
"Gak papa, biar dia menjadi jalan Umi nantinya ke surga," ujar seseorang yang juga datang dengan tiba-tiba. Caca dan Aldy langsung menatap ke orang tersebut, seorang wanita yang masih terbilang muda menggunakan set gamis berwarna hitam.
Caca langsung menyalim tangan wanita tersebut sedangkan wanita itu memeluk Caca, "Kamu calon istri Al, ya?" tanya wanita tersebut memegang tangan Caca.
"Eh, enggak Umi. Nih, Caca aja masih pake seragam sekolah," ujar Caca memperlihatkan baju dan roknya. Annisa--umi Aldy langsung tertawa dibuat kepolosan Caca.
"Umi bercanda, Sayang," kata Annisa tersenyum dan diikuti oleh Caca.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Annisa melihat wajah Caca.
"Di perumahan, Umi."
"Oh ... kelas berapa?"
"Kelas dua belas, Umi."
"Sudah mau selesai ternyata."
"Iya, Umi. Alhamdulillah," jawab Caca sopan.
"Umi, Al bawa dia untuk liat-liat koleksi buku Al di perpus mini. Umi mau ikut?" tanya Aldy.
"Tidak usah, Umi mau siapkan makanan buat calon menantu Umi ini aja," canda Annisa yang membuat Caca terdiam.
Annisa langsung pergi entah ke mana namun yang pasti sepertinya wanita tersebut ke arah dapur, "Maafkan Umi saya, ya," ujar Aldy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Caca hanya menatap dan menampilkan deretan giginya, dirinya pun tak tahu apakah itu hanya candaan belaka atau bukan, "Yuk!" seru Aldy berjalan lebih dulu.
Caca langsung berjalan mengikuti Aldy yang sepertinya akan menunjukkan perpustakaan mini miliknya yang ada di rumah ini, Caca tak habis-habisnya melihat setiap sudut rumah yang memiliki ukiran serta tataan yang bagus.
Aldy membuka pintu yang seperti kamar dan membuat Caca menutup mulutnya karena rasa takjub atas apa yang dilihatnya sekarang, begitu banyak rak yang tersusun oleh buku yang hampir setiap rak penuh dibuat buku-buku.
__ADS_1
Caca langsung masuk dan pintu dibiarkan terbuka lebar oleh Aldy, dirinya tak ingin ada orang yang salah prasangka dengan mereka yang ada di perpus apalagi cuma berdua.
Dirinya berjalan-jalan melihat ribuan judul yang ada di rak, Caca melihat satu per satu, "Ih ... ya, ampun Om! Ini novel udah lama aku pengen!" seru Caca meloncat-loncat kegirangan ke arah Aldy yang merada di ambang pintu.
"Aku pinjem ini aja, ya!" sambungnya lagi.
"Iya, mau itu aja?" tanya Aldy tersenyum melihat tingkah Caca.
"Iya, ini aja dulu Om," katanya. Dirinya langsung berjalan keluar duluan sambil membaca cover belakang yang terletak blurb pada novel tersebut. Sedangkan Aldy menutup kembali pintu perpus mininya.
"Udah dapat novelnya?" tanya Annisa yang sudah ada di sofa.
Caca tersenyum, " Sudah Umi," ujar Caca menunjukkan novel yang akan berada di rumahnya beberapa hari.
"Makan dulu," kata Annisa mempersilakan Caca untuk memakan kue yang disediakan Annisa.
"Umi buat sendiri?" tanya Caca sambil mengunyah kue tersebut. Aldy yang duduk di hadapan mereka juga mengambil kue tersebut.
"Iya, coba-coba aja tadi."
"Enak?" tanya Annisa tersenyum ke arah Caca.
"The best, Umi!" serunya sambil tertawa dan memberikan jempol kepada Annisa. Annisa langsung tertawa melihat tingkah Caca.
Mereka bercerita-cerita dan saling berkenalan lebih dalam baik Annisa, Caca maupun Aldy. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Caca pun bersiap-siap untuk pulang dengan memasukkan buku di tasnya.
"Nih, kamu bawa untuk kamu," ucap Annisa menyerahkan rantang yang entah apa isinya kepada Caca yang disuruhnya untuk menunggu sesuatu.
