Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Takdir


__ADS_3

Setelah kepergian Fina, Caca dan Aldy kembali menyambung bacaan mereka, "Assalamualaikum," salam seseorang yang masuk ke ruangan dan membuat dua orang itu menatap secara bersamaan.


"Waalaikumsalam, Umi," jawab mereka serentak.


"Nih, Umi bawa ice cream buat Caca dan juga buahan untuk Al," ujar Annisa memberikan kantong plastik belanjaan kepada Caca dan langsung diambil dengan semangat olehnya.


Ia segera mencari ice cream dan memberikan plastik kepada Aldy, "Hati-hati, kali Ca," peringat Aldy melihat Caca yang sangat semangat memakan ice cremnya itu.


"Hehehe, iya, Om."


"Jadi, gimana?" tanya Annisa yang duduk di sofa.


Aldy dan Caca langsung melihat ke arah Annisa yang bertanya itu, "Apanya, Umi?" tanya Al membuka kulit salak.


"Masalah Fina."


"Udah aman, Umi," jawab Aldy menggigit salaknya.


"Kata dokter kamu besok pagi udah bisa pulang, jadi Caca besok pulang sekolah langsung ke rumah aja. Baju-bajunya masukkan ke mobil Umi aja biar dibawa ke rumah kamu," tutur Annisa menjelaskan.


"Gak usah, Umi. Nanti malam biar minta diantar sama Om Riki aja bentar, 'kan nanti malam Umi juga mau ke sini lagi 'kan?"


"Iya, yaudah kalau gitu emang mau kamu."


"Iya, Umi."


Di sisi lain, Fina menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Ia seolah ditampar keras oleh ucapan Caca yang padahal masih sekolah sedangkan dirinya bahkan sudah pernah berkeluarga.


"Tante, cinta akan datang sendirinya nanti. Ingat, jodoh seseorang itu sudah diatur oleh Allah. Jadi, mau sekeras apa pun Tante mengejar Om Al kalo bukan dia yang Allah takdirkan jadi jodoh Tante maka kalian gak akan bisa bersatu. Lebih baik, Tante fokus pada cinta Caca yang sebenarnya yaitu anak Tante." Nasihat dari Caca yang seolah berputar setiap saat di pikiran Fina dan membuat dirinya bungkam.


"Gue bego banget, sih!" teriak Fina dari dalam mobil dengan sesekali memukul stirnya.


"Lu lebih tua, Fina! Tapi kenapa lebih bego!" sambungnya lagi mengingat berapa banyak kesalahan yang ia lakukan pada Caca dan mungkin jika tak ada Aldy, Caca sudah tak ada lagi akibat ulahnya.


Fina menghapus air mata yang ada di pipi dan mencoba menenangkan dirinya, "Caca benar, lebih baik aku fokus pada cintaku yang sudah ada yaitu anakku," kata Fina tersenyum.


"Ca? Kamu mau saya ajarin lagi?" tanya Aldy melihat Caca yang bermain handphone barunya itu. Dirinya sudah berganti pakaian, Annisa pun telah pulang ke rumah.


"Mau, Om!" seru Caca dan langsung mematikan handphone mengambil buku pelajarannya.


"Udah dikasih tau kisi-kisi soal? Atau materi apa yang akan keluar jadi soalnya nanti?" tanya Aldy menatap Caca yang mengambil buku.

__ADS_1


"Belum, Om. Katanya bulan depan, sih. Sekalian akan ada kelas tambahan khusus untuk mengupas soal-soal yang 88% mungkin akan keluar saat ujian," ujar Caca berjalan ke arah Aldy.


"Kamu kesusahankah belajar?"


"Maksudnya, Om?" tanya Caca yang tak mengerti dengan maksud Aldy sembari duduk.


"Iya, harus mengurus masalah hati juga, masalah sekolah juga."


"Enggak dong, Om. Caca juga selama ini gak terlalu fokus pada masalah percintaan, Caca harus fokus pada sekolah. Toh seperti yang Caca bilang tadi sama Tante Fina. Kalo jodoh gak akan ke mana, jadi lebih baik fokus dulu ke pendidikan," kata Caca dengan tersenyum. Aldy langsung terdiam dan beberapa detik kemudian tersenyum juga mendengar Caca.


