Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Sederas Air Hujan


__ADS_3

Setelah selesai shalat Magrib, mereka bertiga di ruangan sibuk dengan handphone masing-masing begitu juga dengan Aldy.


"Om-om, ada tebakan nih!" seru Caca yang membuat kedua laki-laki itu menatapnya.


"Ayam-ayam apa yang besar?" tanya Caca cengengesan dan menatap satu per satu wajah mereka.


"Ayam semesta!" jawab mereka serempak. Caca tertawa kala mendengar jawaban mereka berdua.


"Ih, kok tau sih?"


"Itu tebakan zaman dahulu kala, kali!" tutur Riki menatap Caca.


"Iyakah? Kirain barusan," ujar Caca tersenyum dan kembali menatap layar handphone.


"Assalamualaikum," salam dari suara seseorang yang ditunggu-tunggu. Kini, Caca sudah lumayan hafal dengan suara Annisa.


"Waalaikumsalam, Umi!" seru Caca dengan semangat.


"Hih, yang mau keluar semangat banget deh! Jangan pulangnya malam-malam, besok harus sekolah," peringat Annisa kepada Caca yang sudah siap untuk keluar.


"Iya, Umi."


Caca dan Riki memakai baju berwarna sama yaitu hitam, sedangkan Riki dipadukan dengan celana jeans sedangkan Caca dipadukan dengan rok plisket berwarna coklat.


Caca dan Riki segera menyalim Annisa dan tak lupa berpamitan juga dengan Aldy yang tersenyum tipis ke arah Caca.


Caca membawa tas yang berisikan baju-bajunya, sedangkan Riki tak membawa apa-apa karena setiap hari bajunya ia bawa ke rumah terlebih dahulu baru pergi ke tempat kerja.


"Kita mau ke mana?" tanya Riki menatap Caca yang membawa ransel berisi bajunya.


"Ke tempat makan baru ke pasar malam atau taman kota, Om. Pasti seru, tuh!" terka Caca yang sudah membayangkan suasana di sana nanti.


"Ngapain ke pasar malam?"


"Mau naik bianglala."


"Yaudah, naik itu nanti kita."


"Oke, Om!"


Mereka telah sampai di parkiran rumah sakit, Caca dipakaikan helm oleh Riki terlebih dahulu, "Sini!" ujar Riki yang tak dimengerti oleh Caca.


"Apanya, Om?" tanya Caca menatap kedua tangan Riki.

__ADS_1


"Tasnya siniin, kamu udahlah pendek. Malah bawa yang berat tambah pendek nanti," canda Riki yang malah membuat Caca marah.


"Ih! Om mah! Enak aja ngatain Caca pendek!" protes Caca yang tak terima dirinya dibilang pendek. Ia memukul lengan Riki karena kesal pada laki-laki itu, bukannya kesakitan Riki malah tertawa mungkin karena wajah Caca.


"Iya-iya, enggak kok. Maafin saya, ya. Hahaha," ujar Riki setelah Caca berhenti memukulnya.


"Jangan ada ketawanya, dong!" ketus Caca dengan bibir yang sudah maju seperti bebek.


"Iya-iya, saya minta maaf, ya, Cil!" kata Riki tanpa tawa.


"Ngatain orang pendek, padahal dia juga yang ketinggian!" gerutu Caca sambil membuka tas dan memberikannya kepada Riki. Gerutuannya itu masih bisa di dengar jelas oleh Riki yang menerima tas Caca yang berisi pakaian kotor tersebut.


"Bisa naik?" tanya Riki kala telah selesai memakai tas Caca di dadanya.


"Ih, bisa Om! Om kira Caca pendek, apa?" tanya Caca dengan suara kesal.


Caca memijak pijakan sebelah kiri dahulu, lalu ia memegang pundak Riki yang sebenarnya sangat tinggi baru kaki sebelah kanannya bisa naik dan memijak pijakan sebelah kanan.


"Udah?" tanya Riki memastikan.


"Udah, Om!" seru Caca memegang sedikit jaket Riki yang tak pernah ketinggalan.


Motor di jalankan meninggalkan gedung rumah sakit, mereka sudah lumayan lama tak pergi malam berdua seperti ini. Akibat banyaknya terjadi kecemburuan dan kesalahpahaman di antara mereka.


