Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Cantik itu bonus


__ADS_3

"Enggak-enggak, ayo kasih pertanyaan lagi!" seru Caca yang juga ingin menguji ingatan dirinya.


"Kenapa kebanyakan penemu itu adalah laki-laki?" tanya Riki tersenyum karena merasa kali ini Caca tak akan bisa menjawab pertanyaannya.


"Karena laki-laki yang lebih sering jalan-jalan dibanding wanita."


"Salah!"


Caca menaikkan satu alisnya, "Terus?"


"Karena, pada dasarnya memang laki-laki penemu dan wanita pencipta. Seperti kalo ada masalah, yang ciptain biasanya siapa? Wanita! Yang nemu jalan keluarnya siapa? Laki-laki!" jelas Riki tersenyum ke arah Caca.


Wajah ditekuk, bibir dimajukan ketika mendengar penjelasan dari laki-laki di depannya kini, "Mana ada gitu!" tolak Caca pada jawaban Riki.


"Ada, dong! Hahaha, gak terima banget kalo kalah," ujar Riki tertawa melihat wanita di depannya yang kesal akan dirinya.


Ketika tengah tertawa, tepukan tangan terdengar dan membuat kedua sejoli ini melihat ke arah tepukan tangan tersebut. Caca dan Riki langsung melihat dan menatap seseorang yang sudah berdiri di samping meja mereka.


Riki hanya mengerutkan dahi merasa tak kenal dengan wanita di depannya, sedangkan Caca hanya membuang nafas pelan.


"Wah ... ternyata kamu termasuk cewek murahan juga, ya?" tanya wanita tersebut bersedekap dan tersenyum remeh.


Caca hanya diam dan mendengarkan ucapan wanita itu, "Kemarin sama Aldy, sekarang sama laki-laki yang lain. Kenapa? Nyari yang kaya?" sambungnya lagi tersenyum.


Caca berdiri dan membalas senyuman, "Iya, dong! Sama kayak Tante Fina, nyari yang kaya juga 'kan?" tanya Caca menaikkan alisnya.


Fina langsung menurunkan tangannya dan menatap Caca dengan emosi, "Apa kamu bilang?"


"Kenapa? Bukannya memang benar, ya? Ngapain harus marah, sih!"


"Denger, ya! Kamu masih kecil dan gak ada hak ikut campur dengan masalah saya dan Aldy."


"Loh, saya gak ada niatan buat ikut campur, kok. Sedikit pun gak ada!" Caca mendekatkan wajahnya pada Fina.


Fina melihat ke arah Riki yang hanya menyimak pembicaraan kedua wanita ini, "Hati-hati sama nih cewek! Karena dia mau sama yang kaya aja!" sindir Fina dan mengalihkan pandangannya ke arah Caca.


"Bagus dong! Artinya dia normal dan gak munafik, setidaknya dia gak akan meninggalkan saya secara tiba-tiba hanya karena dia tau di belakangan hari kalo saya miskin," tegas Riki dengan wajah datarnya.


Caca yang mendengar perkataan Riki tersenyum dibuat laki-laki tersebut, sangat jarang Riki mau ikut campur masalah perempuan seperti saat ini.


Fina yang merasa bahwa Riki tak marah apalagi mendukung dirinya memilih pergi meninggalkan kedua sejoli ini, Caca tersenyum dan duduk sambil melihat punggung Fina.


"Dia siapa?" tanya Riki menatap Caca.


Caca yang masih fokus melihat Fina langsung mengalihkan pandangannya ke arah Riki, "Dia mantan Om Aldy, waktu itu ketemu di salah satu tempat perbelanjaan sama dia dan mungkin dia ngiranya kalo Caca adalah pacar Om Aldy," jelas Caca.

__ADS_1


"Padahal memang benar?" tanya Riki cuek.


"Benar apanya?" tanya Caca kebingungan.


"Pacar Aldy."


"Enggak, kok."


"Tapi, mau?"


Caca melirik ke arah atas dan mengetuk-ngetuk keningnya menggunakan jari telunjuk, "Mau apa enggak, ya?" canda Caca seolah tengah berpikir.


Riki yang melihat Caca langsung memundurkan bangku dan berniat bangkit, Caca langsung dengan sigap menarik baju di pergelangan tangan Riki membuat ia tak jadi berdiri.


"Hahahaha, bercanda kali Om!" kata Caca tertawa melihat reaksi Riki.


Riki hanya diam dan melihat ke samping kanannya tanpa melirik ke Caca sedikit pun.


"Om, cemburu, ya?" tanya Caca dengan tawa yang tak berhenti.


"Gak."


"Kok gak liat Caca bilang enggaknya?"


Riki menatap ke arah Caca dengan wajah wanita tersebut yang sudah merah akibat tertawa, "Gak," jawab Riki cuek.


