buk," jawab Caca ramah. Kembali ia melihat ke arah Riki dan saat bersamaan Riki juga tengah melihat ke arah Caca melalui kaca, mungkin Riki mendengar ucapan Ibu tersebut.
"Kelas berapa?"
"Kelas 12, Buk," ujar Caca menatap ke arah Ibu itu lagi.
"Wah ... cocok dong sama anak Ibu," ucapnya dengan menunjuk ke arah anak laki-laki yang sudah hampir selesai di pangkas.
Caca melihat ke arah tangan Ibu tersebut menunjuk, terlihat laki-laki yang lumayan tampan dan tengah memainkan handphone-nya.
"Ehem ... ehem!" dehem Riki dan membuat Caca menatap ke arah Riki kembali.
"Kenapa, Pak?" tanya tukang pangkas yang berada di belakang Riki.
"Eh, cuma batuk doang kok Pak."
"Mau minum? Biar saya ambilkan."
"Gak usah," tolak Riki tersenyum tipis.
Sedangkan Caca sudah menutup mulutnya agar tak tertawa, Riki yang melihat hal itu dari kaca langsung mendatarkan wajahnya.
"Ganteng anak Ibu tadi?" tanya Riki menatap wajah Caca. Mereka telah selesai dan berada di parkiran, Ibu tersebut lebih dulu pulang dengan anaknya. Ia sempat menyuruh Caca dan anaknya untuk berkenalan, karena Caca merasa tak enak mau tak mau ia tetap berkenalan dengan anak Ibu tersebut meskipun tak sentuhan.
"Lumayanlah," jawab Caca memanas-manasi Riki.
"Dih," ucap Riki cuek dan memalingkan wajahnya.
"Tapi, gak puas natap wajahnya. Soalnya nunduk mulu," ungkap Caca tetap memanasi Riki.
"Yaudah, kamu jalan aja!" Riki menghidupkan motor dengan Caca yang masih ada di bawah.
"Hahahaha, ih Om!" kata Caca seraya tertawa melihat Riki yang sudah cemburu akibat ulahnya.
"Masa, tuan putri jalan kaki!" sambung Caca dan naik ke jok belakang.
"Biarin!" ketus Riki.
Riki langsung melajukan motor dengan cepat, beruntungnya Caca sempat memegang bagian jaket Riki. Ia tertawa melihat tingkah laku Riki jika sudah cemburu, pasti laki-laki tersebut akan sangat kesal dan sedikit menggemaskan.
"Lagian, ya. Mau dia ganteng sebegimana pun, tetap gantengan Om," puji Caca berucap di pundak Riki.
"Apalagi sekarang pangkas rambut, behhh. Makin ganteng!" sambung Caca diiringi tawa di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Bukan karena ucapannya barusan bohong, melainkan ia memang sangat jarang memuji seseorang. Takutnya, yang dipuji bukannya merasa bahwa itu pujian melainkan hanya kata penenang saja.