
"Ca, kamu saya antar pulang, ya," ajak Aldy yang khawatir melihat Caca.
Caca hanya diam, dirinya masih ingin berada di bawah hujan. Namun, badannya sudah menggigil dengan hebat. Aldy yang melihat hal tersebut sontak langsung kaget, "Ca," panggil Aldy memegang tangan Caca.
Wanita itu sudah lunglai dan terjatuh, Aldy melepaskan payung dan dengan sigap menangkap tubuh Caca agar tak tergeletak di aspal jalanan. Aldy langsung menggendong dan membawa Caca ke mobilnya yang memang dirinya letakkan di belakang Caca.
Aldy mendudukkan Caca di depan, karena dirinya takut jika di belakang nanti Caca terjatuh karena tak ada yang memegang dirinya. Aldy mengendarai mobil tak seperti biasanya, dirinya khawatir dengan keadaan Caca yang sudah pucat.
Sesampainya di halaman rumah Caca, Aldy langsung keluar tanpa Caca dan memanggil-manggil orang di rumahnya. Dirinya belum tahu tentang keluarga Caca, mungkin dirinya mengira bahwa di rumah pasti ada seseorang. Riki keluar dari rumahnya karena merasa ada yang mengetuk pintu rumah tetangganya itu.
"Hey! Ada apa?" teriak Riki yang masih berada di teras rumahnya. Aldy yang merasa ada seseorang yang bertanya padanya langsung melihat ke arah Riki.
"Maaf, Mas. Orang tua Caca mana, ya?" tanya Aldy panik.
"Lagi di toko, emangnya kenapa?" tanya Riki yang juga panik karena melihat raut wajah Aldy.
"Ini, Caca pingsan!"
Riki langsung membulatkan matanya dan berlari di derasnya hujan, ia membuka pintu mobil dan menggendong Caca. Riki mengambil pot bunga yang ada, karena memang di situlah biasanya Caca meletakkan kunci.
Aldy yang melihat Riki begitu cemas dengan wanita itu sedikit merasa sakit, apalagi melihat Riki menggendong Caca. Namun, dirinya langsung menepis hal-hal seperti itu karena yang terpenting sekarang keadaan Caca.
Riki membawa Caca ke kamarnya, "Gue mau pulang dulu, nyuruh nyokap ganti baju dia," ujar Riki setelah meletakkan Caca di kasur.
"Iya, aku juga mau rebus air. Biar dia bisa langsung di kompres," ucap Aldy yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Caca.
Mereka berdua keluar dari kamar dengan keadaan pintu yang sengaja tak di tutup, Aldy berjalan ke dapur rumah Caca dan mencari-cari alat rebusnya. Setelah selesai, Aldy langsung memasukkan ke mangkuk dan mencari kain yang bisa dijadikan kompresan nantinya.
Dirinya keluar dari dapur dan sudah melihat pintu kamar Caca tertutup dan Riki berada di depannya, "Nih, ganti pakaian lo. Nanti masuk angin," kata Riki memberikan baju dan celana miliknya.
"Makasih," ujar Aldy mengambil pemberian Riki, "nih, kalau sudah selesai diganti pakaiannya. Suruh nyokap kamu kompres dia, ya." Aldy memberikan nampan yang berisi mangkuk untuk air hangat dan kain bersih.
__ADS_1
Aldy pergi kembali ke dapur untuk berganti pakaian di kamar mandi, sedangkan Riki tetap menampakkan wajah cemasnya pada wanita yang berada di kamar. Ia sudah menelpon Milda sebelumnya, bagaimana pun Milda harus tahu keadaan putrinya tersebut.
"Lo kenapa cemburu, Al?" tanya Aldy dengan bercermin, "lo gak ada hak atas Caca! Jadi, berhentilah untuk cemburu! Itu sudah pasti laki-laki yang waktu itu bersama Caca di rumah sakit." Aldy mencoba menyadarkan dirinya, bahwa tak selamanya ia harus mengikuti apa kata hatinya itu.
Aldy keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang diberikan Riki, pintu telah terbuka. Riki berdiri agak jauh dari tempat tidur Caca, sedangkan Aldy berada di samping laki-laki tersebut dengan menatap kedua wanita yang ada di samping Caca. Aldy tak bertanya siapa wanita yang baru datang itu, sudah pasti dia ibu Caca.