Tak bisa dihindari, setiap hubungan pasti akan selalu ada yang namanya pertengkaran termasuk hubungan persahabatan. Tak bisa diyakini bahwa hubungan tersebut akan mulus-mulus saja seperti jalan tol.


"Karena emang gitu, Om. Hasil penguapan atau apa tadi, ya?" tanya Caca mencoba mengingat terjadinya hujan dengan sedikit mendekat ke arah pundak Riki.


"Salah!"


"Lah, jadi?" tanya Caca menautkan alisnya.


"Karena kalo yang turun itu kamu, malah jadi rebutan!" goda Riki yang berhasil membuat pipi Caca memanas. Caca langsung menepuk bahu Riki karena telah membuat dirinya salting.


"Dih! Dasar Om-om!" ketus Caca dengan tertawa.


"Kalo salting gosah mukul juga kali, Cil!" sindir Riki dengan tertawa puas karena melihat wajah Caca dari spion motornya.


"Sotoy batt lu, Om!" elak Caca menormalkan wajahnya.


"Heleh, gak ngaku!"


"Aku mencintaimu sederas air hujan, namun kamu malah mencintainya sederas air terjun. Yowes, kalah aku Mas!" teriak Caca yang membuat Riki tertawa. Caca menatap laki-laki itu dari kaca spion, "dih! Lu harusnya ke sindir, Bambang! Bukannya malah ketawa!"

__ADS_1


"Lah, kok situ maksa?" tanya Riki dan membuat Caca mencubit perutnya.


"Sakit, Cil!" ucap Riki tertawa melihat tingkah wanita itu kalau sudah emosi.


"Lagian, macem-macem sih sama saya! Kamu gak tau saya penguasa?"


"Penguasa apa?" tanya Riki menaikkan alisnya.


"Penguasa hatimu!" Caca tertawa setelah mengucapkan kalimat itu, sedangkan tangannya menggapai spion agar mengarah ke wajah Riki supaya Caca dapat melihat apakah wajah laki-laki itu memerah atau tidak.


"Cieee, salting sampe sinting!" seru Caca yang tak ada habisnya tertawa dan menggoda Riki.


Bahkan, beberapa pengendara yang bersebelahan pada mereka melihat dan menatap heran ke arah kedua sejoli ini. Namun, mereka tak menghiraukan sama sekali tatapan-tatapan aneh dari orang-orang.


"Sutt ... jangan teriak-teriak, Cil. Ntar orang-orang tau kalo kamu sayang banget sama saya," kata Riki dengan pedenya.


"Siapa yang mikir gitu? Sotoy banget tuh orang."


"Emangnya gak gitu?"


"Enggak, dong!" tawa Caca saat membuat Riki tak mendapatkan jawaban yang dirinya inginkan.


Mungkin efek capai dari tadi bersuara dan bercerita hal-hal yang sama sekali gak penting, mereka memilih diam di tengah-tengah kemacetan.


"Ada apa, Om?" tanya Caca langsung di sebelah pengendara yang sama sekali dirinya tak kenali.


"Katanya sih ada kecelakaan," jawab pengendara yang umurnya 50-an ke atas.


"Kenapa malah gak di tolongin, Om?"


"Udah ada polisi, tinggal nunggu jalanan di lancarkan aja."


Caca hanya mengangguk dan melihat ke depan, ia mendekat ke bahu Riki, "Om di depan ada--" Belum sempat Caca menyambungkan ucapannya Riki telah lebih dulu memotongnya.


"Ada kecelakaan," jawab Riki.


"Lah, kok tau?" tanya Caca menatap ke arah wajah Riki meskipun hanya keliatan separuh.


"Kan tadi kamu ngomong sama Bapak itu, saya denger dong!"


"Kirain gak denger," ujar Caca pelan.


"Denger atuh, Neng!"

__ADS_1


"Aaaa ... Aa kumaha damang?" tanya Caca yang hanya mengerti itu saja. Suara Caca yang sebenarnya tak cocok jika berucap menggunakan bahasa Sunda membuat Riki ingin tertawa namun mengingat jika keadaan lagi macet dirinya hanya mencoba menahan agar tak tertawa.


Sedangkan Caca pun sama, ia tahu bahwa Riki pasti tengah menahan tawanya karena cara bicara dirinya itu. Hal itu selalu disampaikan Riki bahwa suara Caca tak cocok dalam berbahasa Sunda bahkan Jawa juga


__ADS_2