Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Berbohong Hanya Cara Menenangkan Sementara


__ADS_3

Riki pulang setelah Milda datang kembali ke rumah, ia pun tak ingin jika berlama-lama di rumah Caca bagaimana pun wanita tersebut butuh istirahat. Caca memakan masakan yang diberikan oleh Mama Riki tadinya, meski tak banyak tapi setidaknya lumayan mengisi perutnya itu.


"Kamu kok bisa pingsan?" tanya Milda yang duduk di pinggir tempat tidur dan Caca duduk bersender.


"Karena Caca mandi hujan-hujanan Bunda," jawab Caca tersenyum.


Milda menautkan alisnya mendengar jawaban Caca, "Biasanya kamu gak sampe pingsan begini, kok," ujar Milda yang merasa ada sesuatu yang disembunyikan Caca darinya.


"Karena tubuh Caca kurang fitt kali, Bun. Mangkanya begini," kata Caca mencoba meyakinkan lagi. Kali ini, Milda diam dan menatap ke arah Caca. Dirinya bingung harus bertanya apalagi, bagaimana pun Caca memang orang yang cukup tertutup untuk hal pribadinya.


"You are real?" tanya Milda menaikkan alisnya. Caca segera mengangguk agar Milda tak curiga padanya, dengan senyuman yang tak lupa dirinya berikan agar Milda lebih tenang.


'Gak mungkin juga aku cerita apa yang terjadi pada Bunda, bisa-bisa Bunda malah jadi benci sama Om gara-gara aku,' batin Caca membuang pandangannya ke sembarang arah.


Dua ketukan dan salam terdengar dari pintu membuat Milda mengalihkan fokusnya untuk bertanya-tanya lebih dalam kepada Caca, "Bunda buka pintu dulu, ya," ujar Milda bangkit dan mengusap bahu Caca.


"Iya, Bun." Caca menghembuskan nafasnya pelan dan mengusap dada melihat Milda keluar, setidaknya ia sudah bebas dari deretan pertanyaan yang seharusnya dilayangkan kepadanya.


Setelah selesai makan, Caca langsung meletakkan di nakas. Ia sesekali memijit kening yang dirasa masih pusing.


"Assalamualaikum," salam seseorang masuk ke kamarnya. Caca menatap suara itu dan tersenyum sumbringah.


"Waalaikumsalam, Umi!" jawab Caca antusias melihat kedatangan wanita yang menggunakan abaya berwarna hitam itu.


Annisa langsung berhamburan memeluk Caca begitu pun dengan Caca, dirinya memeluk Annisa dengan erat kemudian menyalim wanita tersebut. Aldy hanya melihat di dekat kasur sedangkan Milda sudah izin sebelumnya untuk ke dapur terlebih dahulu membuatkan makanan dan minuman.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Annisa mengusap kepala Caca.


"Gak papa, Umi. Caca cuma kecapean kata dokter Al," canda Caca melirik ke Aldy yang tersenyum melihat kedekatan Caca dengan Annisa.


Annisa langsung menatap Aldy dan membuat wajah laki-laki tersebut datar, "Enggak, Umi. Al gak ada bilang kalo dia cuma kecapean, kok," timpal Aldy membela dirinya. Ia begitu takut melihat tatapan dari wanita yang membesarkan dirinya.

__ADS_1


"Hahaha ... enggak, Umi. Om Aldy gak ada ngomong gitu, kok. Ca cuma bercanda." Caca tertawa melihat wajah takut dari Aldy dan ekspresi menyeramkan dari Annisa. Annisa langsung menatap Caca dan menepuk pelan tangan Caca.


"Kamu ini! Umi udah khawatir malah dibecandain," omel Annisa.


"Caca, gak boleh gitu. Aldy nanti gak mau bantu kamu lagi, lho!" Milda tiba-tiba masuk dengan nampan yang berisi beberapa makanan dan minuman dan langsung berucap membela Aldy. Aldy yang merasa dibela langsung tersenyum, setidaknya ia tak terlalu terpojok oleh situasi saat ini.


"Iya, tuh Tante," balas Aldy bersedekap dan memajukan bibirnya.


"Iya, Bunda," ujar Caca mengaku salah.


"Silakan di minum Buk, Aldy," kata Milda yang duduk di bangku meja belajar milik Caca.


"Iya, makasih Tante."


"Makasih," jawab Annisa tersenyum dan mengambil gelas yang sudah memang ada di nampan.


