
Aku percaya kamu akan selalu menjadi pria baik.
Pria yang tak akan bermain-main dengan kata cinta.
Pria yang menyadari jika cinta akan selalu menuntut tanggung jawab.
Dan kamu masih, akan menjadi pria baik.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
“Tinggal mengaturnya di piring dan semua selesai.”
Senyum mengembang di wajah cantik Milly, sebentar lagi Ia selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Al.
Menyiapkan sendiri tanpa bantuan Mommy atau para maid.
Sedang tak jauh dari tempat Milly berdiri, Al bisa mendengar tunangannya itu bermonolog seorang diri dengan tangan yang masih sibuk mengatur potongan demi potongan roti dan buah ke atas sebuah piring.
“Sudah selesai?”
Mendengar suara Al, sontak membuat Milly menolehkan pandangannya.
“Oh my......" Ucap Milly karena terkejut.
Bohong, tapi tidak seluruhnya bohong.
Wanita itu sejujurnya tidak hanya terkejut, tapi kini Ia sangat terpesona melihat penampilan Al yang baru saja selesai mandi.
Sangat menggoda.
"Al makin terlihat mempesona dengan rambut yang masih basah seperti itu, terlebih aroma woody note dan vetiver yang menguar dari tubuhnya memberi kesan sensual dan hangat." Batin Milly.
"Hanya dengan hal sederhana seperti rambut dan parfum saja, pria ini sudah nampak sangat mempersona. Bagaimana jika dia beraksi" tanya Milly dalam hatinya.
Namun segera Milly menggelengkan kepalanya, agar pikirannya tidak travelling terlalu jauh, “Masih pagi, dan kau masih sangat, sangat, sangat lelah Milly!” batinnya memperingati dirinya sendiri.
Cup.
Kecupan mendarat di bibir Milly.
Setelah dibuat terpesona , kini dengan sebuah kecupan wanita itu dibuat terpaku.
Bolehkah jika Ia menyalahlan aroma mint yang menguar dari hembusan napas Al?
“Baby, kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan Al akhirnya menyadarkannya.
“Hemmm, tentu.” Jawabnya segera.
“Aku baru saja akan membangunkanmu untuk sarapan.” Lanjut Milly.
Al yang sedang memeluk Milly dari belakang dengan dagunya yang bertumpu pada salah satu pundak Milly, dibuat bingung dengan ucapan tunangannya.
Yah, wanita itu semalam telah menerima lamarannya bahkan telah menjadi miliknya seutuhnya, pikirnya.
“Sarapan? Tapi apa kamu cukup jika sarapan hanya dengan roti? Bukankah semalam kita bekerja keras Baby. ”Ucap Al dengan suara pelan, hembusan napasnya sangat terasa di telingan dan ceruk leher Milly.
“Bukankah kamu suka sarapan dengan roti?” tanya Milly tanpa menghentikan tangannya yang kini memotong-motong buah strawberry dan blueberry.
Al menggeleng, “Sekarang tidak lagi.” Jawab Al dengan yakin.
Lalu Ia membalik tubuh Milly hingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
“Aku sekarang lebih suka sarapan kamu.” Ucap Al.
“Hemm.. tatapan itu, sepertinya aku sudah tahu apa yang akan terjadi.” Batin Milly saat menatap mata Al.
Dan apa yang ada dipikiran Milly benar adanya. Kini Al telah melahap dengan tak sabaran bibirnya.
Maafkan tubuh ini yang selalu mengkhianati logikanya. Pagi ini Milly kembali pasrah dan juga menikmati, saat Al mengajaknya kembali terbang ke nirwana.
Apa lagi ada sensasi yang berbeda dari yang mereka berdua rasakan saat pertama kali melakukannya di atas meja dapur.
Pakaian yang masih melekat di tubuh, bunyi beberapa peralatan dapur yang tak sengaja tersentuh oleh keduanya, di tambah erang*n dan des*han keduanya.
“Wow.... kamu semakin luar biasa Baby,” puji Al sesaat setelah mendapatkan pelepasannya.
Milly hanya bisa merona mendengar ucapan Al.
Dan bergegas ke halaman belakang rumah untuk menikmati saparan , setelah keduanya selesai dengan kegiatan yang tidak ada dalam rencana Milly pagi ini.
“ Taaaadaaaaaaaa.....” ucap Milly bersemangat.
Jika tak ada kegiatan olah raga pagi tadi, harusnya kini mereka sudah selesai sarapan.
Al sangat menikmati sarapan spesial yang disiapkan Milly. Meski hanya pie dengan taburan potongan buah di atasnya, tetap saja terlihat istimewa dan menggiurkan baginya.
Apalagi ini buatan Milly, dan wanita itu ada di sini.
Keduanya menikmati sarapan yang Milly siapkan sejak pagi.
“Ini namanya sarapan siang,” ucap Milly tak begitu jelas karena mulutnya terisi penuh dengan makanan.
“Dan itu semua karena kamu.” Lanjutnya berpura-pura kesal.
Al hanya terkekeh mendengar Milly protes dengan kegiatan mereka tadi.
Blush.....
Dan rona merah itu kembali lagi di wajah cantik Milly.
Al tertawa melihat tunangannya kini lebih mudah merona saat Al menggodanya.
Tunangan, yah Milly adalah tunangannya kini. Dan Ia sudah tak sabar untuk menjadikan Milly istrinya, tak perlu pesta meriah dan mewah, hanya mengucap janji pernikahanpun tak apa.
Yang penting Al bisa memboyong Milly untuk ikut ke Indonesia. Soal kuliah Milly, di Indonesia juga banyak universitas yang bagus.
