
Setelah selesai dengan kewajibannya, Riki langsung mencari keberadaan Caca yang tak ditemukannya di motor, "Ke mana tuh orang?" tanya Riki sambil memakai sepatunya dan duduk di anak tangga Masjid.
Dirinya berdiri dan mengedarkan pandangan setelah selesai menggunakan sepatu, dirinya mencari Caca terlebih dahulu ke sekitar luar Masjid bisa saja wanita tersebut tengah beli jajan atau lainnya. Ketika tak menemukan tanda-tanda Caca di luar, dirinya masuk dan melihat ada orang yang bersandar di tiang bangunan Masjid yang berwarna kuning ke emasan tersebut.
Riki menatap wajah tenang orang yang tertidur akibat menunggunya, dirinya perhatikan setiap inci wajahnya hingga sampai ke kening yang sudah terlepas plester dan hanya menyisakan goresan. Mungkin, Caca sudah merasa luka akibat tragedi angkot tersebut sudah tak terlalu sakit sehingga sudah bisa dilepas.
"Maaf, ya. Aku lagi-lagi membuatmu terluka," ujar Riki dan berjongkok agar bisa menatap wajah wanita yang berkali-kali disakitinya dan berkali-kali wanita tersebut maafkan.
"Aku ... seharusnya memiliki sedikit malu untuk bertemu atau menatap wajamu lagi, namun itu semua hilang berganti dengan rasa sayang dan cintaku. Entahlah, aku pun tak tau apa ini. Apakah hanya sekedar keinginan atau apa, intinya aku menyayangimu, Cil," sambung Riki berbicara pada orang yang mungkin tengah menikmati mimpinya itu.
Melihat Caca yang sepertinya mulai tak nyaman dengan posisi tidur, pun nyamuk yang sudah mulai berdatangan dengan perasaan yang tak tega Riki mau tak mau membangunkan Caca agar tidurnya dilanjutkan di rumah saja.
"Cil!" panggil Riki. Caca masih diam dan tak menggubris, Riki terdiam dan mencari cara agar Caca bisa bangun dengan cepat. Senyuman terbit dari bibirnya seolah sudah mendapatkan ide yang cocok buat membangunkan Caca.
"Cil ... ada penjual harum manis!" teriak Riki tepat di telinga Caca, sontak Caca langsung membuka matanya dan berdiri, "Tunggu!" teriak Caca yang membuat orang yang berada di dalam Masjid seketika keluar.
Riki yang masih jongkok tertawa sedangkan orang yang melihat mereka tadi hanya menggelengkan kepalanya dan memilih masuk lagi, sedangkan Caca yang tadinya di tatap hanya terdiam dan melihat ke bawah di mana ada Riki yang masih setia dengan posisi dan kegiatannya yaitu tertawa melihat wajah Caca.
"Ih! Om ... mah!" geram Caca dan duduk mencoba mengumpulkan nyawanya dengan baik dan benar.
"Lagian kamu, tuh! Saya suruh 'kan jaga motor bukan malam tidur," kata Riki duduk di samping Caca.
"Kan, aku ngantuk," ujar Caca sambil menggaruk tangannya yang mungkin sudah di hisap nyamuk darahnya.
"Yaudah, pulang yuk! Banyak nyamuk," ajak Riki bangkit dan berjalan ke arah motor. Sedangkan Caca beberapa kali menguap dan menutup mulutnya.
"Gak mau cuci muka dulu?" tanya Riki yang melihat Caca sepertinya masih berada di alam mimpi.
__ADS_1
"Iya, deh. Tunggu, ya, Om," kata Caca mengikuti saran Riki.
"Iya," jawab Riki yang sudah duduk di bangku sepeda motor.
Caca berjalan ke arah toilet wanita yang berada di belakang Masjid, agar dirinya tidak ngantuk dan agar tak terjadi apa-apa nantinya di jalan. Memang sudah tak terlalu jauh jarak rumahnya dan Masjid, hanya saja tak ada yang tau apa yang terjadi di kemudian jam bahkan detik.