"Kok Tante belum pernah kenal dan tau kalo Caca punya temen cowok lain, ya?" tanya Milda dan menatap Aldy yang tengah meneguk air minumnya.


Aldy yang mendengar penuturan itu langsung tersedak dan batuk beberapa kali, "Eh, hati-hati!" seru Milda yang merasa sedikit bersalah karena telah membuat Aldy tersedak karena pertanyaannya.


"Angkot?" tanya Milda menaikkan alisnya dan menatap Caca. Caca mencoba menetralkan wajahnya, karena merasa di tatap oleh Milda.


"Iya, Tante," jawab Aldy pelan dan mulai menatap Caca.


"Itu, naik angkot di waktu pulang atau pergi?"


Caca menutup matanya, ia memberikan beberapa kode agar Aldy bisa sedikit berbohong demi tak ada pertanyaan lainnya. Aldy hanya menatap ke arah Caca dan menaikkan alisnya, ia bingung dengan apa yang dilakukan Caca dan kode apa yang tengah dilakukannya itu. Akibat Aldy yang menatap Caca begitu lama, kedua wanita yang bisa dikatakan tak lagi muda tersebut langsung melihat ke arah Caca juga.


Sedangkan Caca yang merasa ketahuan dengan apa yang dilakukannya langsung cengengesan, "Kamu kenapa?" tanya Milda.


"Lagi olahraga wajah, Bun. Soalnya akhir-akhir ini Caca rasa wajah Caca sedikit keram," jawab Caca ngawur.

__ADS_1


Milda menggeleng mendengar jawaban yang sedikit tak masuk akal dari mulut anaknya, "Jadi, gimana Aldy?" tanya Milda kembali ke topik yang belum didapatkannya jawaban dari Aldy.


"Pas pulang Tante," jawab Aldy jujur.


"Soalnya waktu itu motor Om Riki lagi mogok Bun, jadi dia kasihan kalo Caca sampe kelaperan. Mangkanya deh dia suruh Caca naik angkot," timpal Caca dengan cepat.


Milda melihat ke arah Caca kembali mendengar putrinya membuka suara, ia terdiam beberapa saat mencerna jawaban dari anaknya, "Benar begitu Al?"


"Maaf, Tante. Aldy gak tau, soalnya belum terlalu kenal banget sama Caca," papar Aldy dan membuat Milda mengangguk merasa sudah terjawab semua pertanyaannya.


"Memangnya kenapa, Bun?" tanya Annisa yang heran melihat Milda bertanya sampai seperti itu.


"Enggak, Umi. Soalnya beberapa hari ini Caca dengan seseorang yang lumayan dekat sama dia rada berbeda," jawab Milda tersenyum.


Caca yang mendengar penuturan Milda langsung menunduk, Aldy yang melihat reaksi Caca lantas semakin bertanya-tanya, 'Apakah sebegitu dekatnya Caca sama laki-laki yang tadi?'


"Oh, iya Om," ucap Caca dan menatap Aldy. Aldy langsung segara membuang pandangannya karena takut ketahuan oleh Caca bahwa ia tengah memperhatikan wanita tersebut.


"Iya, ada apa?" tanya Aldy menetralkan dirinya.


"Bukunya sudah selesai Caca baca, nanti bawa aja pulang, ya," ucapnya.


Aldy tersenyum dan mengangguk, "iya."


Aldy dan Annisa pun memakan dan minum hidangan yang telah disediakan oleh Milda, sesekali mereka saling bertanya agar berkenalan lebih dalam dan tertawa bersama hingga tanpa dirasa hari sudah sore.


"Umi, sebentar, ya! Al mau kembalikan pakaian yang tadi Al pinjem," ujar Aldy bangkit dari yang tadinya duduk karena makan dan minum.


"Om pinjem punya siapa?" tanya Caca menatap Aldy.


"Punya tetangga di samping rumah kamu," jawab Aldy santai dan tersenyum sedangkan Caca langsung kaget mendengar jawaban laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Bentar, ya, Umi." Aldy langsung pergi dan keluar dari kamar, sedangkan Annisa dan Milda tersenyum melihat Aldy yang keluar. Kedua wanita itu melanjutkan percakapan mereka yang sempat terjeda, berbeda dengan Caca ia malah merasa ketakutan jika nanti Aldy dan Riki malah bertengkar karena dirinya.


'Ya, Allah. Gimana ini?' batin Caca gelisah dengan apa yang dilakukan Aldy.


__ADS_2