
( Yang hangat hangat mau lewat dulu kk)
( othor cuma mau mengingatkan aja kalau cerita ini bukan berlatar di Indonesia ya )
( mohon maklum )
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
New York , Amerika Serikat .
1 Januari 2016
( Milly L Harrison )
" Sudah cukupkah rasa syukur ku hari ini ? " pertanyaan dalam batin Milly .
Duduk berdua bersama pria yang Ia cintai sejak Ia belum tahu sebutan untuk perasaannya itu , membuat Milly mengucapkan syukur berkali - kali untuk malam ini .
Bahkan jika dirinya diberi pilihan berkali- kali , Milly akan tetap memilih Al . Memilih Al lagi , lagi , tetap memilihnya lagi .
Bahkan bagi Milly , untuk memilih Al sangatlah mudah . Ia akan memilih Al tanpa ragu , dalam sekejap , dan akan terus berulang .
Setiap hari rasa cinta Milly pada Al akan selalu lebih dari hari kemarin . Akan selalu bertambah setiap harinya . Hingga Milly tak bisa membayangkan bagaimana banyaknya , karena sejak awal Milly memulainya dengan selamanya.
( Allard Junior Anderson )
" Bukankah aku begitu beruntung karena diberi hati dan kesempatan untuk mencintai wanita sehebat My Lily ? " Batin Allard saat menatap netra indah sang kekasih .
Kekasih .
Yah, akhirnya setelah 17 tahun menunggu kini Al dan Milly telah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih .
Rasanya sungguh tak bisa Al ungkapkan saat Ia akhirnya bisa bebas mengatakan, " I Love you . "
Bagi Al tiga kata itu tidak hanya Ia katakan sebagai kebiasaan . Tetapi lewat tiga kata itu Al ingin Milly tahu jika dirinya adalah hal terbaik yang akan selalu ada dalam hidup Allard .
Lewat tiga kata itu Al ingin Milly tahu bahwa memilikinya adalah salah satu anugerah terindah yang Ia miliki .
Milly terus menatap cincin berlian yang kini melingkar indah pada jari manis di tangan kirinya .
" Apa kamu sangat menyukainya , Baby ? " tanya Al .
" Iya , aku sangat suka . Dari semua yang terjadi hari ini , aku sangat menyukai yang terjadi di penutup hari ini , " ucap Milly .
Kini mereka berada di dalam mobil lamborghini merah muda milik Milly .
Al membelai pucuk kepala Milly dengan penuh kasih sayang .
Ia melirik jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya , sebuah senyum terbit di wajahnya ketika sebuah ide muncul seketika .
Mobil merah muda itu memecah jalanan kota New York yang seakan tidak pernah mengenal tidur .
" Beb, kita mau kemana ? Ini bukan jalan ke mansion , " tanya Milly .
" Iya , aku ingin mengajakmu ke suatu tempat . Aku ingin kamu juga menyukai bagaimana kita mengawali hari ini . " Jawab Al .
Tak berselang lama Al mengurangi kecepatan laju mobilnya saat akan memasuki parkiran sebuah gedung apartement.
Milly sudah tak asing dengan tempat itu .
Apartemen Al yang berada tak jauh dari kampusnya .
" Ayo turun baby , " ajak Al . Tak lupa mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Milly membuat gadis itu lagi lagi merona .
Al merangkul pinggang Milly posesif , memasuki lift yang hanya digunakan oleh penghuni penthouse . Salah satunya Al .
Al melirik pada Milly yang tingginya hanya sebatas bahunya . Al baru bisa melihat dengan jelas bagaimana menggemaskannya wajah kekasihnya yang merona .
Al menelan salivanya , " aku sudah tidak bisa menahannya , " batin Al .
Dengan lift yang masih bergerak naik , Al meraih tengkuk Milly dan mendaratkan kembali bibirnya di bibir kekasihnya yang kini sudah menjadi candunya .
Tubuh Milly menegang , Al bisa merasakannya tapi Ia tidak berniat untuk berhenti .
Setelah merasa cukup mencecapi bagian atas dan bawah bibir Milly secara bergantian , ia masih ingin merasakan yang lebih .
__ADS_1
" Buka mulutmu , Baby " pintanya dengan suara serak dan lirih .
