
Di jalan, Caca hanya diam akibat masih kesal dengan Riki. Ia merasa aneh dengan jalan yang sekarang tengah mereka lalui.
"Om?" panggil Caca dengan mendekatkan wajahnya di pundak Riki.
"Hm?" Caca hanya mendapatkan deheman akibat Riki yang fokus ke jalanan penuh dengan pengendara juga pelajar yang pulang sekolah.
"Kita mau ke mana?"
"Tempat kerja saya."
"Ha?"
"Kenapa?"
"Hmm ... gak papa, Om." Caca kembali menjauhkan wajahnya dari sisi Riki, ada rasa tak senang saat Riki memberi tahu ke mana tujuan mereka apalagi Caca yang belum berganti pakaian.
'Malas batt ntar ketemu sama Nenek sihir, pasti liatin penampilan aku dari atas sampe bawah baru deh dinyinyirin sama dia,' batin Caca dengan wajah yang malas. Pasalnya, hal ini bukan pertama kali. Riki sudah hampir sering membawa Caca ke tempat kerjanya. Namun, sering juga Caca berkelahi dengan karyawan Riki tersebut.
Riki meletakkan sepeda motor langsung ke parkiran yang telah disediakan tokonya, ia membuka helm sedangkan Caca juga telah turun dan mengulurkan helmnya.
Saat tengah melihat-lihat keadaan toko yang sepertinya beberapa karyawan tengah makan siang, Caca tak sengaja menatap tangan Riki.
Caca mengerutkan keningnya dan menatap tangan laki-laki yang tengah mengambil kunci dari motor dan berniat turun.
"Om, bentar!" Caca memegang tangan Riki dan melihat memar di tangan Riki sebelah kiri tersebut.
"Ini kenapa?" tanya Caca mendongak dan saat yang bersamaan Riki pun tengah menatap ke arah Caca.
"Hmm ... gak papa," jawab Riki dan langsung mengalihkan pandangannya.
Caca melepaskan tangan Riki dan membuka ransel sekolahnya, ia mencari-cari sesuatu di dalam ransel berwarna biru itu.
"Ini gak papa, gak sakit juga." Riki turun dari motor dan menunggu Caca selesai mencari barangnya.
Caca mengunci kembali ransel setelah menemukan apa yang dicari, ia buka penutup plaster, "Mana tadi tangannya?" tanya Caca menatap Riki.
Melihat yang di tatap tak kunjung memberikan tangan, Caca langsung mengambil tangan yang sakit tersebut, "Jangan sok jago jadi orang, Om. Ingat, udah tua!" geram Caca dan menutup luka Riki dengan plaster.
Sedangkan Riki hanya menyunggingkan senyumnya mendengar kalimat Caca, ia mengacak kepala Caca yang tertutup hijab warna cokelat itu.
__ADS_1
"Ih, Om! Rusak hijabnya!" omel Caca dan merapikan hijabnya sedangkan tangan Riki sudah dilepaskan setelah plaster terpasang sempurna di luka yang ada.
"Sok tau banget kamu, Cil!"
"Emang tau, dong! Luka ada pasti karena habis berantem."
"Bisa aja karena gak sengaja, 'kan?" tanya Riki tersenyum dan menyeimbangkan tubuhnya dengan Caca.
Caca terpaku melihat wajah laki-laki yang tengah berada di hadapannya sekarang, ia tatapi setiap inci wajah tersebut. Beberapa detik kemudian, ia memutuskan kontak dan pergi berjalan duluan ke dalam toko Riki dan meninggalkan pria tersebut.
Riki hanya tertawa melihat ekspresi dan tingkah laku Caca, dirinya segera berjalan dan mengejar langkah Caca dengan sesekali melihat tangannya yang sudah ada plester pemberian Caca. Meskipun terlihat biasa-biasa saja, namun perlakuan seperti ini mampu membuat seseorang baper.
Caca berhenti di depan pintu masuk dan menunggu Riki, ia melihat jalan laki-laki, "Kenapa gak langsung masuk?" tanya Riki yang sudah ada di depan Caca.
"Mau sama-sama aja," balas Caca.
"Ya, udah. Ayo!" ajak Riki dan membukakan pintu untuk Caca masuk.
Caca melihat-lihat pakaian yang ada di gantungan dan rak-rak yang telah tersedia, karyawan di toko pakaian Riki berjumlah lima orang.
Meskipun tak terlalu banyak, namun sedikit mengurangi jumlah pengangguran yang ada di dunia ini.
"Kok sepi karyawannya, Om?" tanya Caca melihat beberapa pembeli tak dilayani oleh karyawan.