"Saya kagum sama kamu, Ca," ucap Aldy menatap Caca. Caca yang awalnya sedang melihat buku karena tengah mencari halaman langsung mendongak dan menautkan alisnya menatap Aldy.


"Kagum kenapa?" tanya Caca yang merasa aneh.


"Iya, kagum akan jalan pikiran kamu. Padahal kalau orang lain mungkin akan lebih fokus ke percintaannya apalagi mengingat bahwa orang yang dekat sama dia sekarang bukan orang biasa."


"Bukan orang biasa? Om Riki manusia biasa kali Om, yang kalo kena pisau akan keluar darah juga," canda Caca tertawa dan diikuti oleh Aldy.


"Kamu ini jawabannya absurd mulu, padahal saya lagi serius juga."


"Jangan serius, Om."


"Kenapa?"


"Apa sih, kamu?"


Caca tertawa melihat wajah kesal Aldy melihat tingkah laku dirinya, mereka memulai pelajaran seperti kemarin. Caca mulai fokus membaca satu bab atau satu materi dari bukunya.


Caca mengambil jurusan IPA di sekolahnya, entah mengapa ia bisa memilih jurusan itu padahal sewaktu SMP dulu dirinya sudah menyukai pelajaran IPS sedangkan IPA bahkan dirinya sangat jarang datang atau masuk ke kelas.


"Sudah siap?" tanya Aldy yang melihat jam di dinding.


"Siap apa, Om?" tanya Caca mendongak.


"Siap saya nikahin!" geram Aldy dengan wajah datar. Caca kembali tertawa melihat wajah laki-laki itu.


"Belum siap, Om. Cari yang lain aja deh, jangan saya yang di nikahin!" canda Caca tertawa ke arah Aldy.


"Serius, Ca. Ya ampun nih anak," ujar Aldy frustasi.


"Iya, Om iya. Kalem atuh!"

__ADS_1


"Oke, mulai, ya."


"Siip."


Buku diambil oleh Aldy setelah Caca membaca selama satu jam, saat Aldy ingin menjatuhkan pertanyaan. Tiba-tiba dering handphone milik Caca berbunyi, ia bangkit dan langsung mengambil handphone yang berada di meja sofa tak jauh dari tempat duduknya.


"Assalamualaikum, Om. Ada apa?" tanya Caca sambil melihat ke arah jam yang sudah mau jam lima sore.


"Waalaikumsalam, saya mau pulang Cil. Kamu mau saya bawakan apa ke sana?" tanya Riki yang mungkin masih ada di tempat kerja.


"Gak usah, Om. Nanti malam kita keluar aja, sekalian makan di luar dan bawa barang-barang. Soalnya besok pagi Om Aldy udah bisa pulang," jelas Caca pada orang yang ada di sebrang.


"Oh, bagus deh kalau begitu. Yaudah, saya mau otw ke rumah sakit, ya. Kamu benaran gak mau dibawain apa-apa?" tanya Riki memastikan.


"Enggak, Om. Kalau mau traktir Caca nanti malam aja, hahahaha."


"Baiklah Tuan Putri," ujar Riki.


"Yauda, assalamualaikum dan hati-hati Om."


"Waalaikumsalam, siap laksanakan Cil."


Panggilan pun diakhiri, Caca kembali duduk di bangku dengan keadaan Aldy yang masih membaca buku milik Caca. Ia membolak-balik halaman mungkin mencari pertanyaan yang akan susah dijawab oleh Caca.


"Om ada dendam sama, Caca?" tanya Caca dan langsung membuat Aldy mengalihkan pandangannya.


"Maksud kamu?"


"Iya, sampe gitu banget bacanya. Lagi cari pertanyaan yang susah buat Caca jawab, ya?"


"Enggak, lagi liat kayaknya ini gak akan masuk soal deh."


"Ha?"


"Iya, saya sempat searching soal tahun kemarin di ujiannya dan bab ini gak ada."


"Kan itu soal tahun kemarin, Om. Bukan tahun ini."


"Tapi biasanya gak akan jauh bedanya, Ca," ungkap Aldy melihat ke arah Caca.


"Jadi gimana dong?" tanya Caca yang langsung badmood akibat tahu bahwa yang dibacanya kemungkinan tak masuk dalam soal ujian nanti.

__ADS_1


Aldy memberikan bukunya kembali, "Ya, baca lagi!" ujar Aldy dan langsung diambil Caca kembali bukunya dengan malas.


__ADS_2