
Setelah selesai melaksanakan shalat, Caca duduk di ruang keluarga. Ia menghidupkan TV dan meletakkan buku di meja baru pergi ke dapur untuk mencari makanan.
Ketika dirinya akan kembali ke ruang keluarga, sudah ada Milda yang duduk di bangku dengan siaran TV yang diganti.
"Bunda kenapa kerjaannya buat kaget aja sih? Ini lagi, tiba-tiba udah di depan TV aja," omel Caca sembari berjalan dengan tangan membawa piring berisikan makan dan gelas minum.
Milda melihat ke arah Caca sambil menunjuk ke arah mulutnya, pertanda menyuruh Caca untuk diam karena film yang dia inginkan sudah main.
Caca ikut duduk di samping Milda sambil mengunyah makanannya, "Bun, besok Caca ke tempat Om Aldy, ya. Selama dia keluar dari rumah sakit, Caca belum ada jenguk dia lagi," kata Caca tetap menatap TV.
"Lah, kamu belum ada jenguk dia lagi?" tanya Milda melihat ke arah Caca.
Caca menatap ke arah Milda sambil bergeleng-geleng, "Kamu ini gimana, sih? Bukannya dilihat orang yang udah selamatin kamu juga," ujar Milda yang merasa bahwa Caca sungguh tak perhatian kepada Aldy yang sudah berkorban padanya.
"Ya, maaf Bun. Caca sibuk mikirin les dan juga ujian nanti juga."
"KTP kamu udah ada 'kan?"
"Udah, Bun."
"Jadi, mau nyambung kuliahnya?"
"Iya, Bun."
"Dan di tempat itu?"
Caca mengangguk sedangkan Milda menampilkan wajah sendunya terhadap keputusan anaknya, Caca merentangkan tangannya dan memeluk Milda, "Demi impian Caca, ya, Bun," ungkap Caca mendongak melihat Milda.
Milda membuang nafas pelan dan mengangguk, menampilkan senyum serta mengelus kepala anaknya, "Anak saya sudah gede ternyata," tutur Milda.
Caca sudah memberi tahu ke mana ia akan melanjutkan pendidikan, Milda beberapa kali menolak untuk menyetujui keinginan Caca tersebut karena mereka akan berjauhan nantinya.
Namun, Caca meminta dan terus membujuk Milda memberi izin dirinya agar dapat menempuh pendidikan di tempat yang dia impikan dan dambakan sejak dulu.
Dengan terpaksa, ia pun menyetujuinya demi anak semata wayangnya itu. Memang sulit apalagi harus berjauhan, tapi demi pendidikan dan impian? Mengapa tak dicoba dan diusahakan.
__ADS_1
Masalah kuliah di mana, Riki pun tak tau akan hal itu. Yang tahu hanya Milda seorang, Caca juga sudah mempersiapkan berkas dasar seperti; KTP, Vaksin ketiga dan di mana tempat tinggalnya nanti dan Milda menyuruh Caca untuk di asrama kampus tersebut saja.
Makanan telah habis, Caca membuka buku dan belajar. Les online di mulai besok sekitar jam tiga siang sepulang sekolah, uang les juga telah dibayar oleh Milda tadinya.
'Oh, iya. Aku 'kan mau les, jadi ke tempat Om Aldynya kapan?' batin Caca yang termenung sekejap melihat jadwalnya yang mulai padat.
"Kamu kenapa, Ca?" tanya Milda melihat Caca yang melamun.
"Ha? Ini, Bun. Caca 'kan mau ketemu Om Aldy, tapi besok Caca udah mulai les. Jadi, jam berapa ke tempat Om Aldynya? Masa, baru mulai udah bolos aja."
"Berapa jam lesnya?"
"Caca juga gak tau, Bun."
"Malam aja gimana?"
"Siapa yang anter, Caca Bun?"
"Nanti, Bunda temenin deh kamu."
"Gak papa, biar Bunda punya banyak waktu buat kamu sekarang. Tinggal beberapa bulan lagi juga, gak akan kerasa, kok."
"Bunda, jangan begitu dong," ucap Caca sedih mengingat bahwa dirinya yang akan segera jauh dari Milda.
