
Kurang lebih enam bulan sudah berlalu, ujian telah selesai digelar. Caca mendapat peringkat dua ujian UN-nya.
Berbagai macam hadiah diterimanya, bahkan semua orang datang untuk memberi selamat padanya termasuk Fina.
Kini, Caca tengah berada di cafe menunggu seseorang yang sudah dari jauh hari diajaknya untuk bertemu. Namun, baru bisa terjadi hari ini karena orang tersebut yang sibuk.
Caca meminum coffee yang telah dipesannya dan menatap pemandangan sekitar cafe ini. Ia kesini hanya seorang diri tanpa diketahui oleh siapa pun.
Orang yang di tunggu akhirnya sampai di hadapannya, Caca tersenyum dan menyuruh orang tersebut untuk duduk di kursi depan yang kosong.
"Ini, untuk kamu." Caca menyerahkan totebag berwarna cokelat ke orang tersebut dengan senyuman yang terukir.
Orang tersebut mengambil totebag dan melihat isinya, "Hijab? Buat apa?" tanyanya yang masih bingung dengan apa yang diberi Caca.
"Om Riki suka dengan wanita yang berhijab dan warna-warna itu, beberapa bulan yang lalu. Aku dan dia pernah ke mall dan sengaja beli hijab itu buat kamu," kata Caca menjelaskan maksudnya memberi hijab itu.
"Dan, uang dia langsung yang membeli hijab tersebut," sambung Caca. Sedangkan orang tersebut hanya terdiam mendengar penjelasan Caca dan mencoba mengerti apa maksudnya.
"Dipake, ya. Tapi jangan pernah memakai hijab hanya semata untuk manusia, tetapi pakailah semata-mata untuk Pencipta. Maafkan saya kalo pernah buat kesalahan sama Mbak Diva, saya gak ada niata untuk melukai atau merebut Om Riki dari Mbak."
"Sekarang, silahkan Mbak kejar yang ingin Mbak kejar tersebut. Kalian cocok, kok. Saya dukung," jelas Caca dengan nada lembut dan mata yang ditahan agar tak mengeluarkan bulir bening.
"Maksud kamu?" tanya Diva yang masih tak mengerti dengan semua ini.
"Iya, Mbak. Saya akan kuliah ke luar negri, jadi saya rasa Mbak akan leluasa untuk mendapatkan Om Riki. Saya dekat sama dia selama ini bukan karena ada hubungan apa-apa, dia hanya menganggap saya sebatas Adik. Gak lebih, jadi Mbak gak perlu khawatir soal perasaan dia ke saya," ungkap Caca yang sudah lebih dulu menanyakan soal hubungan mereka.
Caca tersenyum dan berdiri, sedangkan Diva menatap Caca yang sekarang sungguh pemikirannya sangat jauh dewasa.
"Saya permisi, Mbak." Caca melangkah pergi meninggalkan tote bag coklat tersebut kepada Diva.
Senyum tak luntur dari wajahnya berjalan menuruni tangga cafe, entah apa sebabnya. Hanya saja, dia merasa bahwa kepergian dirinya akan menjadi kebahagian bagi beberapa orang.
Caca diterima dalam fakultas kedokteran terbaik di dunia yaitu; University of Calivornia, Los Angeles. Amerika Serikat.
University itu bukan hanya memiliki jurusan kedokteran, namun; seni dan sastra, bisnis dan ekonomi, pendidikan, teknik, ilmu komputer dan teknologi, ilmu kesehatan dan kemanusiaan serta ilmu alam dan sosial.
Sebenarnya, Milda sudah melarang Caca untuk kuliah di sana. Dirinya tak mau terlalu bahkan sangat jauh dari anak semata wayangnya itu.
Namun, Caca sudah mantap dengan pilihannya. Tak ada yang tahu tentang keputusannya itu kecuali Milda.
Dirinya mengatakan ingin mengambil jurusan kedokteran agar bisa membantu orang banyak nantinya.
