
Mereka telah sampai, Riki langsung memarkirkan sepeda motornya. Mereka masuk ke dalam rumah sakit secara bersamaan, tak tahu di mana letak ruang IGD.
"Mbak, mau nanya dong!" ujar Caca yang memberhentikan salah satu perawat yang tengah lalu-lalang.
"Iya, ada apa?" tanya perawat melihat ke arah Caca.
"Kalau ruang IGD di mana, ya? Buat ini, ngobati wajah Om saya," ucap Caca dengan wajah yang masih panik.
"Oh, mari ikuti saya." Perawat jalan lebih dulu dan langsung diikuti oleh Riki dan Caca di belakangannya. Ketika sudah sampai di ruangan Riki langsung disuruh untuk masuk, namun ketika Caca ingin masuk juga perawat langsung berkata, "Adek tunggu di luar saja," ujarnya dan menutup pintu ruangan.
Mau tak mau Caca harus menunggu di bangku tunggu di depan ruang, dirinya menatap ke lantai rumah sakit yang berwarna putih tersebut. Kegelisahan tentu saja masih menghantui dirinya bahkan ketika Riki sudah berada di dalam dan mungkin sudah diobati.
"Caca?" panggil seseorang yang membuat Caca mendongak untuk melihat orang tersebut.
Caca berdiri dan melihat penampilan orang yang berada di depannya saat ini, dengan menggunakan kemeja dan jas berwarna putih dirinya tampak gagah.
"Om Aldy?" tanya Caca menunjuk ke arah Aldy. Aldy hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Caca.
"Om dokter?"
"Iya, Ca.
"Dokter apa?"
"Spesialis anak. Sebenarnya jadwal saya sudah selesai buat bekerja, cuma karena ada satu pasien anak lagi yang sibuk dan gak bisa datang pas sore. Maka, mau gak mau saya harus mengikuti jadwal bisanya dia," ungkap Aldy.
"Ohh, gitu."
"Kamu sama siapa?" tanya Aldy melihat ke arah dalam ruang IGD melalui kaca yang ada.
"Oh, itu Om. Sedang bawakan Om saya."
"Kenapa?"
"Hehe, habis berantem," ujar Caca sambil memperlihatkan deretan gigi rapi dan bersihnya.
__ADS_1
Aldy melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya sebelah kiri, "Oh, iya. Kalau begitu saya duluan, ya," pamit Aldy dan diberikan anggukan oleh Caca.
Aldy pergi dan Caca menatap punggung laki-laki tersebut yang telah menjauh, dirinya kembali duduk dan menunggu panggilan untuknya masuk menemui Riki. Setelah menunggu sepuluh menit lamanya dan ditambah dengan waktu dirinya berbicara dengan Aldy, akhirnya pintu terbuka dan menampilkan perawat yang berdiri di ambang pintu ruangan.
"Adek, keluarganya Riki?" tanya perawat menatap Caca.
Caca langsung berdiri dan memakai tasnya, "Iya, Mbak," kata Caca dengan wajah cemas.
"Masuk, yuk!" ajak perawat dan masuk lebih dulu.
Caca langsung mengikuti perawat dan melihat Riki yang sudah duduk di bangku dan menghadap dokter yang mungkin tadi merawat dirinya. Dokter tersebut tengah menulis yang sepertinya obat-obatan yang harus ditebus oleh Riki.
Caca duduk dan dokter langsung melihat ke arah dirinya memberikan kertas kepada Riki, "Pak Riki tidak kenapa-kenapa, Dek," ujar dokter memberi tahu keadaan Riki.
"Udah dokter ronsen emangnya?" tanya Caca dengan wajah serius.
"Tidak. Namun, sudah saya periksa. Dia hanya luka luar saja."
"Dih, dokter sok tau. Bisa aja periksa dokter salah, ronsen aja atuh dok!" debat Caca yang membuat mata tertuju padanya.
"Tapi, dokter. Gak ada salahnya dong kalo di ronsen, namanya dokter juga manusia bisa aja buat khilaf," omel Caca yang tak mau kalah.
