
"Kamu mau jajan, gak Cil?" tawar Riki yang sudah akan hampir dekat dengan kawasan rumah Caca.
"Enggak, Om. Langsung pulang aja deh, Ca mau langsung nyari les yang bagusnya," kata Caca yang menolak tawaran Riki.
Riki mengantarkan Caca sampai ke depan halamannya, setelah mengambil helm yang tadinya dipakai oleh Caca. Riki langsung pergi meninggalkan halaman sedangkan Caca masuk ke rumah.
Ia segera membersihkan tubuh dan melaksanakan sholat, setelah selesai Caca ke dapur untuk melihat makanan yang bisa ia jadikan pengganjel perut.
Caca ke ruang keluarga dan menghidupkan TV agar tak terlalu sunyi rumahnya ini, setelah selesai. Caca langsung ke kamar untuk mengambil buku pelajaran juga handphone untuk mencari informasi les yang bagus
Jari-jarinya begitu lincah di atas layar benda pipih, hingga dirinya mendapatkan les online dari suatu aplikasi. Caca membaca komentar orang-orang yang mungkin juga sudah belajar di sana tentang aplikasi itu.
Saat dirinya ingin masuk ke aplikasi tertera harga bayaran les dan juga tingkat sekolahnya, Caca langsung terdiam dan keluar dari aplikasi.
"Nanya Bunda dulu, deh," ucap Caca memencet nomor Milda. Sekitar beberapa detik menunggu, telepon langsung terhubung.
"Ada apa, Ca?" tanya Milda yang langsung membuka obrolan.
"Bun, Ca mau ikut les online nih. Harga biaya bulanannya gak sampe 200 ribu, boleh gak Bun?"
"Kenapa gak yang di sekitar sini aja?"
"Nanti, gak ada yang antar-jemput Caca, Bun."
"Ohh, yaudah. Kamu masuk aja, nanti kalo bayarannya tinggal bilang ke Bunda berapa, ya."
"Oke, Bunda. Maaf ganggu, ya."
"Iya, gak papa."
Caca mematikan panggilan dan masuk lagi ke aplikasi, saat tengah fokus suara klakson membuat Caca menatap ke arah pintu yang tertutup itu.
"Siapa, ya?" tanya Caca dan berdiri melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu.
"Nih buat kamu, Cil," kata Riki yang sudah berada di depan pintu Caca tanpa membuka helm.
__ADS_1
Plastik uluran Riki langsung diambil Caca sambil menatap wajah laki-laki itu, "Buat apa Om?" tanya Caca melihat isi plastik.
"Biar kamu lebih fokus nyari les dan belajarnya," kata Riki yang Caca tahu pasti laki-laki tersebut tersenyum terlihat dari matanya yang sedikit menyipit.
"Makasih, ya, Om. Tapi, Caca udah dapat tempat les-nya, kok," ucap Caca.
"Di mana?"
"Di online aja, Om. Biar gampang tinggal duduk di rumah sambil belajar."
"Yaudah, semangat ya!"
"Iya, Om. Makasih," kata Caca tersenyum.
Riki melangkah ke arah motornya, tak biasanya ia merasa ada sesuatu yang tak enak akan terjadi. Saat akan naik ke jok motor, ia melihat Caca yang menampilkan senyum di ambang pintunya.
'Lo kenapa Riki? Gak akan ada apa-apa, jadi gak usah berlebihan,' batin Riki dan menghembuskan nafas pelan.
Ia menaiki kuda besinya dan pergi kembali ke tempat kerja karena belum waktunya pulang. Caca menutup pintu kembali dan membawa masuk plastik yang berisikan berbagai jajanan dari Riki tadi.
"Ihh, banyak banget," ucap Caca tersenyum melihat-lihat isi dari plastik tersebut.
Ia merapikan meja yang berserakan dan menyusun buku kembali ke kamar, Caca juga membaringkan tubuhnya di kasur dan melihat asbes yang berwarna putih itu.
