Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Peringatan Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Gamis berwarna hitam dengan hijab yang senada, menggunakan sepatu santai berwarna putih dan tas berwarna hitam. Caca mengunci pintu rumah, dirinya sudah rapi di jam delapan malam.


'Kasih tau Om apa enggak, ya?' batin Caca bertanya-tanya. Dirinya memang tak pernah pergi malam sendirian, jika pun ingin pergi pasti izin kepada Riki terlebih dahulu meskipun akhirnya pasti tetap akan ditemani oleh Riki.


"Ca!" jerit Amel yang sudah di dalam mobil dengan menyetir sendiri. Caca langsung melirik ke arah rumah Riki takut jika laki-laki itu mendengar suara Amel, Caca berlari mendekat sambil menutup mulutnya menggunakan jari pertanda bahwa Amel harus diam.


"Kenapa?" tanya Amel melihat sekitar.


"Diam! Nanti, Om denger aku gak pamit soalnya," ungkap Caca dengan wajah cemas.


"Ih, maaf ya!"


"Yakin cuma kita berdua, nih? Kenapa gak ngajak supir kamu?" tanya Caca yang sedikit khawatir jika hanya berdua.


"Kita cuma sebentar, kok. Kamu tenang aja, gak akan terjadi apa-apa," kata Amel menenangkan.


Caca berpikir terlebih dahulu, dirinya kalut dan sungguh gelisah sebenarnya tengah merasuki dirinya. Pasalnya, pacar Amel memang terkenal nekat dan sangat keras, dirinya bisa dengan gampang melayangkan tangannya atau memukul Amel.


"Ayo, Ca!" ajak Amel memegang tangan Caca. Caca akhirnya memilih untuk ikut dengan Amel, dirinya segera masuk ke bangku depan di samping Amel.


Di sepanjang perjalanan dirinya merasa tak tenang, bukan hanya merasa tak tenang karena tak mengabari Riki tetapi juga tak tenang dengan siapa yang akan dia temui malam ini.


Sekitar dua puluh lima menit, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang disetujui Amel dan mantan pacarnya, "Kamu tunggu di sini, ya!" perintah Amel dan melepaskan sabuk pengamannya.


Caca hanya mengangguk lemah, Amel keluar dari mobil. Caca melihat tempat sekitar, sedikit jauh dari kota dan bahkan sedikit gelap. Kenapa tidak di taman kota saja? Atau, di tempat yang lebih ramai lainnya.

__ADS_1


Tampak beberapa kali mantan pacar Amel menunjuk ke arah mobil dan Amel yang sepertinya tengah berdebat dengan mantannya, Caca tak mendengar pertengkaran mereka hanya mimik muka yang menjelaskan apa yang terjadi pada dua orang yang dulunya saling mencintai tersebut.


Hingga, layangan tangan dilihat Caca ke pipi Amel. Caca langsung menutup mulutnya melihat apa yang terjadi, beberapa saat Amel langsung memegang pipinya yang kesakitan akibat tamparan.


Caca keluar dari mobil, dirinya tak bisa jika sudah melihat seperti itu. Dirinya berlari dan langsung menuju ke arah Amel, "Apa maksud kamu nampar dia seperti itu?" tanya Caca dengan suara geram sambil memegang bahu Amel.


"Gak usah ikut campur lo!" bentak Riski—mantan pacar Amel tersebut.


"Udah, Amel! Lebih baik kita pulang aja! Gak ada gunanya emang buat nemuin sampah dan manusia yang tidak memiliki otak seperti dia!" murka Caca.


Di saat dirinya ingin membawa Amel kembali ke mobil, tangan Amel ditahan oleh Riski, "Kalo lo mau pulang! Maka pulang duluan! Gak usah ngajak-ngajak dia!" bentak Riski kembali pada Caca.


"Dia pergi sama gue dan harus pulang sama gue!" debat Caca yang tak mau kalah bahkan rasa takut yang tadinya timbul seketika hilang berganti menjadi kebencian dan emosi pada laki-laki yang ada di depannya ini.


Caca, Riki dan Amel langsung melihat ke orang yang berada di samping Caca itu, "Kalau berani, jangan sama cewek! Banci lo!" bentaknya dan membuang tangan Riski kasar.


