Milik Tuan Kulkas

Milik Tuan Kulkas
Aku Yang Terlalu Bego?


__ADS_3

Setelah selesai bercengkrama dengan Egi, Caca dan Riki kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


Egi diberi beberapa lembar uang yang berwarna merah oleh Riki, juga makanan yang masih ada tadi diberi semua kepada Egi agar ada jajan untuknya malam nanti.


"Om, Ca mau ke tempat Om Aldy deh besok. Mau liat keadaan dia, Om mau ikut?" tanya Caca yang berada di atas sepeda motor.


"Gak, kamu aja," jawab Riki dingin.


Caca mengangguk dan tak mempermasalahkan tolakan dari Riki, "Om, mungkin kalo orang yang tau kisah kedekatan kita ini pada gemes atau maki Caca," ucap Caca dengan suara tawa.


"Kenapa maki kamu?"


"Iya, karena ngerasa Caca bego banget. Masih mau deket sama Om padahal Om udah kayak jahat banget sama Caca hehehe, wajar sih Om juga gak akan lakuin hal itu kalo Caca gak kayak gitu juga," jelas Caca yang membuat Riki hanya diam mendengarkan ungkapan hati yang mungkin selama ini dipendam oleh Caca.


"Tapi gak papa sih Om, Ca hanya bertahan karena rasa sabar Ca masih ada dan rasa sayang yang membuat Ca sampe bego ini masih ada. Kalo enggak, ya, Ca juga akan capek dan menjauh pada saatnya, kok," sambung Caca dengan tersenyum.


Motor yang melaju tiba-tiba di rem mendadak oleh Riki membuat Caca sedikit terperanjat olehnya, "Kamu ngomong apa, sih?" tanya Riki menatap Caca dengan badan yang ia putarkan.


Beruntungnya tidak ada pengendara lain di belakang, jika ada mungkin akan terjadi kecelakaan disebabkan oleh Riki yang merem mendadak sepeda motornya.


"Ya, iya. Om coba ingat, tentang kejadian kemarin aja. Ca udah hubungin Om pas Ca dikunci, namun Om bilang sibuk. Hingga akhirnya Ca mau di culik tapi beruntung banget-banget ada Om Aldy yang nyelamatin, kalo enggak? Wah ... Ca gak tau, detik ini Ca ada di atas tanah atau malah tanah yang sudah berada di atas Ca," pikir Caca dengan tersenyum.


"Terus, pas hari Ahad waktu itu. Om bilang mau ngajarin Ca, kalo emang Om gak niat dari awal buat ngajarin Ca mah bilang aja. Gak usah pake alasan segala macem dan akhirnya Ca dipermalukan di depan karyawan Om yang lainnya. Ca rasa, Ca bukan bego lagi deh. Tapi udah hampir gila karena perasaan yang Om bilang cuma sebatas adik dan kakak ini aja," sambung Caca dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya.


"Kamu kenapa, sih? Kenapa jadi ngungkit semuanya?" geram Riki dengan alis yang ditautkan.


Caca turun dari sepeda motor dan memberikan helm kepada Riki, "Kayaknya, Ca udah dapat hidayah Om hari ini. Doain supaya hidayah itu gak hilang hingga membuat Ca mudah kembali lagi ke Om," kata Caca dan menghentikan angkot yang kebetulan lewat.


Riki cuma diam dengan tangan memegang helm pemberian Caca tadi sambil melihat angkot yang semakin jauh darinya.


Di dalam angkot Caca menangis dengan mulut yang di bekap agar tak menimbulkan kebisingan, beruntungnya di dalam angkot juga lagi sepi jadi ia sedikit leluasa meskipun ada sopir.

__ADS_1


"Nih, Dek," tawar sopir memberikan beberapa tisue kepada Caca.


Caca langsung menatap tukang sopir dari kaca spion, "Makasih, Pak." Caca mengambil tisue tersebut dan menghapus air matanya. Ia membuka handphone dan berkaca melihat wajah dan matanya.


Tak mungkin ia pulang ke rumah dengan keadaan wajah dan mata yang sembab akibat air mata yang turun di hari yang sudah hampir malam ini.


"Bertengkar dengan pasangan itu hal yang biasa, Dek. Gak ada hubungan yang mulus kayak jalan tol, bahkan jalan tol aja kadang juga gak mulus. Ada belok-beloknya," tutur supir menasehati Caca.


