Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Chapter 9 . Bad News


__ADS_3

( Yang hangat hangat mau lewat dulu kk)


( othor cuma mau mengingatkan aja kalau cerita ini bukan berlatar di Indonesia ya )


( mohon maklum )


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐


New York , Amerika Serikat .


1 Januari 2016


( Milly L Harrison )


" Sudah cukupkah rasa syukur ku hari ini ? " pertanyaan dalam batin Milly .


Duduk berdua bersama pria yang Ia cintai sejak Ia belum tahu sebutan untuk perasaannya itu , membuat Milly mengucapkan syukur berkali - kali untuk malam ini .


Bahkan jika dirinya diberi pilihan berkali- kali , Milly akan tetap memilih Al . Memilih Al lagi , lagi , tetap memilihnya lagi .


Bahkan bagi Milly , untuk memilih Al sangatlah mudah . Ia akan memilih Al tanpa ragu  , dalam sekejap , dan akan terus berulang .


Setiap hari rasa cinta Milly pada Al akan selalu lebih dari hari kemarin . Akan selalu bertambah setiap harinya . Hingga Milly tak bisa membayangkan bagaimana banyaknya , karena sejak awal Milly memulainya dengan selamanya.



( Allard Junior Anderson )



" Bukankah aku begitu beruntung karena diberi hati dan kesempatan untuk mencintai wanita sehebat My Lily ? " Batin Allard saat menatap netra indah sang kekasih .



Kekasih .



Yah, akhirnya setelah 17 tahun menunggu kini Al dan Milly telah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih .



Rasanya sungguh tak bisa Al ungkapkan  saat Ia akhirnya bisa bebas mengatakan, " I Love you . "



Bagi Al tiga kata itu tidak hanya Ia katakan sebagai kebiasaan . Tetapi lewat tiga kata itu Al ingin Milly tahu jika dirinya adalah hal terbaik yang akan selalu ada dalam hidup Allard .



Lewat tiga kata itu Al ingin Milly tahu bahwa memilikinya adalah salah satu anugerah terindah yang Ia miliki .



Milly terus menatap cincin berlian yang kini melingkar indah pada jari manis di tangan kirinya .


" Apa kamu sangat menyukainya , Baby ? " tanya Al .


" Iya , aku sangat suka . Dari semua yang terjadi hari ini , aku sangat menyukai yang terjadi di penutup hari ini , " ucap Milly .


Kini mereka berada di dalam mobil lamborghini merah muda milik Milly .


Al membelai pucuk kepala Milly dengan penuh kasih sayang .


Ia melirik jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya , sebuah senyum terbit di wajahnya ketika sebuah ide muncul seketika .


Mobil merah muda itu memecah jalanan kota New York yang seakan tidak pernah mengenal tidur .


" Beb, kita mau kemana ? Ini bukan jalan ke mansion , " tanya Milly .


" Iya , aku ingin mengajakmu ke suatu tempat . Aku ingin kamu juga menyukai bagaimana kita mengawali hari ini . " Jawab Al .


Tak berselang lama Al mengurangi kecepatan laju mobilnya saat akan memasuki parkiran sebuah gedung apartement.


Milly sudah tak asing dengan tempat itu .


Apartemen Al yang berada tak jauh dari kampusnya .


" Ayo turun baby , " ajak Al . Tak lupa mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Milly membuat gadis itu lagi lagi merona .


Al merangkul pinggang Milly posesif ,  memasuki lift yang hanya digunakan oleh penghuni  penthouse . Salah satunya Al .


Al melirik pada Milly yang tingginya hanya sebatas bahunya . Al baru bisa melihat dengan jelas bagaimana menggemaskannya wajah kekasihnya yang merona  .


Al menelan salivanya , " aku sudah tidak bisa menahannya , " batin Al .


Dengan lift yang masih bergerak naik , Al meraih tengkuk Milly dan mendaratkan kembali bibirnya  di bibir kekasihnya yang kini sudah menjadi candunya .


Tubuh Milly menegang , Al bisa merasakannya tapi Ia tidak berniat untuk berhenti .


Setelah merasa cukup mencecapi bagian atas dan bawah bibir Milly secara bergantian , ia masih ingin merasakan yang lebih .

__ADS_1


" Buka mulutmu , Baby " pintanya dengan suara serak dan lirih .


Milly patuh , Ia melakukan apa yang dikatakan Al .


Sebuah perasaan baru bagi Milly saat lidah Al bergerak lincah di rongga mulutnya . Dan entah bagaimana bisa , Milly secara naluriah kini membalas semua yang dilakukan Al .


Tidak bisa bohong , jika kini Al merasa sesuatu dalam dirinya yang selama ini Ia penjarakan kini memaksa untuk keluar .


Al semakin menghimpit Milly bersandar di salah satu satu dinding lift .


Satu tangannya masih di tengkuk Milly . Sedang yang satunya melingkar di pinggang ramping kekasihnya , menahan agar wanitanya itu tidak terjatuh .


Kegiatan mereka harus berhenti saat terdengar bunyi lift yang begitu nyaring , dan sedetik kemudian disusul dengan pintunya yang membuka otomatis .


Keduanya keluar dari lift ,  Al berjalan lebih cepat dari biasanya membuat Milly sedikit kesulitan untuk mengikutinya .


Al segera menekan angka yang menjadi kata sandi pintu apartemennya .


Begitu berhasil dan pintu terbuka ,  Al segera menggendong Milly seperti koala menuju kamarnya .


Dengan perlahan dan hati- hati , Ia baringkan  Milly di tempat tidurnya .


Segera Al lepaskan jaket dan kaos yang Ia kenakan , hingga kini Milly bisa melihat dada bidang Al .


" Wajahmu merona, baby . " Ucap Al .


" Apa aku kini nampak sangat menggoda bagimu  ? " lanjutnya terus merayu Milly .


Milly ikut bangun , dirinya kini duduk di tempat tidur .


Al mengambil 4 kaleng b*r dari mini cooler yang ada di kamarnya , membuka salah satunya dan meletakkan sisanya di atas nakas samping tempat tidur .


Al ikut duduk di tempat tidur tapi Ia bersandar di kepala tempat tidur sambil sesekali meneguk minumannya .


" Baby , ku pikir kau tak akan tergoda karena sudah sering melihat tubuhku . " Ucap Al .


Milly merasa kesal , sepertinya Al menantangnya . Mungkin Al lupa jika dirinya yang sekarang adalah gadis berusia 17 tahun .


Bagi kehidupan di negara dengan budaya barat , berhubungan bahkan sebelum menikah sudah tak asing lagi .


Kebanyakan , gadis melakukannya pertama kali saat berusai 15 hingga 16 tahun atau saat mereka sudah mulai memasuki senior high school .


Milly berbalik menatap Al , berdiri dengan lututnya sebagai tumpuan . Ia melepaskan coat berwarna abu-abu dengan gerakan yang sukses memprovokasi Al .


Al baru menyadari jika gaun mini berwarna silver yang dikenakan Milly sejak awal pesta di club sungguh terbuka .


Gaun dengan panjang hanya sebatas setengah dari paha mulus nya . Tanpa lengan hingga pundak dan lengan putihnya tentu bisa dinikmati oleh setiap mata yang memandang .


Namun Milly sepertinya tidak berhenti sampai disitu saja .


Dengan gerakan cepat Milly berpindah tempat duduk ke atas pangkuan Al .


Senyumnya tidak biasa Ia cegah saat merasa sesuatu yg keras mengganjal di tempat yang sedang Ia duduki .


" Kenapa tersenyum huh ? " tanya Al . Suaranya memberat  berburu dengan hembusan napasnya .


" Sepertinya aku membangunkan sesuatu baby , " balas Milly manja .


Al merapikan rambut Milly , menyampirkannya ke belakang telinga agar leher jenjang gadisnya bisa terlihat jelas olehnya .


" Sejak kapan kamu tau hal seperti itu Ly ? " tanya Al diiringi kekehannya .


" Aku tau sudah sejak lama , sejak teman-  teman wanitaku bahkan sudah merasakannya , saat aku bahkan masih menunggu waktu hanya untuk melihatnya . Apakah mungkin hari ini adalah hari itu ?  " Jawab Milly jujur .


Al merutuki pertanyaannya , jawaban Milly barusan sungguh membuatnya tak kuasa untuk menahannya lagi .


Apalagi Milly mengatakan hal itu sembari tangannya menggulung rambutnya menjadi model bun hair .