Tanpa aba-aba, pukulan langsung di daratkan ke perut Riski dirinya yang tak sempat berjaga-jaga langsung terjatuh akibat pukulan itu, "Itu akibatnya, lo berani-beraninya bentak dia!" bentak orang tersebut menunjuk ke arah Caca.


"Om?" ucap Caca pelan saat melihat Riki datang begitu saja.


"Ayo, pulang!" ajak Riki kepada Amel dan Caca karena melihat Riski yang masih terduduk di tanah sambil memegang perutnya.


Saat Riki memutarkan badan dan sudah ingin melangkah, tangannya di tarik dan pukulan langsung di layangkan Riski padanya. Perkelahian pun tak bisa terelakkan malam ini, Amel hanya bisa menangis sedangkan Caca melihat sekitar untuk mencari kayu atau apa saja yang bisa menghentikan mereka.


Bukan karena Caca takut jika Riki yang akan kalah, hanya saja, "Stop, Om!" teriak Caca dan berlari ke tengah-tengah mereka saat melihat Riki ingin menambah bogeman padahal Riski yang sudah tergeletak tak berdaya.

__ADS_1


"Udah-udah!" sambung Caca dengan mata yang sudah membendung air saat melihat wajah Riki yang sudah merah dan ujung bibirnya mengeluarkan cairan merah.


Riki sedikit mengusap cairan tersebut dengan nafas yang memburu untuk menghajar laki-laki di hadapannya sekarang, "Gue peringatkan sekali lagi sama lo! Jangan pernah macem-macem sama Caca, berani aja lo bentak apalagi berniat melayangkan tangan lo ke dia. Maka, lihat aja akibatnya!" gertak Riki yang langsung berjalan meninggalkan Riski


Dirinya juga berhenti di hadapan Amel yang masih menunduk, "Dan buat lo! Jangan ikutkan seseorang dalam masalah lo! Berpikir yang jernih ketika lo mau menemui sampah itu! Ini peringatan pertama dan terakhir buat lo! Jangan pernah ajak Caca lagi ke mana pun dan masuk ke dalam masalah lo!" terang Riki dan berjalan ke arah motornya.


Caca berlari untuk ikut pulang bersama Riki, kalau sudah begitu maka ada baiknya Riki di temani karena jika sampai dirinya sendirian. Riki bisa ngebut-ngebutan di jalanan karena emosi yang belum puas dikeluarkannya kepada Riski tadi.


"Kamu lebih baik langsung pulang," ucap Caca sebelum akhirnya pergi mengambil tasnya terlebih dahulu dan naik ke jok belakang Riki.


Ketika sudah keluar dari tempat tersebut, Riki lebih memelankan laju motornya. Dirinya lupa membawa helm satu lagi, itu sebabnya dirinya tak ingin nantinya malah terjadi apa-apa dan Caca menjadi korban akibat emosi dirinya sendiri.


"Om, ke rumah sakit yuk!" ajak Caca dengan suara lemah.


"Gak perlu!" tolak Riki dingin.


"N-nanti, Mama marah sama Caca Om ...." Suara tangisan Caca akhirnya pecah, bukan hanya itu sebenarnya yang dia takutkan. Melainkan, dirinya merasa bersalah karena membuat Riki harus berkelahi malam ini hingga wajahnya separah itu.


Riki langsung menghentikan motor dan membuka helm, dirinya melihat Caca dan menghapus air mata wanita tersebut. Dengan mata yang menahan airnya dan hidung yang sudah memerah, "Sut ... jangan nangis, saya gak papa kok. Ini hanya luka kecil, jangan khawatir my baby," bujuk Riki mengusap kepala Caca dan menghapus air matanya.


"Ke rumah sakit, ya, Om," ajak Caca dengan mengangguk pertanda membujuk Riki agar mau.


Dua anggukan di dapatkan Caca bersamaan dengan senyuman, Caca langsung menghapus air matanya dan tersenyum meskipun hatinya merasa sakit saat melihat Riki yang juga mungkin tengah menahan sakit tersebut.


Riki kembali memakai helm dan menjalankan motornya ke arah rumah sakit terdekat untuk mengobati luka yang dirasanya tidak seberapa itu.

__ADS_1


__ADS_2