Besar harapan Al agar Milly ikut dengannya ke Indonesia. Semenjak semalam entah bagaimana bisa, semua sentuhan dan rasa luar biasa yang diberkan Milly telah menjadi candu baginya.
“Beb..... Beb.... Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Milly.
“Bagaimana rasanya jika kita bermain disini.” Jawab Al.
Al memutuskan untuk tak memberitahu Milly mengenai rencana yang Ia pikirkan.
Sebelum bicara pada Milly, sebaiknya Ia bicara pada kedua orang tuanya dan orang tua Milly.
Al segera mengaduh saat Ia merasakan cubitan pada lengannya, “Aaaauuuucchhh.”
“Baby... Sakit, kenapa tiba-tiba mencubitku hemm?” Tanyanya.
“Agar kesadaranmu kembali.” Balas Milly singkat.
Bukan Al jika tak menjawab ucapan Milly, “Aku sangat sadar Baby.”
“Sangat sadar untuk bisa kembali menyerangmu di sini.” Lanjutnya.
__ADS_1
Dan posisi mereka kini telah berubah.
Milly yang berbaring di atas tikar, dengan Al yang kini membungkam bibir Milly. Semakin terasa manis setelah Milly memakan pie buah buatannya.
Dua bibir yang kini saling bertemu. Rasanya sulit untuk melepaskan dan mengakhiri cumbuan yang terasa sangat baru bagi Al.
Memang berciuman bukan lagi hal baru bagi keduanya. Tapi berciuman tanpa perlu lagi menahan hasrat yang timbul setelahnya, adalah hal yang membuat Al tak bisa untuk jauh dari Milly.
“Kamu terlalu mempesona Baby, terlalu indah untuk diabaikan.” Ucap Al saat pagutannya terhenti sesaat.
“Asal kamu tau, jika aku saja yang sudah sering kali melihat dan mengetahui semua pesona luar dan dalammu, tapi bukannya bosan malah aku semakin menggilaimu Baby.”
“Bagaimana dengan pria lain? Aku sungguh tak akan tenang jika kamu tak ada dalam pandanganku.” Ucap Al, Ia jujur menyampaikan seluruh isi hatinya.
“Maka dari itu cepatlah selesaikan pekerjaanmu di Indonesia, dan kembalilah. Jika tidak.....” Milly sengaja menjeda ucapannya.
Al menghentikan aksinya yang sedang bermain dengan dua bongkahan milik tunangannya, yang keindahannya bahkan mengalahkan bongkahan berlian di mata Al.
“Jika tidak, apa?” tanya Al dengan tegas.
“Jika tidak ... hemmm tangkap aku kalau bisa.” Teriak Milly saat berhasil lolos dari kungkungan Al.
Sebelum Ia berakhir dengan tubuh polos di halaman belakang rumah, ide itu muncul untuk membuat Al sebal.
Milly berlari masuk ke dalam rumah. Melakukan house tour yang semalam sempat tertunda.
Decakan kagumnya tak pernah berhenti terdengar. Betapa Al mencintai dirinya hingga Ia berusaha sangat keras untuk menepati janjinya saat remaja.
Ruang santai keluarga yang dilengkapi perapian, bagian teras yang nyaman untuk menikmati senja, bahkan kolam renang indoor yang Milly idam-idamkan juga ada.
Al benar-benar menepati janjinya untuk membuat rumah yang sesuai impian Milly.
Dan pria itu juga benar-benar menepati janjinya untuk terus membuat Milly meneriakkan namanya seharian.
Mereka berdua melakukannya hampir di semua tempat di rumah ini, seakan tak ada lagi hari esok.
Dengan pesona dan rasa nikmat yang Al berikan, apalah kuasa seorang Milly untuk menolak keinginan tunangannya.
Sejak Ia, bahkan belum tahu arti kata cinta, Milly sudah mengukir nama Al di dalam hatinya.
Begitu sebaliknya, Al tak pernah lupa perasaannya saat pertama kali bersentuhan dengan kulit halus dan lembut Milly saat wanita itu pertama kali menatap dunia.
Al tersenyum di tengah-tengah gerakannya yang semakin cepat dan kuat, hingga Milly terus berkicau tak karuan seiring riak air di kolam renang.
“Lihatlah kulit halus dan lembut itu sekarang sudah dihiasi dengan banyak jejakku.” Batinnya.
⚘⚘⚘⚘⚘
Tak ingin menyianyiakan waktu, terlebih lagi pekerjaannya di Indonesia semakin menumpuk.
Sepulangnya dari rumah impian mereka, Al segera menemui kedua orang tuanya. Dengan keyakinan dan percaya diri, Al menyampaikan maksudnya untuk segera menikahi Milly.
“Apa? Al pernikahan tidak sesederhana sebuah rencana dan keinginan. Janji pernikahan, tidak semudah mengucap janji yang biasa.” Ujar Daddy Sean.
⚘⚘⚘⚘⚘ To be continue ⚘⚘⚘⚘⚘
Pernikahan bukan hanya soal mengucapkan janji untuk setia, sehidup semati.
Sadarilah jika antara sehidup dan semati itu ada kehidupan yang harus dijalani.
__ADS_1
Kehidupan yang disebut rumah tangga. Dan sebuah rumah tak akan pernah bisa berdiri kokoh jika hanya dibangun dengan 1 material saja, Cinta.
Masih diperlukan perkenalan mendalam untuk lebih memahami pasangan. Juga diperlukan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan juga sikap berempati yang tepat, bahkan keahlian mencari tahu yang handal. Jangan lupakan selalu menyiapkan waktu bersama, perhatian, dan juga dukungan.