Segera Ia rengkuh Milly . Pertarungan bibir keduanya sudah tak terelakkan lagi .


Cukup lama dan lebih liar dari yang terjadi di lift.


Sampai keduanya merasa kehabisan oksigen barulah mereka berhenti .


Al berpindah ke ceruk leher kekasihnya . Kesadarannya masih ada untuk tidak meninggalkan jejaknya  disana .


Tangannya bergerak lincah menurunkan resleting gaun Milly di punggungnya .


Sedang Milly menutup matanya menikmati Al menelusuri setiap inci bagian lehernya .


Kecupan demi kecupan Al berikan mulai dari pundaknya dan turun ke bagian yang menjadi dambaan setiap pria .


" Aaakkhhhhh ..... , "


Hanya itu suara Milly yang terus mengalun di telinga Al . Namun lucunya , Al malah makin bersemangat setiap kali mendengarnya .


Entah bagaimana kini Milly sudah dalam posisi kembali berbaring dengan gaun yang entah menghilang kemana  . Tubuh  Al mengungkungnya dari atas .


Jika Al sejak tadi menahan diri saat di bagian leher , tapi tidak untuk di bagian bukit yang kini terlihat menantangnya . Beberapa jejak Al menghiasi keindahan bukit itu .


Alunan suara indah Milly , terdengar semakin intens . Kewarasan Al sebentar lagi akan benar- benar pergi dari dirinya .

__ADS_1


Tapi tiba-tiba Al tersadar , dan secepatnya menahan dirinya .


Ia menghentikan aksinya , berusaha menormalkan napasnya dan meredakan gejolaknya .


Kening Milly mengernyit , " Baby , ada apa ? "


Al menggeleng . " Maaf Baby . Sepertinya kita harus berhenti sampai disini saja , belum saatnya . "


" Apa ? Belum saatnya ? Semua teman-temanku bahkan sudah melakukannya . " keluh Milly .


" Tapi kamu bukan mereka Beb . " Balas Al .


Mata Milly berkaca-kaca , " ternyata gejolak ini parah juga , bahkan bisa membuatku menangis. " ucap Milly dengan tawa untuk menyembunyikan kekecewaannya .


Al segera memeluk Milly , " maafkan aku baby . Tunggu sampai kamu selesai senior high scholl , aku akan segera melamarmu . Kita bertunangan dan merencanakan pernikahan . Saat itu aku janji akan menebus semuanya . "


Walaupun kecewa , Milly tetap mengangguk .


Al merasa tak tega dengan kekasihnya . Sebuah ide terlintas di benaknya .


" Baby  ,  bolehkah aku menyelesaikan permainan kita ? " tanya Al .


" Caranya ? "


Al tersenyum , lalu membimbing tangannya menyapa lembah kehangatan milik Milly .


Milly sontak memejamkan matanya kembali dan mulai mengalunkan melodi indah lagi .


Hingga akhirnya tubuhnya bergetar , dan tiba-tiba Ia meras sangat lemas.


Al tersenyum . Menutup tubuh Milly dengan selimut lalu mengecup kening Milly   , " Tidurlah Beb , aku masih harus menenangkan sesuatu . "


" Haruskah aku membantumu ? " tawar Milly .


Al menggeleng ." Istirahatlah  , aku akan menanganinya sendiri . "




**Kediaman keluarga  Harrison** .



" Jadi apa kalian kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih ? " tanya  Mommy Carol .



Milly kembali merona , sedang Al dengan santainya terus menikmati makan siangnya .



Milly menyikut lengan Al , " Iya Mommy . Jangan bertanya lagi , Lily jadi malu . Nanti wajahnya bisa menjadi semerah tomat . "



Candaan Al mengundang tawa dari dua keluarga yang sedang berbahagia .



" Jadi apa Milly sudah siap dengan hubungan LDR kalian nanti ? " tanya Daddy Sean .



Al menghentikan tangannya yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya , bersamaan dengan tatapan penuh tanda tanya dari kekasihnya .



Kabar buruk yang baru diketahui Milly , rasanya seperti sedang menodai warna warni pelangi yang baru saja menghiasi hatinya .



.


.


.


.


.


 "*I love you more than any word can say. I love you more than every action I take. I’ll be right here loving you till the end*."


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2