"Bisa gak, ya? Mewujudkan impian? Tapi, nanti gimana sama Bunda, dan juga Om Riki?" tanya Caca membayangkan tentang apa yang akan terjadi beberapa bulan yang akan datang.
"Oh, iya! Aku juga belum buat KTP, lebih baik segera urus dari sekarang biar gak ribet nantinya."
Setiap ingin mewujudkan cita, memang terkadang harus mengubur impian yang lainnya. Kita tak bisa memaksakan keadaan harus bisa mengikuti semua impian kita tersebut.
Harus ada yang dikorbankan, termasuk; waktu, tenaga, cinta dan mungkin air mata agar terwujudnya suatu cita itu.
Satu bunyi notifikasi membuat Caca bangkit dan mengambil benda pipih pemberian Riki di atas nakas itu.
[Siap-siap, saya mau ajak kamu liat senja. Kita udah lama gak liat senja 'kan? Saya sudah di jalan menuju rumah kamu.]
__ADS_1
Pesan dari orang tersebut mampu membuat Caca yang tengah overthingkhing dengan masa depan langsung bangkit dan bersiap-siap.
"Yee ... liat sunset!" seru Caca bahagia dan langsung membuka lemari pakaian.
Tidak perlu waktu lama, ia sudah siap dengan baju santai namun tetap terlihat rapi dan elegant. Caca juga tak lupa mengunci pintu dan membawa kuncinya ke dalam tas selempang berwarna cream miliknya itu.
"Huh ... untung aja aku yang nunggu," ujar Caca duduk di bangku teras menunggu orang tersebut datang.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, cuaca bagus dan tanpa mendung sedikit pun. Hal tersebut mendukung bahwa mungkin akan ada sunset di sore hari ini. Caca pun sudah lebih dulu shalat tadi sebelum bersiap-siap untuk keluar.
Sepeda motor itu sudah berada di halaman, Caca berjalan ke arah orang tersebut dengan senyum yang merekah, "Om gak capek emangnya?" tanya Caca menatap ke arah orang yang memiliki motor itu.
"Gak papa, sesekali sebelum kamu harus berkutat dengan ujian," jelas Riki dengan melirik halaman rumahnya yang pintu rumah tersebut tertutup rapat.
"Om, gimana OOTD, Ca? Oke atau enggak?" tanya Caca berputar memperlihatkan penampilannya yang menggunakan rok plisket, sepatu putih, tunik dan juga hijab segiempat berukuran 130cm.
"Oke, kok," jawab Riki melihat dari atas hingga bawah penampilan Caca.
Caca langsung mengambil helm dan memakainya, ia berjalan ke jok belakang dan menaikinya dengan berpegang pundak Riki.
"Sudah?" tanya Riki yang ingin menghidupkan mesin motornya.
"Sudah!" seru Caca dengan sedikit teriak.
"Mau jajan apa?" tanya Riki di perjalanan menuju tempat yang nantinya bisa melihat senja dengan jelas.
"Di sana aja nanti, Om. Kan, biasanya ada jualan gitu," tutur Caca yang masih mengingat jika disekitaran tempat itu biasanya banyak para pedagang kaki lima.
"Kalo gak ada?" tanya Riki yang takut jika ternyata belum ada para pedagang.
"Gak mungkin kali, Om. Hari ini cerah bukan mendung pasti pedagang tau kalo banyak orang liat senja di jembatan."
"Iya juga, ya."
"Iya, dong!"
__ADS_1
Namun, bukan Riki namanya jika tak egois akan segala hal. Jika ditanya mengapa Caca begitu bodoh karena mau bertahan dengan Riki, alasannya karena, 'Bersamamu sakit, namun tak bersamamu jauh lebih sakit,' batin Caca menatap wajah Riki melalui kaca spion.
Terkadang, ada kalanya memang cinta membutakan kita. Ada seseorang yang sangat baik jika dengannya kita tak memiliki rasa apakah harus dipaksa?