Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Tolong


__ADS_3

"Caca, kamu menjauh dari pintu, ya!" teriak Aldy dari depan pintu. Caca menuruti ucapan Aldy dengan menutup telinga dan matanya.


Satu kali dobrakan, ternyata tak berhasil membuka pintu. Duka kali dobrakan hampir dan terakhir mereka secara bersamaan pintu toilet terbuka lebar.


Kunci cadangan tidak ada lagi selain yang dipegang oleh wanita yang menguncikan dari depan tadi, jika menunggu service yang datang maka akan membutuhkan waktu yang lama.


Mau tak mau, cara itulah yang dilakukan Aldy dan pelayan serta security cafe. Aldy langsung berlari dan melihat Caca.


"Ca, are you, okay?" tanya Aldy menatap Caca yang masih setia menutup mata dan telinganya.


Perlahan, Caca membuka matanya dan menatap Aldy yang sudah ada di depannya saat ini. Ia langsung memeluk laki-laki itu sedangkan Aldy kaget dengan apa yang dilakukan Caca, dirinya tak membalas pelukan wanita itu.


"Makasih banyak, Om!" Caca berucap menghapus air matanya dan melepaskan pelukan.


"Maafin saya, ya!"


"Om gak salah, kok."


"Seharusnya saya temeni kamu tadi, pasti ini gak akan terjadi."


"Om kira Caca apa? Anak kecil, gitu? Mau ke toilet aja harus ditemenin," ujar Caca mengerucutkan bibirnya.


"Dih, dasar kamu, ya!" kesal Aldy menoyor kening Caca.


Caca tertawa melihat Aldy yang panik dan masih seperti orang ngos-ngosan akibat lari marathon, "Kenapa?" tanya Aldy yang kebingungan melihat Caca.


"Om lucu kalo panik!"


"Tapi, ini gak lucu. Yuk, kita keluar!" Aldy bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya kepada Caca, dengan senyuman wanita tersebut langsung menggapai ulurannya.


Security dan satpam sudah pergi lebih dulu setelah pintu terbuka, kerusakan pada pintu tidak ditanggung oleh Aldy karena ini juga kelalaian dari security.


"Pesanannya udah siap, Om?" tanya Caca mendongak melihat Aldy.


"Gosah dipikirkan pesanan!" jawab Aldy menatap jalan.


"Ih, Om mah. Caca gak papa juga," tawa Caca melihat ekspresi Aldy yang masih ketakutan.

__ADS_1


"Iya, tengah gak papa. Kalo pas nasibnya kenapa-kenapa, gimana? Saya gak bisa maafkan diri saya sendiri kalo kamu kenapa-kenapa," ujar Aldy menatap Caca dan membuat Caca juga dirinya berhenti berjalan.


Caca terdiam dan menatap wajah Aldy, 'Setakut itukah Om Aldy? Apakah Om Riki di sana juga lagi ketakutan dan cemas akan keadaan aku?' batin Caca dan menatap ke arah lantai cafe.


"Kamu kenapa, Ca?" tanya Aldy mengerutkan keningnya.


"Ha? Gak papa kok, Om." kata Caca melihat ke arah Aldy.


Mereka mengambil pesanan yang memang jadi tujuan awal mereka, setelah membeli apa yang dibutuhkan. Aldy dan Caca langsung kembali ke mobil dan pelayan sudah meminta maaf kepada Caca atas kelalaian mereka.


"Om, gak usah jadi belajarnya, ya. Caca mau pulang aja," ujar Caca menatap Aldy.


"Oh, yaudah. Biar saya antar, ya."


"Gak usah juga, Om. Caca naik angkot aja, makasih, ya!" Caca kembali keluar, ia tersenyum sekilas kepada Aldy sedangkan Aldy tak dapat menahan Caca.


Ia hanya melihat Caca berjalan ke arah halte dengan tetap berada di dalam mobil, setelah melihat Caca naik ke angkot Aldy pun menjalankan mobilnya.


Aldy mengikuti angkot dari belakang, bagaimana pun ia tetap cemas jika Caca pulang sendirian. Di tengah jalan, angkot berhenti dan masuk dua orang laki-laki ke dalamnya.


"Tolong!" teriak seseorang dari dalam angkot.


Aldy langsung berlari dan melihat ternyata benar dugaannya, satu laki-laki tadi ingin melukai Caca dan supir di ancam dengan sebuah pi sau.