Caca berhenti dan membuka ransel sekolahnya, i memberikan pada Riki dan melihat ke arah pembeli sedangkan Riki langsung menerima ransel begitu saja dan menatap wanita itu.
"Duluan, Om. Caca mau layani yang itu dulu, ya." Caca berucap dan pergi begitu saja tanpa melihat ke arah Riki atau meminta izin terlebih dahulu dari orang yang memiliki toko.
Caca langsung menghampiri ibu-ibu yang ada, "Ibu mau cari baju apa?" tanya Caca yang berada di samping Caca dengan ibu tersebut fokus melihat baju.
Bahu sang ibu langsung terangkat dan menatap ke arah suara yang ada, Caca menutup mulutnya takut tertawa melihat ibu tersebut yang kaget akan kehadirannya tiba-tiba.
"Eh, kamu! Buat ibu kaget aja," ujar ibu tersebut dengan tertawa. Sedangkan seseorang yang berada tak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Caca, ia langsung berjalan dengan membawa tas tuan putrinya itu.
"Maaf, Buk," jawab Caca tersenyum. Sang ibu langsung memberi tahu apa yang tengah ia cari, sekitar tiga puluh menit akhirnya Caca menemukan barang yang ibu tersebut inginkan.
"Makasih, ya, Dek," ucap ibu tersebut dengan tangan yang sudah menenteng tas belanja.
"Sama-sama, Bu," ujar Caca ramah.
__ADS_1
Setelah kepergian sang ibu, Caca langsung pergi ke ruangan Riki sedangkan kasir memang sudah ada yang menjaganya. Jika pun jam istirahat maka ia akan makan di tempatnya itu juga.
"Assalamualaikum, Om!" seru Caca membuka pintu dan hanya menunjukkan kepalanya saja.
"Waalaikumsalam, masuk!" ujar Riki yang duduk di bangku miliknya. Caca masuk dan menutup pintu kembali, ia menatap meja yang ada dengan bangku panjang berwarna abu-abu dan tas yang sudah ada di atasnya.
"Wah ...." Caca langsung berjalan ke arah meja tersebut, ia duduk dan mencicipi berbagai makanan manis dan berbahan coklat tersebut.
Dimulai dari; dessert box, coklat yang berbungkus warna ungu, ice cream dan lainnya. Caca membuka dessert box tersebut dan langsung menyendok ke dalam mulutnya.
Begitu sendok masuk ke mulut dan dessert dikunyah, mata Caca langsung dipejamnya dan senyum terukir di bibirnya.
"Biasa aja, kamu bukan lagi promosi dessertnya," ujar Riki menatap ke arah Caca.
Caca langsung membuka mata dan memajukan bibirnya, melihat dengan sinis ke arah Riki, "Ganggu aja!" ketus Caca dan melanjutkan makannya.
"Gimana tadi di sekolah?"
"Baik aja, Om."
Riki hanya mengangguk dan membuka laptopnya, melanjutkan beberapa pekerjaan yang tadinya sempat dihentikan.
Sedangkan Caca membiarkan Riki bekerja dan fokus kepada makanan yang memang sengaja disediakan Riki agar Caca tak bosen apalagi menganggu dirinya.
"Permisi, Pak. Ini saya ada bawakan makan siang buat, Bapak," ucap salah satu karyawan yang langsung masuk begitu saja tanpa menunggu perintah dari Riki.
"Ehem ... ehem!" ujar Caca yang merasa bahwa karyawan Riki itu tak melihat dirinya. Karyawan yang baru datang langsung melihat ke arah Caca juga Riki yang melihat ke arah wanita itu.
"Eh, Caca? Kamu sejak kapan ada di sini?" tanya karyawan menatap ke arah Caca.
"Baru aja kok, Mbak," jawab Caca mencoba ramah dan berdiri dari tempat duduknya.
"Kasih aja ke tuan putri saya," jelas Riki menujuk ke arah Caca saat karyawannya menatap ke arah Riki.
Karyawan tersebut beberapa kali mengerjap mendengar penuturan Riki, sedangkan Caca tersenyum puas dan bersedekap.
'Dih, kalo tau nih bocah ada. Mending gosah gue beliin tadi nih makanan, mana mahal lagi,' batin karyawan dan menyerahkan makanan kepada Caca. Sedangkan Caca langsung tersenyum dan senang hati mengambil bungkusan tersebut.
"Makasih, ya, Mbak!" ucap Caca meletakkan bungkusan ke meja yang masih banyak makanan di atasnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi ya, Pak."
"Mari, Caca," sambungnya dan menatap Caca sebentar kemudian keluar dari ruangan Riki.