Milly patuh , Ia melakukan apa yang dikatakan Al .
Sebuah perasaan baru bagi Milly saat lidah Al bergerak lincah di rongga mulutnya . Dan entah bagaimana bisa , Milly secara naluriah kini membalas semua yang dilakukan Al .
Tidak bisa bohong , jika kini Al merasa sesuatu dalam dirinya yang selama ini Ia penjarakan kini memaksa untuk keluar .
Al semakin menghimpit Milly bersandar di salah satu satu dinding lift .
Satu tangannya masih di tengkuk Milly . Sedang yang satunya melingkar di pinggang ramping kekasihnya , menahan agar wanitanya itu tidak terjatuh .
Kegiatan mereka harus berhenti saat terdengar bunyi lift yang begitu nyaring , dan sedetik kemudian disusul dengan pintunya yang membuka otomatis .
Keduanya keluar dari lift , Al berjalan lebih cepat dari biasanya membuat Milly sedikit kesulitan untuk mengikutinya .
Al segera menekan angka yang menjadi kata sandi pintu apartemennya .
Begitu berhasil dan pintu terbuka , Al segera menggendong Milly seperti koala menuju kamarnya .
Dengan perlahan dan hati- hati , Ia baringkan Milly di tempat tidurnya .
Segera Al lepaskan jaket dan kaos yang Ia kenakan , hingga kini Milly bisa melihat dada bidang Al .
" Wajahmu merona, baby . " Ucap Al .
" Apa aku kini nampak sangat menggoda bagimu ? " lanjutnya terus merayu Milly .
Milly ikut bangun , dirinya kini duduk di tempat tidur .
Al mengambil 4 kaleng b*r dari mini cooler yang ada di kamarnya , membuka salah satunya dan meletakkan sisanya di atas nakas samping tempat tidur .
Al ikut duduk di tempat tidur tapi Ia bersandar di kepala tempat tidur sambil sesekali meneguk minumannya .
" Baby , ku pikir kau tak akan tergoda karena sudah sering melihat tubuhku . " Ucap Al .
Milly merasa kesal , sepertinya Al menantangnya . Mungkin Al lupa jika dirinya yang sekarang adalah gadis berusia 17 tahun .
Bagi kehidupan di negara dengan budaya barat , berhubungan bahkan sebelum menikah sudah tak asing lagi .
Kebanyakan , gadis melakukannya pertama kali saat berusai 15 hingga 16 tahun atau saat mereka sudah mulai memasuki senior high school .
Milly berbalik menatap Al , berdiri dengan lututnya sebagai tumpuan . Ia melepaskan coat berwarna abu-abu dengan gerakan yang sukses memprovokasi Al .
Al baru menyadari jika gaun mini berwarna silver yang dikenakan Milly sejak awal pesta di club sungguh terbuka .
Gaun dengan panjang hanya sebatas setengah dari paha mulus nya . Tanpa lengan hingga pundak dan lengan putihnya tentu bisa dinikmati oleh setiap mata yang memandang .
Namun Milly sepertinya tidak berhenti sampai disitu saja .
Dengan gerakan cepat Milly berpindah tempat duduk ke atas pangkuan Al .
Senyumnya tidak biasa Ia cegah saat merasa sesuatu yg keras mengganjal di tempat yang sedang Ia duduki .
" Kenapa tersenyum huh ? " tanya Al . Suaranya memberat berburu dengan hembusan napasnya .
" Sepertinya aku membangunkan sesuatu baby , " balas Milly manja .
Al merapikan rambut Milly , menyampirkannya ke belakang telinga agar leher jenjang gadisnya bisa terlihat jelas olehnya .
" Sejak kapan kamu tau hal seperti itu Ly ? " tanya Al diiringi kekehannya .
" Aku tau sudah sejak lama , sejak teman- teman wanitaku bahkan sudah merasakannya , saat aku bahkan masih menunggu waktu hanya untuk melihatnya . Apakah mungkin hari ini adalah hari itu ? " Jawab Milly jujur .
Al merutuki pertanyaannya , jawaban Milly barusan sungguh membuatnya tak kuasa untuk menahannya lagi .
Apalagi Milly mengatakan hal itu sembari tangannya menggulung rambutnya menjadi model bun hair .