Setelah merasa wajahnya fresh, Caca berjalan dengan sedikit berlari ke arah Riki yang sepertinya tengah menelpon seseorang. Caca berdiri di depan Riki dan melihat laki-laki tersebut berbicara begitu tegasnya dengan orang yang berada di sebrangnya tersebut.
"Kenapa?" tanya Riki memasukkan handphone ke saku dan menatap wajah Caca.
"Masih sakit, Om?" Sebenarnya ada rasa bersalah di hati Caca karena sudah begitu keterlaluan hingga menampar Riki. Namun, dia juga tengah PMS dan emosi saat yang sama itu sebabnya dirinya tak terkendali hingga nekat melakukan hal yang menyakiti orang lain dan tangannya sendiri.
"Gak sesakit melihat lukamu diobati oleh dia."
Caca langsung mendatarkan wajahnya sedangkan Riki terkekeh dan mengusap kepala Caca, Caca langsung berjalan ke arah jok belakang agar mereka segera sampai di rumah.
"Iya, gak apa-apa Om."
"Lagian, aku bisa naik angkot," sambung Caca.
"Kenapa kamu gak sama Amel perginya?" tanya Riki.
"Kan, kami beda sekolah Om."
"Lah, iya?"
"Iya, dong!"
__ADS_1
"Kirain satu sekolah."
"Enggak, beda! Om tau, gak?"
"Enggak, emangnya apa?"
"Tadi di sekolah itu ...," Caca bercerita tentang bagaimana dirinya di sekolah dengan Riki, memang Riki sudah dianggapnya sebagai rumah dan orang yang dipercaya untuk mendengar segala keluh-kesahnya. Bahkan, dirinya tak akan pernah segan-segan untuk bercerita.
'Jangan pernah berubah, aku suka dengan dirimu yang bercerita seperti ini,' batin Riki tersenyum mendengar ocehan Caca di atas motor malam ini yang di temani bintang serta bulan.
Mereka telah sampai di rumah, sepertinya Milda belum juga pulang dari toko. Caca turun dari jok dan memberikan helm pada Riki, "Makasih, Om," ujar Caca tersenyum kepada Riki.
"Iya, sama-sama," balas Riki dengan senyum tipisnya.
Riki melihat Caca sampai ke dalam rumah, setelah memastikan Caca aman Riki langsung pergi dari halaman Caca dan menuju rumahnya yang berada di samping Caca.
"Huh ... sudah mulai keliatan akan ada biang masalah," ujar Caca yang berbaring di tempat tidurnya dengan pakaian yang masih belum berganti.
Caca duduk agar tak merasa nyaman apalagi sampai tertidur, "Lagian, ya. Aku bingung, kenapa tuh Mbak-mbak harus balik lagi ke Indo sih? Tuh Om-om juga kegenitan banget! Huh ... pokoknya hari ini sangat luar biasa, dah!" ungkap Caca yang mengingat kejadian hari ini yang telah dilaluinya.
Sementara itu Riki kini tengah duduk di bangku kerjanya, dirinya membuka laci dan mencari sesuatu, "Kau, hanya masa lalu dan akan tetap begitu," ujar Riki sambil menatap selembar foto yang tengah dicarinya.
Di foto tersebut ada dirinya dan Diva yang tengah menggunakan baju dengan warna yang sama serta pose yang menunjukkan kebahagian, bergandengan dan saling tertawa bersama. Seolah menjanjikan bahwa di masa depan mereka pun akan tetap bergandengan dan tertawa bersama.
Riki membawa ke luar dengan tak lupa membawa korek, api pun menyala dan foto di dekatkan di api tersebut. Beberapa detik, foto yang tadinya bagus seketika berubah jadi abu.
Kata orang, masa lalu tak akan pernah menjadi masa depan. Namun, bukankah takdir seseorang bisa siapa saja? Bisa jadi orang di masa lalu berubah menjadi baik dan mampu menjadi pasangan kita kembali di masa depan.
__ADS_1
Tak ada yang tahu takdir Tuhan, karena sejatinya kita hanyalah makhluk yang mengikuti skenario-Nya. Akan tetapi, percayalah bahwa takdir-Nya pasti baik untuk setiap hambanya.