Riki yang melihat wajah dokter sudah emosi tersebut langsung bangkit dan menarik baju Caca, "Maaf, ya, dok. Saya permisi dan terima kasih," pamit Riki dengan tangan memegang kertas dari dokter.
Caca bersedekap dada dan melirik sekilas ke arah dokter tersebut, hingga akhirnya ikut keluar bersama Riki, "Kamu gak boleh begitu," papar Riki pada Caca yang sepertinya masih kesal dengan dokter tersebut.
"Lagian, dokternya sotoy batt jadi orang!" geram Caca.
"Iya-iya, kita pulang ya!"
Caca mengangguk dan sesekali menghentakkan kakinya karena masih kesal, mereka terlebih dulu menebus obat. Riki mendapatkan beberapa pil dan salah satunya pil pereda nyeri. Bisa jadi sakit di wajahnya itu menimbulkan nyeri sewaktu-waktu, dokter hanya berjaga-jaga untuk hal tersebut terjadi.
Setelah selesai, mereka berjalan ke arah motor yang sudah terparkirkan tadi. Riki langsung menaiki motornya, "Om, bentar!" ujar Caca ketika Riki sudah ingin memakai helm.
Dirinya menjauhkan helm tersebut kembali dari kepalanya, "Ada apa?" tanya Riki yang merasa keheranan.
__ADS_1
Caca menatap setiap inci pada wajah yang sebelumnya baik-baik saja, namun sekarang penuh dengan lebam. Memang mungkin ini bukan kali pertama, tetapi ini adalah kali pertama Caca melihat sendiri. Ada perasaan sakit ketika menatap wajah laki-laki yang sekarang berada di depannya.
"Udah, gak papa kok," ucap Riki meyakinkan Caca.
"Naik!" sambung Riki. Caca hanya mengangguk lemah dan langsung naik ke jok belakang.
Di perjalanan menuju rumah, "Om? Kenapa Om bisa tau kalau saya dan Amel pergi?" tanya Caca yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Tidak perlu tahu. Kenapa kamu bisa pergi tanpa izin sama saya?" tanya Riki yang fokus dengan jalanan di malam hari.
"Kalau saya kasih tau, pasti Om gak akan kasih izin 'kan?"
"Ya, karena saya tau Cil. Hal ini akan terjadi!" tegas Riki.
"Iya, Om. Maaf, ya," bujuk Caca.
"Iya, gak papa. Jangan diulangi lagi! Kamu tau? Jika ada orang yang berani melukai kamu, bukan hanya Bunda kamu yang merasakan sakitnya. Tapi saya juga! Jadi, berhentilah membuat saya khawatir, Cil!" pinta Riki.
Caca yang merasa bersalah langsung menunduk, "Iya, Om. Gak akan lagi, kok."
"Janji?"
"Janji, Om!"
Caca sama sekali tidak menanyakan kabar dan sudah di mana Amel, dirinya benar-benar sudah malas untuk ikut atau kenal dengan Amel lagi. Pasalnya, dirinya tak paham apa yang terjadi sehingga Amel mau saja untuk menemui laki-laki tersebut.
Padahal, Amel selalu di siksa oleh Riski. Jika memang seperti itu gaya seseorang mencintai pasangannya, maka mungkin Caca adalah orang yang tak ingin dicintai. Terkadang, seseorang sampai lupa mana cinta dan mana yang hanya obsesi semata.
"Cil mau apa?" tanya Riki yang melihat mereka sudah dekat dengan kawasan rumah.
"Gak mau apa-apa, Om. Kita pulang aja," ucap Caca di dekat bahu Riki.
Riki pun melanjutkan perjalanan agar segera sampai, malam semakin larut sedangkan Caca besok harus sekolah juga. Dirinya tak mau sampai Caca nantinya kesiangan.
"Om, Caca turun di rumah Om aja. Mau ketemu Tante dulu dan jelasin kenapa wajah, Om," ujar Caca yang melihat mereka sudah sangat dekat dengan rumah.
__ADS_1
Bukannya mengikuti apa yang diucapkan Caca, Riki malah menurunkannya di halaman rumah Caca. Caca turun dan cemberut, "Udah dibilangin turun di rumah Om juga!" geram Caca.