Segera Ia rengkuh Milly . Pertarungan bibir keduanya sudah tak terelakkan lagi .
Cukup lama dan lebih liar dari yang terjadi di lift.
Sampai keduanya merasa kehabisan oksigen barulah mereka berhenti .
Al berpindah ke ceruk leher kekasihnya . Kesadarannya masih ada untuk tidak meninggalkan jejaknya disana .
Tangannya bergerak lincah menurunkan resleting gaun Milly di punggungnya .
Sedang Milly menutup matanya menikmati Al menelusuri setiap inci bagian lehernya .
Kecupan demi kecupan Al berikan mulai dari pundaknya dan turun ke bagian yang menjadi dambaan setiap pria .
" Aaakkhhhhh ..... , "
Hanya itu suara Milly yang terus mengalun di telinga Al . Namun lucunya , Al malah makin bersemangat setiap kali mendengarnya .
Entah bagaimana kini Milly sudah dalam posisi kembali berbaring dengan gaun yang entah menghilang kemana . Tubuh Al mengungkungnya dari atas .
Jika Al sejak tadi menahan diri saat di bagian leher , tapi tidak untuk di bagian bukit yang kini terlihat menantangnya . Beberapa jejak Al menghiasi keindahan bukit itu .
Alunan suara indah Milly , terdengar semakin intens . Kewarasan Al sebentar lagi akan benar- benar pergi dari dirinya .
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Al tersadar , dan secepatnya menahan dirinya .
Ia menghentikan aksinya , berusaha menormalkan napasnya dan meredakan gejolaknya .
Kening Milly mengernyit , " Baby , ada apa ? "
Al menggeleng . " Maaf Baby . Sepertinya kita harus berhenti sampai disini saja , belum saatnya . "
" Apa ? Belum saatnya ? Semua teman-temanku bahkan sudah melakukannya . " keluh Milly .
" Tapi kamu bukan mereka Beb . " Balas Al .
Mata Milly berkaca-kaca , " ternyata gejolak ini parah juga , bahkan bisa membuatku menangis. " ucap Milly dengan tawa untuk menyembunyikan kekecewaannya .
Al segera memeluk Milly , " maafkan aku baby . Tunggu sampai kamu selesai senior high scholl , aku akan segera melamarmu . Kita bertunangan dan merencanakan pernikahan . Saat itu aku janji akan menebus semuanya . "
Walaupun kecewa , Milly tetap mengangguk .
Al merasa tak tega dengan kekasihnya . Sebuah ide terlintas di benaknya .
" Baby , bolehkah aku menyelesaikan permainan kita ? " tanya Al .
" Caranya ? "
Al tersenyum , lalu membimbing tangannya menyapa lembah kehangatan milik Milly .
Milly sontak memejamkan matanya kembali dan mulai mengalunkan melodi indah lagi .
Hingga akhirnya tubuhnya bergetar , dan tiba-tiba Ia meras sangat lemas.
Al tersenyum . Menutup tubuh Milly dengan selimut lalu mengecup kening Milly , " Tidurlah Beb , aku masih harus menenangkan sesuatu . "
" Haruskah aku membantumu ? " tawar Milly .
Al menggeleng ." Istirahatlah , aku akan menanganinya sendiri . "
**Kediaman keluarga Harrison** .
" Jadi apa kalian kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih ? " tanya Mommy Carol .
Milly kembali merona , sedang Al dengan santainya terus menikmati makan siangnya .
Milly menyikut lengan Al , " Iya Mommy . Jangan bertanya lagi , Lily jadi malu . Nanti wajahnya bisa menjadi semerah tomat . "
Candaan Al mengundang tawa dari dua keluarga yang sedang berbahagia .
" Jadi apa Milly sudah siap dengan hubungan LDR kalian nanti ? " tanya Daddy Sean .
Al menghentikan tangannya yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya , bersamaan dengan tatapan penuh tanda tanya dari kekasihnya .
Kabar buruk yang baru diketahui Milly , rasanya seperti sedang menodai warna warni pelangi yang baru saja menghiasi hatinya .
.
.
.
.
.
"*I love you more than any word can say. I love you more than every action I take. I’ll be right here loving you till the end*."
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue