Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Ambisi


__ADS_3

Sesampainya di dalam kelas, Caca duduk di bangkunya dan dengan cepat membuka apa yang ada di dalam bungkusan.


Sebuah tempat bekal terlihat, ia langsung tersenyum dan membuka bekal itu. Benar saja, ada berbagai makanan yang tersusun rapi di sana.


"Enak banget, ini Mbak Fina yang masak sendiri atau dia beli, ya?" tanya Caca ketika sudah merasa makanan itu.


Di dalam mobil, seorang wanita kini tengah tersenyum melihat jalanan yang ada. Seolah tanpa beban dan baru saja berbuat hal yang jarang ia lakukan.


"Kayaknya, aku harus liat Al. Aku juga belum minta maaf secara langsung ke dia dan juga Umi," tutur Fina melajukan mobilnya ke arah rumah Aldy.


Sekitar empat puluh menit dari sekolah Caca, Fina telah sampai di depan rumah Aldy. Sebenarnya, ia belum tahu apakah Aldy ada di rumah atau malah di rumah sakit. Namun, tak ada salahnya ke rumah Aldy duluan.


"Assalamualaikum," panggil Fina dengan mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat.


"Waalaikumsalam," jawab orang yang ada di dalam.


Pintu terbuka, terlihat seseorang yang tengah memakai kaos warna putih dan celana santai berdiri di hadapannya.


"Ada apa?"


"Al ... aku mau minta maaf atas kesalahan yang sudah aku buat ke kamu," ujar Fina menunduk, ia tak berani jika harus menatap orang yang hampir tidak ada akibat kesalahannya.


"Kamu punya salah?" tanya Aldy membuang wajahnya ke arah lain.


"Al ...," ujar Fina menatap ke arah wajah Aldy yang tak melihat ke dia sedikit pun, "aku tau aku itu sangat keterlaluan sama kamu, aku terlalu terobsesi terhadap kamu. Aku tau aku salah, Al." Fina berucap dan menjelaskan segala kesalahannya, Aldy mulai menatap ke arahnya mendengar suara Fina yang juga bergetar dalam berucap maaf itu.


"Kamu gak ada salah sama aku, kamu salahnya itu sama Caca. Bukan aku."


"Iya, Al. Aku udah minta maaf sama dia, kok. Aku duluan ke tempat dia baru ke tempat kamu, aku mohon maafkan aku. Maafkan aku yang bodoh karena cinta," pinta Fina menangkup kedua tangannya di depan Aldy.


"Iya, gak papa. Aku juga gak masalah akan hal itu, yang berlalu biarlah berlalu. Jadikan hari kemarin sebagai pelajaran, apalagi kamu bukan anak ABG. Jadi, lebih di kontrol perasaan kamu itu," jelas Aldy memberi tahu kepada Fina tentang sifatnya itu.


Fina menganggu dan tersenyum ke arah Aldy pun Aldy membalas senyuman itu, "Eh, maaf. Yuk, masuk!" tawar Aldy yang lupa untuk menawarkan Fina masuk ke dalam.


Fina melihat arloji yang ada di pergelangan tangan kiri yang putih miliknya itu, "Gak usah deh, aku juga harus jemput Ayu dulu. Kesian dia kalo lama nunggu di sana," ujar Fina yang menolak tawaran dari Aldy.

__ADS_1


"Ohh, yaudah. Kamu hati-hati dan titip salam buat Ayu."


"Aku juga, titip salam buat Umi. Makasih juga sudah mau tetap baik sama aku."


"Iya."


"Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Fina pun pergi dari hadapan Aldy, Aldy melihat punggung Fina terlebih dahulu memastikan wanita itu sudah pergi dari halaman rumah mereka.


"Ada siapa, Al?" tanya Annisa yang tiba-tiba berdiri di samping Aldy yang tengah fokus menatap kepergian Fina.


Alhasil, bahu Aldy langsung terangkat akibat ulah Annisa, "Astagfirullah, Umi. Al kaget, lho!" Ady mengusap-usap dadanya.


"Hehe, maaf atuh. Lagian, ada tamu bukannya diajak masuk malah ngobrol di luar. Tuan rumahnya gak ramah nih," kritik Annisa melihat Aldy.


"Dia gak sempat, Umi. Ada kerjaan lain yang datang tadi Fina, dia minta maaf dan titip salam buat Umi. Katanya makasih juga karena udah mau maafin dia," ujar Aldy memberi tahukan titipan salam dari Fina.


"Oh ... Fina," kata Annisa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan masuk lagi ke dalam.


"Dih, Umi dasar ya. Udah tau langsung pergi begitu aja," gerutu Aldy melihat Annisa yang sudah masuk ke dalam rumah lagi.


"Baik kalau begitu, kalian semua boleh pulang," sambungnya dan keluar lebih dulu.


Caca mulai membereskan alat-alat tulisnya disaat sebagian murid sudah mulai bepergian dari dalam kelas.


'Apa aku ngambil les juga, ya?' batin Caca sambil melamun menatap meja di sampingnya.


"Woy, Caca!" teriak teman Caca mengangetkan wanita itu. Ia tertawa kala melihat ekspresi Caca yang ternyata kaget beneran, "hahaha, lo kayak punya anak 10 aja. Pake acara melamun segala." Ia duduk di samping bangku Caca menatap wanita itu yang kini tengah merapikan alat tulis di tasnya.


"Lu ini, ngagetin mulu," omel Caca yang mendatarkan wajahnya menatap temannya itu. Caca bangkit dan memakai tas diikuti temannya yang juga ikut bangkit.


"Lagian lo aneh, melamun mulu. Ini mau mulai ujian, jangan banyak melamun. Gak baik."


"Iya, ini juga gue lagi lamunin tentang ujian kali," kata Caca sambil melangkah secara bersamaan ke arah gerbang sekolah.

__ADS_1


"Kenapa? Lo pen les?"


"Ya, kayaknya gitu deh."


"Kok lo kayaknya ambisi banget ujian ini, lo pengen nyambung kuliah di tempat jauh, ya?" tanya temen Caca menyelidiki tentang sikap Caca yang biasanya tak terlalu memperdulikan ujian. Karena tanpa fokus pun ia pasti selalu jadi urutan juara ke dua di kelasnya.


Seharusnya, Caca sudah tak terlalu takut masalah ujian. Bagaimana pun dirinya pasti akan lulus juga dari sekolah ini.


"Ha? E-enggak, kok. Cuma pen dapat hasil yang memuaskan aja," jawab Caca sedikit terbata-bata.


"Lo serius?" tanya temen Caca dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Dih, lo kok kayak lagi interogasi gue, sih?" tanya Caca yang merasa seolah diintrogasi oleh temannya sendiri.


"Ya, enggak. Lu habisnya aneh banget, sih."


"Emangnya aneh overthingking sama ujian, ya?"


"Hmm ... enggak, sih."


"Yaudah, deh. Gue udah di jemput, gue duluan, ya," kata Caca tersenyum sambil memegang bahu temannya terlebih dahulu.


"Iya, hati-hati ya."


"Hello, Om," sapa Caca saat sudah berada di depan Riki yang tengah dengan benda pipihnya.


Riki tersenyum dan memberikan helm kepada Caca, sambil wanita itu memakai helm Riki segera memasukkan handphone ke saku jaketnya.


Setelah merasa Caca sudah duduk di jok belakang, Riki langsung menjalankan motor meninggalkan gedung sekolah.


"Om, tau tempat les yang bagus, gak?" teriak Caca agar suaranya di dengar jelas oleh Riki.


"Buat apa?" tanya Riki melontarkan pertanyaan kepada Caca kembali.


"Caca mau les, Om. Buat persiapan UN nanti."

__ADS_1


"Gak tau, kamu cari aja di internet pasti ada dan banyak."


Caca mengangguk, ada benarnya juga saran dari Riki. Mengapa ia tak mencari di internet saja, pasti banyak dan kualitas dari setiap tempat les itu dapat diketahui di internet nanti.


__ADS_2