"Ya, ampun Umi. Caca datang ke sini gak bawa apa-apa juga, malah pulang dibawakan oleh-oleh segala," kata Caca sambil mengambil rantang yang diberikan Annisa.
"Gak papa, jangan lupa di makan."
__ADS_1
"Pastinya, Umi. Caca pulang dulu, ya," pamit Caca menyalim tangan Annisa, "assalamualaikum." Caca keluar dan berjalan ke arah mobil yang sudah ada Aldy di dalamnya.
"Waalaikumsalam, hati-hati," jawab Annisa melambai pada Caca.
Di perjalanan, Caca hanya diam. Dirinya tersenyum dan melihat-lihat jalanan, entah karena terlalu bahagia tadinya hingga dirinya lelah atau memang tak ingin ada yang dia ucapkan lagi.
"Makasih, ya, Ca," ujar Aldy yang tetap fokus pada jalan dan kedua tangannya memegang setir.
"Buat apa Om?" tanya Caca menaikkan alisnya menatap wajah Aldy.
"Iya, makasih udah buat Umi sebahagia tadi. Aku belum pernah liat Umi sebahagia tadi, terakhir di saat Adik aku masih ada," kata Aldy melirik Caca sekilas.
Caca hanya tersenyum dan menatap ke bawah sambil menganggukkan kepalanya, "Sama-sama, Om."
Mereka telah sampai di halaman rumah Caca, Caca melihat ke arah rumah Riki terlebih dahulu. Ternyata tak ada sepeda motor milik laki-laki tersebut, jika ada entah apa yang akan dirinya jelaskan karena Riki sangat sulit percaya.
"Makasih, Om. Hati-hati, ya," ucap Caca sebelum keluar dari mobil.
Aldy mempencet klakson pertanda akan pergi kepada Caca, setelah melihat Aldy pergi menjauh Caca langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa rantang yang tak lupa pemberian dari Annisa.
Caca membuka pintu dan masuk ke rumah, mengunci kembali pintu dan berjalan ke dapur meletakkan rantang dengan baik. Berbagai macam makanan diberikan Annisa untuk Caca, dirinya hanya tersenyum melihat semua itu. Wanita yang sungguh baik dan tabah, itu yang dipikirkan Caca mengenai Annisa.
Setelah selesai, Caca berjalan ke arah kamar untuk membersihkan badan dan mungkin beberapa jam menidurkan tubuh yang sedikit lelah dengan aktivitas hari ini.
Ketika akan tidur siang, tiba-tiba dirinya kepikiran tentang Riki, "Om tadi liat aku apa enggak, ya? Kalo liat gimana? Dia bisa marah besar apalagi kalo tau aku pergi dengan orang yang sama ditemuinya saat di angkot," ucap Caca yang mulai tak tenang.
Caca terdiam, mencari cara dan menebak-nebak semuanya. Dirinya memilih mengambil handphone dan membuka aplikasi hijau berlogo handphone tersebut, berderetan pesan masuk salah satunya dari Amel.
Dirinya membaca pesan itu, namun tak menarik untuk dibalas oleh Caca. Dirinya membiarkan pesan tersebut, toh ia sudah tak ingin masuk lagi ke dalam masalah Amel dan sudah berjanji pada Riki.
Pesan paling bawah menjadi perhatian Caca dari beberapa pesan yang masuk, dengan keadaan deg-degan Caca memberanikan diri untuk membukanya, "Ya, Allah. Semoga isinya bukan yang aneh-aneh, serius Caca gak ada maksud apa-apa dengan Om Aldy. Om Aldy cuma ngasih minjem buku doang," gumam Caca ketakutan.
__ADS_1
Mata Caca membulat dan langsung menutup mulutnya saat dua pesan dari Riki yang mengirimkan foto mobil Aldy yang mengantarkannya ke rumah, ya ... Riki melihat hal tersebut.
Tak ada kata-kata, melainkan hanya itu saja. Caca secepat mungkin memakai hijab dan langsung lari ke rumah Riki untuk menjelaskan semuanya, 'Om aku harap kau mau mendengarkan penjelasanku,' batin Caca seraya berlari ke rumah Riki setelah menutup pintu rumahnya kembali.