Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Aku Siap Membuatmu Bahagia


__ADS_3

Aldy membawa paper bag dan berjalan ke rumah Riki, ia mengetuk beberapa kali dan tak lupa mengucapkan salam sebagai adab dalam bertamu. Aldy melihat taman sekitar rumah Riki yang begitu rapi dengan warna-warni bunga yang bermacam-macam. Pintu terbuka, Aldy langsung menatap orang yang membuka pintu.


"Ini, baju lo. Makasih!" ujar Aldy memberikan paper bag kepada Riki yang menyandarkan tubuhnya ke dinding pintu dan memasukkan tanggannya ke saku celana.


"Lo yang nemui Caca?" tanya Riki dingin dan melirik sekilas wajah Aldy.


Aldy yang merasa ulurannya tak diambil langsung menurunkan, "Iya."


"Lo puas sekarang?"


Aldy yang tak mengerti dengan maksud Riki langsung menaikkan sebelas alisnya, "Maaf, ya. Puas kenapa?"


"Ya, semenjak kejadian lo sama Caca di angkot kita udah gak pernah baikan lagi!" bentak Riki yang sudah tak tertahankan ingin mengucapkan kata-kata yang selama ini dipendam.


"Lo paling lama sama dia, kalo emang lo orang yang paling bisa buat dia bahagia. Artinya, dia gak akan mudah berpaling," jawab Aldy santai.


"Jadi, maksud lo dia gak pernah bahagia gue buat?" Riki memegang kerah baju Aldy dan menatap wajah laki-laki tersebut lekat, dengan santai Aldy melepaskan tangan Riki dari kerah bajunya dan menatap kelat juga wajah Riki.


"Kalo lo gak bisa buat dia bahagia, gue bisa kok buat dia lebih bahagia dari yang sekarang," kata Aldy tersenyum dan menatap kedua mata Riki.


"Oh ... jadi lo mau bertanding sama gue?"


"Gak. Gue gak mau bertanding sama lo, karena Caca bukan ajang pertandingan. Hanya saja, gue ingetin sama lo. Kalo lo udah gak bisa buat dia bahagia, kasih tau gue biar gue yang menggantikan peran itu! Bukan malah lo sakiti dia secara fisik mau pun mental!" tegas Aldy dengan menyungingkan senyumnya, "nih, makasih!" Aldy meletakkan paper bag di bawah lantai dan segera pergi tanpa menunggu jawaban dari Riki.


Riki menatap punggung laki-laki yang membuat posisinya sudah tak aman lagi, dirinya sedikit berteriak dan memukul-mukul dinding rumah yang terbuat dari batu tersebut.


Bukankah terlalu egois jika kita menahan seseorang yang bahkan diri sudah tak mampu membuatnya bahagia lagi, lantas mengapa tak dilepaskan saja? Jangan menahan seseorang yang kau tak mampu memberikan kebahagian, karena banyak di luaran sana berniat membahagiakan dirinya. Jika kau tak mampu, maka lepaskanlah.


Aldy sudah sampai di kamar Caca, Annisa dan Milda masih asyik bercerita sedangkan Caca sibuk dengan benda pipihnya.


"Udah selesai, Al?" tanya Annisa melihat kehadiran Aldy. Caca dan Milda langsung menatap ke arah Aldy yang baru masuk.

__ADS_1


"Sudah, Umi," jawab Aldy tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu kita pulang."


"Emm ... Aldy boleh ngobrol sama Caca sebentar? Pintu gak akan dikunci dan Al juga tetap akan berjarak sama Caca, kok, Umi," pinta Aldy dan menatap Caca.


Annisa melihat ke arah Milda untuk menanyakan apakah Milda memberikan putrinya untuk berbicara dengan putranya, dua anggukan di berikan Milda dan membuat Milda serta Annisa bangkit dari tempat duduknya.


"Cepat, ya," ujar Annisa mengusap punggung Aldy sebelum mereka keluar dari kamar.


Aldy sedikit mendekat ke arah Caca, Caca meletakkan handphone-nya dan menatap ke selimut yang dipunya dan menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh Aldy.


"Ca ... aku gak tau apa yang terjadi antara kamu dengan Riki, maaf kalau aku dengan lancang masuk ke kehidupan kamu dan buat hubungan kamu dengan dia renggang," ujar Aldy memulai percakapan. Caca langsung menatap ke wajah laki-laki yang tertunduk tersebut.