Riki tersenyum melihat tingkah laku wanita yang masih terbilang kanak-kanak tersebut, ia hanya melihat ke arah pengunjung karena bagaimana pun pasti akan malu juga jika banyak yang melihat.


"Cil, mau?" tanya Riki menawarkan mie ayam baksonya yang sudah datang. Sedangkan Caca tengah sibuk memberi saos ke mangkuk baksonya itu.


Caca hanya memberikan gelengan dan tetap fokus ke arah baksonya.


"Kenapa?"


"Gak suka, Om," jawab Caca dan menatap wajah Riki.


"Heleh, kamu mah sok accismus," ujar Riki mulai memberi kecap manis ke mangkuknya.


"Ha? Apa itu Om?" tanya Caca.


"Berpura-pura tidak suka, padahal sangat suka."


"Dih, kalo Ca mau mah tinggal ambil aja!" Caca melihat mangkuk Riki yang sudah diberi saos, kecap dan sambel tersebut.


Riki sudah bersiap mengaduk ketiga bumbu itu ke kuah mie ayamnya, "Om, stop!" henti Caca membuat tangan Riki terhenti dengan sendok yang sudah bersiap.

__ADS_1


"Kenapa?"


Caca mengambil mangkuk Riki, ia pisahkan mangkuk dari piring kecil yang biasanya jadi alas mangkuk tersebut. Diambil Caca saos dan cabai yang ada di atas bakso tersebut dan diletakkannya di piring.


"Kok diambil sih, Cil?" protes Riki.


Namun, Caca tak langsung menjawab. Setelah selesai dengan kegiatannya mangkuk tadi dikembalikan kepada pemiliknya, "Kebanyakan tuh saos dan sambelnya, gosah sok deh Om. Ntar mules tuh perut!" jelas Caca dan mulai memakan baksonya.


Riki hanya bisa pasrah dan mengaduk bumbu yang sudah berkurang, "Gini, nih! Kalo makan sama calon dokter, banyak batt larangan," gumam Riki dan menatap makanannya.


"Apa, Om?" tanya Caca dengan wajah datar.


Riki menatap Caca dengan segera, "Eh, enggak-enggak," jawab Riki dengan cengiran dan mulai menyantap makanannya.


Caca hanya tertawa dengan menutup mulut melihat Riki yang mengikuti keinginannya itu, padahal Riki bisa dibilang orang yang sangat keras kepala.


Setelah selesai mengisi perut, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Caca melihat-lihat dan memikirkan ke mana lagi mereka akan singgah.


"Om, fotoin Ca dong!" seru Caca tersenyum dan memberikan handphone kepada Riki.


Riki hanya menerima dengan rasa malas, "Ini kalo udah sesi foto, mau 100 foto juga pasti dibilang gadak yang bagus," cetus Riki yang sudah tak di dengar Caca lagi karena wanita tersebut sudah berada di tempat yang diinginkannya untuk berfoto.


Setelah selesai, Caca akhirnya melihat hasil yang diambil Riki. Dirinya tersenyum sambil mengeser-geserkan layar melihat foto yang ada.


"Gimana?" tanya Riki melihat Caca.


"Lumayan, Om. 5,5-lah nilainya," ujar Caca menatap Riki.


"Serah lu serah," jawab Riki malas.


Caca hanya fokus ke handphone tanpa menyadari mereka telah berada di lantai satu kembali, Riki hanya mengikuti ke mana arah wanita itu melangkah.


"Kita pulang?"


"Iya, Om. Capek, Caca," keluh Caca menyimpan handphone ke tasnya kembali.


"Yaudah."


Sesampainya di rumah, Caca langsung bersih-bersih dan masuk ke kamar. Ia membuka handphone dan melihat foto-foto tadi, menghapus yang jelek dan membiarkan yang dirasa bagus.


"Edit dulu ah, pakek lagu yang lagi trend saat ini!" seru Caca tertawa dan mulai mengedit fotonya di salah satu aplikasi.


Riki tengah duduk di kamarnya dan melihat-lihat pesan serta story di aplikasi hijaunya, melihat salah satu nama memasukkan story dirinya langsung melihat isinya.


Ia tercengang saat melihat isi story yang berupa video tersebut, "Cantik itu bonus, jadi simpanan Om-om itu harus!" Begitulah tulisan di foto orang tersebut dengan musik yang mengiringi.

__ADS_1


"Cil! Hapus ...!" teriak Riki dengan menekan tombol rekam.


Caca tertawa saat mengetahui bahwa Riki adalah orang pertama yang melihat postingannya itu, "Pasti ngamok, nih!" kata Caca tertawa dan berguling-guling di kasurnya.


__ADS_2