Besok, Caca akan pergi ke sana. Sendirian dan tanpa ditemani oleh Milda, Milda sudah menyuruh Caca untuk memberi tahu ke Riki lebih dulu.
Namun, Caca berkata bahwa mereka tak ada hubungan spesial. Lantas? Apakah harus Caca memberi tahu keputusannya itu.
Caca pulang menggunakan taksi, di sepanjang jalan ia langsung mengingat moment-moment bersama dengan Riki.
__ADS_1
'Aku, memang milik tuan Kulkas. Namun, hanya sebatas memilikinya sebagai seorang Abang. Bukan lebih dari itu,' batin Caca melihat jalanan dan menghapus jejak air matanya.
Entah mengapa, ketika ingin pergi waktu begitu sangat cepat. Caca harus berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi ke Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara.
Caca memberikan ongkos taksi, ia sudah sampai di depan rumah yang akan ditinggalkannya dalam mengeyam pendidikan nantinya.
"Ca, ngapain di tatap? Gak akan berubah itu," teriak Mama Riki yang mengangetkan Caca.
"Eh, Tante." Caca berjalan ke arah halaman rumah Riki dan menyalim tangan Mamanya, ia sudah lama tak bercanda gurau dengan wanita yang masih saja terlihat muda itu.
"Kamu gimana? Kuliahnya jadi, di mana sih? Tante tanya sama Riki dia juga gak tau, kamu main rahasia-rahasiaan, ya?"
"Hehe, iya Tante. Nanti, Om juga pasti tau kok."
"Tapi, kuliah 'kan?" tanya Mama Riki mengusap bahu Caca.
"Iya, Inn Syaa Allah Tante. Doain aja," jawab Caca tersenyum ramah.
"Bagus deh, biar makin pinter kamu."
"Eh, emangnya Caca gak pinter, ya, Tante?" tanya Caca dengan bibir yang dimajukan.
"Eh, hahaha. Bukan gitu, Ca. Biar makin pinter Tante bilang atuh, bukan berarti gak pinter," kata Mama Riki mengusap kepala Caca.
"Yaudah, Tante. Kalo gitu, Ca pamit pulang dulu ya. Mau mandi, udah gerah."
"Assalamualaikum, Tante. Daa," pamit Caca dengan berlari kecil.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Riki tersenyum dan menghidupkan selang untuk menyirami bunganya lagi.
***
Malam telah tiba, Caca diberi handphone oleh Milda yang baru karena nantinya handphone dari Riki akan dikembalikan oleh Caca.
Handphone yang baru hanya ada nomor Milda saja, Caca sudah menuliskan pesan kepada Aldy. Namun, ketika ingin pergi nanti baru ia akan mengirimkan pesan tersebut.
Sedangkan Riki? Caca sudah menuliskan surat kepada laki-laki itu yang nantinya akan diletakkan di dalam box handphone tersebut.
Caca merebahkan badannya, seketika semua memori kembali terekam. Bagaimana dirinya harus menahan cemburu, kecewa dan lainnya.
"Ca, ayok nanti kita telat!" seru Milda yang sudah di dalam mobil. Caca meletakkan box handphone dan berbagai macam di depan pintu rumah Riki.
Sesuai jam kemarin, bahwa jam 4 pagi ini dia akan berangkat ke bandara dan ditemani oleh Milda.
Milda pun akan tinggal beberapa bulan di rumah orang tuanya untuk terbiasa tanpa adanya Caca, sedangkan tokonya sudah ia titipkan dengan karyawan kepercayaannya.
Caca menatap rumah Riki terlebih dahulu baru melangkah pergi, menuju ke arah taksi yang sudah menunggu.
__ADS_1
'Banyak yang bilang aku bodoh karena masih mau denganmu, Om. Hanya saja, mereka tak tahu bahwa aku tengah membiarkan dirimu bahagia dengan yang lain. Aku pun beberapa kali sudah melihatmu berboncengan dengan Diva, juga bahkan chattingan mesra antara dirimu dan dirinya.'