"Woy!" teriak Aldy yang membuat kedua laki-laki tadi menatap ke arah Aldy. Satu laki-laki yang baru saja selesai mengikat tangan Caca.


"Om ... tolong, Caca!" Tangis Caca sudah pecah akibat laki-laki itu, angkot hanya berisikan Caca seorang. Mungkin supir baru saja akan mulai menarik penumpang.


Preman tersebut turun karena merasa Caca tak akan bisa apa-apa lagi, sedangkan yang satu lagi juga mencoba mengikat supir yang umurnya kisaran 55 tahun. Supir pun tak kalah panik dan ketakutan dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia tak bisa melakukan apa-apa dengan keadaan diri yang tak lagi muda.


Kini, kedua preman itu turun dan menatap ke arah Aldy. Perbandingan dua melawan satu orang, bahkan badan mereka satu orang saja suda dapat dua orang seperti Aldy.


Aldy mengedarkan pandangannya sebentar, sangat sunyi. Apakah malah supir tersebut juga komplotan dengan mereka? Mengapa supir membawa Caca ke jalanan yang sunyi padahal setahu Aldy ada jalan yang ramai di lewati pengunjung.


Aldy menatap ada sebuah mobil tak jauh dari mereka, ia sipitkan matanya untuk melihat plat nomor di mobil tersebut yang membuat ia seketika tersenyum.


Caca tak mau banyak diam apalagi berpasrah dengan keadaan, ini bukan sinetron. Ia segera menghubungi polisi dengan tangan yang tetap terikat, beruntungnya preman tadi tak mengikat tangannya ke arah belakang melainkan ke depan.

__ADS_1


Ia mengambil handphone di saku gamisnya sebelah kanan, dengan sesekali menutupi handphone itu dengan hijabnya.


'Ya, Allah. Semoga gak ketauan,' batin Caca dan berpindah duduk ke lantai angkot.


"Halo, Pak. Tolong saya, Pak! Ada kasus penculikan di jalan Bunga Anggrek dekat cafe, Pak! Saya mohon segera ke sini, Pak!" ungkap Caca dengan suara yang bergetar dan berbisik.


"Apa ini bukan suatu laporan mainan?" tanya polisi yang mungkin takut jika hanya candaan semata.


"Tidak, Pak. Bapak tau, 'kan hukum apa yang akan didapatkan jika ini laporan bohongan."


"Baik, kami akan segera ke sana. Kamu berjaga-jaga sebentar."


Caca mematikan sambungan dan melihat sekilas ke arah supir dari kaca spion, ia menautkan alis ketika melihat supir memasang wajah yang seolah tak suka. Ia segera turun dari angkot.


"Heh! Mau ke mana lo?!" bentak salah satu preman dengan memegang tangan Caca kasar.


"Jauhkan tangan lo ke dia! Lo menyakiti tangan dia!" tekan Aldy yang melihat Caca menyembunyikan rasa sakit itu.


'Kenapa aku gak telpon Bunda dulu tadi, ya?' batin Caca bertanya. Ia menatap ke arah supir angkot yang tetap tenang padahal keadaannya sudah mencekam.


'Apa mungkin mereka komplotan?' sambungnya lagi sedangkan satu preman sudah berkelahi dengan Aldy.


Sedangkan Caca masih di pegang oleh preman yang satunya lagi, ia mencoba merogoh saku gamisnya lagi yang mana handphone tadi ia kembalikan.


Namun ternyata, aktivitasnya itu diketahui oleh preman yang menjaganya, "Lo, ngapain?" tanya preman dengan suara yang besar.


"E-enggak, ngapain-ngapain Om," kata Caca dengan ketakutan.


Preman langsung melihat ke arah tangan Caca yang ternyata suda memanggil Milda dan juga sudah tersambung.


"Bunda ... datang ke jalan Bunga Anggrek!" teriak Caca saat handphone-nya dirampas oleh preman.


"Heh!"


"Caca mau diculik, Bunda!" teriaknya lagi. Handphone tersebut langsung di hempaskan preman ke jalan hingga pecah menjadi beberapa bagian.


"Woy!" bentak Caca melihat handphone-nya itu yang sudah pecah dan tak bisa dibenarkan lagi akibat kerasnya preman menghempas.

__ADS_1


__ADS_2