"Maaf, Tante," ucap Aldy membuat pandangan mengarah ke dia kecuali Riki dan Caca yang masih setia memejamkan mata, "boleh saya periksa, Caca?" Aldy menyampaikan maksudnya, agar segera tahu bagaimana keadaan Caca. Jika memang mengharuskan dibawa ke rumah sakit, maka bisa segera dibawa.
"Oh, iya. Boleh-boleh," ujar Milda dengan wajah cemas yang tak terbendung.
"Saya ambil peralatan di mobil dulu," pamit Aldy tersenyum dan melangkah ke arah mobil untuk mengambil peralatan medisnya.
Aldy kembali dan duduk di samping Caca sedangkan Mama Riki berdiri di samping putranya itu, Aldy mulai memeriksa Caca dengan teliti dan hati-hati. Riki yang melihat hal itu langsung membuang pandangannya, bagaimana mungkin ia bisa ikhlas melihat orang yang dia cintai di sentuh oleh laki-laki asing. Caca tetap menggunakan hijab instan dan kening yang masih di kompres.
"Gimana?" tanya Milda yang melihat Aldy sudah selesai mencek keadaan Caca.
"Gak papa kok, Tante. Paling bentar lagi dia akan baikan, suhu tubuhnya juga sudah mau normal tidak sedingin pertama," jelas Aldy tersenyum.
"Huh ... syukurlah," kata Milda mengusap dadanya dan mencoba tersenyum.
"Iya, Buk. Makasih, ya," ucap Milda tersenyum.
"Oh, iya, Tante. Saya juga izin pamit, ya. Soalnya ada jadwal praktek," ujar Aldy sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya itu.
"Oh, iya-iya. Kamu hati-hati, ya. Makasih banyak." Milda berdiri dan Aldy menyalim tangan Milda, sebelum keluar Aldy menepuk bahu Riki pelan, "jaga Caca bentar, ya, Bro!" Dua tepukan di dapatkan Riki sebelum Aldy benar-benar keluar.
Milda hanya menatap wajah teduh anaknya dengan mata yang tetap tertutup, ia tak mengantarkan Aldy ke depan. Sedangkan Riki tetap dengan posisi berdirinya itu, "Riki," panggil Milda menatap ke arah Riki.
"Iya, Tante?"
"Kamu jaga Caca bentar, ya. Tante mau kembali ke toko dan nutup toko, tadi Caca gak sempat tutup dan nyuruh mereka pulang," jelas Milda.
__ADS_1
"Iya, Tante," jawab Riki mengangguk. Milda berdiri dan keluar dari kamar, Riki berjalan mendekat dan mengambil bangku dari meja belajar Caca. Dirinya duduk dan menatap Caca yang terbaring dengan lemah.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, Riki hanya menatap tanpa ekspresi. Entah karena masih kesal atau merasa bahwa Caca seperti ini bukan karena kesalahan dirinya. Mata mengerjap beberapa kali dan melihat sekitar, Caca yang baru terbangun menautkan alisnya dan meraba kening yang tertutupi kain.
"Ini buat apa Om?" tanya Caca menunjukkan kain.
"Buat bungkus kamu Cil!" ketus Riki datar.
"Ha?"
"Ha?" tanya Riki yang mengikuti kalimat Caca.
"Apa, sih!" gerutu Caca dan menatap langit-langit kamarnya.
Riki mendekat ke arah Caca, "Siniin!" pinta Riki. Caca memberikan kain tersebut dan diletakkan Riki ke meja kembali yang sudah ada nampan.
"Kamu gak papa? Masih sakit?"
"Udah gak papa, kok."
"Udah, ya! Jangan buat orang-orang khawatir lagi terhadap kamu."
"Emangnya aku kenapa Om?"
"Kamu pingsan tadi Cil."
"Terus yang bawa aku siapa?"
"Manusia."
"Oh, bukan Om dong."
__ADS_1
"Lah, emangnya saya bukan manusia?" tanya Riki menaikkan alisnya.
"Bukan! Om 'kan buaya hahaha," ucap Caca dengan tawanya dan membuat Riki mendatar wajahnya.