
Caca duduk di bangku dengan tas di atas pahanya, ia melihat air yang tenang sekarang di hadapannya. Dering benda pipih berbunyi, Caca langsung membuka handphone dan melihat siapa yang menelpon dirinya.
Setelah melihat nama siapa yang tertera, Caca kembali memasukkan handphone miliknya tersebut dan memilih non-aktifkan handphone-nya. Ia benar-benar tak ingin diganggu siapa pun sepertinya.
"Wah ... tepat banget kita bisa ketemu di sini." Suara seseorang membuat Caca menatap ke arah sampingnya dan mendongak. Sudah ada wanita tersenyum dengan licik di sampingnya, Caca langsung membuang mata dan menampil wajah datar karena merasa sangat tak penting orang yang ada di sampingnya kini.
"Heh!" Melihat Caca hanya terdiam, rupanya membuat dirinya kesal. Ia mendorong bahu Caca yang membuat sebagian badannya bergerak.
"Apa apa?" tanya Caca masih dengan sabar tanpa melihat ke arah wanita itu. Dia berjalan ke samping Caca, sedangkan Caca sama sekali tak beranjak atau berniat berbagi tempat.
Wanita tersebut menatap Caca dari samping dan melihat penampilan Caca dari atas hingga bawah, "Gue bingung, kenapa bisa Riki jatuh cinta sama bocah kemarin sore kayak lo!" terang Diva yang tetap menatap Caca sedangkan Caca sama sekali tak menatap dirinya.
"Karena gue gak murahan kayak lo! Jadi, Riki jatuh cinta, deh!" tutur Caca melihat ke arah Diva dengan senyum miringnya.
"Oh, ya? Tapi ... gimana pun murahnya gue nih, ya. Gak pernah tuh sampe di tampar sama Riki, hahahaha," ejek Diva dengan tawanya dan menutup mulut.
"Oh, ya? Tapi ... gimana pun bocil kemarin sore gue nih, ya. Gak pernah tuh sampe diajak ke hotel mau-mau aja," jawab Caca yang tak mau kalah dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Diva.
Ternyata ucapan Caca mampu membuat Diva menjadi emosi tak tertahankan, dirinya terdiam mendengar penuturan wanita di depannya ini. Tangan kanan Diva terangkat di udara dan dengan cepat ditahan oleh Caca, "Denger, ya! Gue diem bukan berarti gue takut sama lo! Gue diem karena gue gak mau ngotori tangan hanya demi laki-laki!" geram Caca dengan tangan tetap menggenggam lengan Diva. Wajah yang tadinya ada senyuman, kini hanya datar tanpa ekspresi.
"Dan untuk lo! Kalau mau ngambil Riki, ambil aja! Jangan pernah bawa-bawa gue apalagi ngusik kehidupan gue!" sambung Caca dengan menatap Diva, "paham lo?!" Caca membuang tangan Diva dengan kasar.
Diva yang tadi sedikit meringisih kini melihat pergelangannya yang merah, sedangkan Caca langsung menaikkan tas ke bahunya dan bergegas meninggalkan Diva sendirian. Ia yang berniat ke sungai agar tenang, malah semakin memanas akibat adanya Diva.
__ADS_1
Ketika Caca ingin pergi dari sungai, dirinya melihat Riki yang sudah menatap datar ke arahnya. Caca hanya menatap sekilas dan membuang wajahnya, ia pergi begitu saja tanpa menyapa Riki atau senyum ke arah laki-laki itu.
Riki mengerjapkan matanya, menatap punggung Caca yang semakin jauh darinya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang, benar saja. Ketika Diva datang kembali ke kehidupannya, semua hancur dan berubah drastis.
Mau tak mau, Riki menaiki motor dan menuju ke arah Caca. Memang niatnya ingin mencari Caca juga dari awal, "Naik, Cil!" kata Riki di samping Caca tetap dengan motor yang sengaja di pelankannya.
"Gak usah," jawab Caca tetap berjalan dan melihat lurus.