Caca hanya tertawa dengan tangan yang masih memegang tisue, "Gadak yang punya hubungan Pak, tadi cuma sama temen doang itu mah," kata Caca mengucapkan fakta sebagaimana yang Riki ucapkan.


"Oh, kirain pacarnya tadi. Eh, kamu mau ke mana?" tanya sopir yang tak tahu Caca berhenti ke mana.


"Belok kanan baru lurus, ya, Pak," ucap Caca memberi tahu jalan ke arah rumahnya dengan menatap jalanan.


Supir menjalankan angkot sesuai yang diucapkan oleh Caca tadi, Caca meremas tisue yang sudah lembek akibat air matanya.


"Ini, makasih, ya Pak," kata Caca memberikan ongkos angkot.


"Gak papa, Pak. Saya biasanya naik ojek segitu, kok. Lagian, minyak 'kan juga lagi naik belum lagi bahan pokok jadi gak papa. Hitung-hitung membantu, Bapak juga," tutur Caca sopan dengan tersenyum ke arah sopir.


"Makasih banyak, ya, Dek."


"Iya, Pak. Sama-sama, saya duluan ya Pak," pamit Caca dan berjalan ke komplek rumahnya.


Tukang angkot tak menurunkan Caca sampai rumahnya, karena kawasan komplek mereka dilarang untuk mereka yang tidak dikenal masuk sembarangan oleh satpam yang menjaganya.


Caca berjalan di bawah bulan dan hari yang mulai menggelap, "Ya, ampun ini anak gadis. Jalan sendirian di malam hari pulak itu, ya ampun," ucap penjaga satpam melihat Caca yang berjalan masuk.


"Hehe, sesekali Pak," jawab Caca sembari cengengesan.


"Sesekali, ya. Jangan dibiasan, ga baik!" peringat satpam apalagi di zaman sekarang maraknya kasus pembun*han serta pemerk*saan kepada wanita. Membuat kita sebagai wanita harus benar-benar menjaga diri dan berhati-hati.

__ADS_1


Caca menunjukkan angka nol kepada satpam dengan tersenyum seolah berkata, 'ok' Ia langsung berjalan dengan cepat ke rumah karena ingin segera mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.


Ia memalingkan wajahnya ketika melewati rumah Riki dan berjalan lebih cepat, dirinya tak ingin tahu apakah Riki sudah pulang atau tidaknya atau bahkan Riki tengah melihatnya di teras. Entahlah, Caca tak mau tahu tentang Riki untuk saat ini.


Caca mencari kunci di tasnya dan langsung membuka pintu dengan sedikit terburu-buru, setelah terbuka ia menguncinya kembali dengan cepat.


"Heh, kamu kenapa?"


"Aaa!" teriak Caca sambil membalikkan badan ketika melihat orang di belakangnya dengan wajah yang sudah putih.


"Ih, kamu kenapa sih?" tanya Milda dengan memukul lengan Caca.


Caca mengusap lengan yang dipukul oleh Milda dan mengerucutkan bibirnya, "Ih, lagian Bunda sih! Kenapa masih jam segini udah pake masker segala!" ketus Caca.


"Kamu yang kenapa kayak dikejar setan aja, cepat-cepat banget jalannya."


"Ini udah Maghrib, Bun. Jadi, ya emang setan pada keliaran dong," jelas Caca tersenyum.


"Dari mana?"


"Apanya, Bun?" tanya Caca dengan wajah bingung.


"Kamu dari mana sampe jam segini baru pulang?"


"Oh, habis jalan-jalan tadi sama temen Bun," tutur Caca tersenyum memberi tahu dirinya dari mana dan siapa.


"Kenapa gak sama Riki?"


"Emangnya harus selalu sama dia? Kan, enggak atuh Bun. Udah, ya, Caca mau siap-siap shalat. Daa, Bun." Caca membuka sepatu dan meletakkannya di rak sepatu yang berada di dalam rumah di belakang pintu. Ia berjalan ke kamar dan dengan cepat menguncinya kembali.


Milda menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Caca yang tak biasa, dirinya menggaruk tengkuk yang tak gatal dan berjalan kembali ke kamar dengan menepuk-nepuk wajah agar maskernya menyerah ke wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2