'Benar kata orang, masa lalu lagi-lagi akan menjadi pemenang. Biarlah aku fokus pada pendidikan hingga pada akhirnya, cinta yang berkelas dan berkhuwalitas aku dapatkan,' batin Caca menatap jalanan dari dalam mobil dengan air mata yang sudah jadi ke pipi.
Aldy yang baru terbangun karena suara adzan berkumandang tak langsung melihat handphone, ia mandi dan melaksanakan shalat terlebih dahulu.
Setelah selesai, ia melihat handphone dan nomor Caca menjadi perhatiannya. Ia sempat heran kenapa foto profil wanita itu kosong.
[Teruntuk, Om Aldy yang baik hati!]
Makasih karena selama ini sudah baik banget sama Caca, pertemuan kita yang mengakibatkan masalah dan bahkan setelah berlangsungnya pertemanan masalah kerap datang.
Ca, gak tau harus mengetik apa. Hanya saja ... Ca bahagia kenal dengan Om, maaf tak pamit secara langsung karena Ca terlalu takut akan hal itu.
Terima kasih untuk segalanya, Om. Ca yakin dan percaya, bahwa Om bisa bahagia dengan wanita lain dan bisa move on dari masa lalumu Om.
Ca akan pergi ke Amerika Serikat untuk kuliah, dengan jurusan dan kampus rahasia xixixi. Biar surprise nantinya, see you Om. Baik-baik, ya.
Mata Aldy langsung berembun dan sebisa mungkin, ia hapus dengan tangannya membaca tulisan Caca tersebut.
'Ca ... aku sudah move on dari masa lalu sebabmu, dan aku juga jatuh cinta denganmu. Apakah aku harus move on darimu? Dan apa aku sudah bisa mencap dirimu sebagai masa laluku?' batin Aldy sambil menggeleng dan menghempaskan handphone ke kasurnya.
Sedangkan di lain tempat, ada seseorang yang sudah mengendarai kuda besi dengan kecepatan yang tinggi bahkan tanpa menggunakan helm.
Beruntungnya keadaan jalan masih sepi di jam enam pagi, kalau tidak maka bisa jadi kecelakaan pun terjadi.
Ia turun dari motor dengan cepat ketika sudah sampai di tempat tujuan, berlari bahkan sesekali menabrak orang-orang yang ada di sekitaran bandara.
"Mbak, mau nanya penerbangan menuju Amerika apa sudah pergi?"
"Sudah, Mas. Setengah jam yang lalu."
Riki menjauh dari meja informasi, kakinya seolah tak kuat menahan tubuhnya yang kini sudah ingin jatuh karena mendengar kenyataan.
Riki yang merupakan orang paling malu menangis, kini tak memperdulikan itu lagi. Ia berjalan ke arah sepeda motornya.
"Caca ...!" teriak Riki sambil meremas rambutnya dan terduduk di lantai bandara.
"Gue cinta sama lo, Ca! Kenapa lo gak bilang bahwa waktu itu lo nanya serius? Bukan becanda!"
"Gak ada yang bisa gantikan lo, Ca! Tuhan ... kenapa gak adil seperti ini!"
Berbagai macam teriakan dan isakan terdengar dari mulut Riki bahkan membuat pengunjung bandara lainnya iba.
Satpam pun datang untuk menenangkan Riki yang sepertinya sungguh sangat terpukul atas kepergian Caca.
'Bagaialah Om, aku bahagia sudah pernah menjadi milikmu meskipun hanya beberapa waktu. Sekarang, kau sudah berhak memiliki seseorang yang memang telah Allah takdirkan untukmu,' batin Caca dengan melihat langit dari jendela pesawat.
__ADS_1
'Pendidikan harus tetap yang diutamakan daripada cinta. Cinta, akan datang dengan sendirinya jika memang sudah waktunya. Learn to love yourself first before loving others,' sambung Caca tersenyum.