
Bugh ...!
Bogeman begitu saja dilayangkan Riski tepat di perut Riki, ia yang belum bersiap-siap sontak langsung terjatuh akibat pukulan laki-laki tersebut. Riki memegang perutnya sebentar dan tersenyum melihat laki-laki yang dihadapannya sekarang.
"Kenapa? Ayo bangun!" sorak Riski tersenyum karena merasa mampu membuat Riki terjatuh.
Riki bangkit dan menepuk-nepuk tangannya juga celana yang mungkin kotor akibat ia terduduk di aspal. Tak berselang lama, bogeman demi bogeman dilayangkan Riki begitu saja.
Seolah ia tuli dan tak memiliki rasa kasihan lagi terhadap lawannya sekarang, Riski langsung tergeletak dengan bedan yang dipenuhi pukulan serta nafas yang terengeh-engeh.
Riki menjauh dan mengambil handphone-nya, ia melirik Riski sekilas, "Datang ke alamat yang sudah gue kirim di WA," ucap Riki pada seseorang dan langsung memutuskan panggilan.
Kawasan yang sunyi membuat tempat ini memang sangat rawan oleh pencuri dan orang-orang jahat lainnya, Riki sudah duduk di atas motor dengan menggunakan jaket dan tasnya sambil menunggu orang yang dia telepon tadi datang ke lokasi dirinya dan Riski sekarang.
"Ada apa, Pak?" tanya orang yang diketahui tangan kanan atau orang yang paling dipercayai Riki.
"Urus dia, bawa ke rumah sakit. Biayanya nanti langsung tebus aja." Riki memakai helm dan langsung pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan Riski dan anak buahnya itu.
Anak buah Riki langsung menjalankan tugas yang diberi, ia membawa Riski ke rumah sakit dengan menggunakan mobil pria tersebut sedangkan motornya diletakkan di tempat yang sepi dan tak lupa di kunci ganda.
Sesampainya di rumah sakit, Riski langsung dimasukkan ke UGD oleh beberapa perawat.
"Halo, Pak Riki. Dia udah masuk ke UGD, apa saya harus menunggunya?" tanya tangan kanan Riki yang berada di depan ruangan UGD.
"Kamu pulang aja, besok baru datang buat nebus dan liat keadaan dia," ujar Riki memperintah dari sebrang.
"Baik, Pak." Panggilan di matikan secara sepihak, orang tersebut langsung pergi ke arah pintu keluar-masuk rumah sakit.
"Riki?" tanya seseorang yang berada di belakang tangan kanan Riki tadi dan menatap punggung orang tersebut.
"Apa, Riki itu adalah orang yang dikenal Caca, ya?" sambungnya sambil berjalan ke arah pintu ruangan UGD dan melihat pasien yang tengah ditangani dokter sekarang melalui kaca.
Dirinya langsung melanjutkan tugasnya sebagai spesialis anak tersebut dan meninggalkan ruangan UGD.
"Saya minta, kamu jaga Caca sebaik mungkin apalagi dari laki-laki tadi!" ujar Riki duduk di bangkunya kepada Farhan—tangan kanannya tersebut.
"Siap, Pak!"
"Kamu naik apa ke rumah sakit tadi?"
"Naik mobil laki-laki tadi."
"Jadi motor kamu?"
"Sudah aman semua, kok, Pak."
__ADS_1
"Baik, kamu boleh pergi kalau begitu."
Seolah tak puas dengan kejadian di waktu tersebut, dan tak belajar dari luka yang lalu. Entah apa yang membuat Riski senekat tadi, padahal setahu Riki sudah tak ada lagi masalah antara ia dan Riski.
Bahkan, Caca pun sudah tak berteman lagi dengan Amel. Segala media sosial Amel di blokir oleh Caca setelah kejadian malam itu.
"Maaf, Pak. Ada yang mau bertemu," ujar karyawan wanita Riki. Sontak membuat Riki yang melamun menjadi tersadar akibat suara wanita tersebut.
"Baik," kata Riki dan bangkit dari bangkunya.
"Kamu ngapain tetap di depan pintu?" tanya Riki datar ke hadapan karyawannya itu.
"Eh, enggak Pak," jawab wanita yang menggunakan rok span selutut dan baju kemeja tangan panjang serta wajah full make-up juga rambut yang dibiarkan terurai.
Riki hanya datar dan berjalan meninggalkan karyawannya itu, "Dih, Pak Riki jutek mulu tiap hari. Gak capek apa? Tapi, gak papa. Es batu juga akan meleleh jika terkena panas," ujarnya tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan ruangan Riki.
Sedangkan Caca, sekarang tengah menikmati makanan dari Riki tadi di istirahat kedua. Karena istirahat pertama, masih banyak catatan yang belum dikerjakannya. Mumpung masih ingat maka ia langsung mengerjakan.
Kelas lumayan ramai jika istirahat kedua, mungkin efek sudah kenyang atau uang saku yang habis karena istirahat pertama tadi.
"Wah ... enak banget nih pasti," ujar Caca tersenyum melihat isi bekal tersebut.
Caca menyuap nasi goreng yang meskipun sudah dingin ke mulutnya, sesekali kepalanya bergoyang ke kanan dan kiri dengan terus berucap berbagai macam, "Kenapa, sih? Masakan cowok pasti lebih enak daripada cewek?" tanya Caca pada dirinya sendiri.
"Ca, gue minta dong!" ujar temen sebangkunya yang tiba-tiba datang.
"Masalah makanan aja lu, pelit amat!"
"Dih, biarin!" ketus Caca memberikan sendoknya kepada teman sebangkunya itu.
Tiga suapan masuk ke dalam mulut temannya, Caca tak mempermasalahkan hal itu. Ia pun menyuap kembali, "Nih, mau lagi?" tanya Caca dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Siapa yang masak?" tanya teman sebangku Caca sebelum menyendok nasi kembali.
"Tetangga."
"Ohh."
Akhirnya, nasi goreng dengan telur dadar juga sosis dan bakso goreng pun habis oleh kedua wanita tersebut. Caca langsung menutup kembali dan memasukkan ke dalam tas.
Ia mengambil air minum yang dibawa dan meminumnya, "Oh, iya Ca. Lu nyambung kuliah di mana?" tanya teman Caca tiba-tiba membuat Caca yang sedang minum langsung tersedak.
Beruntungnya, baju Caca tak basah akibat semburan dari air yang dari mulutnya tadi, "Eh, pelan-pelan dong," kata temen Caca mengusap punggung Caca. Sedangkan Caca mengelap area bibirnya dan menutup kembali botol tempat air minumnya tadi.
"Hmm, gue belum tau mau di mana sih," jawab Caca tersenyum dan menatap ke arah temannya.
__ADS_1
"Oh, iya. Nih lo minum," sambung Caca menawarkan minumnya yang masih lumayan banyak.
"Makasih."
"Sama-sama."
Waktu belajar telah selesai, besok waktunya cuti karena tanggal merah dan hari Minggu. Caca berjalan bersama temannya tadi ke gerbang.
Sesekali mereka bercerita dan tertawa mengenai berbagai hal, "Eh, Ca. Gak terasa banget, ya. Bentar lagi udah mau ujian aja," ucap teman Caca di sela-sela perjalanan mereka menuju gerbang.
"Kerasa, dong. Kalo gak kerasa artinya lo gak belajar dan ngerjain PR dong."
"Lo bisa aja."
"Bisa aja atau tau aja?" tanya Caca dengan wajah datar ke arah temannya. Sedangkan temannya yang melihat wajah Caca itu hanya bisa cengengesan.
"Eh, Ca. Tuh Om lu jemput," bisiknya dan membuat Caca menatap orang yang dimaksud.
Benar saja, Riki sudah berada di depan gerbang dan di atas motor miliknya sambil menatap ke arah Caca.
"Gimana cara dapet begitu, sih Ca? Gue mau juga," sambung teman Caca dengan menyenggol bahu Caca.
"Hust! Lo gak boleh bilang gitu!" protes Caca sambil meletakkan jarinya di bibir miliknya, agar temannya itu bisa diam karena mereka sudah dekat ke arah Riki.
"Hay, Om!" sapa temen Caca duluan dengan melambaikan tangannya. Caca langsung menatap temannya tersebut.
"Ih, apaan sih lo?" tanya Caca membuat temannya dan Riki menatap ke arah Caca.
"Santai kali, Ca. Gue becanda doang, kok," kata temen Caca dengan tertawa.
"Kalau begitu, saya duluan ya Om. Hati-hati sama Caca Om, oh iya. Kalo Caca gak mau sama Om, langsung kabari saya," sambung temannya lagi.
"Dalam hitungan tiga lo gak pergi, maka--" Belum sempat Caca melanjutkan ucapannya, teman di sampingnya itu sudah berarti sambil berteriak, "Dada Om!"
Caca hanya melihat punggung temannya itu dengan sinis dan beralih ke arah Riki yang hampir terciduk tersenyum melihat tingkah Caca dan temannya.
"Apa?" geram Caca bersedekap dada.
"Eh, apa?" tanya Riki yang sedikit ketakutan.
"Om ketawa, ya?"
"Enggak, kok."
"Awas aja kalo ketawa!" geram Caca dan langsung mengambil helm begitu saja.
__ADS_1
Ia langsung memakainya dan naik ke jok belakang dengan kening yang di tekuk dan bibir yang dimajukan. Sedangkan Riki hanya tersenyum melihat hal tersebut, karena jika ia tertawa bisa-bisa tamat riwayatnya padahal belum waktunya ending.