Milda menghapus air mata di ujung matanya, "Gak-gak, Bunda bahagia dan bangga kok. Anak Bunda gak manja lagi dan gak bergantung lagi sama orang lain, Bunda juga bangga karena kamu mampu menutup kesalahan orang dan berkata seolah orang tersebut sangat baik di hadapan umum. Selalu seperti itu, ya, Nak. Menutupi aib seseorang yang kau kenali," ujar Milda yang membuat Caca terdiam.
Seorang Ibu terkadang tahu apa yang dirasakan anaknya, mereka diam bukan berarti tak perduli. Namun, menunggu anak tersebut yang langsung menceritakan masalahnya.
Bukan berarti, orang tua tersebut cuek atau tak perduli pada anaknya. Karena terkadang, orang tua berpikir bahwa untuk tak ikut campur terlalu dalam.
Sakit yang dirasakan anak, juga dirasakan oleh orang tua terkhususnya seorang Ibu yang mengandung selama 9 bulan di perutnya.
Ia tak mau bertanya apa maksud Milda berucap seperti itu, namun dirinya tahu bahwa Milda pasti tengah membahas Riki. Karena bagaimana pun, Rikilah yang dekat dengan Caca sedangkan Aldy hanya laki-laki yang ia temui tanpa sengaja saja.
Belajar telah selesai, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Milda mematikan TV sedangkan Caca mencek pintu apakah sudah terkunci rapat.
__ADS_1
Mereka masuk ke kamar masing-masing, Caca juga telah shalat isya. Ia menyusun buku tadi ke laci dan mencek mata pelajaran besok.
Semua telah selesai hari ini, Caca belum bermain handphone. Ia membuka handphone dan menghidupkan jaringan datanya.
Nama Aldy menjadi pencariannya kali ini, dirinya ingin memberi tahu pada Aldy lebih dulu bahwa ia akan ke rumah Aldy besok malam.
[Assalamualaikum, Om. Besok malem, Caca mau main ke sana ya. Jenguk Om Aldy, Om Aldy sibuk atau enggak besok? Kalo sibuk, ya, udah Caca mainnya ke rumah lain hari aja gak papa, kok] pesan dikirim oleh Caca dan ternyata langsung dilihat oleh Aldy.
[Chat dari nomor saya aja, Ca. Nih, 08××××××××]
[Oke, Om. Bentar, Ca save]
Caca menyalin nomor yang diberi Aldy dan segera beralih ke APK hijau berlogo telepon tersebut.
[Om, ini Caca] Chat Caca dengan menyimpan nomor Aldy dengan nama, 'Om Aldy'
[Oh, iya Ca. Besok malam saya gak ada kegiatan, kok. Kamu sama siapa ke sini?]
[Sendirian, Om. Udah izin sama Bunda, katanya besok dipesenin taksi atau gocar? Ca lupa]
[Hahaha, masih SMA udah pelupa kamu ini. Yaudah, besok saya jemput aja. Daripada kamu kenapa-kenapa lagi, saya rada trauma liat kamu jalan sendiri. Jangan diseringin, ya.]
[Yah, padahal gak papa juga Om kalo Caca sendiri.]
[Udah, gak usah. Sana tidur, udah malem ini. Besok saya jemput!]
[Oke, Om. Byee.]
Caca mematikan data tanpa menunggu balasan dari Aldy, ia meletakkan handphone ke nakas dan melihat asbes kamarnya dengan senyuman yang terukir.
'Istighfar Ca, jan sampe suka sama Om Aldy. Dia juga ogah sama bocil kayak lu,' batin Caca sambil menghentak-hentakkan kakinya ke kasur.
"Tapi, aku sama Om Aldy cocok kali ya? Dia 'kan spesialis anak, nah nanti aku jadi anaknya," ucap Caca pelan dengan tawa yang tak tinggal.
Entah mengapa dirinya menjadi orang yang suka berkhayal sebelum tidur, setelah merasa kantuk dengan hayalan ia pun memilih tidur untuk mewujudkan hayalannya di dunia mimpi.
__ADS_1