
Mereka telah sampai di halaman rumah Caca, ia melepaskan helm dan memberikannya pada Riki dan disambut baik dengan Riki uluran itu.
"Makan habis itu tidur siang," ujar Riki menatap Caca.
"Iya, Om."
"Yaudah, saya pergi dulu."
"Hati-hati Om."
Caca melihat kepergian Riki, laki-laki tersebut bukan kembali ke rumah namun mungkin ke tempat kerja karena ini baru saja jam dua sore.
Rumah Caca kembali kosong, Milda sudah buka toko kembali setelah kemarin cuti akibat merawat dirinya. Caca membuka tas dan langsung berganti seragam, menuju dapur dan memakan lauk-pauk yang ada.
Setelah selesai, ia sengaja mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai mencuci meskipun menggunakan mesin cuci, menyapu, mengepel, dan tak lupa mencuci piring.
Segala kegiatan selesai ia lakukan tepat pukul 15:30 WIB, ia langsung membaringkan tubuh yang letih dan mencari handphone miliknya. Melihat aplikasi hijau yang tak ada notif, dan beralih ke aplikasi biru berlogo huruf "F"
"Gak ada postingan yang oke, ih!" ujar Caca sambil menarik-ulur beranda media sosialnya dengan bantal yang sudah ada di bawah kepalanya.
"Stalking akun Om, ah!" Mereka memang tak berteman, Riki yang tak meminta pertemanan dengannya dan Caca tak pernah bertanya soal mengapa laki-laki itu tak meminta pertemanan padanya.
Beruntungnya, media sosial laki-laki tersebut bersifat publik. Jadi, dengan mudah Caca dapat melihat segala tulisan pemilik akun tersebut.
GLIMPSE OF HER
(Riki)
Iya ... dia memang sedikit kekanakan, kadang manjanya tak tahu waktu, sangat suka jajanan kaki lima. Namun, begitulah dia seorang wanita sederhana, dengan tutur kata yang tak terlalu anggun seperti putri kerajaan. Tak ada sepatu kaca, atau rambut yang panjang hingga mencapai puncak menara, hanya ada alas kaki biasa, dan balutan hijab sederhana menutup dada.
Hal-hal sederhana itu pula yang membuatku mencintainya, dan beberapa bagian dalam dirinya; tubuh yang tak terlalu tinggi, pipi chubby, kantung mata yang lucu, dan senyum yang terkadang manis tak jarang pula pahit seperti kopi tanpa gula. Sikap jahilnya yang menyebalkan, kadangkala menjadi sesuatu yang kurindukan, meski sebenarnya aku tak pernah menyukai itu.
Dia sedikit pencemburu, walau tak diungkapkan tetapi sindirannya selalu berhasil memberikan sebuah p u k u l a n. Memang tak terasa sakit, tetapi cukup untuk membuat hati merasa sedikit terc u b i t. Sebagaimana kalimat yang sering dikatakan orang-orang, "jodoh adalah cerminan diri." Demikian aku melihat diriku ada dalam dirinya; suka begadang, meminum kopi (tapi dia jarang-jarang), sedikit susah disuruh makan, mageran.
__ADS_1
Untuk saat ini, mungkin hanya ini yang dapat kutuliskan. Mengingat aku sedikit kesulitan mendefinisikan bagaimana sikapnya yang kadang tak jelas; moody-an, ngambekan, emosian, cemburuan. Yaaahh ... berhubung sikap perempuan kebanyakan seperti itu, jadi yang perlu aku lakukan hanyalah memaklumi. Meski kadang tersirat perasaan pengen tak hiiih tapi, ya sudahlah lagi pula aku mencintainya.
________________________
Caca menutup mulutnya dan tersenyum kala membaca setiap bait puisi yang ditulis Riki untuk dan tentang dirinya, senyuman tak hilang dari bibirnya yang tak terlalu tebal namun tak tipis tersebut.
Bahkan, tanpa sengaja Caca menyukai postingan tersebut. Dengan cepat, ia menghilangkan tanda tersebut agar Riki tak mengetahui bahwa akunnya sering di stalking oleh Caca.
"Ihh ... bego-bego lu Caca, kenapa di like segala?" Caca mematikan handphone dan meletakkannya di samping kasurnya, ia menutup wajahnya menggunakan bantal miliknya satu lagi.
"Aaa ... untung aja si Om gak ada di sini, kalo ada udah malu aku karena dia liat pipiku merona."
"Aa ... sweet banget sih tuh Om-om!" teriak Caca namun tak terlalu keras karena ia takut malah tetangga mengira dirinya terjadi apa-apa.
Tiba-tiba, suara dering handphone terdengar. Caca yang masih ingin salting pun harus menjedanya terlebih dahulu.
"Dih, ngapain nih Om malah nelpon?" tanya Caca kala melihat Riki yang menelpon dirinya.
"Ada apa Om?" tanya Caca setelah menjawab panggilan.
Caca terdiam, ia memukul keningnya beberapa kali akibat jarinya yang tak bisa diajak kompromi. Dan mungkin, Riki melihat like dari Caca itu.
"Dih, apaan setiap hari. Orang tadi cuma gabut, kok," elak Caca.
"Oh, jadi stalking akun saya cuma jadi bahan gabut kamu doang? Kok tiap hari gabutnya? Itu gabut atau suatu hal yang harus?" Suara tawa Riki terdengar dari sebrang, Caca hanya tersenyum karena merasa tertangkap basah akan kebiasaan yang tak bermanfaat itu.
"Kamu mau bohong segala sama saya, kamu gak punya bakat Cil!" sambung Riki terus menggoda Caca.
"Udah, ih! Mau ngomong apa? Panting atau enggak, Caca punya banyak kerjaan nih Om," ujar Caca mengalihkan pembicaraan.
"Ciee ... pasti lagi salting, nih."
"Ih, paan sih! Gadak yang salting!" ketus Caca mencoba menahan diri dari godaan Riki.
__ADS_1
"Iya deh iya, eh besok 'kan libur. Kamu bawa beberapa buku atau mata pelajaran yang susah kamu pahami, biar kita belajar."
"Bawa ke mana Om?"
"Nanti saya sherlock tempatnya."
"Lah, gak pergi sama Om?"
"Enggak, saya pergi duluan karena ada urusan. Kamu bisa datang sendiri 'kan?"
"Bisa kok Om. Aman!"
"Yaudah kalau gitu, saya mau sambung kerja lagi."
"Iya, Om."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sambungan diakhiri, Caca menatap langit-langit kamarnya.
"Materi MTK bikin pusing, Om-om tetangga bikin salting! Aaa ...," teriak Caca dengan menghentakkan kakinya di kasur juga senyum yang tak luntur.
"Gimana keadaan, lo?" tanya Riki yang menjenguk Riski di ruangannya.
Riski dipindahkan ke kamar pribadi, akibat luka yang cukup parah dirinya tak bisa langsung pulang.
Riski hanya diam dan memalingkan wajahnya dari Riki, tiba-tiba pintu terbuka dan membuat kedua laki-laki yang ada di ruangan tersebut melihat ke arah pintu itu.
Terlihat seorang wanita yang terengeh-engeh seperti berlari menuju ruangan ini, dengan rambut sebahunya dan juga sepatu serta tas selempang. Ia sedikit menampilkan wajah kaget ketika menatap wajah Riki.
Riki tersenyum miring ke arah wanita yang masih di depan pintu, "Masuk, Amel!" seru Riki dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
Amel berjalan perlahan dan melepaskan gagang pintu, ia menunduk ke arah tempat tidur Riski. Riki menatap laki-laki yang terbaring kini di depannya. Ia sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Riski.
__ADS_1
"Liat wanita itu! Gue gak tau mau nyebutnya wanita bego atau wanita tulus, lo udah sakiti dia dengan sebegitu parahnya. Tapi, bisa-bisanya dia bahkan rela berlari demi bertemu laki-laki yang kayak lu!" ujar Riki melirik ke arah Amel.
"Saran gue, jaga dia! Wanita yang seperti ini sudah semakin langka dan jika yang begini udah gak ada, dipastikan lu gak akan pernah dapat penggantinya!" sambung Riki dan menjauhkan tubuhnya dari Riski. Ia berjalan ke luar ruangan dan membiarkan Amel dan Riski di ruangan, niat laki-laki tersebut memang ingin melihat keadaan Riski saja awalnya.