"Maaf."
"Ya," kata Caca singkat.
"Cil, udah mau mendung. Ayo sama aku, nanti kamu sakit!" bujuk Riki yang melihat awan sudah mendung.
Riki menghentikan motornya di depan Caca dan membuat wanita tersebut melihatnya dengan malas, saat Caca ingin berpindah jalan Riki memegang lengan Caca, "Lepas!" ujar Caca dengan suara yang masih biasa saja.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Riki menatap wajah Caca.
"Aku kenapa?" tanya Caca balik sambil menatap wajah Riki.
"Kamu bisa ingat baik-baik apa aja yang kamu lakukan? Setidaknya kalo gak bisa buat seseorang bahagia jangan buat dia sakit!" sambung Caca sambil membentak Riki.
Riki langsung menatap Caca dengan wajah datar dan kaget dengan apa yang diucapkan wanita tersebut, "Oh, jadi aku buat kamu sakit? Gak pernah buat kamu bahagia?" tanya Riki dengan mata yang memerah.
__ADS_1
"Kamu pikir dan ingat sendiri! Berapa banyak bahagia yang kamu kasih ke aku, Om!" pekik Caca dengan air mata yang sudah mengalir di pipi.
"Oh, begitu? Baik kalo emang sakit yang terlalu banyak kamu rasakan," ujar Riki melepas genggaman.
"Kalau aku tau bahwa orang yang di masa lalu gak akan pernah kalah dengan orang yang sekarang dan juga kalau aku tau bahwa mendekati seseorang yang belum bisa move on dari masa lalunya menimbulkan sakit sedalam ini! Aku ... gak akan pernah mau dekat apalagi kenal sama Om!" terang Caca dan melangkah pergi meninggalkan Riki.
Riki terdiam dan membiarkan Caca untuk pergi, dirinya tak pernah tahu apa yang dirasakan oleh Caca ketika bersamanya selama ini. Apakah bahagia? Tertekan? Sakit? Menderita? Atau yang lainnya. Riki menghapus air matanya dan menghidupkan motor dengan kecepatan yang tinggi di bawah turunnya air hujan.
Caca yang melihat motor Riki melaju begitu cepat langsung berhenti dan menutup mulutnya, di saat hujan seperti ini sangat rawan untuk pengendara terjatuh atau lainnya yang diakibatkan jalanan licin.
"Om!" teriak Caca yang tak bisa dipungkiri adanya rasa khawatir terhadap laki-laki tersebut. Namun, tak mungkin suaranya mampu di dengar bahkan punggung laki-laki tersebut tak terlihat lagi.
Caca hanya bisa menangis di bawah air hujan, sungguh tepat waktunya. Setidaknya tak akan ada yang tahu bahwa dirinya tengah bersedih dan hatinya tengah hancur hari ini. Saat dirinya berjalan, Caca merasa ada yang aneh. Ia melihat ke atas ternyata sudah ada payung, Caca melihat ke arah belakang.
"Om Aldy?" tanya Caca dengan tangan yang sudah pucet.
"Kamu ngapain main hujan-hujanan?" teriak Aldy agar di dengar oleh Caca. Caca tak menjawab, dirinya hanya menangis dan berjongkok. Seolah tak mampu menjelaskan apa pun, di lain sisi dirinya sangat membenci laki-laki itu di lain sisi dirinya juga sangat khawatir dengan keadaannya sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Aldy yang ikut jongkok dengan tangan memegang payung. Dirinya hanya menatap Caca, tak tahu apa yang harus ia lakukan oleh wanita yang baru beberapa hari dikenalnya itu.
"Gak papa, Om. Hanya salah meletakkan hati aja," ucap Caca dengan tersenyum. Namun, kesedihan dan perasaan yang kini tengah hancur tetap tak bisa ditutupi. Air mata tetap mengalir tanpa dipinta.
'Kenapa, ya? Sakit banget melihat keadaan Caca sekarang,' batin Aldy menatap Caca yang memeluk lututnya.
__ADS_1