"Tapi jujur, gak pernah ada terlintas sedikitpun di hatiku untuk menjadi penghancur hubungan di antara kalian," sambung Aldy yang merasa bahwa dirinya adalah biang dari permasalahan Caca dan Riki.


"Ini gak salah Om Aldy, kok. Emang mungkin sudah waktunya aja kami buat berjarak, toh dipertemukan belum tentu dipersatukan. Iya 'kan?" tanya Caca tersenyum. Aldy melirik sekilas wajah Caca mendengar jawaban wanita tersebut.


"Ca ... ini hanya sekedar saran Om. Terserah Ca mau ikutin atau enggak," ucap Aldy menggantung kalimatnya. Caca menatap laki-laki yang begitu baik di depannya kini.


"Jangan bertahan dengan seseorang yang membuat kamu tertekan apalagi sampai membuat kamu menjadi orang lain," sambung Aldy tersenyum. Caca membalas senyuman itu dan mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Kamu cepat sehat, assalamualaikum," salam Aldy dan keluar dari kamar Caca.


Caca tetap dengan senyumannya, "Waalaikumsalam," balas Caca yang tak di dengar lagi oleh Aldy.


Beberapa menit kemudian, Milda pun masuk ke kamar Caca dengan senyum menggoda. Dirinya duduk tepat di samping Caca, "Kenapa Bun?" tanya Caca keheranan melihat tingkah Milda.


"Itu siapa? Gebetan baru kamu? Tadi dia ngobrol apaan sama kamu? Mau lamar selesai sekolah?" tanya Milda yang bertubi-tubi. Caca yang mendengar deretan pertanyaan hanya bisa terdiam.


"Bun, Caca harus jawab yang mana?" tanya Caca kebingungan.

__ADS_1


"Semuanya, cepetan!" ujar Milda yang tak sabar.


"Huftt ... itu Om Aldy, bukan gebetan Caca, tadi dia cuma ngasih nasehat dan gak ada bahas lamar-lamaran!"


"Nasehat apa?"


"Ada, deh! Bunda mah kepoan orangnya."


"Dih, kasih tau dong!"


"Gak. Udah, Ca mau tidur Bun."


Caca langsung berbaring dan melepaskan hijab yang dari tadi terpasang di kepalanya, Milda menampilkan wajah kesalnya. Bisa-bisanya Caca malah mengalihkan pembicaraan dengan alasan ingin tidur padahal Milda masih ingin bertanya lebih jauh tentang Aldy.


Mau tak mau, Milda bangkit dan keluar dari kamar. Dirinya menutup pintu kamar Milda dan berjalan ke arah dapur, Caca kembali membuka matanya dan mengedarkan pandangannya.


"Hiks ... hiks, Caca masih sayang sama Om Riki tapi Caca gak suka sama sikap Om Riki. Caca sayang sama Om Riki tapi Caca gak suka sama jalan pikirannya," lirih Caca dengan air mata yang sudah mengalir dengan derasnya.


Lagi dan lagi, air mata ia keluarkan untuk laki-laki tersebut. Tanpa laki-laki tersebut tahu bahwa sebegitu besarnyalah sayang Caca kepadanya, namun terkadang tak pernah terlihat hanya karena Caca tak pernah mengungkapkan secara langsung.


'Ca ... aku harap kau membuka mata, bahwa ada seseorang yang siap membuatmu bahagia jika kau melepaskan dirinya,' batin seseorang yang tengah menyetir dan fokus ke jalanan.


"Kamu kenapa, Al? Kok dari tadi Umi perhatikan melamun aja setelah pulang dari rumah Caca," tanya Annisa yang melihat ke samping arah anaknya.


"Eh, gak papa Umi," kata Aldy tersadar bahwa kegiatannya tengah di perhatikan.


"Jangan melamun pas nyetir, itu bukan hanya membahayakan kamu tapi Umi dan pengendara lainnya," ujar Annisa menasehati.


"Iya, Umi."


Annisa hanya bergeleng dan menatap jalanan melalui kaca samping mobil, ia tak mungkin memaksa anaknya untuk bercerita jika dirinya tak mau bercerita. Lebih baik menunggu saja, menunggu dirinya bercerita langsung tanpa dipinta.

__ADS_1


__ADS_2